
~Menjadi bayang-bayang itu menyesakkan, hanya bisa mengiringi tanpa membersamai~
***
Baru saja Gamma membuka pintu kamarnya, ia dikejutkan oleh seseorang yang berdiri di dekat ranjangnya dengan sebuah pigura di tangan. Pria itu menoleh saat Gamma memasuki kamarnya.
"Kok cepet? Bukannya lagi di luar kota? Tumben," ujar Gamma seraya meletakkan ranselnya di meja belajar.
"Urusannya cepet kelar," ujar Dandi masih menatap foto dalam pigura yang ia pegang. Gamma mengangguk-anggukkan kepalanya ringan seraya menggantung jaket yang baru saja ia lepas. Cowok itu memilih untuk duduk di meja belajarnya, berhadapan dengan Dandi yang sekarang sedang duduk di salah satu sisi ranjangnya.
"Jadi kenapa, Pa?" tanya Gamma masih berusaha menahan pertanyaan yang sedari tadi sangat ingin ia tanyakan sejak melihat keberadaan pria itu di kamarnya.
"Kenapa apanya?" tanya Dandi menatap putranya sambil meletakkan kembali sebuah pigura yang tadi sempat dipegangnya.
"Kenapa malem-malem ke kamar Gamma? Mau nyuruh Gamma jaga diri lagi?" pancing pemilik manik hitam itu.
"Kita bahagia ya di foto itu," tunjuk Dandi pada pigura yang sama dengan yang sempat ia pegang. Gamma berdecih menyadari papanya itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya, sangat bahagia. Kenapa? Mau ngingetin Gamma lagi biar jagain mereka? Emang Papa nggak bosen ngomong itu terus ke Gamma?" tanya Gamma. Dandi hanya tersenyum dan bangkit dari duduknya.
Seakan tak ingin melepaskan pergerakan Dandi, Gamma terus memerhatikan melalui kedua maniknya. Pria itu bergerak mendekati rak buku-buku Gamma yang tersusun rapi, mengambil salah satu buku di sana secara sembarang dan membukanya lalu beberapa detik kemudian mengembalikan buku itu ke tempat semula. Hal itu ia lakukan secara berulang. Gamma bangkit dan berdiri tepat di hadapan Dandi. Ia mengambil buku yang berada di tangan papanya itu, menaruhnya asal di rak yang berada di sampingnya dan menaikkan sebelah alisnya.
"Papa mau apa ke kamar Gamma?"
"Kenapa kamu tanya kayak gitu?" tanya Dandi balik. Gamma mendengkus mendengar pertanyaan yang menurutnya basi itu.
"Papa mau nyuruh Gamma buat apa lagi?" Nada Gamma rendah hingga membuat bulu kuduk Dandi meremang.
"Kamu ngomong apa? Nyuruh apa?"
"Kenapa Papa nyuruh Gamma buat jagain Bulan? Alasan Papa apa? Apa yang Papa butuh dari dia?" tanya Gamma tak tertahankan. Dandi mengalihkan pandangannya berusaha menghindari tatapan Gamma.
"Jawab, Pa! Apa yang Papa cari dari gadis itu?"
"Nggak ada yang Papa cari, Papa cuman dapet pesan dari Papanya dia dan Papa menjalankan itu saja."
"Nggak, nggak mungkin. Gamma minta Papa jujur," desak Gamma.
"Kamu mau Papa jujur kayak gimana lagi? Se nggak percaya itu kah kamu sama Papa?" tanya Dandi.
"Nggak mungkin Bulan marah-marah sama Gamma karena Gamma berusaha jagain dia dan itu perintah Papa dengan sesuatu yang Gamma nggak tahu alasan pastinya!" bentak Gamma.
Plaak
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Gamma. Ia tersenyum kecut sambil melirik pria yang baru saja menamparnya itu dengan sudut matanya.
"Maafin Papa, Nak."
"Papa keluar!" ucap Gamma rendah dan dingin di waktu yang bersamaan.
"Maafin Papa," rengek Dandi.
"Keluar!" ujar Gamma sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya. Dandi mengembuskan napas pelan sebelum melangkah meninggalkan putranya itu. Gamma memukul dinding di sampingnya ketika pintu sudah tertutup sempurna. Ia mengeraskan rahangnya dan melempar keras buku yang tadi terakhir kali dipegang oleh Dandi.
"Aarrghh," erangnya sebelum kembali menjatuhkan pukulan pada dinding kamarnya.
***
Gamma masih mengejar gadis yang sedari tadi menghindarinya itu. Gadis bernama Bulan itu semakin mempercepat langkahnya saat Gamma memanggilnya. Ia sedikit menyesal hari ini harus menggunakan mobil karena permintaan Gemi tadi pagi yang berangkat bersamanya. Ditambah lagi jarak ia memarkirkan mobilnya cukup jauh dari parkiran yang sedang dituju Bulan sekarang. Gamma setengah berlari dan segera mencekal pergelangan tangan gadis itu agar ia berhenti.
"Lepas!" bentak Bulan tanpa harus menunggu lama.
"Nggak, sebelum lu diem dan dengerin gue sebentar,"
"Mau dengerin apa? Lu udah dapet alasan apa tentang apa yang bokap lu butuhin dari gue?" tanya Bulan dengan tatapan tajam ke manik hitam Gamma.
"Gue emang nggak tahu sampe sekarang alasannya apa tapi tolong percaya sama gue kalo gue udah tanya sama dia, Bulan. Bahkan, gue sampe dia tampar," adu Gamma.
"Liat? Lu bahkan sampe ditampar cuman karena hal itu. Orang yang nyuruh bokap lu, yang katanya Papa gue, itu pembohong. Dia orang yang nggak pernah mau jujur tentang gue yang ternyata bukan anak kandungnya, orang yang nggak pernah mau jujur tentang keberadaan orang tua kandung gue bahkan sampe keduanya meninggal. Lalu lu nurut dengan pembohong itu? Apa lu sadar apa yang sedang lu lakuin? Bisa-bisanya ya lu percaya?!" cecar Bulan menatap Gamma tajam.
"Gu–gue minta maaf. Gue emang terlalu bego saking gue nggak mau ditinggal lagi sama bokap gue. Gue udah capek cari dia dulu selama sepuluh tahun dan sekarang gue nggak siap kalo tiba-tiba dia ninggalin gue gitu aja. Makanya gue nurut," aku Gamma setengah menyesal.
"Alasan basi!" tukas Bulan hingga suara dering ponsel menghentikan adu mulut keduanya.
Bulan menempelkan ponsel ke telinga kanannya. Maniknya membelalak seketika, lidahnya kelu, bahkan ia susah hanya untuk menelan salivanya. Deru napasnya semakin memburu. Maniknya tidak fokus menatap sesuatu yang berada di sekitarnya. Tangannya segera mengembalikan ponselnya ke saku dan melangkah cepat menuju motornya.
"Kenapa?" tanya Gamma yang ikut panik.
"Bareng gue aja naik mobil," tawar Gamma.
"Nggak! Minggir sebelum gue tabrak!" bentak Bulan. Gamma segera menggeser tubuhnya.
Gamma langsung berlari menuju mobilnya, bersamaan dengan Bulan yang meninggalkan area kampus. Tanpa pikir panjang, pemilik manik hitam itu ikut meninggalkan area kampus seraya berharap masih bisa mengejar gadis itu. Gamma memicingkan matanya hingga berhasil menangkap sosok yang ia cari sedang mengendarai motor dengan kecepatan yang sangat tinggi. Pemilik manik hitam itu berusaha untuk tetap dapat mengikuti gadis di depannya hingga sebuah kecelakaan tunggal tidak dapat terelakkan dan memaksa Gamma mengerem secara tiba-tiba. Namun beberapa saat setelahnya, Gamma kembali melajukan mobilnya mendekati gadis yang baru saja kecelakaan itu. Motor gadis itu terpental dan sepertinya cukup rusak. Gamma turun dari mobilnya dan dengan dibantu warga sekitar, gadis itu dipapah untuk masuk ke mobil Gamma. Luka pada beberapa bagian tubuhnya dan motor yang tampaknya harus masuk ke bengkel dulu itu membuat gadis yang baru saja kecelakaan memilih menurut ketika akan dibawa ke mobil Gamma.
"Jangan ke rumah sakit," pinta Bulan sesaat Gamma menyalakan mesin.
"Tapi keadaan lu," bantah Gamma.
"Gue kasih tahu arahnya dan lu tinggal ikutin. Jangan ngeyel!" ujar Bulan membuat Gamma tidak dapat menolak lagi.
***
Senyum kecut terulas di wajah pemilik manik cokelat itu saat melihat kedatangan Dandi ke gedung kosong yang sering Gamma datangi itu. Ia maju selangkah mendekati pria yang juga berjalan mendekatinya itu. Wajah pria yang menemuinya itu tampak terganggu atas permintaan Langit untuk menemuinya kali ini. Namun, Langit suka dengan raut wajah seperti itu. Jarak antar keduanya semakin terkikis dan Dandi dapat melihat jelas wajah Langit dengan senyum kecutnya yang tidak luntur. Sedangkan Dandi menatap cowok itu dengan wajah datar.
Buughh
Sebuah pukulan berhasil Langit layangkan pada pria yang sedari tadi ia tunggu kehadirannya itu. Pria yang tersungkur karena pukulan Langit yang tiba-tiba itu kembali berdiri tanpa sepatah kata pun.
"Kenapa? Anda mau membalas saya? Silakan!" tantang Langit.
Buughh
Langit tertawa keras mendapat pukulan di pipi kirinya itu. Namun, Langit masih berdiri tegap karena lebih siap daripada pria tadi.
"Jangan tertawa kamu! Cepat katakan apa yang kamu inginkan?! Berapa ratus juta?!" tanya Dandi setengah berteriak. Langit kembali tertawa keras mendengar penawaran itu, seakan lelucon baginya.
"Bagaimana jika saya tukar dengan nyawa Anda?" tanya Langit santai.
Buughh
"Kamu jangan main-main!" seru Dandi sambil melayangkan sebuah pukulan lagi pada Langit.
Buughh
Buughh
"Anda yang meminta!" teriak Langit membalas pukulan tadi langsung dua sekaligus. Deru napasnya semakin kencang saat menatap manik milik pria di hadapannya itu.
"Anda sama saja ya dengan dia, sama-sama perebut kebahagiaan orang!" seru Langit di depan wajah pria yang sedang menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya yang terluka. Sedangkan Dandi hanya melirik Langit melalui sudut matanya.
"Apa kalian tidak cukup dengan kebahagiaan yang dimiliki hingga merampas milik orang lain?" ketus Langit.
"Tidak ada yang merampas kebahagianmu, Langit! Kamu yang terlalu buta akan kenyataan!" seru Dandi.
Buughh
Buughh
"Kenyataan seperti apa? Kenyataan yang sebelumnya fiktif dan itu dibuat nyata oleh kalian, begitu?" raung Langit setelah menjatuhkan pukulan yang kesekian kali.
"Kamu harus belajar menerima apa yang menjadi takdirmu, Lang." Nada Dandi melembut membuat Langit berdecih.
"Lantas ajari saya untuk melakukannya. Bagaimana caranya? Bukankah selama ini Anda bahkan tidak pernah melirik saya sedikit pun? Ah salah, kami lebih tepatnya. Lalu sekarang, ketika saya sudah kehilangan seluruhnya dan saya meminta apa yang menjadi milik saya kenapa seakan-akan saya yang salah?" Dandi diam mendengar kalimat itu meluncur dari mulut Langit. Langit tertawa kencang melihat Dandi yang terdiam seakan lidahnya baru saja disita.
"Pergi!" teriak Langit yang merasa sia-sia usahanya mengajak pria itu bertemu. Namun, Dandi masih diam menatap Langit yang terlihat kacau itu.
"Pergi sebelum saya menghabisi Anda!" peringat Langit sekali lagi membuat Dandi memilih untuk mundur dan kembali ke mobilnya.
Langit menatap kepergian Dandi melalui ekor matanya. Deru napasnya semakin memburu, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Langit memukul dinding yang berada di sampingnya, berkali-kali. Ia mengacak-acak rambutnya hingga darah dari buku-buku jarinya karena memukul dinding itu menetes ke rambutnya. Cowok itu merobek asal kaus yang sedang ia pakai dan segera melilit tangan kanannya agar darah tidak terus mengucur.
Langit mendongak, menatap rooftop yang merupakan tempat favorit Gamma itu. Dengan senyum ketirnya, ia memalingkan wajah dan segera melangkah mendekati motor merah miliknya. Pemilik manik cokelat itu segera meninggalkan gedung kosong itu dengan kecepatan motor di atas rata-rata.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita