Eclipse

Eclipse
Eclipse 2



~Menulis di halaman baru atau menghapus halaman lama, itu hanya perkara pilihan~


***


Menguap seraya menuruni anak tangga masih menjadi kebiasaan Gamma selama liburan. Langkah kakinya terus bergerak mendekati sebuah dispenser air di sudut sebuah ruangan. Dengan mata terpejam ia menenggak habis air yang baru saja ia ambil hingga sebuah rengekan membuatnya menoleh. Garis senyum di bibirnya mulai tercetak ketika maniknya menangkap sesuatu yang menggemaskan di tengah ruang keluarga. Pikiran jahil mulai menguasainya hingga benar saja, kedua tangannya langsung ia gunakan untuk menggelitiki bayi yang belum berumur satu tahun itu hingga mainan yang ia pegang terlempar dan mengenai kepala Gamma.


"Aduh, sakit Alula!" pekik cowok dengan netra hitam itu sambil memegangi dahinya. Sedangkan pelakunya hanya tertawa dan kembali tenggelam dengan mainannya. Gamma yang merasa diacuhkan mendengkus dan memilih duduk di samping gadis yang sedari tadi sibuk memasukkan kacang mete ke mulutnya.


"Sok sibuk amat sih lu. Alula tuh perhatiin takut masukin mainan ke mulutnya." Gadis yang tadi mengunci pandangan pada layar besar di hadapannya itu berdecak.


"Ih dateng-dateng main rebut-rebut aja ini orang. Elah," gerutu Gemi melihat stoples yang tadi berada di pangkuannya kini berpindah ke tangan cowok di sampingnya itu.


"Itu Alula lu ang–"


"Alula nggak apa-apa dari tadi, Bang. Kami adem ayem, loh. Adanya lu dateng main rebut-rebut aja. Sini!" tukas gadis dengan rambut dicepol itu seraya merebut kembali stoples kacang mete yang berada di tangan Gamma.


"Dih kenapa lu tiba-tiba diem begini? Udah temenin tuh anak lu," ucap Gemi tanpa rasa bersalah dan harus membuatnya dikenai pukulan kecil dari tangan Gamma.


"Sembarangan kalo ngomong!" sanggah Gamma yang memilih beringsut dan menemani Alula yang sedang bermain.


"Alula dibilang anaknya Abang Gamma. Jahat ya Teteh Gemi. Padahal muka Abang masih baby face begini," adunya pada adik bayinya itu. Namun sayang Alula masih tetap Alula, bayi yang tidak peduli akan lingkungannya saat bertemu dengan banyak mainan yang mengalihkan dunianya.


"Rasain lu! Sama bayi aja dikacangin," sindir Gemi setengah tertawa.


"Lagian biasanya juga lu jalan kan sama cewek lu weekend gini. Tumben banget. Putus?"


"Enak aja. Belom putus ya," balas Gamma tidak terima.


"Lagian lu, bukannya besok lu pengenalan kampus? Malah nonton film, bukannya siap-siap."


"Pengenalannya itu besok, bukan ntar sore. Punya abang pinter tapi gitu aja gatau. Gimana si," gerutu gadis dengan netra abu-abu itu. Gamma tak menjawab, ia mulai ikut tenggelam bersama dunia bayi ketika Alula mulai tertawa sejak Gamma menghiburnya dengan wajah lucu. Gemi mengecilkan volume filmnya lalu memerhatikan adik dan kakaknya yang sedang bermain. Senyum tipis terbit sebelum ia memilih untuk mematikan film yang sedang ia tonton dan ikut bermain dengan keduanya.


"Bang, kok tumben si pengenalan kampus barengan sama angkatan atas masuk kuliah gitu? Bukannya lu dulu lebih awal ya?" tanya Gemi penasaran.


"Ya mana gue tahu. Tanya lah sama rektornya besok. Gampang, kan?"


"Ah lu mah nyebelin."


"Lagian lu nanya yang gue gabisa jawab. Nanya tuh soal pelajaran, masih mending otak gue encer kalo yang begituan. Haha," balas Gamma diakhiri tawa yang terdengar menyebalkan bagi Gemi.


"Sombong lu!"


"Gamma!" Sebuah panggilan dari arah tangga membuat keduanya menoleh.


"Iya, Pa?"


"Inget pesen Papa buat nanti sore. Jangan sampe telat. Kalo bisa kamu udah di sana satu jam sebelumnya. Paham? Papa gak mau denger alasan kamu telat karena ketiduran."


"Iya, Pa. Siap," balas Gamma setengah malas.


"Oke Papa berangkat." Gamma mengembuskan napas lelah saat pria tadi menghilang di balik pintu.


"Shuutt, jangan tanya!" Seakan tahu apa yang akan Gemi lakukan selanjutnya, ia memilih untuk bangkit dan kembali ke kamarnya.


***


Cowok dengan hoodie hitam itu memasukkan permen karet ke mulutnya sebelum turun dengan malas dari mobilnya. Embusan napas terdengar bersamaan dengan langkah pertamanya meninggalkan kendaraan yang baru ia parkirkan dengan rapi. Tangannya bergerak merogoh sakunya untuk mengambil sebuah ponsel merah. Gamma bisa dibilang anak yang penurut, buktinya kini ia duduk di sebuah kursi sambil menunggu kedatangan seseorang kurang lebih satu jam lagi, seperti yang diminta papanya. Salah satu hal yang paling dibenci Gamma dalam hidupnya, menunggu. Terlebih kali ini ia menunggu orang yang bahkan tidak pernah ia temui sebelumnya. Ya, ia hanya bermodalkan gambar di ponsel dan matanya yang harus super jeli mencari orang itu di tengah kerumunan yang juga merupakan hal kedua yang ia benci.


Entah sudah berapa kali Gamma membuang permen karet bekas dan memakan yang baru hanya untuk mengobati kebosanan. Hingga tiba-tiba pintu keluar stasiun mendadak ramai dan membuatnya bangkit. Maniknya bergerak cepat mencari sosok yang ia cari. Embusan napas lelah mulai terdengar dari cowok pemilik manik hitam itu yang sudah bosan bolak-balik melihat layar ponsel dan kerumunan untuk mencari seorang gadis yang bahkan warna bajunya saja ia tidak tahu. Gamma mulai mengusap wajahnya kasar.


"Ya lu jangan nyolot lah. Ini tadi yang ngambil bapak porter ya bukan gue!" Suara itu berhasil menarik perhatian Gamma.


"Ya masa lu ngga liat dulu itu koper bukan punya lu?"


"Ya kan warnanya sama dan itu jelas-jelas diambil dari atas kursi gue. Ih lu mah!"


"Salah lu yang nggak pastiin dulu. Itu barang di koper gue berharga ya!"


"Ribet bener. Mana!" bentak gadis berambut cokelat seraya merampas koper yang masih di genggaman cowok dengan kacamata hitam besarnya itu. Ia segera berbalik dan meninggalkan cowok tadi dengan wajah masam.


"Lepasin! Lu siapa?!" bentak gadis berambut cokelat tadi seraya berusaha melepas cekalan yang tiba-tiba ada di lengannya. Namun, yang ditanya tak menjawab dan memilih untuk menarik gadis tadi.


"Tolong!!! Tolong!!" teriak gadis itu dan membuat pemilik manik hitam yang menarik tangannya itu mendengkus kesal lalu menghempaskan cekalan tangannya dari lengan gadis yang sekarang sedang mengaduh kesakitan itu.


"Sakit nih!"


"Siapa suruh lu teriak?" Pemilik manik hitam itu menatap datar gadis di hadapannya.


"Gue udah nunggu lu satu jam. Jangan buat penantian gue sia-sia."


"Siapa suruh nungguin gue?" balasnya.


"Minggir! Gue mau lewat!" ketus gadis itu setelah sekian lama bergeser dan bergeser untuk menghindari cowok di hadapannya. Namun, hanya dengan satu tarikan bagi Gamma untuk mengambil alih kendali gadis itu. Sayangnya pemilik rambut cokelat itu tak mau kalah dan ikut menarik tangannya kembali. Yap, benar dugaannya. Gamma berhenti dan berbalik menatap tajam manik cokelat gadis di hadapannya, membuat gadis tadi berhenti seketika.


"Lu bisa gak sih gak nyusahin gue?" Suaranya rendah tapi embusan napas cowok yang wajahnya hanya berjarak beberapa senti di depan gadis tadi membuat darah gadis itu berdesir.


"Ekhem." Gadis tadi berdeham untuk menetralkan degup jantungnya yang mulai berdetak di atas normal.


"Seharusnya gue yang tanya! Kenapa lu narik-narik gue segala, hah?"


"Gue anterin lu ke apartemen lu," balas Gamma dan kembali menarik tangan gadis tadi. Namun, gadis itu masih saja mencoba bertahan di tempatnya membuat Sang Hitam berdecak sebal.


"Gue bukan maling! Gue bukan penjahat dan gue gak mau macem-macem sama lu! Nurut doang napa, sih! Ribet amat lu jadi cewek!" Gadis tadi hanya menatap sebal ke arah punggung cowok yang sekarang masih menarik tangannya. Ia malah mencebikkan bibirnya seraya menarik koper yang sedari tadi ada di tangan kirinya.


"Masuk!" Gadis berambut cokelat itu memutar bola matanya malas sebelum memilih membuka pintu mobil berwarna hitam itu.


"Eh eh, lu mau bawa koper gue ke mana?"


"Bagasi." Gadis tadi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan memilih memasuki mobil sebelum cowok tadi kembali memarahinya.


"Gue Bulan," ucap gadis yang duduk di kursi belakang itu setelah mobil melaju beberapa menit yang lalu.


"Tahu," jawab Gamma, singkat.


"Hah? Lu tahu nama gue? Lu penggemar gue ya? Atau lu jangan-jangan stalker ya? Wah wah tindak kriminal ini. Turunin gue sekarang!" Cowok dengan manik hitam itu kembali mengembuskan napas kesal sambil melirik gadis yang sekarang sedang panik di kursi belakang melalui spion di dalam mobil.


"Jawab! Atau lu beneran penjahat, ya? Ganteng-ganteng kok penjahat." Gadis itu mengalihkan pandangannya ke jendela mobil.


Gamma tersenyum kecut. "Gue Gamma dan gue emang ganteng tapi bukan penjahat."


"Halah boong! Eh, emang lu tahu di mana apart gue? Kok main belok-belok aja?" tanya gadis yang mengaku bernama Bulan itu. Namun, Gamma tak membuka mulutnya sedikit pun dan memilih fokus pada jalan, membuat Bulan kembali berdecak sambil memutar bola matanya malas.


***


Seorang gadis yang baru saja membongkar koper tapi malah meninggalkan barang-barangnya begitu saja di sebelah kasur. Ia memilih melangkahkan kakinya ke arah balkon kamar barunya. Angin malam menyapa kulit halusnya, membuatnya mengangkat sebelah sudut bibir. Maniknya beralih menatap Bulan yang sedang purnama. Ia diam, raut wajahnya datar tapi tatapannya terlihat sangat dalam. Gadis bernama Bulan itu seakan tenggelam bersama salah satu benda langit yang ditatapnya, hingga dering ponsel membuatnya tersadar dan segera kembali ke kamar dan menutup pintu balkon.


"Halo. Akhirnya nelfon juga," ujarnya setelah terhubung dengan orang yang menghubunginya.


"Iya maaf. Gimana kabarnya? Masih sehat lah ya, jawabnya tadi aja semangat. Hahaha," balas seseorang di seberang sana.


"Sehat sih sehat ya. Cuman tahu nggak sih tadi gue baru aja turun dari kereta eh udah ketemu orang nggak jelas. Gue nggak ngerti dia siapa, tiba-tiba dia narik-narik gue dan maksa buat nganterin gue ke apartemen. Aneh nggak, sih?" gerutu Bulan dengan wajah cemberut.


"Oh iya? Serem nggak orangnya?"


"Ya nggak, sih. Cuman kita gabisa nilai orang dari luarnya aja, kan. Tahu-tahu dia penjahat lagi. Dia tahu gue dari mana coba? Lu bayangin, lu di tempat baru dan tiba-tiba ada orang kayak gitu? Panik, nggak?" cerocos Bulan.


"Haha. Cowok apa cewek?"


"Cowok."


"Ganteng, nggak?" goda laki-laki di seberang sana.


"Gunung apaan, sih!" Bulan terlihat mulai kesal.


"Ya mungkin dia kenal lu dari temennya yang juga kenal lu? Tapi lu gapapa, kan?"


"Ngaco ah. Temen gue di sini nggak banyak. Iya si gue gapapa," balas gadis yang sedang merubah posisinya menjadi rebahan itu.


"Yaudah, kali aja dia pengganti gue. Ya, kan?"


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita