Eclipse

Eclipse
Eclipse 14



~Ketika semesta membuat Bulan bertemu dengan bintang dan langit secara bersamaan, mungkin akan menjadi sesuatu yang sangat indah atau malah hal lain yang belum pernah kamu bayangkan~


***


"Seneng deh gue liat sobat yang selalu galau udah bisa bucin sama orang lain," ledek Alfa.


"Sok tahu lu," sergah Gamma seraya bangkit dan membereskan bukunya.


"Emang kenapa? Nggak ada salahnya, Gam. Kali aja dia beneran bisa bawa lu keluar dari rumah lama dan membuat lu menetap di rumah baru."


"Berisik!" seru Gamma dan meninggalkan Alfa yang masih duduk santai di salah satu kursi merah area DPR.


Langkah Gamma sedikit terburu-buru menuju parkiran. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pemilik manik hitam itu berdecak saat menyadari bahwa ia menuju tempat parkir yang salah. Gamma merutuki dirinya yang bisa-bisanya lupa tempatnya memarkirkan mobil tadi pagi. Tanpa pikir panjang, cowok itu segera berlari menuju parkiran yang letaknya cukup jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Sambil berlari, Gamma segera merogoh sakunya dan segera menempelkan ponsel setelah berhasil menghubungi seseorang. Ia menggerutu saat suara sambungan telepon tidak kunjung berubah menjadi suara gadis yang sedang berusaha ia hubungi itu.


Manik hitam Gamma berhasil menangkap keberadaan mobil hitam miliknya saat sudah berada di area parkir yang ia tuju hingga sebuah klakson mengagetkannya dan membuatnya terjatuh. Ia berdecak, hal menyebalkan apalagi yang menimpanya kali ini. Cowok itu segera bangkit dan menatap seseorang yang masih diam di atas motornya. Gamma mendekati si empunya dan membuka kaca dari helm fullface yang dikenakan pengendaranya. Cowok itu terperenjat dengan kedua alis yang hampir tertaut.


"Kenapa? Kaget?" tanya seseorang yang sekarang membuka helmnya itu.


"Lu?" tanya Gamma masih tak percaya dengan penglihatannya.


"Kenapa Bapak Gamma yang sangat terhormat?"


"Nggak. Nggak apa-apa," ujar Gamma langsung merubah ekspresi kagetnya menjadi biasa saja.


"Oke kalo gitu sekarang lu minggir," ucap Bulan.


"Nggak bisa. Lu hari ini pulang sama gue!" tolak Gamma dan malah berusaha menghalangi motor Bulan.


"Kemarin-kemarinnya lu nggak percaya gue beneran bisa bawa motor. Lalu sekarang, motor gue dateng dan ada di depan wajah lu. Berhubung semuanya sudah jelas, mulai sekarang lu nggak perlu jemput gue, anterin gue, atau apa pun itu. Ngerti lu?"


"Nggak!" tegas Gamma.


"Kok nggak? Emang lu siapa? Gue bisa ke mana-mana sendiri bawa motor," protes Bulan.


"Lu nggak hafal jalan di sini. Nanti lu nyasar siapa yang repot?" ujar Gamma tak mau kalah.


"Aduh Gamma, lu nih katanya mahasiswa teknik informatika tapi lu kudet banget, sih. Sekarang itu udah ada yang namanya google maps, waze, dan yang lainnya. Lagian kalo gue yang nyasar kenapa lu yang repot?"


"Y–ya karena gue yang tahu tentang lu nanti gue yang dipanggil polisi buat diminta kesaksian dan gue males berurusan sama polisi," lontar Gamma.


Bulan mengusap wajahnya kasar. "Lu bener-bener ya ngeselin banget jadi orang. Minggir, nggak!" desak gadis yang sekarang sudah memakai helmnya lagi itu. Gamma menggeleng seraya berusaha menghalangi jalan Bulan. Bulan menyalakan motornya dan membuat suara yang cukup memekakkan telinga Gamma.


"Minggir atau gue tabrak!" ancam Bulan.


"Oke oke tapi dengerin gue dulu! Lu boleh pulang pake motor lu terserah tapi biarin gue buat tetep anter lu dan jemput lu. Gue nggak masalah kita nggak satu kendaraan yang penting gue bisa mastiin lu aman," ucap Gamma membuat kesepakatan. Gadis yang sudah geram itu memutar bola matanya.


"Terserah. Udah minggir!" bentaknya dan segera melaju meninggalkan area kampus. Gamma segera berlari ke arah mobilnya dan secepat mungkin menyusul Bulan.


***


Gamma masih diam di mobil hitamnya yang ia parkirkan di pinggir jalan. Manik hitamnya masih menatap motor yang terparkir di parkiran sebuah butik. Sudah sekitar tiga puluh menit dia menunggu pemilik motor itu keluar. Namun, hingga bokongnya terasa panas dan ia bosan berada di dalam mobil pemilik motor itu belum juga keluar. Akhirnya Gamma memutuskan untuk meraih ponselnya dan menghubungi sang pemilik motor.


"Lu di mana?" tanyanya sesaat panggilannya tersambung.


"Lagi kerja." Telepon dimatikan secara sepihak membuat Gamma berdecak. Ia memilih menyalakan mobilnya dan memarkirkan di tempat yang sama dengan motor yang sedari tadi ia tatap itu.


Gamma turun dengan mengenakan topi yang ia temukan di kursi belakang mobilnya. Dengan pandangan menunduk, cowok itu memasuki butik dan berjalan layaknya pembeli. Ia menyusuri rak berisi gantungan pakaian yang didominasi oleh pakaian wanita. Manik hitamnya menangkap gadis berambut cokelat yang ia kenal sedang berada di balik meja kasir, melayani pembeli. Gamma mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Cari pakaian yang seperti apa, Mas?" tanya seorang karyawan yang cukup membuat Gamma kaget.


"Lagi lihat-lihat dulu, Mbak. Hehe," jawab Gamma dengan cengiran tak berdosanya. Ia melanjutkan langkahnya seraya memerhatikan gadis yang masih sibuk dengan pelanggan itu. Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya agar ia bisa memiliki alasan untuk berada di sana lebih lama.


"Halo, Gem. Gue lagi di butik, nih. Lu mau gue beliin baju, nggak?"


"Tumben lu. Hmm, sebenernya gue lagi nggak pengen beli sesuatu, sih."


"Mumpung gue lagi di sini. Terserah lu mau apa, gue yang bayar. Cepet," desak Gamma.


"Yaudah lu cariin gue dress ya. Yang cantik," ujar Gemi. Gamma hanya berdeham dan memutus sambungan teleponnya.


"Jangan tanya, cepet bantuin gue cari dress." Gadis di hadapan Gamma itu mengangkat sebelah alisnya tapi memilih menurut dan mengikuti Gamma.


"Lu cari dress kayak gimana?" tanya gadis itu.


"Gue nggak tahu. Kalo gue tahu juga gue nggak akan panggil lu buat bantuin gue," sungut Gamma. Bulan meliriknya sekilas sebelum kembali menyusuri rak di depannya itu.


"Buat pacar lu?"


"Hah? Pacar? Gue nggak punya pacar!" tegas Gamma merasa tersinggung.


"Yang kemarin malem itu bukan pacar lu?" tanya Bulan setengah takut.


"Bukan. Dia adik gue. Lu–lu cemburu, ya?" tanya Gamma, genit.


"Dih, apaan sih lu. Ngapain cemburu sama lu. Dia suka warna apa?" Bulan kembali bertanya berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Biru."


Bulan mengangguk kecil. Tangannya bergerak mengambil beberapa dress warna biru. Menatapnya secara bergantian. Gamma hanya diam sambil memerhatikan apa yang sedang dilakukan gadis di hadapannya itu. Ia sudah pasrah dan membiarkan Bulan memilih apa yang menurutnya bagus seraya berharap Gemi juga akan menyukainya.


"Oke. Ini, ya?" tanya Bulan meminta persetujuan. Gamma hanya berdeham dan mengikuti Bulan yang sekarang berjalan menuju kasir.


"Adik lu cantik ya. Manik matanya bagus," komentar Bulan sambil mengemas barang belanjaan Gamma yang baru saja ia pilih. Gamma hanya tersenyum tipis hingga suara bel karena pintu dibuka membuatnya menoleh. Cowok yang baru saja memasuki butik itu berjalan ke arah kasir sambil tersenyum tipis pada Gamma yang sedang menatapnya.


"Lu udah sampe?" tanya cowok tadi pada Bulan yang sudah selesai membungkus dress yang baru dibeli Gamma.


"Oh, Langit. Iya tadi gue sampe."


"Siapa lu, Bulan?" tanya Gamma menatap gadis itu bingung.


"Oh, dia Langit. Bos gue. Langit, kenalin ini Gamma. Dia temen gue," ujar Bulan saling memperkenalkan kedua cowok yang sekarang saling berhadapan itu.


"Langit," ucap Langit menjulurkan tangannya.


"Gamma."


***


Samsak merah di kamarnya memang selalu menjadi pelampiasan Langit di setiap amarah yang datang menghampiri cowok itu. Seakan dengan begitu semua hal menyebalkan yang mengganggu pikirannya melayang begitu saja, luruh bersamaan dengan tangannya yang memukul keras samsak. Ia mengembuskan napas kesal sebelum kembali menjatuhkan pukulan keras pada benda mati yang tergantung di kamarnya itu. Maniknya yang tadi fokus menatap samsak kini beralih melirik jendela yang gordennya sedikit terbuka sehingga langit malam terlihat jelas dari kamarnya yang berada di lantai dua. Karena tidak fokus, Langit terdorong oleh samsak yang baru saja ia pukul dengan keras hingga membuatnya tersungkur.


"Aaarrggh," erangnya seraya membuka kasar hand wrap yang melapisi tangannya.


Langit melempar kasar benda berwarna merah itu ke meja yang berada di dekat samsaknya. Langkahnya beralih mendekati jendela yang tadi berhasil membuatnya tidak fokus. Tangannya bergerak menutup gorden itu dengan kasar. Ia memastikan seluruh gorden di kamarnya benar-benar tertutup hingga tidak ada celah sedikit pun yang membuatnya dapat melihat langit dari kamarnya. Ia mengembuskan napas berat dan memilih membaringkan tubuhnya di kasur besar yang berada di salah satu sisi kamarnya. Langit merentangkan tangannya seraya menatap langit-langit kamarnya yang cukup tinggi. Pikirannya melayang, seakan langit-langit kamarnya berhasil membawanya dalam kejadian masa lalunya. Film rusak seakan terputar begitu saja di benaknya, membuatnya merasakan sesak yang tiba-tiba menyerangnya tanpa ampun. Langit memejamkan matanya berusaha menghilangkan pikiran itu tapi seakan tak ingin pergi, bayangan yang ada di kepalanya semakin saja terlihat jelas.


Langit bangkit dan memilih duduk di kasur besarnya itu. Maniknya menatap sekeliling, senyumnya terbit saat maniknya menatap pigura yang tergantung di salah satu sisi kamarnya. Ia rindu sosok itu, ia ingin memeluknya kembali tapi sayangnya ia tak akan pernah bisa lagi.


"Hai, Ma. Apa kabar?" lirih Langit.


"Mama bahagia, kan? Langit di sini sedang mencari kebahagiaan Langit. Jika tidak mendapatkannya, Langit boleh ketemu Mama? Langit rindu Mama," ujarnya sendu dan segera melepaskan tatapannya sebelum air matanya tumpah begitu saja.


Langit yang tadinya enggan menatap langit malam kini memilih melangkah mendekati jendela. Tangannya gemetar saat menggeser gorden hingga langit malam terlihat jelas dari kamarnya. Ia menatap datar apa yang sedang semesta suguhkan malam ini. Langit di kota Bandung lebih bersih daripada Jakarta, membuatnya semakin mudah mengingat semua itu tiap kali ia menatap langit malam. Cowok itu tersenyum kecut saat menyadari bahwa ia seakan sedang takut pada dirinya yang lain, langit malam.


"Mama bilang ia memberi nama Langit karena ingin Langit menjadi seperti langit yang selalu melindungi Bumi. Pertiwi, nama Mama sangat indah. Kata Mama, Pertiwi itu artinya Bumi dan Mama ingin Langit melindungi Mama, kan? Tapi Mama bohong, Langit nggak akan pernah bisa melindungi Bumi." Manik cokelat milik Langit berkaca-kaca dengan tatapan menerawang. Ia menarik napasnya dalam mencoba menahan agar bulir yang sudah siap untuk jatuh itu kembali ke tempatnya.


"Tapi Langit janji Langit akan tetap jadi Langit yang Mama pengen walau sebenarnya Langit yang dulu sudah cacat sekarang dan lebih cacat dari yang Mama kenal sebelumnya." Hening cukup lama membuat ruangan itu tampak diselimuti kesedihan dan kesendirian.


"Kenapa sih semesta selalu saja buat gue seolah-olah nggak pernah berhenti rebutan sama dia?"


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita