
~Terkadang usaha untuk mengembalikan milik sendiri malah dianggap merebut milik orang lain, sangat menyebalkan memang~
***
Bulan menyampirkan ranselnya sebelum meninggalkan ruangan yang cukup panas itu. Itu mengipas-ngipaskan tangannya agar angin memberikan sedikit kesejukan di wajahnya yang mungkin ikutan panas karena materi yang baru saja ia pelajari tadi cukup membuat otaknya panas. Gadis itu memilih untuk ke toilet dan membenahi dirinya terlebih dahulu. Ia membasuh wajahnya dan membiarkan dingin air menyejukkan wajahnya yang akhir-akhir ini jarang sekali ia perhatikan. Tangannya bergerak mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan wajah dan tangannya sebelum meninggalkan toilet.
Sinar matahari sore terasa lebih hangat dari biasanya. Ia mendongak dan melihat awan-awan yang cukup menambah kesan indah di sore ini. Bulan mengambil ponselnya untuk memotret langit sore walau sebenarnya ia sangat jarang melakukan hal ini. Gadis itu segera melanjutkan langkahnya menyusuri salah satu jalan di kampusnya hingga maniknya menangkap sebuah bungkus permen karet kosong yang tergeletak. Ia memungut bungkus kosong itu dan membuangnya ke tempat sampah yang berada tidak jauh darinya. Bungkus permen karet tadi mengingatkannya pada seseorang yang akan ia kunjungi sore ini.
Kampus Ganesha yang tidak terlalu luas itu membuatnya tanpa sadar sudah sampai di tempat parkir. Dengan cepat, Bulan mengenakan helm sebelum melajukan motornya meninggalkan kampusnya itu. Angin sore yang beradu dengan kecepatan motornya yang masih normal membuatnya tersenyum walau ia tidak tahu apa alasannya. Ingatannya tiba-tiba mampir pada waktu ia dan Gamma pertama kali bertemu, tarikan tangan Gamma yang malah membawanya masuk dalam kisah cowok itu yang ternyata selama ini bersinggungan. Rasanya baru kemarin ia dipaksa untuk bertukar kontak oleh Gamma. Bahkan, Bulan tidak pernah mengubah nama kontak Gamma yaitu Cowok Cakep. Gadis itu tertawa kecil di balik helm fullface yang ia kenakan.
Motor yang baru memasuki area rumah sakit itu segera Bulan parkirkan dengan rapi sebelum dirinya bergegas memasuki rumah sakit. Aroma obat menguar tatkala kakinya bergerak mendekati gedung putih itu. Ia terus melangkahkan kakinya menuju kamar nomor 653, tempat Gamma di rawat. Bulan segera masuk setelah mengetuk pintu putih di hadapannya itu terlebih dahulu. Seorang wanita cantik yang ia kenal sebagai ibu dari Gamma itu bangkit dari sofa dan tersenyum padanya.
"Ah, Bulan. Kemarin malem kenapa tiba-tiba pulang? Padahal Tante udah bawain kamu masakan Tante," ungkap wanita bernama Vani itu.
"Ada urusan mendadak, Tante. Maaf ya," jawab Bulan. Sebenarnya Bulan tidak ingin membohongi wanita yang baru ia kenal kemarin sore itu tapi tampaknya kali ini memang harus ia lakukan mengingat mungkin saja wanita yang sekarang berdiri di hadapannya itu belum mengetahui perihal Gamma dan Dandi.
"Ayo duduk," suruh Vani sambil merapikan sofa yang tadi ia gunakan untuk mengerjakan tugas kantornya. Bulan menurut.
"Wah, Tante sibuk kelihatannya. Sudah makan, Tan?" tanya Bulan. Vani tertawa renyah masih sambil membereskan berkas-berkas yang berantakan itu.
"Nggak mau ninggalin Gamma sendirian. Takutnya dia sadar tapi malah nggak ada orang," balas Vani.
"Oh yaudah kalo gitu Tante makan aja dulu. Ini udah sore, loh. Nanti Gamma sembuh malah Tante yang sakit."
"Nggak, Tante udah kenyang. Kamu udah makan?" Wanita yang sekarang sudah duduk di samping Bulan itu malah balik bertanya.
"Sudah. Tante kenyang apa? Makanin berkas sambil kerja gitu?" canda Bulan membuat Vani kembali tertawa kecil.
"Kamu ada-ada aja. Nanti kalo Tante makan, siapa yang mau jagain Gamma?"
"Lah, yang lagi duduk di samping Tante sekarang bukan orang ya?" sindir pemilik manik cokelat itu.
"Bukan gitu, kasian kamu nanti jagain Gamma sendirian."
"Nggak apa-apa, Tan. Tante makan aja, Bulan di sini jagain Gamma. Tenang aja Gamma aman terkontrol," celetuk Bulan membuat keduanya tertawa pelan.
***
Langit yang masih meminum segelas kopi yang ia beli di depan kampusnya itu sedang menatap sebuah gedung yang berada di depan gedung Laboratorium Fisika Dasar yang menjadi tempatnya duduk sekarang. Ia sudah menunggu cukup lama hingga kopi yang masih tersisa separuh itu mulai dingin. Ia kembali menyeruput cairan hitam itu sebelum maniknya menangkap gadis yang sedari tadi ia tunggu. Cowok pemilik manik cokelat itu segera bangkit dan melempar cup kopi yang sedari tadi ia pegang ke tempat sampah di dekatnya. Langit menyusuri jalan yang juga dilangkahi oleh gadis yang berada beberapa meter di depannya. Bahkan, pemilik manik cokelat itu ikut menghentikan langkahnya saat gadis bernama Bulan yang sedari tadi ia ikuti sedang memotret yang Langit sendiri tidak tahu pasti, mungkin langit karena memang langit pada sore itu terlihat amat menawan. Cowok itu tersenyum tipis saat Bulan terlihat sangat bahagia setelah berhasil mendapatkan objek yang ia abadikan dengan ponselnya itu. Keduanya kembali melanjutkan langkah dan berhenti di tempat parkir. Langit yang memang sengaja pagi tadi mencari motor Bulan sebelum memarkirkan motornya sendiri hanya agar motornya berada tidak terlalu jauh dari motor gadis itu.
Motor Bulan baru saja meninggalkan area kampus membuat Langit mulai menyalakan motor merahnya dan ikut melajukannya menjauhi kampus gajah cabang Bandung itu. Langit cukup menikmati angin sore karena pengendara yang sedang ia ikuti itu mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata. Cowok dengan manik cokelat itu baru sadar dengan keindahan kota Bandung di sore hari karena selama ini ia sangat jarang menikmati masa-masa sore dengan tenang. Langit terus mengikuti motor Bulan hingga berbelok ke area rumah sakit.
Kali ini Langit tahu siapa yang sedang Bulan kunjungi. Ia masih ingat betul di hari kematian kekasih Bulan, gadis itu masih peduli pada orang yang sekarang sedang dirawat di rumah sakit ini. Dengan langkah malas, Langit masih mengikuti Bulan. Cowok itu berdecih yang menyadari dirinya seakan penguntit saja, mengikuti seseorang diam-diam. Ia berhenti tidak jauh dari ruangan yang baru saja dimasuki Bulan. Terdengar suara Bulan yang sedang berbicara dengan seorang wanita. Langit segera membelakangi ruangan Gamma ketika mendengar suara pintu di buka. Maniknya menangkap seorang wanita yang berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Cepet sadar, ya. Gue mau minta maaf," ucap gadis itu sambil mengusap rambut Gamma. Langit mendengar jelas kalimat itu dan membuatnya menggigit bibir bawahnya menahan rasa panas yang tiba-tiba menjalar di seluruh tubuhnya. Ia memejam sejenak sebelum sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Langit?" Langit terperenjat setelah berbalik dan melihat siapa yang baru saja menepuk bahunya.
***
Buugh
Buugh
Buugh
Langit berhasil menjatuhkan tiga pukulan terakhir pada seseorang yang sama sekali tidak melakukan perlawanan sejak awal. Napas Langit memburu seraya menatap pria yang sedang mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah itu. Langit berdecih saat pria yang masih terduduk di halaman belakang rumah sakit karena ulahnya itu menatap Langit sayu. Padahal, tadi siang Bulan baru saja mengajarinya cara memaafkan tapi sayang Langit bukan tipe pembelajar cepat. Tidak semudah itu bagi Langit memaafkan seseorang yang sudah meninggalkannya berdua bersama Ibunya. Bahkan ketika Ibunya jatuh sakit, pria itu tidak pernah sekali pun mengunjungi mereka. Langit juga tidak habis pikir, apa yang sebenarnya dicari pria ini. Apakah satu wanita baginya tidak cukup? Atau sebenarnya Ibu Langit saja yang tidak cukup baginya.
Langit membenarkan pakaiannya yang tadi sempat kusut karena saking bersemangatnya memukuli ayah kandungnya sendiri itu. Ia berjongkok agar sejajar dengan pria yang tampaknya masih enggan untuk berpindah posisi itu. Tangan Langit bergerak menyentuh dasi hitam milik Dandi yang longgar karenanya. Ia membenarkan dasi itu, menghapus darah yang keluar dari sudut bibir Dandi, lalu menepuk pundaknya pelan.
"Pastikan diri Anda rapi sebelum kembali ke tempat tadi. Sampaikan salam saya pada keluarga Anda. Terima kasih karena kalian, satu persatu dari kalian berhasil merebut satu persatu kebahagian yang sudah saya cari dengan susah payah," bisik Langit di samping telinga Dandi hingga membuat bulu kuduk Dandi meremang saking kalimat Langit terasa dinginnya.
Langit berdiri dan segera meninggalkan Dandi yang memukul tanah di halaman belakang rumah sakit itu. Langit menegakkan tubuhnya sambil menarik napas dalam berusaha agar dirinya tidak runtuh. Langkah kakinya begitu cepat menuju tempatnya memarkirkan motor. Ia bersyukur halaman belakang dan tempat parkir tidak terlalu jauh sehingga ia langsung menyambar motornya dan segera meningalkan area rumah sakit. Suara deru motornya memecah keramaian kota Bandung di sore hari. Langit tidak peduli dengan teriakan dari pengendara lain yang menyuruhnya untuk hati-hati atau sekadar memperlambat laju motornya karena yang sekarang ada di pikiran Langit hanya rumah. Rumah yang sebenarnya tidak pernah bernyawa itu.
Pemilik manik cokelat yang baru saja memasuki pelataran rumahnya itu langsung memarkirkan motornya sembarang dan melangkah cepat memasuki rumah. Kakinya bergerak cepat menapaki anak tangga. Ia melempar kasar ranselnya saat baru memasuki kamar hingga isinya berceceran. Langit langsung menyambar samsak merah tanpa pengaman di tangannya. Ia meluapkan seluruh amarahnya pada benda mati yang tidak akan pernah punya dendam padanya itu.
"Aaargggh," pekik Langit di tengah kegiatannya meluapkan amarah.
Keringat yang menetes dari ujung rambut Langit seakan menjadi representasi dari kemarahan pemilik manik cokelat itu. Tangannya mengacak-acak rambut hingga membuat tangannya basah. Adakah yang bisa mengajari Langit caranya bersabar dengan lebih baik? Caranya memaafkan dengan lebih baik dan caranya mengikhlaskan dengan lebih baik? Kenapa Langit seakan sangat bodoh mengenai hal ini. Apa karena sejak kecil ia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan teman-temannya mengenai di mana ayahnya, mainan apa yang ayahnya belikan, seberapa sering ayahnya mengajaknya bermain, dan pertanyaan seputar ayah lainnya. Langit selalu bungkam jika mendapat pertanyaan itu karena yang ia tahu adalah ayahnya adalah sosok yang sangat terhormat hingga Langit tidak bisa menemuinya dan mendapat pengakuan darinya karena Langit rasa dirinya sangat hina.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita