Eclipse

Eclipse
Eclipse 20



~Terkadang melepaskan itu bukan berarti tidak menginginkan lagi tapi memang itu yang terbaik~


***


Gamma masih menatap gadis yang sekarang dibawa masuk oleh seorang wanita yang sedari tadi setia memeluk gadis yang sama. Bahkan, sejak gadis itu sampai di rumah duka. Gamma sebenarnya tidak tahu pasti alasan Bulan malah dibawa ke rumah ini, bukan ke rumah duka. Namun, Gamma memilih diam dan tidak banyak bertanya karena seharusnya memang itu yang ia lakukan. Sebuah tangan menepuk pundaknya pelan. Gamma menoleh pada seseorang yang sekarang tersenyum ke arahnya, cowok yang langsung Bulan peluk ketika pertama kali turun dari mobilnya. Cowok itu mengembuskan napas pelan sebelum duduk di sebuah kursi yang ada di teras rumah itu. Gamma ikut duduk setelah dipersilakan oleh cowok yang sama.


"Gue Gunung, pacar Bulan." Pandangan Gunung lurus ke depan saat pengakuan itu meluncur dari bibirnya. Gamma menoleh pada cowok itu. Jujur saja ia terkejut atas apa yang baru saja ia dengar tapi tentu saja ia masih berusaha untuk biasa saja.


"Gue Gamma," ucap Gamma ikut memperkenalkan diri. Gunung mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


"Bulan sering cerita tentang lu," ujar Gunung yang sekali lagi membuat Gamma tidak berhenti terkejut. Ia bahkan tidak pernah menduga gadis itu pernah menceritakan tentang dirinya ke orang lain, terlebih pada pacarnya sendiri.


"Katanya lu orang yang nyebelin, suka maksa, suka nganterin dia. Makasih ya," tutur Gunung yang sekarang ikut menoleh dan menatap pemilik manik hitam yang berada di sampingnya itu.


"Mungkin lu bertanya-tanya kenapa gue betah dan nggak cemburu denger cerita dia tentang cowok lain," ucapnya seakan bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Gamma.


"Munafik kalo gue bilang nggak cemburu tapi gue juga tahu kalo gue nggak bisa nemenin dia sampe akhir."


"Kenapa?" tanya Gamma yang akhirnya membuka mulutnya yang sedari tadi terkunci.


"Karena kami beda agama." Gamma menatap manik lawan bicaranya itu. Namun yang ditatap memilih mengalihkan pandangannya seakan tidak ingin Gamma melihat tatapan luka yang terpancar jelas di manik milik Gunung.


"Gue tahu lu sayang sama dia dan mungkin Bulan juga," ujar Gunung lirih.


"Dia benci sama gue," aku Gamma yang membuat Gunung menatap pemilik manik hitam yang sekarang memilih menatap kedua ujung sepatunya itu.


"Bokap gue nyuruh gue buat jagain dia. Katanya, bokap Bulan yang di sini yang minta buat ngelakuin itu. Lalu dengan bodohnya gue nurut tanpa tahu alasan pastinya dan sekarang Bulan benci ke gue karena alasan itu," tutur Gamma diakhiri dengan senyum kecut di bibirnya. Gunung mendekatkan kursinya ke kursi milik Gamma dan merangkul cowok yang baru pertama kali ia temui itu.


"Lu tahu kenapa dia sampe rela gapyear cuman buat kuliah di ITB? Lu tahu kenapa dia semarah itu sama almarhum bokapnya? Karena dia dibohongin selama ini, bokapnya nggak pernah bilang kalo dia anak angkat dan selalu menyembunyikan tentang kedua orang tua kandungnya. Sampe suatu saat dia tahu tentang hal itu, ia maksa bokapnya buat jujur tapi yang terjadi malah dia dibenci sama nyokap angkatnya."


"Kenapa?"


"Karena bokapnya hampir kehilangan nyawa buat nyelametin Bulan pas dia lari dari rumah. Bulan hancur waktu itu dan yang dia punya waktu itu cuman gue dan keluarga gue. Sejak itu ia benci ada di rumahnya. Ia benci bokapnya yang nggak pernah mau jujur dan dia capek diperlakukan buruk dan selalu disalahkan sama nyokapnya sejak kejadian itu. Hal terakhir yang ia tahu tentang orang tua kandungnya adalah mereka tinggal di Bandung dan itu alasan Bulan sampe mati-matian harus keterima di ITB biar ada alasan buat dia tinggal di Bandung," tutur Gunung diakhiri napas berat. Begitu juga dengan Gamma yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Lu udah tahu tentang kabar kematian orang tua kandungnya dia?" tanya Gunung menatap lawan bicaranya itu. Gamma hanya mengangguk pelan.


"Gue percaya sama lu dan gue titip Bulan. Jagain dia karena gue tahu lu sayang sama dia," pungkas Gunung sebelum memilih bangkit dan meninggalkan Gamma yang duduk sambil merenungi tiap kalimat Gunung.


***


Langit kembali lagi ke butiknya setelah sore tadi tidak menemukan gadis yang sedang ia cari. Namun, manik cokelatnya tidak menemukan seseorang yang ia cari. Ia sudah menyusuri tiap sudut butik tapi tak kunjung menemukan gadis itu hingga ia menyerah dan bertanya pada kepala karyawannya. Namun, jawabannya tidak pernah membuat Langit puas. Ia merogoh ponsel di sakunya. Jujur saja ia cukup khawatir pada gadis yang terakhir kali ia lihat saat sedang bertengkar dengan cowok yang ia kenal dengan nama Gamma itu.


Langit berdecak ketika panggilannya tak kunjung berubah menjadi suara lembut Bulan. Ia masih terus mondar-mandir hingga membuat beberapa pembeli di butiknya merasa terganggu. Ia tidak tahu gadis itu sedang di mana dan mengapa ia tidak menerima panggilan dari Langit. Namun, pemilik manik cokelat itu masih tidak menyerah. Kakinya memilih untuk melangkah ke sebuah ruangan yang hanya berisi jaket sambil terus menghubungi Bulan.


"Bulan, lu ke mana?" gumamnya sambil menjatuhkan diri pada sebuah kursi yang berada di ruangan itu.


Sambil terus berusaha menghubungi Bulan, Langit menatap tiap jaket yang berderet rapi di ruangan itu hingga maniknya berhenti di sebuah jaket yang sempat menjadi pusat perhatian Bulan saat ia mengajak gadis itu ke sini. Embusan napas panjang kembali terdengar dari Langit yang tak kunjung mendapat jawaban dari Bulan. Ia menurunkan ponsel dari telinga kanannya. Langit bangkit dan mendekati jaket merah yang masih tergantung rapi di raknya itu. Langit tersenyum mengingat merah adalah warna favoritnya dan jaket ini adalah jaket yang menarik perhatian Bulan.


Langit ke luar dari ruangan yang dipenuhi jaket itu sambil menggenggam sebuah jaket merah. Langkahnya cukup santai menuju meja kasir hingga ingatannya tiba-tiba tertuju pada hari ketika ia dan Gamma berkenalan. Langit mengeraskan rahangnya mengingat ketika Bulan dengan santainya memperkenalkan seseorang yang sebenarnya sudah Langit kenal sebelumnya tapi tidak dengan Gamma. Ia tidak mengenal Langit. Pemilik manik cokelat itu menghela napas sebelum melanjutkan langkahnya menuju kasir.


"Bungkus ini ya. Harus rapi," pesan Langit pada salah satu karyawan yang ada di balik meja kasir itu.


"Iya, Lang. Lu mah suka meragukan karyawan sendiri," protes wanita yang sibuk mengemasi jaket merah milik Langit.


"Tumben ambil barang dari sana," celetuk wanita tadi.


"Biar kelihatan ada yang beli di bagian sana," jawab Langit sembarang. Wanita itu tertawa renyah.


"Nggak jadi, deh. Mending nggak usah ada yang beli aja. Haha," canda Langit seraya mengambil alih bingkisan berisi jaket yang sudah terbungkus rapi itu.


Senyum Langit menjadi penutup pembicaraan dengan salah satu karyawannya itu. Ia hendak meninggalkan butiknya sebelum pintu yang berada di sebelah meja kasir tiba-tiba menarik perhatiannya. Ia mengangkat sebelah alisnya karena merasa aneh terhadap dirinya yang entah mengapa kali ini sangat ingin memasuki ruangan itu. Padahal, setiap kali Langit ke sini, ia terhitung jarang memasuki ruangan yang dulunya adalah ruang kerja Ibunya ketika sedang berada di sini.


Langit meletakkan bingkisan berwarna cokelat yang sedari tadi dipegangnya dan sekarang tangannya bergerak mengambil sebuah pigura yang berada di sebuah laci di ruangan itu. Maniknya menatap objek tersebut yang terlihat sangat bahagia dengan senyum tulusnya. Ia memutar bola matanya dan kembali meletakkan pigura itu ke tempat semula.


***


Masih berada dalam pelukan Mawar, Bulan mengusap air matanya yang masih saja ingin turun. Gamma yang melihat itu ingin sekali menggerakkan tangannya dan mengusap lembut rambut Bulan tapi dia siapa? Bulan mungkin saat ini tidak akan butuh Gamma saat seluruh penghuni rumah ini sudah seakan keluarganya sendiri. Sedangkan ia hanya orang yang tiba-tiba masuk dalam kehidupan Bulan dan baru saja mengusik hidup gadis itu yang sudah rumit. Gamma mengalihkan pandangannya hingga sebuah ponsel yang bergetar dengan layar menyala di sebuah meja yang tidak jauh dari tempatnya duduk menarik perhatiannya. Gamma melirik Bulan sejenak dan mengambil ponsel yang terus bergetar itu.


"Sembilan panggilan tak terjawab," ujar Gamma seraya menyodorkan ponsel yang diambilnya itu pada Bulan. Bulan hanya melirik layar ponselnya sekilas tanpa ada niatan meraihnya. Sebuah panggilan kembali masuk, Bulan meraih ponselnya dan mematikan panggilan itu. Gamma hanya mengedikkan bahu dan kembali duduk.


"Hmm, saya pamit pulang ya Tante," ujar Gamma tiba-tiba setelah hening yang cukup lama.


"Gue ikut," sergah Bulan langsung melepaskan pelukan Mawar.


"Bulan, kamu di sini aja dulu. Kenapa buru-buru?" tanya Mawar.


"Iya, Bulan. Di sini aja dulu," tambah Gunung. Bulan menggeleng sejenak dan ikut bangkit lalu berjalan mendekati Gamma yang belum pindah sesenti pun.


"Lu yakin mau pulang? Lu di sana sendirian," ucap Gamma yang langsung mendapat anggukan dari gadis yang matanya sembab itu.


"Bulan, lagian besok kan libur. Kamu tinggal di sini aja dulu, nanti kalo udah siap buat balik ke Bandung biar Gunung yang anterin," bujuk Mawar yang sekarang sudah kembali merangkul pacar anaknya itu.


"Iya bener kata Mama. Lu tenangin diri lu dulu di sini. Buat lu nyaman sampe nanti lu siap buat balik, lu tinggal bilang ke gue. Gue siap anterin," ucap Gunung yang mencoba meyakinkan gadisnya itu.


"Gue udah siap," tegas Bulan membuat semua yang berada di sana terdiam.


"Tante, Bulan mohon. Bulan nggak mau ngerepotin Tante."


"Tante nggak merasa direpotkan, Sayang. Lagi pula Tante seneng ada kamu di sini. Di sini dulu, ya?" Mawar masih mencoba memohon tapi sayang Bulan masih dengan sifat keras kepalanya dan tetap bersikukuh untuk kembali. Mawar melirik Gunung, putranya yang mengangguk pelan seakan meminta Mawar untuk mengizinkan gadisnya itu untuk kembali ke Bandung.


"Ya sudah tidak apa-apa," ucap Mawar mengalah dan langsung mendapat pelukan erat dari Bulan.


Mawar, Danang, dan Gunung mengantarkan Gamma dan Bulan yang hendak meninggalkan Jakarta hingga ke depan rumah. Gunung menatap gadisnya itu sebelum memeluknya erat seakan menyalurkan rasa hangat dan kuat agar Bulan lebih kuat lagi. Kini Danang dan Mawar yang bergantian memeluk Bulan yang sudah mereka anggap sebagai putri mereka sendiri. Gamma pun ikut berpamitan pada keluarga Gunung.


"Gue titip Bulan sama lu," pesan Gunung.


"Lu kalo butuh apa-apa langsung kabari gue. Nggak perlu lu lihat jam berapa, mau jam dua belas malem pun lu butuh gue, langsung kabari. Oke?" pesan Gunung seraya merapikan rambut Bulan. Gadis itu tersenyum tipis dan mengangguk kecil.


"Hati-hati di jalan," pesan Danang sesaat sebelum mobil Gamma meninggalkan pelataran rumahnya.


Gamma melirik gadis yang duduk di sampingnya dengan tatapan menunduk itu. Ia mengembuskan napasnya berusaha untuk diam dan tidak mengusik gadis yang sepertinya sedang mencari ketenangan. Gamma masih tetap fokus berkendara di tengah keheningan malam ini, berharap ia bisa menjaga Bulan seperti yang dipesankan Gunung padanya.


"Makasih," ucap Bulan tiba-tiba.


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita