Eclipse

Eclipse
Eclipse 35



~Pada dasarnya kita hanya sendiri, tidak ada satu pun yang benar-benar mengerti~


***


Sinar matahari yang masuk melalui jendela membuat Gamma melenguh sambil mengerjapkan matanya. Pemilik manik hitam itu bangun dari posisi tidurnya dan merasakan tubuhnya yang sakit karena tidur hanya beralaskan beberapa kardus yang ada di ruangan itu. Tangannya meraih sebungkus kapas dan air mineral yang berada tak jauh darinya. Ia membasahi beberapa lapis kapas lalu menegak air mineral yang tersisa di botolnya itu. Laki-laki itu melempar kasar botol yang sudah kosong. Ia mengusapkan kapas yang sedari tadi dipegangnya ke luka yang masih belum kering di kepalanya itu. Gamma meringis pelan karena perih yang masih saja terasa.


Gamma bangkit dan membersihkan tubuhnya dari abu yang menempel. Ia menghela napas panjang seraya mengedarkan pandangannya mengamati ruangan yang ia gunakan untuk tidur itu. Ruangan ini sudah tidak segelap dan tidak sedingin tadi malam karena matahari berhasil merubah suasana dan keadaan di sana. Laki-laki itu melangkahkan kakinya ke luar ruangan dan menapaki anak tangga yang tidak jauh dari ruangan tadi. Ia hanya perlu naik satu lantai untuk menuju tempat favoritnya. Ia menghirup udara di sana cukup dalam ketika kakinya sudah berhasil ia tapakkan di rooftop gedung itu.


Biasanya Gamma ke tempat ini jika Matahari hendak hilang di kaki langit atau ketika langit malam menjadi payungnya. Namun, kali ini cukup berbeda karena sepanjang malam laki-laki itu ada di gedung ini dan kali ini adalah kedua kalinya berdiri saat matahari terbit di sini setelah kemarin adalah yang pertama. Sebenarnya sama saja, ia tidak dapat melihat Matahari terbit yang benar-benar terbit dari kaki langit tapi memang semesta tidak pernah gagal membuatnya takjub akan keindahan yang disuguhkan. Sinar Matahari menerpa wajah kokohnya, menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin. Ia menyipitkan matanya ketika Matahari semakin naik dan membuatnya silau. Laki-laki bernama Gamma itu mendekati salah satu pembatas yang ada di sana. Ia mengintip ke arah bawah, ketinggian gedung ini membuatnya bergidik ngeri. Pandangannya ia alihkan hingga kembali menatap Matahari yang masih berwarna jingga.


"Bener kata Papa, gue pengecut. Pecundang," gumam Gamma dengan tatapan sayu.


"I'll be fine katanya. I hope so, Pa. Sayangnya, itu kapan?" lirih Gamma seakan sedang berbicara dengan Papanya yang masih mendekam di penjara.


"Kata Papa seseorang butuh waktu atau bahkan orang tapi kayaknya orang-orang keburu kena masalah ya kalo deket-deket Gamma?" katanya diakhiri tawa sumbang.


"Kalo Gamma nungguin waktu itu sama Papa di sana gimana? Cuman kayaknya nggak mungkin."


"Pa, Gamma ini sebenernya kenapa, sih? Kenapa Gamma kayak gini? Kenapa Gamma masih suka nyalahin diri sendiri? Kata temen-temen Gamma, Gamma itu suka belajar, cepet nangkep sama pelajaran tapi kenapa urusan begini Gamma nggak bisa belajar dari pengalaman, sih?" lirihnya. Kini laki-laki itu luruh dan memilih memeluk kedua lututnya sambil masih menatap langit yang sudah semakin panas.


"Pa, Gamma kangen Mama Novi tapi Gamma takut buat ketemu Mama. Gamma takut Mama liat Gamma kayak gini. Gamma pengen Mama kenal Gamma sebagai anak yang sudah bahagia tinggal sama Papa Dandi."


Gamma memejamkan matanya. Rasanya masih banyak yang ingin ia ceritakan pada Papanya di pagi ini tapi lidahnya mendadak kelu. Ia seakan sudah tidak mampu lagi untuk melakukan apa pun kali ini. Ia tahu bahwa ia salah tapi ia sendiri tidak mengerti bagaimana caranya menyudahi semua ini. Ia terlalu bodoh untuk itu. Tuhan memang selalu adil kepada hamba-Nya, ada orang yang pintar dalam pelajaran seperti dia tapi bodoh dalam hal kehidupan dan sebaliknya. Sebenarnya tidak ada yang bodoh, mungkin kurang bersyukur dan Gamma harap ia bisa belajar bersyukur lagi dan ikhlas atas apa yang sudah terjadi padanya.


***


Berbeda dengan pagi tadi, langit kali ini mendung. Awan kelabu seakan menghalangi cahaya matahari untuk sampai ke Bumi selurunya. Ditemani Alfa yang sedang memainkan ponselnya itu, Gemi menunggu kedatangan Fikar untuk membawa keduanya mengelilingi kota Bandung sore ini. Tidak, tidak untuk berjalan santai menikmati keelokan kota Bandung tapi mencari seseorang yang memang seharusnya mereka cari. Ditambah lagi ini adalah hari ketiga sejak laki-laki itu pergi. Gemi baru saja hendak mengambil ponselnya di saku sebelum suara klakson mobil membuatnya menoleh dan langsung memberi kode pada Alfa yang berada di sampingnya. Alfa dan Gemi bergegas untuk memasuki mobil yang menepi tidak jauh dari tempat keduanya berdiri tadi.


Fikar melajukan motornya semakin menjauhi gerbang utama kampus kekasihnya itu. Ketiganya langsung memasang mata elang mereka masing-masing berharap menemukan sesuatu atau setidaknya petunjuk mengenai pemilik manik hitam itu. Alfa menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena mulai merasa lelah atas pencariannya yang tidak kunjung membuahkan hasil, begitu juga Gemi yang mulai mengerjapkan matanya yang terasa lelah menyusuri tiap sudut jalan.


"Lu tahu, Gem? Ini yang dulu dilakuin Abang lu buat cari lu," celetuk Fikar tiba-tiba, membuat Gemi langsung menoleh padanya.


"Dia nggak pernah capek cari lu," lanjut Fikar membuat kedua orang yang tadinya sempat ingin menyerah kini kembali memasang mata elang terbaik mereka.


"Kita nggak lapor polisi aja?" tanya Gemi.


"Gue nggak yakin mereka bakal usaha sekuat tenaga mereka," sahut Alfa dari kursi belakang.


"Tapi itu juga salah satu bentuk usaha kita. Mereka pasti lebih profesional," balas Gemi yang membuat Alfa berdecak.


"Dulu yang nemuin lu duluan siapa? Tim Gamma atau polisi? Jadi mana yang lebih profesional?" tantang Alfa.


"Udah mending gini aja, kalo sore ini kita nggak nemuin Abang kita lapor polisi. Gimana?" tawar Fikar mencoba menengahi.


"Gue mah terserah. Nggak berharap banyak juga sama mereka," tutur Alfa terlalu jujur. Hening beberapa saat hingga Fikar menghentikan laju mobilnya tiba-tiba membuat Alfa langsung mengumpat padanya.


"Itu bukannya mobil Abang?" tanya Fikar menunjuk sebuah mobil yang berada di sebuah bengkel di seberang mereka.


"Kayaknya iya," sahut Gemi.


"Oke kita ke sana!" seru Alfa dan langsung membuka pintu mobil. Fikar dan Gemi segera menyusul Alfa yang ternyata sudah menyeberang.


"Bener ini mobilnya?" tanya Alfa seraya menunjuk mobil hitam yang ternyata memiliki banyak lecet itu.


"Iya," sahut Gemi cepat.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria yang menghampiri ketiganya.


"Oh iya, Pak. Jadi kami lagi cari pemilik mobil ini. Ke mana ya, Pak?" tanya Fikar mewakili.


"Oh, mobil ini? Kalo nggak salah kemarin lusa ada kecelakaan tunggal di sekitar sini, pengendara mobil ini yang kecelakaan. Akhirnya mobilnya dibawa ke sini, pengemudinya luka-luka gitu. Terus ini juga kaca di jendela sampingnya sempet pecah tapi nggak parah dan udah dibenerin. Makanya pengemudinya ditawarin buat ke rumah sakit sama warga tapi dia nolak," tutur pria tadi.


"Kecelakaan tunggal? Bukan nabrak orang?" tanya Alfa.


"Nggak. Kayaknya pengemudinya lagi banyak pikiran atau nggak fokus karena kalo mabuk nggak mungkin. Dia masih sadar sepenuhnya."


"Kalian kenal sama yang punya mobil ini?" tanya pria itu lagi. Gemi segera membuka ponselnya dan menunjukkan foto Gamma.


"Ini kan, Pak?"


"Iya iya ini pengemudinya. Kasihan dia, pulang jalan kaki. Ditawarin buat dianter juga nggak mau tapi saya salut dia kuat orangnya," cerita pria dengan kaus biru itu.


"Kalo boleh tahu, ini mobil niatnya sama yang punya mau dikunjungi kapan, Pak?" tanya Fikar.


***


Matahari yang semakin naik tidak menyurutkan sedikit pun keinginan kedua insan yang berada dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu. Sempat terjadi perselisihan sebelum keduanya berangkat untuk melanjutkan pencarian. Gemi yang masih ingin untuk lapor polisi dan Alfa yang enggan karena saking tidak percayanya pada polisi hingga Gemi berakhir mengalah dengan syarat yang ditawarkan Alfa. Mungkin jika ada Fikar, gadis itu akan mendapat dukungan dari kekasihnya walau sebenarnya ia tidak yakin. Ujian di sekolahnya yang membuat Fikar tidak dapat ikut serta dalam pencarian Gamma pagi ini.


"Gam, lu kenapa sih bisa sampe kayak gini? Gue lho nggak pernah liat lu sejatuh ini sampe ngilang kayak begini. Tumben banget lu nggak ke rumah gue. Gue ada salah ya sama lu?" gumam Alfa yang masih tidak menyangka sahabatnya akan seperti ini. Gemi melirik Alfa yang terlihat sangat sedih atas apa yang menimpa Gamma. Gadis itu dapat melihat kekhawatiran yang sangat jelas terpancar dari wajah laki-laki yang duduk di kursi kemudi itu.


"Abang awet ya sama lu," celetuk Gemi membuat senyum tipis terlukis di wajah Alfa. Laki-laki itu seakan mengingat seluruh kisah yang pernah ia lalui dengan Gamma.


"Ya, dia orang yang baik banget. Dia orang paling kuat yang pernah gue temuin di hidup gue selama ini. Makanya gue nggak nyangka sekarang dia ngilang kayak gini. Kalo ditanya gue khawatir? Kayaknya itu pertanyaan retorik, ya." Manik mata Alfa terlihat menerawang walau masih fokus menatap jalan di depannya.


"Gue pesen sama lu, jangan pernah kecewa sama Gamma." Gemi menoleh menatap sahabat kakaknya itu.


"Dia udah ngelakuin yang bisa dia lakuin. Kalo lu pengen tahu dia sekuat apa ngehapus perasaan dia ke lu, dia berani pacarin banyak cewek satu persatu tiap jurusan. Jangan lu mikir dia main cewek, dia sebelum nembak cewek itu selalu bilang kalo dia masih belajar buat ngehapus perasaan dia, Gamma nggak pernah menjanjikan lebih untuk mereka tapi kadang ada mereka yang terlalu tamak dan pengen Gamma jadi milik mereka sepenuhnya. Nggak jarang kan lu lihat dia kadang masih lebam-lebam gitu? Ya karena dia habis ditonjokin sama orang-orang yang suka sama cewek yang katanya Gamma sakitin. Padahal Gamma nggak berniat melakukan itu dan berusaha untuk tidak melakukan itu," tutur Alfa.


"Dia juga korban," pungkas Alfa sebelum menarik napasnya panjang. Gemi terdiam mencerna setiap kalimat Alfa tadi. Sekarang pikiran Gemi yang melayang, membawanya pada masa-masa ketika Gemi dan Gamma terjebak dalam suatu hal yang ia anggap cukup rumit.


"Ini beneran kita tunggu di sini?" tanya Alfa selepas menepikan mobilnya. Gemi membuyarkan lamunannya dan menatap sekeliling.


"Iya di sini aja. Kayaknya nggak bakal ketahuan juga," balas Gemi.


"Kok kayaknya mobil Gamma belum kelar ya diperbaiki. Kalo Gamma nggak ke sini pagi ini gimana?" celetuk Alfa.


"Yakin aja dulu dia bakal ke sini. Lagian nggak ada salahnya kan mastiin mobil sendiri," balas Gemi membuat Alfa mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


Gemi mulai menguap kelelahan. Ia meregangkan tubuhnya agar peredaran darahnya menjadi lebih lancar. Gadis itu membuka sedikit kaca mobil agar dapat menghirup udara luar. Menunggu memang tidak pernah menyenangkan tapi kali ini kedua remaja itu rela hanya untuk menunggu seseorang yang sedang mereka cari. Kini Gemi beralih menegak air mineral yang ia bawa hingga dering ponselnya membuat gadis itu terburu-buru menutup botolnya.


"Iya kenapa, Ma?"


"Gimana? Gamma sudah ketemu?" tanya seseorang di seberang sana.


"Belum, Ma. Kenapa nelepon?" tanya Gemi.


"Oh ini Bulan sudah boleh pulang, kalian bisa ke sini dulu nggak jemput kami?"


"Oh bisa, Ma. Gemi sama Kak Alfa langsung ke sana, ya."


"Oke. Hati-hati, ya."


"Kita ke rumah sakit dulu," tegas Gemi selepas mematikan sambungan teleponnya.


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita