Eclipse

Eclipse
Epilog



Gamma baru saja keluar dari kamar dengan Alula yang berada dalam gendongannya. Kakinya melangkah menuruni tangga, wangi masakan memenuhi rumahnya. Laki-laki itu mencium Alula sebelum memberikannya pada Vani yang baru saja keluar dari dapur. Pemilik manik hitam itu langsung tersenyum tipis melihat Bulan yang sudah sibuk membantu Bi Min dalam mempersiapkan acara ulang tahun Alula yang pertama itu. Bulan hanya meliriknya sekilas membuat Gamma semakin ingin untuk mengusilinya.


"Aduh ulang tahun Alula dibantuin calon kakak iparnya," goda Gamma yang langsung mendapat delikan dari Bulan.


"Ekhem, di sini masih ada Bibi loh ya. Jangan lupa," celetuk Bi Min yang sedang memotong wortel di samping Bulan itu.


"Bibi ih, udah kayak yang nggak pernah muda aja. Permen karet bulanan Gamma ada di mana?" ujar laki-laki itu sambil menyambar sebuah kue kering yang ada di meja.


"Di deket tas belanja," jawab Bi Min.


"Bi, Bulan mau Gamma culik dulu ya," pamit Gamma seraya melangkah mendekati tempat yang dikatakan asisten rumah tangganya tadi. Tangannya mengambil satu bungkus permen karet.


"Dih, ngapain pamit sama Bibi?"


"Oh boleh katanya. Yaudah ayuk, Bulan. Ya?" ajak Gamma dengan wajah memohonnya sambil mengunyah permen karet. Gadis itu berdecak sebelum pamit pada Bi Min yang masih memotong wortel dan melangkah mendekati Gamma.


"Kebo! Kenapa baru bangun?" tanya Bulan seraya mencubit lengan Gamma.


"Aduh aduh, tadi malem bantuin dekor. Jangan dicubitin, dong. Nggak kasian apa," rengek Gamma yang mengaduh kesakitan. Bulan tak merespons dan terus melangkah meninggalkan dapur.


"Nggak capek apa ngunyah permen karet terus?" celetuk Bulan.


"Nggak, adanya gue capek liat Bulan yang indahnya nggak ketulungan," goda Gamma.


"Dih, apaan sih. Ini masih pagi woy! Nggak ada Bulan!" seru gadis yang sekarang berjalan menyusuri halaman yang sudah dihias dengan indah itu.


"Lah, yang ada di samping gue ini bukan Bulan?"


"Udah pinter gombal ya sekarang temen gue," sindir Bulan.


"Soon pacar." Bulan melirik Gamma yang tersenyum tipis kepadanya.


"Muka lu merah," ledek Gamma.


"Mana ada!" elak Bulan seraya memukul pelan Gamma yang sekarang cekikikan itu.


"Walau mukanya merah tetep cantik, kok." Bulan membulatkan matanya mendengar kalimat Gamma. Tolong, jangan sampai Bulan meloncat apalagi terbang di depan Gamma.


Bulan yang mulai bisa mengontrol dirinya itu kembali menyusuri halaman rumah yang ternyata sudah selesai didekorasi oleh sepasang kekasih, Fikar dan Gemi. Gamma berjalan ke arah keduanya yang masih belum berhenti tertawa di salah satu sisi halaman rumahnya itu. Laki-laki pemilik manik hitam itu langsung menoyor kepala Fikar sebagai tanda pertemuan. Aneh memang, tapi lucu dan menggemaskan.


***


"Bulan," panggil Gamma sambil melirik sekilas gadis yang duduk di samping pengemudi itu.


"Hmm," balas Bulan singkat.


"Lu mau digodain Babang Tamvan, nggak?" tanya Gamma dengan seringai nakal.


"Nggak dan nggak akan pernah!" seru Bulan tak lupa menjatuhkan pukulan pada lengan Gamma. Alih-alih mengadu kesakitan, laki-laki itu malah tertawa kencang dalam mobilnya.


Mobil Gamma berbelok ke gedung yang sudah cukup lama tidak ia datangi semenjak hari itu. Bulan langsung menatap Gamma bingung karena seharusnya laki-laki itu langsung mengantarnya ke apartemen, bukan ke gedung ini. Namun, Bulan berusaha untuk menunggu penjelasan Gamma terlebih dulu karena ia juga tahu gedung ini sangat berarti bagi Gamma. Pemilik manik hitam itu turun dari mobil. Ia mendekati Bulan yang baru saja ikut turun dari mobil hitam miliknya. Tangan Gamma tiba-tiba menggenggam tangan kanan Bulan dengan erat membuat gadis itu langsung merasakan degup jantungnya yang berpacu sangat cepat. Gamma menarik gadis itu untuk memasuki gedung. Bulan mengerjapkan matanya sebelum setengah berlari untuk menyejajarkan langkahnya dengan Gamma. Gadis itu menatap tangannya yang digenggam erat, degup jantungnya juga masih enggan untuk kembali normal.


Kedua insan yang masih saling bergenggaman tangan itu sampai di rooftop. Sinar senja membentuk bayang-bayang mereka dengan sangat indah. Gamma menarik napasnya dalam, merasakan angin yang sedang menyapu wajahnya. Angin yang sama juga membuat rambut Bulan yang tidak terikat itu tertiup. Gamma melepas genggaman tangannya tapi tidak mengurangi degup jantung Bulan yang masih berpacu dengan cepat. Tangan Gamma merogoh saku celananya, mengeluarkan ikat rambut berwana hitam yang dulu sempat Gamma ambil paksa dari pemiliknya.


"Gue emang nggak suka rambut lu diiket tapi sekarang biarin gue iket rambut lu biar nggak terbang-terbang," ujar Gamma seraya mengumpulkan rambut cokelat Bulan dan menyatukannya lalu mengikatnya dengan ikat rambut hitam tadi. Bulan menarik napasnya dalam berusaha mengontrol degup jantung yang malah semakin menggila.


"Sorry, ini pertama kali gue iketin rambut cewek. Jadi agak berantakan," cicit Gamma.


"Makasih."


"Kenapa ngajak gue ke sini? Kan gue mau pulang," tanya Bulan hati-hati.


"Pengen aja." Jawaban itu membuat Bulan mengangkat sebelah alisnya bingung.


"Gue sebenernya juga nggak tahu kenapa tempat ini mendadak jadi saksi bisu tiap hal besar yang terjadi di hidup gue," ujar Gamma yang sekarang beralih menatap senja yang terasa cukup hangat sore ini.


"Hal besar?" tanya Bulan menatap wajah Gamma yang mendapat terpaan sinar jingga itu.


"Iya," jawab Gamma membalas tatapan Bulan. Hening sesaat karena keduanya hanya saling bertatap di bawah sinar senja yang benar-benar memanjakan mata.


"Bulan," panggil Gamma masih dengan tatapan dalamnya.


"Kali ini juga akan jadi salah satu hal besar di hidup gue."


"Gue cinta sama lu. Lu mau jadi orang yang ngelengkapin cinta gue? Gue mau lu jadi pacar gue," ujar Gamma.


"Kenapa?" tanya Gamma sambil menarik dagu Bulan. Bulan memejamkan matanya berusaha menghindari tatapan tajam Gamma yang seakan ingin meruntuhkan pertahanannya.


"Gue udah mengundurkan diri dari kampus," cicit Bulan membuat Gamma menatapnya bingung.


"Gue bakal ikut keluarga Gunung ke China," lanjut gadis yang sudah melepaskan dagunya dari tangan Gamma.


"Kapan?"


"Besok."


"Besok? Besok lu bilang? Dan lu baru bilang sekarang?" tanya Gamma tak habis pikir, Bulan diam menahan dirinya agar tidak menangis.


"Kalo gue nggak bawa lu ke sini hari ini, lu bakal bilang kapan? Besok pagi pas lu mau berangkat? Gitu?" tanya Gamma yang sekarang melepaskan pandangannya dari gadis yang sudah mencurinya hatinya itu.


"Hari ini, Gam. Tapi nanti," sahut Bulan.


"Nanti ya. Iya, nanti. Sampe lupa," kata Gamma diakhiri tawa sumbang.


"Gam, nggak gitu."


"Ya udah kalo gitu kita pacaran!" telak Gamma.


"Nggak bisa."


"Kenapa? Gue rela kok LDR."


"Gue nggak yakin bakal balik lagi ke sini," desis Bulan membuat Gamma mengusap wajahnya kasar. Pemilik netra hitam itu melangkah mendekati salah satu pagar pembatas di sana. Ia menarik napasnya dalam sambil mengacak-acak rambutnya.


"Lu tahu kata apa yang paling menyedihkan di dunia ini, Bulan?" tanya Gamma masih dengan pandangan menatap senja yang sebentar lagi dijemput malam.


"Kehilangan?"


"Bukan." Gamma berbalik dan kembali mendekati gadisnya itu.


"Tapi hampir. Hampir bangkit, hampir melupakan, hampir mencintai, hampir bahagia, hampir baik-baik saja, dan hampir memiliki." Gamma menelan salivanya susah.


"Gam, you'll be happy, you'll be fine. Trust me," ujar Bulan menatap laki-laki yang sebenarnya juga ia cintai itu.


"Percaya sama orang yang udah buat gue mengurung harapan gue lagi maksudnya?" sindir Gamma lalu menyeringai.


"Gamma Akhtar kan nama lu? Gamma dari bahasa latin artinya bintang, lu bakal selalu jadi bintang, Gam. Di mana pun lu berada, lu nggak perlu Bulan buat lu menarik perhatian banyak orang. Matahari juga bintang, kan? Siang nggak butuh Bulan, Gam."


"Tapi gue butuh Bulan gue. Gue butuh Rembulan Afsheena gue!"


"Lu nggak bisa milikin semua yang lu pingin, Gam." Gamma tersenyum kecut mengalihkan pandangan dari Bulan.


"Lu bisa milikin orang yang bisa lu lihat tiap hari, bisa lu ajak makan, jalan tiap hari suatu saat nanti, bukan seseorang yang nggak akan pernah temuin lagi. Mungkin," ucap Bulan seraya menghapus sebulir air mata yang ternyata berhasil lolos dari pelupuknya.


"Masih mungkin, kan?"


"Nggak! Gue nggak bisa!" sela Bulan yang menatap Gamma dalam sebelum memilih melangkah meninggalkan laki-laki yang masih diam di tempatnya itu.


"Seharusnya nama gue bukan Gamma yang artinya bintang dan lu bukan Bulan!" teriak Gamma yang membuat Bulan menghentikan langkahnya.


"Karena nantinya cinta kita akan dihalangi sesuatu, kayak gerhana. Cahaya Matahari nggak bisa sampe ke Bumi karena terhalang bayang-bayang Bulan dan cahaya Matahari juga nggak bisa sampe ke Bulan karena terhalang bayang-bayang Bumi."


***


~Berhenti menahan mereka yang ingin pergi karena sebenarnya kepergian itu tidak pernah diinginkan~


***


Terima kasih sudah membaca hingga akhir:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita


 


Ps: InsyaAllah aku akan upload cerita lain, jadi jangan lupa buat ceki ceki work ku yaa:) Yang mau ngomel sama endingnya boleh. Apa aja deh yang menggangu pikiran kalian. Nanti kalo cerita baru yang aku bilang udah aku upload aku bakal kabari juga:) Ditunggu ya!!