Eclipse

Eclipse
Eclipse 10



~Jika dinginmu tidak mampu memberikan perubahan, mungkin manismu bisa~


***


Suara deru motor merah memasuki gedung yang mulai sepi itu. Sang pemilik memarkirkan motornya di dekat pintu utama. Ia turun dari motor seraya membuka helm. Dengan senyum tipis, cowok bernama Langit itu menatap pintu utama sambil bersadar di motornya dan berharap seseorang segera keluar dari sana. Tangannya bersedekap agar menambah kehangatan karena udara malam di kota Bandung malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Seperti dugaan Langit, tak perlu menunggu lama seseorang keluar dari pintu yang sedari tadi ia tatap. Mata keduanya bertubrukan, Langit dengan senyum kecutnya dan pria itu dengan tatapan jengkelnya. Pria yang menenteng tas kantor di tangan kanannya itu berjalan mendekati Langit yang masih diam di posisinya.


"Kenapa kamu ke sini lagi?" tanyanya dengan tatapan tajam yang jatuh di manik cokelat milik Langit.


"Menurut Anda?" tanya Langit balik dengan tatapan yang tak kalah tajam.


"Katakan saja apa maumu?" desak pria yang sudah jengah menatap Langit. Langit tak berniat menjawab dan malah mengenakan helmnya lalu menyalakan motor dan pergi meninggalkan tempat itu.


***


Gamma yang baru saja menenangkan Alula dan membuatnya kembali tertidur itu keluar dari kamar kedua orang tuanya. Ia hendak melangkahkan kaki menuju kamarnya hingga suara tangis yang lain terdengar dan membuatnya berbalik. Langkahnya berganti menuju kamar yang lain. Tanpa mengetuk pintu, Gamma membuka pintu berwarna putih di hadapannya itu. Maniknya menangkap Gemi yang sedang duduk memeluk lututnya dengan wajah yang ia tenggelamkan pada bantal yang ada di pangkuannya. Gamma menutup pintu dengan cepat dan mendekati gadis itu. Suara isakan mulai terdengar di indra pendengaran cowok itu. Tangan Gamma terulur mengusap rambut Gemi.


"Gem," panggil pemilik manik hitam itu. Namun, gadis dengan netra abu-abu itu masih menenggelamkan wajahnya. Gamma mendudukkan dirinya di samping gadis tadi. Suara isakan gadis itu membuat hati Gamma terasa teriris.


"Sama Fikar?" tanya Gamma tak tertahankan. Gadis itu masih tak menjawab. Namun suara isakannya semakin keras, membuat Gamma menyimpulkan sesuatu. Cowok itu bangkit dengan deru napas yang memburu. Namun, sebuah tangan mungil menarik tubuhnya.


"Jangan, Bang!" pinta gadis yang sekarang mulai menyembulkan wajahnya yang basah karena air mata.


"Dia harus tahu kalo dia salah!" Gamma masih berusaha melepas cekalan Gemi yang rasanya semakin kuat. Gadis berambut cokelat itu menarik kuat tangan Gamma, membuat Gamma mengalah dan memilih duduk kembali di samping gadis itu.


"Gemi sayang dia."


"Tapi dia salah, Gem!"


"Nggak, Bang!"


"Lu kenapa sih malah belain cowok yang udah bikin lu kayak gini?" Gadis itu menggeleng mendengar pertanyaan Gamma.


"Biarin Abang temuin dia. Biar gak keulang lagi," pinta Gamma.


"Nggak, Abang pasti mukulin dia."


"Karena dia salah!" bentak Gamma, membuat gadis itu terperenjat dan malah menangis dengan kuat.


"Abang yang salah! Abang bentakin gue! Udah gue bilang nggak usah! Ini bukan sepenuhnya kesalahan dia!" teriak gadis itu di tengah isaknya. Gamma menghela napas panjang.


"Maafin Abang." Tak ada jawaban.


"Gem, maafin Abang ya. Abang minta maaf udah ngebentak lu barusan. Abang kaget liat lu kayak gini." Gamma menatap gadis itu. Gemi yang menyadari Gamma sedang menatapnya, membalas tatapan itu.


"Iya. Asal Abang janji, nggak akan mukulin Fikar. Karena gue tahu Fikar itu nggak salah," ucapnya dengan isak yang mulai mereda.


"Kalo lu tahu dia nggak salah kenapa lu nangis?" Gamma mengusap air mata di kedua kelopak mata gadis di hadapannya itu. Gemi menggeleng.


"Gue sayang sama Fikar. Biarin gue selesain ini sendiri." Gamma menatap manik abu-abu milik adiknya itu, ia sadar ia benar-benar kalah. Perasaan itu hanya untuk Fikar seorang.


"Sekarang, Abang janji sama Gemi kalo nggak akan mukul Fikar!" pinta gadis itu menatap lekat Gamma. Gamma tersenyum, tangannya bergerak menyelipkan anak rambut milik adiknya yang terurai ke belakang telinga.


"Iya, Abang janji."


***


Bulan baru saja menutup sambungan telepon. Ia mendesah karena belum mendapatkan kabar seperti yang ia harapkan. Antara polisi yang terlalu lama melakukan tugasnya atau memang ada yang membuat mereka kesulitan mencari data mengenai keberadaan orang tua kandung Bulan. Gadis dengan manik cokelat itu memilih melanjutkan langkah untuk melaksanakan tujuannya yang kedua. Ia mengusap wajahnya dengan tangan kiri. Menghirup udara malam kota Bandung yang menurutnya malah semakin membuat sesak. Ia sudah lelah menyusuri kota ini untuk mencari pekerjaan tapi Bulan adalah Bulan yang enggan untuk menyerah.


Bulan merogoh saku saat ponselnya bergetar. Maniknya menatap datar layar ponsel sebelum akhirnya memilih untuk menolak panggilan itu. Kakinya kembali ia langkahkan menyusuri jalanan kota. Ponselnya kembali bergetar, tanpa pikir panjang langsung saja ia tolak panggilan itu ketika tahu siapa yang menghubunginya. Getaran ketiga membuatnya menghela napas jengah dan memilih mengangkatnya.


"Maaf, saya sedang sibuk. Harap untuk tidak menghubungi saya lagi. Terima kasih," ucapnya dan kembali memasukkan ponselnya ke saku.


Drrrt


"Apa lagi? Saya katakan jangan hubungi saya lagi!" bentak gadis itu setelah berhasil menempelkan ponselnya ke telinga tanpa melirik nama pemanggil.


"Ha? Apaan?" Suara di seberang sana membuat gadis yang hampir memutuskan panggilan itu menjauhkan ponsel miliknya dan menatap layar. Maniknya membulat saat menyadari siapa yang menghubunginya.


"Sorry, gue kira tadi bukan lu. Ada apa nelfon gue segala?" Nada gadis itu berubah tidak bersahabat.


"Lu di mana? Udah makan malem? Mau bareng?"


"Nggak! Udah gue sibuk!" tukas Bulan dan mematikan panggilan secara sepihak.


"Oke, Bulan. Tempat ini yang terakhir hari ini," gumamnya. Kini, ia sudah berdiri di depan sebuah butik yang tak bisa dibilang kecil. Maniknya memejam sebentar sebelum memilih untuk membuka pintu masuk. Namun, seseorang menerobos masuk dan membuatnya sedikit terdorong hingga terantuk sisi pintu yang lain.


"Lu? Ngapain di sini?"


"Langit? Gue cari kerja," balas Bulan yang masih memandang Langit dengan bingung, untuk apa Langit ke tempat ini.


"Oh, gitu ya? Cari kerja di sini? Jadi pegawai gue?" Gadis itu mengangguk cepat. Namun, sedetik kemudian mengangkat sebelah alisnya.


"Pegawai lu?"


"Oke, lu diterima kerja di sini. Lu pasti part time, kan?" Gadis itu masih menatap langit dengan wajah melongo.


"Kenapa? Ya udah masuk aja dulu, yuk. Nggak enak ngomong di depan pintu." Langit menarik lengan gadis itu. Bulan menatap lengannya yang digenggam oleh Langit. Ia menelan salivanya susah, masih berusaha mengartikan apa yang baru saja terjadi.


Langit duduk di sebuah kursi empuk dengan beberapa berkas dan laptop yang tertutup di meja. Bulan menatap sekeliling ruangan itu. Tidak terlalu besar tapi cukup elegan dengan furniture yang ditata rapi, tidak lupa di ruangan itu cukup banyak lukisan tanaman yang tergantung di dinding.


"Duduk!" Gadis itu menurut. Cowok pemilik manik cokelat itu menatap setiap lekuk wajah gadis di hadapannya begitu lekat, membuat sang empunya memejamkan matanya dan berdeham untuk menetralisir degup jantungnya yang sepertinya sudah meloncat-loncat.


"Lu diterima kerja di sini. Karena lu masih kuliah, gue kasi keringanan. Lu bisa kapan aja kerja di sini. Bisa pagi, sore, atau malem, menyesuaikan jadwal kuliah lu. Kalo lu nggak bisa dateng di suatu hari, lu harus izin ke gue atau kepala karyawan di sini."


"Tunggu," potong Bulan.


"Ya?" Langit menaikkan kedua alisnya.


"Lu owner butik ini?" tanya Bulan masih tak percaya.


"Ya. Oke lanjut, nanti gue bakal kenalin lu ke kepala karyawan di sini. Lu bakal dibimbing sama dia, cuma lu harus sadar diri. Lu kerja part time dan lu bisa aja nggak hadir ke butik ini setiap hari. Jadi, gaji lu nanti berdasarkan kinerja dan waktu yang lu habisin di sini. Kenapa? Supaya gue nggak dianggap pilih kasih. Paham?" Gadis yang duduk di hadapan Langit itu mengangguk.


"Masih mau kerja di sini?"


"Masih, Pak." Langit membelalakkan matanya.


"Pak? Lu panggil gue, Pak? Apa gue setua itu? Bukan karena gue pemilik butik ini, lu bisa panggil gue, Pak. Asal lu tahu, di butik ini aja ada yang panggil gue Bro. Tenang aja kalo cuma masalah panggilan, gue nggak bakal mempermasalahkan itu selama gak panggil gue dengan sebutan binatang aja. Hahah," jelas Langit diakhiri dengan tawa.


"Oke. Jadi kapan gue bisa kerja? Hari ini?" tanya Bulan begitu bersemangat.


"Wuh, santai. Besok aja ya, lagian ini udah malem dan bentar lagi paling tutup. Gue mau makan malem dulu. Sekalian lu ikut makan malem sama gue," ucap Langit.


"Ha?" Bulan masih melongo mendengar kalimat Langit barusan. Langit hanya tersenyum simpul. Kini tangannya meraih gagang telepon yang ada di meja.


"Debi, ke ruangan gue sekarang!" serunya singkat dan segera meletakkan gagang telepon tadi ke tempatnya.


***


Semilir angin menerpa wajah kokoh laki-laki yang sedang menatap ke arah kanan itu. Dulu, balkon kamar yang sedang ia tatap selalu terang di setiap malam tapi berbeda dengan sekarang yang tidak pernah menyala lagi. Embusan napas keluar dari mulutnya bersamaan dengan pandangannya yang beralih. Maniknya menatap langit yang menurutnya cukup indah malam ini walau tentu saja ia tidak bisa melihat banyak bintang dari Jakarta. Kata gadisnya, benda langit yang kita lihat itu mengajarkan kita tentang masa lalu karena apa yang sedang kita lihat sekarang itu sebenarnya sudah terjadi sebelumnya. Seperti halnya Matahari, apa yang kita lihat sekarang itu adalah Matahari sekitar delapan menit yang lalu. Semakin jauh benda langit, semakin lama pula kita mengamatinya sebagai masa lalu. Bintang-bintang yang sekarang sedang ditatap oleh Gunung bisa saja saat ini sebenarnya sudah mati atau meledak dan yang ia lihat saat ini adalah cahaya beribu-ribu atau berjuta-juta tahun yang lalu. Sedangkan Bulan yang sekarang sedang menunjukkan masa sabitnya itu, ia memerlukan sekitar satu detik untuk cahayanya sampai ke Bumi. Namun, berbeda dengan Bulan milik Gunung yang sejauh apa pun dia tidak perlu menunggu lama untuk perasaan keduanya terhubung karena pada dasarnya mereka tidak terpisahkan, itu yang selalu Gunung tanam dalam hatinya.


Gunung menggosokkan kedua tangannya ketika dingin malam mulai terasa menusuk. Ia memilih untuk kembali ke kamar dan menutup pintu balkon. Kakinya melangkah mendekati tempat tidur. Ia hendak menaikkan kakinya dan bersiap untuk tidur sebelum sebuah pigura membuatnya mengurungkan niat. Foto dengan bingkai putih itu ia ambil dengan manik yang menatap sendu objek di foto. Bulan terlihat sangat bahagia di foto ini, seakan tidak ada kesedihan atau beban yang sedang dipikulnya. Gunung masih mengingat jelas momen di foto itu. Bulan yang diajak keluarga Gunung ke puncak untuk pertama kalinya dan di sana pula Gunung berhasil menyatakan cinta pada Sang Gadis. Katakanlah, itu kesalahan terbesar yang pernah Gunung lakukan. Seharusnya ia tidak pernah memaksa dirinya untuk menyatakan cinta pada seseorang yang pada akhirnya tidak dapat ia miliki. Sayangnya saat itu ia benar-benar dibutakan oleh cinta, ditambah lagi kedua orang tuanya mengizinkan Gunung untuk menjaga Bulan walau pada akhirnya pasti ia yang akan menyakiti Bulan.


Suara derit pintu membuatnya menoleh, seorang wanita tersenyum dan berjalan ke arahnya. Gunung yang sempat mengalihkan pandangan dari pigura yang ia pegang, kembali menatap foto berbingkai putih itu. Wanita yang tadi masuk ke kamarnya duduk di samping Gunung. Ia menepuk pundak Gunung dan menyalurkan perasaan hangat yang langsung terasa oleh laki-laki itu. Gunung mengalihkan pandangan dan menatap tajam ke arah wanita tadi.


"Mah," lirihnya.


"Kenapa?" tanya wanita itu lembut.


"Gunung takut," jawabnya sangat lirih hampir tidak terdengar oleh lawan bicaranya. Mawar – Mama Gunung – mengusap pelan pundak anak laki-lakinya itu.


"Gunung takut orang tua Bulan bener-bener udah nggak ada, Ma." Laki-laki itu menunduk dengan tangan yang masih menggenggam erat pigura di tangannya.


"Gunung," panggil Mawar tapi yang dipanggil masih diam pada posisinya.


"Tatap Mama," pinta wanita itu. Laki-laki bernama Gunung itu menurut.


"Mama tahu Bulan anak yang kuat, kamu juga harus lebih kuat dari Bulan. Jika pada akhirnya itu benar, Mama pengen kamu jagain Bulan. Setidaknya, kita ada buat Bulan."


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita