Eclipse

Eclipse
Eclipse 7



~Kamu butuh orang lain untuk membantu menemukan kebahagiaan dalam dirimu atau hanya sekadar penyempurna kebahagiaanmu~


***


Sore ini Bandung terasa cukup panas. Ditambah lagi Gamma baru saja keluar dari ruangan pengap dan materi kuliah yang tidak kalah membuat otaknya pengap juga. Ia menyusuri jalan yang berada di antara gedung kembar dengan cukup terburu-buru karena panas matahari masih terasa cukup menyengat walau sekarang sudah terbilang cukup sore. Cowok itu mengembuskan napas lega ketika sudah berada di area Di bawah Pohon Rindang atau yang biasa disingkat DPR oleh mahasiswa kampus gajah itu. Ia memilih salah satu bangku berwana biru di bawah salah satu pohon yang sangat rindang. Gamma membuka tasnya lalu mengambil beberapa buku dan alat tulis untuk mulai menggarap tugas yang baru saja diberikan hingga seseorang tiba-tiba duduk di hadapannya.


"Lu tadi pagi sama Fikar ya? Berangkat duluan kok nggak bilang-bilang?" tanya Gamma sesaat menyadari siapa yang duduk di depannya itu. Namun, raut wajah gadis yang sedang ia tatap itu tampaknya sedang tidak bersahabat.


"Kenapa?" tanya Gamma dengan sebelah alis terangkat.


"Kenapa sih, Lu? Nggak dijem­–"


"Rasa itu masih ada, kan?" potong Gemi.


"Rasa apa? Lu mau permen karet? Gue cuman bawa yang ra–" ucap Gamma terputus.


"Nggak usah belagak konyol, ya."


"Rasa apa, Gem? Gue nggak ngerti lu ngomong apa," keluh Gamma yang semakin kebingungan dengan sikap adiknya itu. Gemi mendengkus dan mengalihkan pandangannya sejenak.


"Bang, lu bilang lu mau usaha. Lu janji buat ngilangin rasa itu. Mana? Mana janjinya? Udah lama, loh. Gue nggak habis pikir sama lu. Lu bahkan udah banyak menjalin kisah yang lain tapi ternyata lu gagal, ya? Apa sih yang bikin lu gagal?" tanya gadis berambut cokelat itu menatap tajam lawan bicaranya.


"Usaha? Janji? Kisah? Lu ngomong apa, sih? Gue nggak ngerti," tanya Gamma bingung.


"Lu masih ada rasa sama gue, kan? Gak habis pikir gue sama lu!"


"Gem, lu–lu tahu dari mana?" tanya Gamma terbata-bata.


"Lain kali sebelum berangkat laptopnya dimatiin," pesan Gemi dan hendak bangkit tapi ditahan oleh Gamma.


"Maksud gue nggak gitu, Gem. Gue lagi berusaha, itu salah satu bentuk usaha gue."


"Usaha macam apa dengan tulisan yang seakan menunjukkan kalo lu masih berharap? Cukup karena semua sudah jelas," pungkas Gemi sebelum benar-benar bangkit dan meninggalkan Gamma yang terdiam mendengar kalimat adiknya barusan itu.


Gamma menelan salivanya susah. Tubuhnya mendadak kaku, napasnya menderu, ia mulai menyalahkan dirinya sendiri yang kurang hati-hati dalam segala hal. Bagaimana bisa apa yang selama ini ia tutup rapat berhasil terbuka dan naik ke permukaan atas kebodohannya sendiri? Seharusnya ia memang tidak pernah menulis hal bodoh itu. Seharusnya tidak pernah terbesit sedikit pun di pikirannya untuk menuangkan rasa dalam sebuah tulisan. Namun, semua sudah terjadi dan hancur atas kelalaiannya.


Embusan napas pasrah keluar dari pemilik manik hitam itu. Tangannya bergerak cepat mengemasi buku yang baru saja ia keluarkan. Bahkan belum sempat ia buka, semua hal tiba-tiba berubah dan mungkin membuatnya cukup kacau kali ini. Ia bingung apa yang akan terjadi padanya setelah ini, bagaimana hubungan antara ia dengan adiknya sekarang, dan apa yang harus ia lakukan. Gamma tidak pernah membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi padanya. Ia terlalu sibuk dengan pergulatan yang ada dalam dirinya hingga lupa untuk memikirkan bagaimana jika faktor luar tiba-tiba saja memporak-porandakan apa yang sudah ia buat dan apa yang sudah ia usahakan.


Gamma menyampirkan ranselnya sebelum melangkah cukup cepat hingga sebuah panggilan membuatnya berhenti. Ia menoleh sejenak, menatap Bulan yang baru saja memanggilnya. Gadis itu mendekati Gamma tapi pemilik manik hitam itu malah mengalihkan pandangan dan kembali melanjutkan langkahnya. Bulan yang melihat Gamma terlihat cukup berbeda hari ini, dia lebih diam, tidak terlihat menyebalkan, dan seperti tidak ingin diganggu akhirnya mengurungkan niatnya untuk menemui Gamma. Sedangkan Gamma memang sudah tidak peduli lagi dengan siapa pun yang menyapanya selama perjalanan menuju parkiran. Sesampainya di parkiran, cowok itu langsung memasuki mobil, melempar tasnya ke kursi belakang, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang bisa dibilang di atas rata-rata.


***


Sinar senja menyinari wajah kokoh Gamma. Tadinya Bandung terasa cukup panas tapi bagi Gamma kali ini sangat berbeda, Bandung terasa amat dingin hingga ia butuh sesuatu untuk menghangatkannya. Sayangnya, ia tidak akan menemukan hal itu karena sesuatu yang pernah membuatnya hangat kali ini sedang pergi bersembunyi layaknya Matahari yang bersembunyi di belakang Bulan saat gerhana matahari. Memang benar kata pepatah dulu, jangan pernah bermain dengan api jika kamu tidak ingin terbakar. Sayangnya Gamma adalah anak nakal yang paling tidak suka diatur, paling benci apa yang menjadi miliknya diambil dengan paksa hingga jadi lah sosok laki-laki seperti Gamma saat ini. Ia pikir semuanya sudah usai saat ia sudah berhasil menemukan dan kembali tinggal bersama papanya walaupun harus merelakan perasaannya dan menutupi hal itu. Seharusnya dulu ia tidak pernah merencanakan hal bodoh untuk mengembalikan papanya ke dalam pelukannya. Sekarang ia menjadi seperti pengecut, bersembunyi di balik kesalahan yang ia buat.


Gamma meninju tembok yang ada di sampingnya hingga buku-buku jarinya memutih. Kepalanya ia pukul-pukulkan ke tembok. Ia sudah tidak berharap banyak gadis itu akan memaafkannya. Ia tahu Gemi tidak pernah menyukai kebohongan, sebenarnya tidak ada seorang pun yang menyukai kebohongan termasuk dirinya. Namun, dengan bodohnya ia malah berdusta selama ini akan pernyataan bahwa ia sudah tidak mencintai gadis itu lagi. Mungkin terdengar lucu bagi mereka yang tidak pernah berada dalam posisi ini sebelumnya. Mungkin juga akan terdengar konyol ketika seseorang tahu ia terlihat begitu hancur dan bingung hanya karena sebuah rahasia kecilnya diketahui karena memang di dunia ini tidak akan pernah ada yang mengetahui apa yang sedang kita rasakan. Tidak ada seorang pun yang berjalan di jalan kita, tidak ada seorang pun yang melintasi kisah dengan sepatu yang kita gunakan, sama seperti planet, tidak satu planet pun yang memiliki orbit yang sama. Mereka memiliki orbitnya masing-masing, jalannya masing-masing dalam mengelilingi Mataharinya dan mereka juga tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya mengelilingi Matahari pada orbit planet lain.


Pemilik manik hitam itu luruh dan terduduk menatap senja dari rooftop yang dulu menjadi tempatnya menyatakan cinta pada Gemi. Maniknya tajam menatap gurat jingga yang menghias langit itu walau hanya sementara karena yang indah memang tidak akan bertahan lama. Mereka hanya sejenak, datang secara tiba-tiba dengan keindahannya dan pergi bersama kelam. Gamma mengembuskan napas berat, maniknya ia pejamkan. Ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, Alfa juga pasti memarahinya jika ia menemui sahabatnya itu dalam keadaan seperti ini. Sebenarnya memang tidak ada yang mendukungnya melakukan semua ini tapi Gamma memang tetap Gamma yang selalu keras kepala. Bersama jingga yang masih tersisa di langit, Gamma merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Dengan tangan yang masih bergetar, ia mengusapkan jarinya di atas layar ponsel sebelum menempelkannya di telinga kanan.


***


Matahari sudah mulai meninggalkan horizon tapi Gamma masih saja memandanginya dan seakan ingin mengikuti jejak Matahari yang pergi untuk sejenak. Suara langkah kaki tidak membuatnya menoleh sedikit pun karena ia tahu siapa yang sekarang datang menemuinya. Gamma menarik napas dalam menikmati udara senja yang masih terasa dingin baginya.


"Kenapa, Bang?" tanya seseorang yang sekarang berdiri di samping Gamma seraya menatap wajah kokoh pemilik manik hitam itu.


"Matahari?" tanya Fikar memastikan.


"Iya."


"Kenapa, Bang?" tanya Fikar lagi, tak mengerti.


"Lu liat aja dulu. Nikmatin." Fikar sedikit ragu tapi ia memilih menurut dan menatap Matahari yang semakin turun. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Gamma masih menatap Matahari dengan tatapan tajam walau matanya sudah mulai sakit. Begitu juga dengan Fikar yang berusaha menuruti Gamma.


Gamma dan Fikar masih pada posisi yang sama hingga Matahari benar-benar tenggelam. Fikar berdeham berusaha mencairkan suasana. Sejujurnya ia bingung mengapa pemilik manik hitam itu menghubunginya dan meminta untuk menemuinya di tempat ini dan sekarang malah mengajaknya menatap Matahari hingga membuat matanya cukup sakit.


"Sekarang Mataharinya ke mana?" tanya Gamma yang sekarang sudah mengalihkan pandangannya menatap kendaraan di bawah sana.


"Terbenam," jawab Fikar yang masih bingung akan apa yang terjadi.


"Sebelumnya, apa yang lu liat?"


"Senja?" ujar Fikar sedikit ragu.


"Indah, nggak?"


"I–iya. Kenapa sih, Bang?" tanya Fikar tak sabaran.


"Lama nggak senjanya?" tanya Gamma lagi tanpa menghiraukan pertanyaan Fikar tadi.


"Sebentar. Kenapa, Bang? Ada apa, sih?" Fikar mulai gemas dengan Gamma yang tak kunjung menjawab pertanyaannya dan malah membuatnya seakan berputar-putar pada pertanyaan yang ia anggap konyol itu.


"Itu yang gue lakuin. Dulu gue berusaha mencari senja saat sore biar ada yang nerangin gue tapi ternyata gue salah, senja yang bawa gue ke dalam gelapnya malam. Hingga saat ini," ujar Gamma yang beralih menatap manik cokelat milik Fikar. Fikar menelan salivanya mendengar kalimat Gamma tadi. Sejujurnya ia tidak mengerti secara jelas apa yang baru saja Gamma katakan.


"Lu tahu kan kalo dulu gue deketin Gemi cuman buat rebut Papa gue lagi? Tapi sayangnya gue malah beneran jatuh cinta sama dia bahkan sampe sekarang. Sayangnya lagi, gue nggak bisa milikin dia."


"Gue minta maaf, Bang."


"Lu nggak perlu minta maaf, gue minta lu ke sini bukan buat minta maaf ke gue. Gue tahu kok apa kesalahan gue dan gue nggak akan jadikan kesalahan yang gue buat malah ngebuat orang lain merasa bersalah." Fikar diam sekaan tahu akan ada kalimat selanjutnya.


"Gue akuin, gue masih suka sama dia. Gue udah berusaha sekuat tenaga buat lupa akan perasaan gue ke dia tapi nihil. Semuanya sia-sia tapi tenang aja, gue nggak akan rebut Gemi dari lu."


"Iya, Bang. Gue ngerti, nggak mudah buat lu lupain perasaan lu. Gue juga udah maklumin hal itu, kok. Lu nggak perlu ngerasa bersalah. Gue tahu ini proses yang sedang lu alami," ujar Fikar berusaha menenangkan.


"Tapi sayangnya dia sekarang tahu akan perasaan gue yang masih nyimpen rasa itu," tutur Gamma. Jujur saja, Fikar kaget mendengar pernyataan itu.


"Gue titip dia sama lu. Gue percaya sama lu. Tenang aja, gue bakal beresin semua ini termasuk perasaan yang masih ada itu. Jaga dia baik-baik."


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita