Eclipse

Eclipse
Eclipse 22



~Didustai semesta dan disudutkan buana adalah perpaduan dahsyat untuk meluluh lantakkan kalbu~


***


Dua buah mobil memasuki halaman rumah yang sudah lama tidak ditinggalin itu. Bulan yang sedari tadi menunggu kedua orang yang baru saja turun dari mobilnya masing-masing itu menghampiri keduanya. Langit yang juga sejak tadi menunggu bersama gadis itu memilih untuk mengekor.


"Oh, jadi nggak mau dijemput karena mau sama dia," sindir Gamma setelah maniknya menangkap sebuah motor merah yang juga berada di halaman rumah itu.


"Nggak bukan gitu," sanggah Bulan.


"Iya lain kali kalo mau sama orang lain nggak usah minta jem–" ucap Gamma yang terputus karena sebuah tangan menepuk pundaknya. Pemilik manik hitam itu menoleh dan melihat Gunung yang memberikan isyarat untuk menyudahi percekcokan kecil itu. Gamma mengembuskan napas pelan dan memilih menurut.


"Ya udah ayok, Bulan ini bener rumahnya?" tanya Gunung memastikan. Bulan langsung mengangguk cepat.


"Oke, sekarang terserah kamu mau ke mana aja, kami ikut. Oke?" ujar Gunung dan sekarang berjalan di samping gadisnya itu.


Jujur saja, Bulan sendiri sudah tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi di rumah ini. Rumah ini memang masih memiliki kondisi yang cukup baik tapi menyadari bahwa polisi saja sudah menyerah, lantas apa yang ia harapkan setelah pulang dari sini. Namun, entah mengapa dirinya sangat ingin setidaknya untuk mengunjungi rumah yang terakhir kali ditempati kedua orang tua kandungnya itu. Bulan membuka sebuah pintu yang menghalangi jalannya. Aroma apak menguar dan memenuhi indra penciuman mereka. Bahkan, debu-debu yang beterbangan berhasil membuat Langit bersin berkali-kali.


Gamma mengedarkan pandangannya seraya mengikuti langkah Gunung dan Bulan yang ada di depannya. Rumah ini tidak buruk, barang-barang di dalam rumah itu masih tertata rapi. Bahkan, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan pernah adanya kekerasan di sini dan mungkin itu salah satu yang menyebabkan polisi menyerah. Ah dia tidak tahu, lebih tepatnya tidak ingin sok tahu. Gamma berhenti ketika gadis di depannya itu berbalik dengan wajah lesu.


"Nggak ada apa-apa. Lagian juga ini rumah udah lama nggak ditempatin, polisi juga nggak nemuin apa-apa di sini terus dengan begonya gue sok-sokan mau cari sesuatu di sini," tutur Bulan yang langsung mendapat tepukan halus dari kekasihnya itu.


Area rumah itu semakin gelap karena senja sudah semakin turun ditambah lagi rumah itu tidak memiliki penerangan yang cukup, hanya satu lampu di halaman depan yang dipasang warga. Bulan memutuskan untuk pulang dengan tangan kosong hingga Gunung mengajaknya ke halaman belakang terlebih dahulu. Awalnya Bulan menolak tapi Gamma bilang itu ide yang bagus, setidaknya Bulan ke rumah ini untuk mengunjungi seluruh tempat. Gadis itu mengecek langit yang sudah semakin gelap sebelum melangkah mendekati pintu yang menghubungkan rumah itu dengan halaman belakang.


Udara dingin langsung menusuk kulit keempat remaja yang menginjakkan kaki di halaman belakang rumah kosong itu. Ada beberapa pohon yang masih tumbuh subur di sana dan tanaman liar yang tampaknya sudah tidak pernah dipotong. Bulan pikir tidak akan ada satu pun yang akan dia dapat hingga memilih untuk berbalik tapi langkahnya tiba-tiba terhenti melihat Gunung yang malah berjalan ke tengah halaman itu. Gamma yang penasaran mengikuti langkah Gunung. Bulan menatap bingung Langit yang masih berdiri di sampingnya. Akhirnya Bulan dan Langit berjalan mendekati Gamma dan Gunung yang sedang berdiri di tengah halaman belakang rumah itu.


Gunung tiba-tiba terduduk dan tertawa ringan, membuat Gamma yang berada di sampingnya langsung memegang pundak cowok itu. Namun, sebuah dorongan kuat dari tangan Gunung membuat Gamma langsung tersungkur. Bulan yang melihat itu juga mendekati Gunung yang semakin terlihat aneh. Gunung mendongak dan langsung memeluk Bulan erat, sangat erat hingga Bulan merasa sesak akan pelukan itu.


"Gunung kenapa? Lepasin dulu, gue sesak."


"Nggak," sergah Gunung. Namun, suaranya terdengar berbeda. Langit yang melihat Bulan seakan sudah kesusahan bernapas itu segera mendekat. Namun, belum sempat Langit membantu Bulan, Gunung langsung melepaskannya dan menatap tajam ke arah Langit.


"Langit ya?" tanya Gunung yang seakan tidak mengenal Langit padahal baru saja mereka berkenalan di halaman depan rumah itu.


"Gunung, lu kenapa?" tanya Gamma yang menyentuh pundak Gunung. Cowok itu menoleh cepat dan langsung berteriak histeris melihat Gamma yang berdiri di sampingnya.


"Ngapain kamu ke sini? Untuk apa?" bentak Gunung dengan tatapan murka seraya menerjang Gamma hingga membuatnya terjatuh. Bulan yang melihat semua itu masih diam seraya berusaha mengatur napasnya dan menahan Langit yang hendak menuju ke arah keduanya.


"Arrghhh," teriak Gunung seraya berlari dan membenturkan kepalanya ke sebuah pohon besar yang ada di halaman belakang rumah itu.


"Gunung!!" pekik Bulan dan segera berlari ke arah Gunung yang sekarang terduduk dengan kepala yang terluka.


"Bulan, kamu jauhi dia! Dia anak haram!" seru Gunung seraya menunjuk Gamma dengan napas yang menderu. Gamma mengernyitkan dahinya mendengar kalimat yang baru saja lepas dari bibir Gunung. Langit melirik Gamma sendu.


"Gunung lu ngomong apa, sih?" tanya Bulan memegang tangan Gunung tapi langsung dihempas oleh sang empunya.


"Aku bukan Gunung! Hahahahaha. Kamu untuk apa ke sini?" teriak Gunung yang sudah bangkit dan kembali menerjang Gamma itu. Kuku jari Gunung yang tidak terlalu panjang mencakar wajah Gamma, membuatnya meringis karena ternyata berhasil melukainya. Langit segera menarik tubuh Gunung agar menghentikan gerakannya.


"Kamu diam! Aku tidak akan menyakitimu karena aku tahu kamu sudah cukup tersakiti. Sekarang giliran dia!" teriak Gunung. Langit dan Bulan bingung apa yang sedang terjadi di sana, termasuk Gamma yang sekarang sedang berusaha lepas dari kungkungan tubuh Gunung.


"Aarggghh! Lu kenapa, sih?" teriak Gamma yang sekarang sudah berhasil mendorong tubuh Gunung dan membuatnya tersungkur. Gunung diam sejenak tapi tubuhnya naik turun karena napasnya yang kian memburu. Tidak ada yang berani mendekat, Bulan tahu itu bukan Gunung tapi ia tidak tahu apa yang sedang tubuh Gunung itu lakukan dan siapa yang sedang mengendalikan tubuh kekasihnya itu.


"Kamu bukan anak Dandi, kamu anak haram!" teriak Gunung dan langsung mendapat pukulan dari Gamma.


"Gamma!" pekik Bulan yang mulai histeris karena sekarang kedua cowok itu saling memukuli satu sama lain. Langit masih berusaha memisahkan keduanya sebelum Gamma dan Langit malah tersungkur karena dorongan Gunung. Gunung menatap lekat manik hitam milik Gamma tapi berbeda dari tatapan Gunung yang biasanya.


"Kamu dibohongi Dandi! Dia bukan Papamu! Kalau kau ingin tahu, Langit lah putra dari Dandi! Putra yang Dandi tinggalkan demi hidup bersama Novi, Ibumu yang bahkan malah berselingkuh bersama Tomi yang merupakan ayah kandungmu!" Gamma pias mendengar kalimat itu. Ia luruh, siapa sebenarnya yang sedang berbicara dengannya itu. Apa itu masih Gunung atau bukan? Ia harap apa yang baru saja didengarnya itu hanya dongeng belaka yang tidak akan pernah nyata.


"Aku ayah dari Bulan. Bulan, sini anakku. Kalau kau ingin tahu kenapa aku mati, aku dibunuh oleh Dandi karena aku dan istriku mengetahui semua kebusukan Dandi yang berselingkuh dengan Novi sejak awal, meninggalkan Ibu Langit yang bahkan baru saja melahirkan Langit tapi ia sendiri tidak tahu bahwa anak yang lahir dari rahim Novi bukan darah dagingnya sendiri! Lalu ia dengan begitu teganya memisahkan Bulan dengan kami lalu membunuh kami walau tidak dengan tangannya sendiri. Di ambang pintu itu, ia melihat aku dan istriku disiksa dan dibunuh dengan kejamnya. Sekarang kamu sudah tahu, kan?" teriak seseorang yang sedang mengendalikan tubuh Gunung itu di depan wajah Gamma yang sudah benar-benar pias. Potongan-potongan puzzle itu mulai terkumpul di otaknya.


Bulan terus berteriak setelah apa yang baru ia dengar. Ia ingin sekali mendekati Gamma dan Gunung tapi masih ditahan oleh Langit. Langit pun tidak pernah menyangka bahwa Gamma akan mengetahui semua kebohongan Dandi melalui cara seperti ini. Gamma yang tadinya menatap Gunung penuh amarah karena diteriaki anak haram itu sekarang diam seakan jiwanya tidak ada di sini.


"Sayangnya aku terlalu jijik melihatmu!" pekik Gunung.


"Aku tidak menginginkanmu untuk aku bawa dan aku menginginkan anak ini," ujar sosok yang mengaku sebagai Papa Bulan itu sambil menunjuk tubuh Gunung.


"Nggak! Nggak! Jangan!! Kalo Papa sayang Bulan, Papa nggak boleh ngelakuin itu!" teriak Bulan berusaha melepaskan dari cekalan Langit. Namun, usahanya belum cukup kuat.


Tubuh Gunung bangkit dan mendekati sebuah batu yang berada di dekat pohon besar yang tadinya ia gunakan untuk membenturkan kepalanya. Gunung membenturkan kepalanya ke batu besar itu dengan tangan yang juga ikut memukulkan sebuah kayu ke salah satu kakinya. Bulan berteriak histeris dan terus mencoba melepaskan tubuhnya dari cekalan Langit hingga ia berhasil dan langsung berlari ke arah Gunung. Namun, Gunung langsung mendorong tubuh Bulan agar menjauhinya. Langit juga berusaha untuk menghentikan gerakan tangan Gunung yang menyakiti dirinya sendiri. Gamma yang air matanya sudah berada di pelupuk matanya itu memilih bangkit dan berlari mendekati Gunung yang darahnya sudah mengalir dari kepalanya. Teriakan Bulan mendominasi indra pendengaran Gamma.


"Hentikan! Tubuh anak ini tidak bersalah!" teriak Gamma mencoba menahan tangan Gunung. Namun, sebuah batu dilemparkan ke arah Gamma dan mengenai kepalanya. Ia mengusap dahinya yang berdarah dan langsung menerjang tubuh Gunung.


"Kalo lu mau bawa tubuh seseorang ke alam lu, bawa tubuh gue! Bawa tubuh gue sekarang! Tubuh yang sedang lu sakitin ini pacar anak lu sendiri! Lu nggak kasian sama dia?" Napas Gamma menderu dengan air mata yang terus mengalir. Sedangkan Bulan masih berteriak histeris karena Gunung masih terus memukulkan batu ke kepalanya sendiri.


"Gamma jangan!" Teriakan Bulan tidak mampu membuat Gamma berhenti.


"Bawa gue sekarang dan lepasin tubuh temen gue. Gue mohon. Gue minta maaf atas kesalahan bokap gue dan gue akan bertanggung jawab. Bunuh dan bawa gue sekarang!!" paksa Gamma hingga tangan Gunung tiba-tiba lemas dan tubuhnya terjatuh. Gamma yang melihat itu langsung menggoyang-goyangkan tubuh Gunung.


"Gunuuuung!!!"


Bulan berlari dan memeluk tubuh Gunung yang sekarang sudah tidak sadarkan diri. Begitu juga dengan Langit yang berusaha membawa tubuh Gunung. Gamma yang tadinya seakan kehilangan kontrol akan dirinya segera bangkit dan membantu Langit membawa Gunung ke mobilnya walau dengan pikirannya yang entah sudah membawanya ke mana.


"Gue tunggu lu buat ambil tubuh gue!" teriak Gamma sebelum benar-benar meninggalkan halaman belakang rumah itu.


***


Bulan luruh sambil memeluk hoodie milik Gunung yang sudah berlumuran darah. Ia cium hoodie dengan bau yang sudah bercampur darah itu. Air matanya turun satu persatu, gadis itu menangis tanpa suara di salah satu lorong rumah sakit setelah dokter yang menangani Gunung baru saja mengabarkan kematian kekasihnya itu. Gamma yang sebenarnya juga sedang bergejolak dengan pikirannya sendiri memilih berjongkok dan berusaha mengusap pelan pundak Bulan sebelum mendapat elakan.


"Bulan lu tenang dulu," pinta Gamma.


"Tenang kata lu?" Mata sembab Bulan menatap manik Gamma yang juga penuh luka.


"Pacar gue mati, Gam. Lu bilang gue tenang?"


"Lu ngerti nggak sih rasanya kehilangan?" Bulan menghapus air mata yang kembali turun. Gamma berusaha menghapus bulir bening yang jatuh itu.


"Jangan sentuh gue!" Bulan mendorong tangan Gamma.


"Kenapa sih harus masuk ke Gunung? Gunung salah apa? Kenapa nggak masuk ke tubuh lu aja?" Bulan memukul-mukul dada bidang Gamma hingga ia pun dipeluk oleh Langit. Gamma hanya diam sambil mengeraskan rahangnya.


"Lu yang nyuruh gue buat ngajak dia. Elu, Gam!" pekiknya sebelum kembali menangis di pelukan Langit.


"Gue minta maaf, Bulan."


"Telat! Kenapa arwah tadi nggak masuk ke tubuh lu aja? Kenapa?" Bulan meringkuk di pelukan Langit. Gamma ikut meneteskan air matanya lalu mengusapnya kasar.


"Kedua orang tua kandung gue meninggal, Papa gue juga meninggal, lalu sekarang Gunung. Orang satu-satunya yang bisa jagain gue selama ini. Langit ini boong, kan? Tadi dokternya nge-prank kita, kan? Kameranya mana Langit? Gue mau nyerah. Bilangin," isak Bulan. Langit hanya mempererat pelukannya tanpa bisa menjawab apa pun.


"Dan lu!" ucap Bulan seraya melirik Gamma yang masih di tempatnya itu.


"Orang yang selama ini tinggal sama lu yang ngebunuh orang tua gue dan sekarang lu yang bikin Gunung kayak gini. Seandainya lu nggak nyuruh gue buat ngajak Gunung, semua ini nggak akan terjadi."


"Bulan udah, ini udah jalannya."


"Nggak Langit. Seharusnya nggak gini, seharusnya gue ke Bandung itu buat ketemu kedua orang tua kandung gue, seharusnya juga gue pada akhirnya bahagia sama Gunung. Kami udah ngebicarain ini dulu. Gue nggak pernah nyusun rencana ketika gue ditinggal sama dia. Jadi seharusnya ini nggak terjadi," lirih Bulan masih dengan tangisnya.


"Bulan udah. Sekarang lu tatap gue," pinta Langit tapi Bulan malah menggeleng kecil dan membuat Langit menarik dagunya pelan.


"Gunung nggak suka lihat pacarnya sedih. Ya, kan? Gunung nggak suka meninggalkan pacarnya dalam keadaan ini. Bisa buat Gunung tenang?"


"T–tapi, Lang."


"Shuut, nggak ada tapi-tapi. Mending sekarang lu hubungin kedua orang tua Gunung," ujar Langit mendekatkan jari telunjuknya ke bibir Bulan.


Gamma yang masih di tempatnya itu merasakan ada sesuatu yang remuk di dalam sana. Pemilik manik hitam itu memilih bangkit dan meninggalkan gadis yang sekarang sudah mulai tenang. Bagi Gamma, dirinya memang hanya penghadir masalah. Bahkan, sejak ia bertemu dengan Gemi hingga membuat gadis itu harus dianiaya oleh Tomi yang ternyata adalah ayah kandungnya sendiri yang tak pernah Gamma akui. Lalu sekarang, Bulan? Baginya, lengkap sudah keburukan yang ia perbuat.


"Anak haram emang pembuat masalah sejak awal," gumamnya seraya memasuki mobil hitamnya.


Gamma melajukan mobil itu meninggalkan rumah sakit tempat Gunung dilarikan. Ia menelan salivanya susah. Gamma memukul setir mobilnya sambil berharap besok ia bangun dan sudah tidak ingat apa yang terjadi hari ini. Ia harap hari ini tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Namun, harapan itu tidak akan pernah terkabul. Ia hanya manusia biasa yang tidak bisa apa-apa.


"Seharusnya anak haram emang nggak pernah pantes temenan sama anak baik-baik," lirihnya hingga lampu sebuah truk yang tiba-tiba melaju kencang dari depan dengan jalur yang tak tentu membuatnya silau dan tidak dapat mengendalikan kemudi dengan baik.


Braak


Ctaarr


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita