
~Tidak ada yang menginginkan kejujuran yang menyakitkan. Sayangnya, itu adalah pilihan terbaik~
***
"Emang Abang itu nyebelin banget, Kak. Udah keras kepala, nyebelin tapi untungnya dia pinter," keluh Gemi sambil melirik tubuh yang masih tidak sadarkan diri di ranjang ruangan putih itu.
"Dia nyebelinnya bukan cuman ke lu doang," timpal Fikar yang juga ikut dalam perbincangan itu. Bulan tertawa mendengar keluh kesah orang-orang di sekitar Gamma itu.
"Tapi kalian betah ya sama dia? Hahaha," tanya Bulan diakhiri tawa. Sebenarnya Bulan juga kesal akan sikap menyebalkan pemilik manik hitam itu. Namun sekarang, ia merindukan Gamma yang kerap membuatnya kesal.
"Iya mau gimana lagi. Eh bentar-bentar." Gemi memotong ucapannya sendiri karena ponselnya tiba-tiba bergetar. Ponsel yang baru saja ia ambil itu langsung ia tempelkan ke telinga setelah menerima panggilan yang masuk.
"Sekarang banget, Ma? Sama Fikar juga? Ini Kak Bulan gimana?" tanya Gemi bertubi-tubi seraya melirik Bulan yang menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
"Oke," tutup Bulan dan menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia menatap Fikar sebentar sebelum beralih pada gadis dengan manik cokelat di hadapannya itu.
"Kak, Mama tadi bilang gue sama Fikar suruh pulang dulu. Ini Kak Gamma nggak apa-apa titip ke Kak Bulan dulu?" tanya Gemi setengah tidak enak.
"Nggak apa-apa. Emang kenapa?" tanya Bulan balik.
"Ya kasian Kakak gitu dari tadi sore belum pulang sama sekali. Beneran nggak apa-apa?" tanya Gemi sekali lagi untuk memastikan.
Bulan menepuk pelan pundak Gemi. "Nggak apa-apa. Kalian pulang aja dulu. Gue baik-baik aja di sini. Tenang aja, Gamma aman. Kalo ada apa-apa nanti gue telfon, kok. Oke?"
"Yaudah kalo gitu. Makasih ya, Kak Bulan. Ayo, Fikar!" ujar Gemi dan segera bangkit diikuti kekasihnya itu. Keduanya hilang di balik pintu putih yang baru saja ditutup.
"Ada apa?" tanya Fikar sambil memperlambat langkahnya agar Gemi mudah mengimbanginya.
"Nggak tahu gue. Mama cuman bilang suruh pulang, ajak lu juga." Fikar mengangguk pelan.
Mobil yang dikendarai Fikar melaju meninggalkan area rumah sakit dengan kecepatan normal. Hening sepanjang perjalanan karena keduanya sama-sama larut dalam pikiran masing-masing dan bingung karena Vani terbilang jarang melakukan hal ini. Gemi mengembuskan napas pelan ketika mobil milik kekasihnya itu sudah memasuki pelataran rumahnya. Keduanya turun dan segera memasuki rumah. Vani langsung berdiri dari sofa dan menghampiri keduanya, berbeda dengan Dandi yang masih duduk terdiam.
"Loh, muka Papa kenapa?" tanya Gemi yang langsung mendekati papanya itu ketika melihat banyak lebam di wajah Dandi.
"Nggak apa-apa. Udah duduk aja dulu," suruh Dandi.
"Lah nggak apa-apa gimana? Itu bonyok-bonyok, apanya yang nggak apa-apa, sih?" gerutu Gemi khawatir.
"Gemi, udah. Kalian duduk aja," potong Vani membuat Gemi langsung diam dan memilih duduk di samping Fikar yang juga terlihat bingung.
"Setelah ngomong ini, Papa sudah siap untuk kalian benci, termasuk Fikar dan Gamma. Kalo kalian juga mau Papa buat pergi, Papa akan pergi tapi tolong dengerin Papa sampai selesai," kata Dandi memulai percakapan. Ia menatap Gemi dan Fikar bergantian dengan tatapan sayu. Sedangkan Gemi sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak memotong pembicaraan.
"Sebelum Gamma kecelakaan, Gamma sudah tahu jika dia bukan anak Papa." Gemi membelalakkan matanya dengan kapala yang masih penuh akan tanda tanya tapi sebisa mungkin untuk menahan agar tidak langsung bertanya. Begitu juga Fikar yang tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
"Dan kamu Fikar," sebut Dandi membuat yang dipanggil menatap Dandi tajam.
"Dia saudaramu. Gamma saudaramu." Gemi hampir saja memekik jika saja tangannya tidak menutup mulutnya dengan cepat.
"Itu juga alasan kenapa Papa meninggalkan Gamma dulu. Dia bukan anak kandung Papa," ucap Dandi terhenti sejenak sambil menarik napas. Sedangkan Vani sekarang berpindah dan duduk di samping Gemi sambil memeluk gadisnya itu.
"Jika kalian mengenal Langit, seseorang yang juga Gamma kenal, dia anak kandung Papa. Dulu dengan bodohnya Papa meninggalkan Ibunya yang masih mengandungnya dan memilih untuk menikahi Novi. Hingga tiba ketika Langit lahir, Papa benar-benar meninggalkan mereka tanpa tahu anak dalam kandungan Novi ternyata–" ujar Dandi terputus, ia meremas tangannya sambil berusaha melanjutkan apa yang memang seharusnya ia katakan.
Pria yang kerap dipanggil Dandi itu melanjutkan ceritanya. Gemi yang merasa kaget tiap mendengar kalimat yang meluncur dari pria di hadapannya itu langsung memeluk erat Vani dan berusaha menemukan kekuatan di sana untuk dapat mendengarkan tiap lanjutan dari kalimat Dandi. Begitu juga Fikar yang masih tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya duduk sambil mengeraskan rahangnya mendengar semua kenyataan yang membuatnya masih tidak habis pikir. Jadi selama ini Gamma bukan saudara Gemi, kekasihnya tapi saudaranya sendiri. Fikar menelan salivanya susah mengingat semua hal yang telah terjadi sebelum ia bersama Gemi. Mengenai Gamma dan Fikar yang sama-sama terlibat dalam kekejaman Tomi lalu sekarang ternyata Tomi bukanlah orang gila yang mengaku-ngaku papa Gamma.
"Setelah ini terserah kalian akan memperlakukan Papa seperti apa," pungkas Dandi mengakhiri kisahnya.
"Pa, makasih Papa udah jujur. Makasih Papa udah berani buat bilang ini di depan kami. Makasih atas semua pengakuan Papa. Gemi masih sayang Papa. Gemi tahu masa lalu Papa adalah kesalahan yang mungkin nggak bisa semua orang terima tapi Gemi nggak sepenuhnya menyalahkan Papa. Gemi juga tahu Abang juga nggak akan pernah nyalahin Papa atas kesalahan Papa dulu. Makasih juga Papa udah berani minta maaf sama Kak Bulan. Dia memang gadis yang kuat," ujar Gemi walau masih terbata-bata karena keterkejutannya.
"Iya, Om. Makasih udah ngasi tahu semuanya. Memang nggak akan pernah ada yang ingin mendengarkan kisah yang menyakitkan apalagi itu mengenai dirinya sendiri tapi terima kasih karena sudah berusaha. Fikar juga masih sayang sama Om," tambah Fikar. Dandi terenyuh sambil menahan air matanya yang hendak turun.
"Tapi, Pa. Kak Langit gimana?"
***
Gadis yang sedang tertidur itu melenguh ketika sinar matahari menerpa wajahnya. Ia membuka matanya perlahan dan langsung terkesiap ketika menyadari dirinya ternyata tertidur saat menunggui Gamma tadi malam. Gadis itu mengucek matanya pelan sambil membenarkan posisi duduknya. Maniknya melihat seorang suster yang sedang memeriksa keadaan Gamma yang masih belum sadar itu.
"Gimana keadaannya, Mbak?" tanya Bulan sambil membenarkan ikatan rambutnya itu.
"Sejauh ini masih bagus. Semoga lekas sadar ya kekasihnya," ucap suster itu sambil tertawa renyah.
"Dih, bukan. Dia bukan pacar saya," elak Bulan.
"Bukan pacar tapi ditungguin terus sampe ketiduran di sebelahnya. Saya juga masih muda loh, Mbak. Paham yang beginian," kekeh suster yang sekarang mengecek selang infus Gamma.
"Dih Mbaknya aja yang nggak percaya. Udah dibilangin juga. Udah ah saya titip temen saya dulu. Mau ke toilet," pamit Bulan segera bangkit dari kursinya.
"Ngaku pacar aja susah," gumam suster itu yang masih terdengar oleh Bulan. Ia berdecak sebal sambil meninggalkan ruangan Gamma.
Bulan mengulum bibirnya menahan senyum saat berjalan ke toilet. Ia tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini. Rasanya, kalimat yang tadi sempat diucapkan oleh suster itu membuat kupu-kupu seakan beterbangan di perutnya. Bulan segera menggeleng, mencoba mengenyahkan pikirannya yang mulai tidak jelas. Tidak mungkin dia sebegitu cepat mencintai laki-laki lain setelah tidak lama ditinggalkan oleh kekasihnya. Gadis itu mencuci wajahnya setelah menyelesaikan urusannya dengan panggilan alam. Air yang terasa dingin menyentuh wajahnya seakan mengembalikan kesegarannya dan membuatnya lupa atas kejadian yang sudah ia alami akhir-akhir ini walau hanya sejenak.
Gadis yang baru saja mengeringkan wajahnya itu melangkah untuk kembali ke ruangan Gamma. Ia memijit lehernya yang terasa sedikit sakit karena tidur dengan posisi yang salah. Bulan mengembuskan napas pelan dan membuka pintu ruangan Gamma. Gadis itu terkejut sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat Gamma yang sudah membuka matanya itu.
"Iya pacarnya sudah sadar," celetuk suster yang sama membuat Bulan menatapnya sinis. Sedangkan suster itu masih dengan santainya menatap Bulan sambil membuat Gamma yang baru saja sadar merasa nyaman.
"Oh jadi pasien ini sadar karena tadi mal–" ucap dokter yang berada di sebelah suster tadi itu terputus.
"Ah ah gimana, Dok? Jadi keadaan pa–eh Gamma maksudnya gimana?" tanya Bulan yang mendadak gagu.
"Suster ih bukan, udah saya bilang!" seru Bulan.
"Bukan pacar tapi hati saya," ucap Gamma yang membuat Bulan membelalakkan matanya berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia dengar itu salah.
"Hahaha. Jadi gimana? Ada pihak keluarga yang bisa menemui saya dulu?" tanya dokter yang seakan menjadi penyelamat Bulan di situasi ini.
"Ah iya sebentar saya hubungi orang tuanya dulu," ujar Bulan segera menyambar ponselnya yang ada di meja ruangan itu.
"Halo, Tante. Ini Tante mau ngabarin kalo Gamma sudah sadar," ucap Bulan ketika panggilan sudah terhubung. Ia menyalakan speaker ponselnya agar terdengar oleh yang lain.
"Syukurlah. Aduh akhirnya kamu sadar Sayang," seru Vani membuat Gamma yang masih belum pulih sempurna itu tersenyum tipis.
"Ini Tante lagi dicariin dokter. Keluarga pasien yang diminta. Ini Pak Dokternya lagi dengerin," lontar Bulan.
"Oh yasudah Pak Dokter, ini yang lagi nelfon saya bawa aja. Dia juga keluarga saya," ucap Vani dengan santainya membuat Bulan melongo.
"Ha tapi Tante," protes Bulan.
"Udah dibawa aja Pak Dokter. Dia keluarga saya juga. Saya percaya, kok."
***
Pagi ini meja makan keluarga Dandi terasa hening, ditambah Gemi yang sedang sibuk dengan ponselnya karena sedang membalas pesan dari Fikar, kekasihnya itu. Vani berdeham membuat Gemi mendongak dan tersenyum sembari memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Gemi berangkat sama Fikar?" tanya Vani mencoba mencairkan suasana.
"Iya, Ma." Anggukan pelan mengiringi jawaban Gemi. Tangannya bergerak mengambil satu potong ayam dan meletakkannya di piringnya lalu mengambil satu lagi lalu ia letakkan di piring Dandi.
"Papa harus nambah protein biar nggak pucet," ujar gadis itu yang langsung membuat Dandi menatapnya.
"Kenapa natap Gemi gitu?" tanya Gemi sebelum menyendokkan nasi ke mulutnya.
"Nggak apa-apa," jawab Dandi yang terenyuh mendapat perlakuan dari putrinya itu.
Dandi masih tidak menyangka ternyata orang-orang yang pernah menjadi korban atas keserakahannya masih mau memaafkan dirinya. Ternyata masih banyak orang-orang berhati tulus di dunia ini. Dandi jadi sadar bahwa mereka yang baik adalah mereka yang mau menerima keadaan dan mau memaafkan kesalahan orang lain. Tentu saja Dandi tidak langsung tenang atas perlakuan mereka. Ia sadar kesalahan yang sudah ia lakukan berdampak sangat besar pada kehidupan orang lain dan ia masih siap jika akan mendapatkan hukuman suatu saat nanti.
"Halo, Bulan. Kenapa?" kata Vani sesaat suara dering ponselnya berhenti dan ia meletakkan ponselnya di telinga kiri.
"Syukurlah. Aduh akhirnya kamu sadar Sayang," seru Vani membuat Dandi dan Gemi tiba-tiba menghentikan gerakan masing-masing.
"Oh yasudah Pak Dokter, ini yang lagi nelfon saya bawa aja. Dia juga keluarga saya," ucap Vani.
"Udah dibawa aja Pak Dokter. Dia keluarga saya juga. Saya percaya, kok."
"Gamma sadar," ucap Vani setelah memutuskan sambungan telepon.
"Syukurlah," seru Dandi dan Gemi yang hampir bersamaan.
"Mama mau buru-buru ke sana," ujar Vani sambil membereskan piring-piring yang kotor.
"Ma, Gemi berangkat dulu ya. Fikar udah di depan. Nanti Gemi nyusul ke rumah sakitnya," pamit gadis dengan netra abu-abu itu.
"Oke, Sayang. Hati-hati," balas Vani yang sudah selesai memberikan piring-piring kotor pada Bi Min itu dan bergegas ke kamarnya untuk mengambil tas.
"Kamu nggak mau dianterin?" tawar Dandi.
"Nggak usah, nanti kamu telat. Duluan ya. Bi Min tolong titip Alula dulu," pesan Vani dan langsung hilang di balik pintu utama.
Vani langsung melajukan mobilnya memecah suasana pagi kota Bandung. Senyum di wajahnya yang mulai menunjukkan tanda penuaan itu terlihat sangat berseri. Gamma memang bukan anak kandungnya tapi ia sangat menyayangi laki-laki itu. Bahkan, ia tidak pernah membedakan Gemi, Alula, dan Gamma. Ketiganya adalah bintang di hati Vani dan memiliki porsinya masing-masing.
Wanita yang baru saja memarkirkan mobilnya itu bergegas turun dan segera melangkah cepat ke ruangan Gamma karena tidak sabar untuk memeluk putranya itu. Tangannya bergerak mendorong pintu putih di hadapannya.
"Gamma say–" panggil Vani yang terputus karena tidak melihat keberadaan putranya di ruangan itu. Bahkan, tak ada satu pun orang.
"Gamma, kamu di toilet?" tanya Vani seraya mendekati toilet kamar itu tapi nihil. Ia tidak menemukan apa pun. Ia hanya melihat selang infus yang tergeletak di lantai seakan dibuka paksa itu. Vani bergegas ke luar ruangan dan mulai bertanya pada suster yang berada di sana hingga Bulan tiba-tiba muncul dan langsung berlari mendekati Vani.
"Gamma ke mana?" tanya Vani tak sabaran.
"Di kamarnya, Tante."
"Nggak ada," ucap Vani yang mulai panik.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita