Eclipse

Eclipse
Eclipse 36



~Seburuk apa pun dirimu, semesta masih menginginkanmu sebagai dirimu~


***


"Mama di mana? Kok Kakak di sini sendirian?" tanya Gemi sesaat sampai di depan ruang rawat Bulan dan hanya melihat gadis itu sendirian duduk di salah satu bangku.


"Lagi urus administrasi," jawab Bulan sambil mengedarkan pandangannya.


"Gamma belum ketemu?" tanya Bulan setelah maniknya tidak menemukan laki-laki yang ia cari. Alfa dan Gemi menggeleng bersamaan. Bulan menggigit bibir bawahnya merasa bersalah akan hilangnya Gamma. Pasalnya, laki-laki itu mulai tidak ada kabar semenjak kejadian ia menabrak Bulan. Lamunan Bulan buyar ketika seseorang menepuk pundaknya.


"Ayo, Kak. Mau Gemi bantu?" tawar Gemi sambil membantu Bulan bangkit, begitu juga dengan Vani yang ternyata sudah bergabung dan kini mengambil beberapa barang yang tadinya ada di samping Bulan.


"Makasih tapi bisa kok jalan sendiri," tolak Bulan karena merasa dirinya masih mampu melakukannya sendiri. Gemi menurut dan memilih untuk melangkah di samping gadis itu. Sedangkan Vani dan Alfa sudah berjalan di depan keduanya.


Vani membantu Bulan untuk masuk ke mobil hingga mendapat tawa kecil dari Bulan yang merasa diperlakukan seperti anak kecil. Namun, Vani tetap melakukan apa yang ia mau karena menurutnya memang itu yang harus ia lakukan. Mobil Alfa melaju dalam kecepatan sedang. Hening sepanjang perjalanan, tidak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan, terlebih mengenai Gamma yang belum ditemukan hingga saat ini. Gemi memanfaatkan kesempatan ini, mungkin saja bisa menemukan Gamma yang sedang berada di daerah ini. Gadis dengan netra abu-abu itu mengembuskan napas pelan sebelum menoleh ke arah Alfa yang fokus menatap ruas jalan di depannya. Alfa membalas tatapan Gemi sekilas, seakan mengerti apa yang ingin disampaikan gadis di sampingnya itu.


Bang Mamang sudah siap membukakan pagar saat mobil Alfa sudah berada di depan rumah megah dengan cat abu-abu itu. Alfa tersenyum dari dalam mobil dan melajukannya hingga masuk ke pelataran rumah itu. Gemi dan Vani segera turun untuk membantu Bulan turun. Gadis itu kembali tertawa kecil seakan protes karena masih saja dianggap kesulitan melakukan apa pun. Alfa juga ikut membantu menurunkan barang-barang yang masih ada di dalam mobilnya.


"Tinggal di sini dulu, ya? Kalo kamu di apartemen kamu nanti kamu sendirian," ujar Vani sepihak.


"Aduh jadi nggak enak. Makasih ya, Tante. Mana ini Bulan udah kayak anak kecil aja selalu dibantu. Bulan bisa sendiri, kok. Haha," ucap Bulan diakhiri tawa kecil.


"Nggak apa-apa. Udah ayok masuk. Bi Min minta tolong barang-barang dibawa ke dalam," ajak Vani sambil meminta bantuan pada asisten rumah tangannya yang sedari tadi sudah menyambut kedatangan mereka.


"Eh sebentar. Kalian masih mau lanjut cari Gamma?" tanya Bulan membuat Vani yang tadinya sudah berniat masuk malah mengurungkan niatnya.


"Iya," jawab Alfa.


"Gue ikut ya," pinta Bulan.


"Nggak boleh," tolak Gemi langsung.


"Tapi gue mau bantuin kalian," bujuk Bulan.


"Bener kata Gemi. Mending kamu jangan dulu deh, kasian kamu baru sampe. Baru pulang dari rumah sakit, lebih baik kamu istirahat dulu. Oke?" ujar Vani sambil menepuk pundak Bulan. Gadis itu menghela napasnya.


"Tapi Tante, Bulan nggak bakal kenapa-kenapa. Beneran," ujar Bulan masih berusaha meyakinkan.


"Jangan Bulan, nanti kalo kita ketemu Gamma terus malah lihat lu masih pucet kayak gini gimana? Dia nanti kepikiran." Alfa ikut membujuk gadis dengan netra cokelat itu untuk tidak perlu ikut dalam pencarian Gamma.


"Gue nggak pucet, kok. Ayolah, gue mau bantu kalian." Bulan masih kekeh akan keinginannya.


"Bulan," panggil Vani lembut.


"Bulan tahu Gamma di mana!" seru gadis itu tiba-tiba.


"Yaudah kalo gitu kasih tahu aja alamatnya. Nanti Gemi sama Kak Alfa bakal ke sana dan bawa Abang pulang," ujar Gemi berusaha bernegoisasi.


"Gak ada alamat atau gue ikut?"


***


Alfa menghela napas. "Oke sekarang Gamma di mana?" tanyanya seraya melirik Bulan melalui kaca spion tengah. Gadis itu terlihat menggingit bibir bawahnya sebentar.


"Sorry, sebenernya gue nggak tahu Gamma di mana," cicit Bulan. Alfa langsung memukul keras kemudi sambil mengumpat pelan. Sedangkan Gemi hanya mengembuskan napas pelan karena enggan untuk berkomentar.


Tidak ada yang membuka pembicaraan setelah kenyataan itu. Alfa yang sudah terlanjur kesal karena merasa dibohongi memilih untuk fokus mengendarai mobilnya. Begitu juga dengan Gemi yang seakan tidak bosan menyisir jalan yang sama entah sudah keberapa kalinya dan masih dengan harapan yang sama pula. Mobil itu berhenti tidak jauh dari sebuah bengkel yang sempat dikunjungi Gemi dan Alfa sebelum keduanya menjemput Bulan dan Vani dari rumah sakit. Baru saja Bulan hendak membuka bibirnya untuk bertanya tapi ia urungkan melihat kedua insan yang berada di mobil bersamanya itu masih tampak kesal akibat apa yang ia lakukan tadi.


"Kita nunggu Gamma ke bengkel di seberang," kata Alfa memecah keheningan tapi tidak cukup mengobati keingintahuan Bulan.


"Abang kecelakaan lagi setelah nabrak Kakak dan sekarang mobilnya ada di bengkel itu. Kali aja Abang bakal ke sini buat liat mobilnya," sambung Gemi seakan tahu apa yang sedang menjadi pertanyaan bagi gadis yang ia kenal sebagai teman dekat Gamma itu.


"Kalian yakin?" tanya Bulan pelan.


"Gue sama Gemi udah capek nyusurin Bandung selama ini. Lu pikir nggak capek liatin jalan, tanya orang satu persatu dan itu berkali-kali lu lakuin tanpa hasil?" ujar Alfa kesal.


"Maaf," cicit Bulan yang sekarang memilih menyandarkan tubuhnya dan menatap bengkel di seberang mobil yang sedang ia tumpangi itu.


Gemi menatap Alfa dan memberikan kode dengan melirik Bulan pelan tapi ternyata Alfa terlanjur kesal dengan gadis itu. Alfa jarang merasa kesal pada seorang gadis tapi kali ini beda. Ia pikir gadis itu lah salah satu penyebab Gamma menjadi seperti sekarang. Gamma yang ia kenal bahkan banyak berubah semenjak kenal dengan gadis bernama Bulan itu. Gamma sudah jarang mendatangi rumahnya hanya untuk sekadar main atau memakan camilannya hingga habis. Terlebih atas apa yang sudah dialami Gamma semenjak kenal dengan Bulan yang ia dengar kisahnya dari Gemi dan Fikar. Gamma yang Alfa kenal sekarang seakan berbeda walau sebenarnya ia berharap hal itu tidak akan lama.


"Bang, lu ke mana, sih?" gumam Gemi yang sudah bosan duduk di mobil itu dalam waktu yang cukup lama tapi tidak melihat Gamma walau hanya batang hidungnya. Gemi mengusap wajahnya kasar. Ia memijat kepalanya yang terasa pusing.


"Bang, lu nggak kangen sama Gemi? Sama Alula?" lanjut Gemi masih dengan suara pelan. Bulan menatap gadis dengan netra abu-abu itu dengan tatapan sayu. Tampak jelas kekhawatiran di wajah Gemi. Bulan memejamkan matanya berusaha untuk tenang, berharap apa yang terjadi pada Gamma sekarang bukan lah salahnya.


"Bang, gue kangen sama lu. Fikar juga kangen sama lu, Mama khawatir sama lu, bahkan Kak Alfa juga. Papa pasti khawatir banget juga kalo tahu lu begini," racau Gemi yang sudah lelah atas pencarian yang belum menemukan titik temu itu.


"Bang, gue pengen lu ajak lagi ke rooftop itu. Lu mau denger cerita gue yang lain?"


"Oke kita ke kantor polisi sekarang!" tegas Alfa dan langsung menyalakan mesin mobil karena sudah tidak tega dengan racauan Gemi.


"Bentar, sekarang gue tahu Gamma di mana," sela Bulan membuat Alfa kembali berdecak.


"Gue serius kali ini. Kali ini gue nggak bohong! Gue yakin Gamma di sana walau sebenernya nggak yakin seratus persen. Percaya sama gue," lanjutnya.


***


"Gue boleh minta gue duluan yang ke sana?" tanya Bulan pelan.


"Yaudah silakan jalan duluan. Gue di belakang," jawab Gemi santai.


"Hmm. Maksud gue, gue ke sana duluan. Kalian tunggu di sini," cicitnya.


"Ya nggak bisa, Gamma Abang gue!" tolak Gemi cepat.


"Gue janji setelah gue ngomong sama Gamma, nanti gue hubungin kalian buat naik."


"Nggak!"


"Gem, udah biarin aja." Gemi menatap Alfa memelas tapi akhirnya memilih menurut dan kembali mendekati Alfa yang berdiri di samping mobilnya.


Bulan tersenyum dan segera melangkahkan kakinya memasuki gedung favorit Gamma itu. Aroma yang sama seperti saat ia pertama kali ke sana kembali memenuhi indra pencium gadis itu. Kakinya menapak anak tangga satu persatu dengan pelan karena ia tahu keadaannya belum pulih sempurna. Ditambah gedung ini memiliki lantai yang cukup tinggi. Bulan sempat berhenti di salah satu anak tangga dan mengambil napas karena sudah mulai merasakan lelah. Namun, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya karena sudah tidak sabar bertemu dengan Gamma. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke setiap ruangan yang ada di dekat tangga untuk mencari keberadaan Gamma karena ia tidak yakin laki-laki itu sedang berada di rooftop saat matahari yang mulai meninggi ini.


Bulan terus melangkahkan kakinya menyusuri anak tangga karena tidak menemukan Gamma di tiap ruangan yang ia lewati. Baru saja kakinya menapak di rooftop gedung itu, maniknya menatap Gamma yang sedang duduk sambil menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut yang ia peluk. Bulan mendekatinya sangat pelan agar suara langkahnya tidak menganggu Gamma yang sepertinya sedang mencari ketenangan. Gadis itu memilih duduk di samping Gamma sambil memicingkan matanya karena menatap langit yang semakin menyilaukan matanya. Kepala Gamma tiba-tiba menyembul dan menatap gadis yang tidak ia sangka ada di sini.


"Ngapain di sini?" tanya gadis pemilik manik cokelat yang menyadari Gamma sedang menatapnya.


"Menjauh dari orang-orang," jawab Gamma pelan.


"Emang siapa yang pengen lu jauhin?" tanya Bulan yang sekarang membalas tatapan Gamma. Manik cokelatnya melihat beberapa luka yang ada di wajah laki-laki itu. Ingin sekali tangannya membersihkan dan mengobati luka itu dengan benar tapi ia urungkan untuk saat ini.


"Semua. Semua orang," lirihnya.


"Emang kenapa? Kenapa lu pengen jauhin semua orang?"


"Biar nggak ada yang celaka lagi karena gue," sahut Gamma yang sekarang mengalihkan pandangan ke depan, maniknya menerawang.


"Orang tua kandung lu, papa angkat lu, Gunung, lalu kemarin Langit," lanjut Gamma.


"Lu mau bilang pengecut? Tenang aja, gue sadar kok. Gue sadar kalo gue ini lari dari masalah. Lalu lu nggak pantes ngomong sama pengecut di sini," lirih Gamma.


"Gam," panggil Bulan.


"Gue bukan Gamma. Gamma yang kuat udah mati, Gamma yang mampu bertahan udah gue bunuh. Sekarang yang lagi lu denger suaranya itu pengecut. Pengecut Akhtar. Ah, seharusnya gue nggak pake nama belakang Akhtar juga," racau Gamma.


"Gamma yang gue kenal belum mati. Dia belum dibunuh, gue yakin! Dia lagi sembunyi, kan? Atau sosok Gamma yang pengecut yang sembunyiin Gamma gue?" tanya Bulan lalu menggingit bibir bawahnya menahan sesak.


"Gue bukan Gamma lu!" bentak Gamma. Bulan menelan salivanya, air matanya turun begitu saja ketika Gamma membentaknya.


"Liat? Belum ada sepuluh menit lu di sini, Gamma yang baru udah bikin lu nangis. Sebaiknya lu pergi," usir Gamma halus. Bulan menggeleng cepat.


"Apa yang lu mau?"


"Gue pengen Gamma gue balik! Gue nggak akan pergi dari sini sebelum bawa pulang Gamma gue!" bentak Bulan.


"Gamma yang lu cari udah nggak ada! Lu mau cari dia di mana? Dia udah nggak ada! Dia udah nggak ada Bulan!" ujar Gamma dengan nada yang tak kalah tingginya dengan Bulan, bersamaan dengan setetes air mata yang turun dari pelupuknya.


"Ini Gamma gue!" teriak Bulan seraya memeluk Gamma erat seakan tidak ingin melepaskannya.


"Ini Gamma gue. Please, gue pengen lu balik. Gue pengen lu tarik-tarik lagi cuman biar mau masuk ke mobil lu. Gue pengen lu panggil cewek aneh lagi, gue pengen lu bentak-bentak kalo gue ngeyel. Tolong balikin Gamma gue," ujar Bulan di tengah isaknya masih memeluk Gamma erat.


"Gamma yang itu udah pergi, Bulan." Gamma mengurai pelukan Bulan dan menatap dalam manik cokelat milik Bulan yang sudah banjir dengan air mata itu.


"Nggak! Gue yakin masih ada di sini! Lu Gamma yang baru jangan bohongin gue! Gue tahu Gamma gue kuat! Gamma gue nggak gampang nyerah! Gamma gue udah pernah lewatin hal-hal berat sebelumnya dan dia berhasil, kan? Sekarang gue yakin dia juga berhasil. Yang udah terjadi sebelumnya itu udah rencana semesta, bukan salah lu."


"Semua orang punya kisahnya masing-masing dan semua orang juga berhak untuk kembali menjadi dia yang dulu," ucap Bulan. Gamma menggeleng pelan membuat Bulan memegang kedua pipi Gamma.


"Apa pun yang udah bikin lu kayak gini, semua orang, bahkan semesta masih pengen lu untuk menjadi lu, Gam." Gamma diam, lidahnya kelu dan ia hanya bisa menatap Bulan.


"Lu nggak sendiri dan gue bakal temenin lu," lanjut Bulan yang langsung mendapat pelukan erat dari Gamma. Kali ini Gamma kalah, gadis itu berhasil membawa kembali Gamma yang selama ini menghilang entah ke mana. Bulan membalas pelukan itu tak kalah erat. Ia menangis terharu sejadi-jadinya di pelukan Gamma.


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita


 


Kalo kalian siap dengan Epilog nya, cepat komen yang banyakk!!