Eclipse

Eclipse
Eclipse 32



~Terkadang seseorang datang dalam hidup kita membawa kesedihan, pulang dengan kemalangan, dan meninggalkan luka serta sesak~


***


Bulan kembali menyeruput secangkir matcha yang sudah ia isi beberapa kali. Gadis itu masih saja berkeringat walau pendingin ruangan menyala dengan suhu yang cukup rendah. Tangannya bergerak cepat mengikat rambutnya asal dengan manik mata yang masih memerhatikan layar laptopnya. Telinganya sibuk mendengarkan berita dari televisi yang juga ia nyalakan. Jari-jari lentiknya bergerak menggeser touchpad laptop untuk menggulir setiap berita baru. Setiap kali berita di televisi berganti menjadi tampilan iklan, gadis itu dengan sigap mencari saluran lain yang sedang memberitakan pesawat International Air yang kemarin jatuh. Seakan tidak bosan, Bulan sudah melakukan hal ini dari pagi. Ia sudah tidak peduli dengan penampilan yang acak-acakan. Bahkan, mata sembabnya sudah tidak menjadi perhatiannya lagi. Gadis itu mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya yang terasa panas hingga sebuah dering ponsel membuatnya langsung menyambar benda pipih di sampingnya itu.


"Halo. Gimana, Gam?" tanyanya tidak sabar.


"Belum ada kabar, Bulan." Kalimat itu membuat air wajah Bulan berubah drastis.


"Lu nggak ngampus, ya?" tanya Gamma karena tidak mendapat tanggapan dari gadis itu.


"Iya," balas Bulan singkat.


"Lu udah makan?" tanya Gamma lagi yang mulai mengkhawatirkan gadis itu.


"Kalo lu dapet kabar terbaru tentang Langit tolong kabarin gue secepatnya," pesan Bulan mengabaikan pertanyaan Gamma.


"Pasti. Jangan lupa istirahat dan makan. Jangan sampe sakit," ucap Gamma mengingatkan karena ia tidak yakin gadis itu istirahat dengan benar.


"Hmm. Udah dulu ya," tutup Bulan sambil menjauhkan ponselnya walau belum mendapat jawaban dari lawan bicaranya.


Bulan mengembalikan ponselnya ke tempat semula. Ia mengusap wajahnya kasar dan kembali mengecek berita di laptop dan televisinya, tidak ada perkembangan. Suara bel yang tiba-tiba memenuhi indra pendengarannya membuat gadis itu mendesah pelan dan segera bangkit. Dengan malas, ia membuka pintu apartemennya dan mendapati seorang pria berdiri di depannya.


"Mbak Bulan, ya?" tanyanya. Bulan hanya mengangguk pelan.


"Ini ada paket. Sebenernya sudah beberapa hari yang lalu, saya pikir akan segera diambil di lobi tapi sampe sekarang nggak diambil. Jadi saya anterin saja ke sini. Ini," jelas pria yang Bulan kenal sebagai salah satu petugas di apartemennya itu sambil menyodorkan sebuah paket yang sedari tadi pria itu pegang.


"Dari siapa, Pak?" tanya Bulan.


"Nggak ada nama pengirimnya di situ tapi nggak ada hal yang mencurigakan kok, Mbak. Mungkin kalo dibuka ada nama pengirimnya."


"Oh yaudah makasih, Pak." Pria tadi tersenyum pada Bulan sebelum berpamitan padanya. Bulan hanya mengangguk pelan dan kembali menutup pintunya.


Sebuah paket yang ada di tangan Bulan ia letakkan sembarang di kasurnya dan kembali menuju laptop untuk mengecek berita baru dan berharap akan menemukan apa yang sedang ia cari. Namun, tampaknya paket yang tadi sempat ia campakkan sekarang malah menarik perhatiannya. Akhirnya Bulan menyerah dan mengambil sebuah gunting di meja belajarnya dan mendekati kasur, tempatnya meletakkan paket tadi. Dengan hati-hati, gadis itu membuka paper bag yang ternyata hanya dibungkus kertas kado itu. Sebuah jaket merah yang ada di dalamnya langsung membuat Bulan tecekat. Dengan tangan bergetar, ia mengambil jaket itu dan memeluknya erat. Ia ingat betul jaket itu, jaket yang pernah ia perhatikan sangat detail hingga Langit menawarinya untuk membelikan jaket itu tapi ia menolak. Bulan seketika luruh, ia meringkuk di kasurnya sambil memeluk jaket merah yang mungkin pemberian Langit yang pertama dan terakhir.


***


Suara bel yang entah sudah berapa kali berbunyi membuat Bulan bangun dari tidurnya yang tidak ia sengaja. Gadis itu terperenjat saat ia sadar langit di luar jendelanya sudah berubah gelap saat sebelumnya masih jingga ketika ia membuka paket yang ia terima hari itu. Pemilik manik cokelat itu mengucek matanya dan melirik jam yang ada di dinding kamarnya sebelum bangkit dan bergegas menuju pintu karena suara bel kembali berbunyi. Gadis itu membuka pintu dengan terburu-buru karena bel yang dibunyikan juga cenderung terburu-buru. Maniknya langsung menangkap tubuh Gamma yang sedang berdiri di depan kamarnya. Gadis itu menatap wajah Gamma yang terlihat lesu hingga membuatnya menarik laki-laki itu untuk masuk ke apartemennya.


"Jenazah Langit sudah ketemu," lirih Gamma yang tidak berani menatap gadis di hadapannya itu. Bulan membulatkan matanya, air mata jatuh begitu saja tanpa diminta. Gadis itu luruh tapi Gamma menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Jenazah lu bilang? Jenazah?" tanya Bulan dengan manik yang sudah penuh dengan air mata. Maniknya menatap nanar manik hitam milik Gamma yang juga membalas tatapan itu dengan penuh luka.


"Nggak. Nggak! Lu bohong, kan? Bohong, Gam?" tanya Bulan sekali lagi diiringi dengan gelengan dari kepalanya.


"Bulan, gue tahu lu kaget. Gue juga tapi kita harus terima ini semua, Bulan." Gamma mencoba menguatkan gadis yang sekarang banjir dengan air mata itu. Kedua tangannya sibuk menghapus air mata yang membuat pandangannya mengabur.


"Gue nggak suka dibohongin!" bentak Bulan yang langsung mendapat dekapan dari laki-laki yang datang membawa berita menyakitkan itu


Gamma memeluk erat tubuh Bulan yang rapuh seakan menyalurkan kekuatan yang sebenarnya ia juga tidak punya banyak. Bahkan, sore tadi ketika Gamma mendapat kabar itu dari Dandi ia juga kacau. Pikirannya seakan membuka semua hal yang bersinggungan dengan Langit. Namun, ia berusaha untuk tetap mengabari gadis yang sekarang sedang tersedu-sedu di dada bidang Gamma hingga membuat baju laki-laki itu basah dengan air mata. Gamma mengelus lembut rambut Bulan hingga gadis itu tiba-tiba menyembulkan wajahnya.


"Kita ke sana sekarang, ya?" pintanya.


"Bulan, ini udah malem. Di sana udah ada Papa," balas Gamma. Bulan langsung melepaskan pelukannya dan menatap Gamma tajam.


"Lu tega ya, Gam."


"Bulan, maksud gue bukan gitu. Kita ke sananya besok aja, ini udah malem. Jenazah Langit udah dibawa ke kediaman dia di Jakarta," ucap Gamma.


"Nggak, Gam. Sekarang!" Bulan masih bersikeras.


"Bulan, gue janji bakal bawa lu ke sana besok. Janji," ujar Gamma masih mencoba meyakinkan Bulan.


"Gam, lu lupa? Siapa salah satu yang jadi alasan dia akhirnya memilih untuk pergi?" tanya Bulan dengan nada yang meninggi. Gamma mengangkat sebelah alisnya menatap manik Bulan yang masih belum kering dari air mata.


"Kita!" Gamma terdiam. Lidahnya kelu. Ia hanya menatap Bulan yang deru napasnya semakin kencang itu.


Bulan segera meninggalkan Gamma dan memasuki kamarnya. Tangannya meraih jaket merah yang tadi sore ia peluk hingga tertidur. Ia kenakan jaket pemberian Langit itu dengan cepat, mengambil sebuah tas yang tergantung di dekat lemari, memakai salah satu sepatu yang ia ambil dengan asal dan langsung kembali ke ruangan di mana Gamma masih diam dengan tatapan kosong.


"Kalo lu nggak mau nganterin, cepet kasih tahu alamat Langit!" desak Bulan di depan pemilik manik hitam itu. Gamma masih diam seakan tiba-tiba tuli.


"Kita ke sana malam ini."


***


Bulan masih setia bersimpuh di samping makam Langit walau matahari sudah semakin meninggi. Bahkan, Dandi saja sudah memilih untuk menunggu di tempat lain sebelum berpesan bahwa ia masih ingin di kota ini dulu hingga semuanya cukup baik-baik saja bagi Dandi. Gamma yang menemani gadis itu tidak berani untuk mengajak Bulan pulang. Tangan Bulan menyentuh nisan Langit dengan pelan, bibir bawahnya ia gigit keras hingga kemerahan. Air matanya seakan sudah kering karena tidak berhenti menangis sejak tadi malam. Bulan menelan salivanya susah, rasanya sesak hingga ia susah untuk bernapas. Gamma yang berada di samping gadis itu bahkan ikut teriris melihat keadaan Bulan sekarang.


"Lang," lirih Bulan.


"Makasih ya jaketnya," lanjutnya sambil mencium jaket merah yang sedang ia pakai.


"Gue langsung pake."


"Anget, Lang. Cuman kenapa ya gue ngerasa dingin di sini?" tanya gadis itu sambil menatap nisan Langit.


"Lu denger gue nggak, Lang?"


"Gue nggak peduli sih lu bisa denger gue atau nggak tapi gue di sini, Lang. Gue mau ngomong sama lu."


"Gue di sini nemenin lu. Gue udah nggak nangis lagi, kok."


"Gue kuat, kan?" tanya Bulan seakan meminta jawaban tapi tentu saja Langit tidak akan menjawab pertanyaan itu. Gamma merangkul gadis itu tapi tangan Bulan langsung menggeser tangan Gamma agar menjauh darinya. Gamma melirik Bulan sejenak dan kembali menunduk setelah menarik tangannya dari pundak gadis itu.


"Hari itu lu pamit, ya? Tapi kenapa nggak jelas?" tanya Bulan selepas menarik napas dalam.


"Kalo mau pamit itu yang jelas ya, Lang. Padahal lu sendiri yang bilang, lu heran sama cicak yang mutusin ekornya tiba-tiba padahal kan bisa dibicarain baik-baik. Sekarang gue heran sama lu, kenapa lu nggak ngebicarain ini baik-baik?"


"Atau gue yang nggak peka?" lirih Bulan yang terdengar semakin mengiris.


"Sorry ya, Lang." Jeda cukup lama membuat Gamma kembali melirik gadis di sampingnya itu yang masih tetap pada posisinya.


"Lang," panggil Bulan lagi yang tak kalah lirih dari sebelumnya.


"Tadi gue tanya sama dokter, katanya transformer itu pake asuransi kendaraan. Mereka nggak diterima di rumah sakit manusia. Lu tahu rumah sakit kendaraan di mana?" tanya Bulan yang terdengar bodoh dan diakhiri tawa yang malah terdengar sumbang.


"Oh di bengkel ya? Ke bengkel, yuk. Kali aja kita ketemu transformer," ujar Bulan yang kemudian menutup mulutnya dengan tangan kiri. Ia tidak dapat menahan tangisnya kali ini. Terlalu sesak tiap kali ia mengingat kenangan dengan laki-laki yang sekarang sudah tidak dapat ia temui lagi itu. Rasanya baru kemarin Bulan bertemu dengan Langit yang memberinya banyak pertanyaan receh tapi mengapa pertanyaan itu sekarang terasa tidak lucu hingga berhasil membuatnya menangis.


"Lang," panggil Bulan lagi yang seperti tidak ingin berhenti mengajak pemilik nisan itu berbicara walau sebenarnya hanya ia yang berbicara.


"Kalo gue hilangin akta kematian lu, lu bakal ada di sini lagi, nggak? Nemenin gue lagi, gue mau lu jemput lagi, gue mau kita ke kafe itu lagi. Liat baby breath, liat krisan." Bulan menarik napasnya panjang menjeda kalimatnya.


"Kata lu krisan itu lambang kejujuran, dia ngerti nggak ya kalo orang yang ngerti tentang dia udah nggak ada sekarang. Kita ke sana yuk, Lang. Gue mau tanya sama dia, dia masih bisa ketawa nggak."


"Lang, lu kenapa diem sih? Lu nggak denger ya? Atau gue kurang kenceng ngomongnya? Hmm?" Bulan menghapus air matanya yang turun.


"Langit, gue capek ditinggal orang yang gue sayang terus," lirih Bulan membuat Gamma menatapnya.


"Orang tua kandung gue, bokap angkat gue, Gunung, terus sekarang lu?" tanyanya dengan senyum miris.


"Maaf, Lang." Jeda yang cukup panjang untuk kesekian kalinya.


"Lang, gue mau kerja di butik lu aja. Gue belum ke butik yang lu bilang. Lang temenin gue, gue nggak ngerti harus bilang gimana ke pemiliknya. Masa–" ucap Bulan yang terputus.


"Masa gue harus bilang kalo lu udah nggak ada? Lang," isak Bulan yang mulai luruh dan memeluk erat nisan Langit. Ia sudah tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Sedangkan Gamma yang sedari tadi tidak berpindah walau sesenti pun ikut menghapus air matanya mendengar tiap kalimat yang keluar dari bibir Bulan.


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita


 


psstt... habis baca ini meluncur dengerin See You Again ~ Charlie Puth. Yuk kita tumpah air mata bareng-bareng