
~Aku sudah terlalu banyak menemukan orang baru di dunia ini tapi sejauh ini mereka hanya singgah, mungkin kali ini juga sama~
***
Seorang gadis baru saja selesai mengoleskan cairan merah muda ke bibir mungilnya. Seakan tidak peduli dengan kecepatan mobil yang membawanya seperti mendekati maut itu, ia tetap santai dan sekarang malah mengoleskan lotion pada kedua tangannya. Gamma yang duduk di jok kemudi melirik gadis itu sejenak sebelum kembali menatap jalan. Namun, gadis tadi tidak merasa terganggu atas lirikan Gamma dan memilih untuk mengikat rambut cokelatnya yang berkilau.
"Nggak usah diiket," celetuk Gamma membuat gadis tadi menoleh.
"Kenapa?"
"Jelek."
"Kalo jeleknya cuman di mata lu sih gue gak peduli," balas Gemi dilanjutkan dengan merapikan rambutnya. Gamma tidak menjawab dan fokus memarkirkan mobil.
"Bang," panggil Gemi sesaat setelah mobil hitam yang ia tumpangi itu berhenti.
"Hmm," balas Gamma seraya mengambil tasnya di kursi belakang.
"Nanti gue pulangnya dijemput Fikar. Oke? Dadah, Abang." Gadis bernama Gemi itu turun dari mobil. Gamma menatap punggung adiknya yang mulai menjauh itu. Ia ikut turun dan melangkahkan kakinya menyusuri area parkiran. Getaran dari ponselnya di saku membuat ia menghentikan langkah sejenak. Maniknya membaca deret aksara yang ada di layar ponsel yang ia pegang. Gamma mengembuskan napas sejenak dan memutar langkahnya sekitar sembilan puluh derajat dari langkah sebelumnya.
Wajah Gamma seketika dihiasi dengan seulas senyum ketika menemukan seseorang yang sedang ia cari. Kakinya bergerak mendekati gadis yang sedang menyuapkan bubur ayam ke mulutnya. Pemilik manik hitam itu langsung duduk di hadapan sang gadis dan mengunci pandangannya pada wajah gadis yang sekarang melirik ke arahnya. Gamma masih diam pada posisinya seraya membuka sebungkus permen karet dan memasukkannya ke mulut.
"Sudah makan?" tanya gadis yang masih menyuapkan bubur ke mulutnya itu.
"Kelas pukul berapa?" Alih-alih menjawab pertanyaan gadis tadi, Gamma malah bertanya hal lain.
"Sekitar satu jam lagi," jawabnya setelah melirik jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Lu?"
"Sama," jawab Gamma seraya mengunyah permen karetnya.
"Yaya," panggil Gamma dengan tatapan tajam ke arah lawan bicaranya. Gadis yang ia panggil Yaya itu menaikkan sebelah alisnya.
"Lu cantik hari ini." Pujian itu membuat Yaya mengulum bibirnya menahan senyum. Selama ini Gamma memang tidak pernah gagal dalam memuji gadis.
"Makasih."
"Seharusnya gue yang makasih. Lu udah bolehin gue buat memerhatikan cewek jurusan seni rupa secantik lu." Entahlah, Gamma sendiri tidak tahu sejak kapan keahliannya mengapresiasi gadis ini muncul dalam dirinya. Padahal dulu ia sangat geli dan tidak tahu cara hanya untuk mengatakannya. Mungkin ia sudah banyak belajar dari sahabatnya atau mungkin ia sudah banyak belajar dari masa lalunya? Apa pun itu Gamma tidak peduli, yang ia pedulikan sekarang hanya membuat dirinya bahagia. Entah itu bahagia secara nyata atau semu.
Buugh
"Brengsek, lu!" umpat cowok yang baru saja menjatuhkan pukulan pada wajah Gamma. Sedang yang dipukul hanya tersenyum kecut dan melirik pelaku melalui ekor matanya.
"Gamma lu nggak apa-apa?" tanya Yaya yang panik melihat kejadian di hadapannya itu.
"Oh ini cewek baru lu?" Gamma masih diam dengan posisinya.
"Lu hati-hati ya sama cowok brengsek ini."
"Mau lu apa?" Suara berat Gamma akhirnya terdengar dan membuat cowok yang tadi menonjoknya itu tersenyum kecut.
"Gue cuma mau bilang sama lu, hati-hati sama cowok brengsek ini!" pesan cowok tadi pada Yaya seraya menendang kursi yang Gamma duduki lalu pergi meninggalkan keduanya.
"Gam, lu nggak apa-apa?"
***
Masih dengan sisa tawanya, Bulan mengamati teman-teman satu angkatannya yang mulai memasuki Sarana Olahraga Ganesha (Saraga). Baru beberapa menit yang lalu ia sampai di tempat yang sama setelah melewati kerumunan massa dari mahasiswa kampusnya yang biasa disebut lorong massa. Ingatannya masih segar ketika ia dan teman-temannya saling memegang pundak masing-masing hingga membentuk seperti ular hanya untuk melewati godaan yang berada di sepanjang lorong massa dan berusaha sampai dengan selamat ke Saraga. Raut wajahnya sangat menggambarkan gadis itu tengah bahagia dan merasa bebas. Bahkan, gurat bahagia itu masih ada dan tidak luntur sedikit pun hingga acara selanjutnya.
Manik mata Bulan bersinar menyaksikan penampilan yang disuguhkan kakak tingkatnya itu. Sudah lama ia tidak merasakan hal ini, disambut seakan sudah ditunggu kehadirannya. Ia bahkan tidak berhenti tersenyum dan berteriak bahagia di tengah penampilan kakak tingkatnya itu. Ia juga tidak pernah menyangka kampus yang terkenal akan prestasi akademiknya juga penuh akan kreativitas dan kemampuan yang mengagumkan. Gadis itu kembali tenggelam bersama ramainya penutupan acara pengenalan kampus. Bahkan, ia ikut berteriak hanya untuk bernyanyi bersama dan memeriahkan acara ini.
Bulan menghela napas saat acara sudah benar-benar usai. Kini ia juga sadar bahwa sekarang ia sudah kembali sendiri, tidak seperti beberapa menit yang lalu. Bahkan, raut wajahnya terlihat cukup kontras dibanding tadi. Maniknya menatap panggung yang sekarang ramai oleh petugas yang akan membereskan acara ini. Tangannya bergerak mengambil ransel berwarna matcha miliknya yang sempat tergeletak akibat kemeriahan tadi. Dengan senyum tipis yang tersisa, ia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat yang sempat memberikan kebahagiaan sementara baginya itu. Gadis itu menatap kedua ujung sepatunya yang saling bergantian maju dan mundur saat ia berjalan hingga dua ujung sepatu yang lain tiba-tiba menghalangi langkanya. Masih dengan pandangan tertunduk, Bulan bergeser ke kanan untuk mengambil jalan lain. Sayangnya, kedua ujung sepatu tadi juga bergerak ke kanan. Ia mengalah dan berpindah ke kiri tapi lagi-lagi ujung sepatu itu juga mengikutinya. Gadis itu masih tidak menyerah dan berpindah lagi ke kanan.
"Ih kenapa, sih?" gerutu Bulan dan mendongakkan kepalanya saat kejadian itu tidak kunjung berhenti.
"Lu mau lewat?" tanya cowok yang sekarang berada di hadapan gadis dengan manik cokelat itu. Bulan memutar bola matanya malas, ia sangat benci dengan pertanyaan retorik. Orang tuli pun tahu kalo dia ingin lewat jalan itu. Namun, Bulan masih berusaha menahan amarahnya mengingat yang sedang berdiri di depannya itu bukan teman angkatannya dan itu berarti cowok itu adalah kakak tingkatnya. Ya, tentu saja Bulan tidak ingin membuat masalah di hari keduanya berada di kampus.
"Ya udah lewat aja kalo mau lewat. Gue cuman mau ambil motor, kayaknya lu lebih buru-buru."
"Oke makasih," balas Bulan.
"Eh bentar," panggil Langit ketika Bulan sudah mau meninggalkannya.
"Gue Langit. Lu siapa?"
"Gila aja, kemarin ketemu cowok tukang maksa yang malah ditampar cewek eh sekarang ketemu cowok yang suka nanya pertanyaan retorik. Ini beneran institut terbaik bangsa nggak, sih? Semoga nggak lagi-lagi ketemu yang kayak gitu. Huft,"
***
Gamma bersandar di jok kemudi dengan mata terpejam. Ia sudah lama mendekam di mobilnya hingga merasa sangat bosan. Beberapa jam yang lalu kelasnya hari ini sudah usai tapi ia belum bisa langsung pulang dan menikmati lembutnya kasur di kamarnya. Maniknya terbuka dan kembali mengecek ponselnya hanya untuk sekadar melihat sudah pukul berapa. Embusan napas kembali terdengar darinya sebelum maniknya menangkap seorang gadis yang sedang celingak-celinguk. Cowok itu memutar bola matanya malas sebelum memilih keluar dari mobil dan segera melangkahkan kakinya mendekati gadis tadi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pemilik manik hitam itu mencekal tangan Bulan seraya menariknya paksa.
"Apaan sih lu?!" ketus gadis bernetra cokelat itu sambil menarik tangannya agar lepas dari cekalan Sang Hitam. Sang Hitam membasahi bibirnya dan berbalik seraya menghempaskan tangan gadis tadi.
"Pulang!"
"Nggak! Gue nggak mau pulang sama lu!" Gadis itu memilih meninggalkan Gamma. Namun, Gamma segera menyusul dengan langkah lebarnya dan kembali menarik tangan gadis itu.
"Sakit, tau! Gue nggak pernah nyuruh lu jemput gue atau pun nganterin gue, atau apalah!" Gamma tak merespons, ia masih berusaha membawa gadis itu mendekati mobilnya.
"Gamma!" Gadis itu berteriak, membuat pemilik manik hitam yang masih mencekal tangannya menghentikan langkah dan memilih berbalik.
"Apa bedanya lu pulang sama gue atau pulang sama angkot?"
"Ya beda, lah. Kalo sama angkot gue bayar."
"Lah itu tahu, jarang ya ada cogan yang ngasi tumpangan gratis buat cewek aneh kayak lu."
"Aneh? Lu sebut gue aneh? Tolong ya, wajah udah kayak Bailee Madison ini lu sebut gue aneh? Ha?" Gamma mendengkus mendengar kalimat gadis tadi, ia memilih melepaskan tangan gadis itu.
"Nah, gitu dong. Sakit dari tadi lu tarik-tarik, emang karet apa?"
"Dasar cewek aneh," sembur Gamma sambil melangkahkan kakinya meninggalkan gadis dengan rambut cokelat itu. Namun saat ia sampai di depan pintu mobilnya, maniknya menatap tajam ke arah gadis yang masih diam di tempatnya.
"Lu nggak mau masuk?"
"Lah, lu ninggalin gue tadi." Gamma berdecak mendengar ucapan gadis yang menurutnya aneh itu. Ia segera melangkahkan kakinya mendekati gadis tadi dan kembali menarik tangannya lalu mengantarnya ke kursi penumpang sebelah kemudi.
"Udah? Emang gue sopir lu apa? Minta anter segala."
"Lah, kan lu yang anterin gue dengan senang hati. Udah ah, cepetan. Gue gerah, mau mandi." Gamma melongo. Ia benar, bukan? Gadis ini benar-benar aneh.
"Lu tahu? Gue nungguin lu dua jam di sini! Lu ke mana aja? Lama banget!" protes Gamma sesaat mendudukkan bokongnya di kursi kemudi.
"Salah lu lah, suruh siapa nungguin gue? Lagian lu siapa coba, jemput gue, anterin gue. Nggak jelas. Sumpah, lu udah kayak stalker gue. Pasti lu udah lama nungguin gue hadir di hidup lu, kan?" Gamma tersenyum kecut, badannya ia miringkan agar menghadap gadis di sampingnya itu.
"Ogah."
"Dih, lu ya! Mana ada cowok gak jelas tiba-tiba jemput cewek yang baru dia kenal tanpa alasan kalau bukan karena cowok itu suka? Sadar diri, dong. Muka pas-pasan kayak tukang siomay gitu." Gadis itu memutar bola matanya malas.
"Apa? Tukang siomay? Tampang gue udah mirip Alex Lange ini lu bilang kayak tukang siomay?" Gamma tertawa di akhir kalimatnya.
"Dih, Alex Lange katanya. Gak gak gak! Alex itu punya gue, Alex gue di dunia nyata belum ketemu sama gue, jadi jangan ngaku-ngaku Alex gue!" Gadis itu setengah berteriak. Gamma hanya tertawa mendengar celotehan gadis yang sekarang juga sudah memiringkan tubuhnya, sehingga keduanya berhadap-hadapan.
"Dasar cowok pemaksa!" Bulan mengucapkan kalimatnya seraya memajukan wajahnya dengan gurat marah tercetak jelas di sana.
"Gue? Pemaksa? Jidat lu runtuh tuh," respons Gamma santai dengan kedua manik yang menatap jahil ke arah dahi gadis yang wajahnya cukup dekat dengannya.
"Apaan sih lu! Lu bilang bukan pemaksa? Tadi itu apa, rakun! Besok-besok nggak usah jemput gue! Buat apa juga!"
"Karena gue mau mastiin lu aman," ucap Gamma. Napasnya terembus halus menyapu wajah gadis di hadapannya, membuat darah gadis itu berdesir hingga memilih menarik wajahnya dan mengalihkan pandangan.
"Udah jalan, gue gerah nih!" protes Bulan untuk kesekian kalinya. Embusan napas kesal terdengar dari pemilik manik hitam itu dan segera melajukan mobilnya, menjauhi area kampus.
Sepasang mata menatap kepergian mobil berwarna hitam yang baru saja meninggalkan area kampus, pemilik manik cokelat itu menggenggam erat kemudi mobilnya.
"Gue tahu sekarang."
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita