Eclipse

Eclipse
Eclipse 4



~Karena yang benar-benar pergi tak akan pernah kembali~


***


Tinggal sendirian di sebuah rumah besar tentu akan penuh dengan rasa kesepian. Tidak ada orang yang menyukai rasa kesepian tapi masih banyak orang yang cinta akan sepi. Padahal kesepian memiliki kata dasar sepi tapi tampaknya memiliki makna dan dampak yang sangat kontras akan keduanya. Langit meletakkan sebuah alat semprot yang sempat ia gunakan untuk menyemprot tanaman di balkonnya itu. Bokongnya ia daratkan pada kursi kecil yang berada tidak jauh dari kebun kecilnya di balkon. Manik indah miliknya berbinar menatap tanaman yang berhasil ia bawa ke rumah barunya itu. Rumah baru? Sejak kapan? Maksudnya rumah yang baru saja kembali bernapas? Padahal rasanya masih sama dengan dulu, kosong. Langit menarik napas dalam, melirik langit malam yang sedang dipenuhi bintang dan segera meninggalkan balkon. Ia menutup pintu balkon dan gorden dengan cepat. Seakan tidak ingin cahaya Bulan dan bintang memasuki kamarnya.


Langit berbaring merentangkan kedua tangannya di kasur. Maniknya memejam, pikirannya membawa ia melayang bersama ingatan yang sebenarnya enggan untuk ia rasakan kembali. Sayangnya, semua itu terlalu nikmat untuk kembali merasuki alam pikirannya. Cowok itu membuka matanya dan menatap sekeliling. Terasa cukup berbeda dengan enam bulan lalu ketika ia tinggal di tempat ini. Padahal, dulu ia sama-sama sendiri di rumah besar ini. Namun, tampaknya keadaan lebih mengerti dirinya. Mana yang sendiri dan mana yang benar-benar sendiri. Langit mengembuskan napas pelan tapi berat lalu bangkit dan melangkahkan kakinya menuju sebuah meja belajar yang tidak jauh dari tempat tidur besar miliknya. Tangannya bergerak mengambil sebuah notebook di rak meja belajarnya. Langit membalik tiap halaman buku itu. Buku yang penuh dengan gambar tanaman di setiap balik halamannya itu berhasil kembali membawa Langit berkelana dalam pikirannya. Melayang bersama luka dan tawa secara bersamaan. Tangannya berhenti di sebuah halaman yang hanya berisi satu foto tanaman dan sebuah kata. Maniknya menatap dalam halaman itu, seakan sedang berbicara sekaligus berkeluh kesah. Dadanya sakit hingga rasanya ia ingin sekali menangis, sayangnya itu adalah salah satu hal yang Langit benci di dunia ini. Ia menutup kasar buku itu dan mengembalikannya ke rak seperti semula.


Cowok bernama Langit itu bangkit lalu melangkah mendekati sebuah samsak yang tergantung di kamarnya. Tangannya mengepal dan langsung menjatuhkan tinju berkali-kali tanpa menggunakan sarung tinju. Ia masih semangat meluapkan lelah dan kesal yang tiba-tiba menyelubunginya.


"Arrgh," erangnya ketika mulai merasakan tangannya sakit. Ia terduduk di lantai dengan pandangan menatap ke arah jendela yang gordennya masih tertutup.


"Ternyata kita sedeket itu ya. Kenapa selama ini gue nggak pernah sadar?"


"Kenapa gue ngga pernah sadar akan keberadaan lu?"


"Gue udah capek cari lu ke mana-mana. Bahkan, sampe gue kehilangan semuanya. Lalu sekarang lu muncul begitu aja?" racau Langit masih dengan tatapan tajam ke arah jendela.


"Buat apa lu muncul? Mau ngancurin gue ke yang berapa kali? Gue capek!"


"Atau lu emang sengaja mulai semua ini? Gitu?" Langit masih meracau tidak jelas hingga deru napasnya kian meningkat, tangannya mulai bergetar. Pikirannya kembali melayang, membawa semua rasa sakit itu naik ke permukaan. Ia memejam sejenak sebelum akhirnya bangkit dan menjatuhkan sebuah pukulan ke dinding yang berada di sebelah samsak merah miliknya.


"Oke kalo itu yang lu mau!"


***


Seorang gadis yang baru saja selesai mengikat rambutnya itu meregangkan tubuhnya. Rasa kantuk mulai melandanya walau sekarang jam di dinding kamarnya masih berada di angka delapan. Ia mengembuskan napas agar hawa semangat kembali menyelimuti dirinya melihat masih banyak barang-barangnya yang masih belum selesai ia bereskan dan cukup menyita tempat. Tangannya bergerak melipat pakaian yang kurang rapi dan memindahkannya ke lemari yang berada di samping kasurnya. Begitu juga beberapa barang yang ia bawa dari rumah lamanya. Bulan merutuki dirinya yang memilih pindah di waktu yang mepet dengan jadwal pengenalan kampus. Kini ia harus rela mengikis jam istirahatnya untuk menyelesaikan beres-beres yang dari kemarin tak kunjung selesai. Badannya yang sudah terasa sangat lengket membuatnya ingin segera menyelesaikan hal yang membosankan ini.


Suara dering ponsel membuatnya menghela napas seraya melangkahkan kakinya ke meja belajar tempat ia meletakkan tasnya tadi. Bulan merogoh tas berwarna matcha itu dan mengeluarkan sebuah ponsel. Ia memutar bola matanya ketika membaca nama kontak yang baru saja menghubunginya. Tanpa pikir panjang, gadis itu menolak panggilan yang masuk dan melemparkan ponselnya ke kasur. Dengan wajah malas ia kembali membereskan pakaiannya hingga beberapa menit kemudian ada yang kembali menghubunginya. Awalnya gadis itu masih bisa mengabaikan panggilan itu. Satu kali, dua kali, tiga kali, hingga entah sudah berapa kali, kini ia jengah dengan suara menyebalkan yang muncul dari ponsel yang masih diam di tempatnya itu. Bulan berjalan kasar dan mengambil ponselnya lalu mematikannya sebelum kembali melemparnya ke kasur. Ia sudah kesal menerima panggilan dari orang yang sama dan tentu saja tidak ingin ia terima. Ia sudah malas dan lelah mendengar suara orang yang sedang menghubunginya itu, pasti tidak jauh dari rengekan menyebalkan yang membuatnya tidak nyaman.


Masih dengan wajah malasnya, Bulan kembali membereskan barang-barangnya hingga tangannya berhenti di sebuah jaket berwarna hijau. Raut wajahnya sangat kontras saat beberapa menit yang lalu. Tatapannya sendu. Ia menelan salivanya susah, rasa sesak mulai menghantam dadanya hingga menyeruap dan entah mengapa pelupuk matanya kini menahan bulir-bulir bening yang sedang mengantre untuk turun. Gadis itu menggenggam erat jaket hijau itu seraya mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak jatuh. Ia mengembuskan napas perlahan agar rasa sesaknya berkurang. Gadis itu diam cukup lama dengan posisi yang masih sama. Suara kendaraan yang berlalu-lalang pun bisa terdengar dari kamarnya. Bulan menelan ludahnya sebelum memilih untuk mendekati lemari dan menggantung jaket yang sedari tadi ia pegang. Ia memejamkan matanya lagi, mengembuskan napas keras dan berbalik menuju meja belajarnya. Tangannya mengambil cangkir berisi matcha dan membuka pintu balkon. Semilir angin langsung menyapa kulit halusnya seakan menyapa dan menyambut kehadirannya malam ini.


"Hai, Bulan. Apa kabar?" sapa gadis itu pada sebuah benda langit yang tengah bersinar malam itu lalu menyeruput minuman di cangkir yang ia pegang.


"Bagus jika kamu baik-baik saja. Aku juga baik. Teramat baik malam ini," lanjutnya.


"Bohong? Aku tidak pernah berbohong padamu, Bulan. Aku bukan pendusta seperti yang kau katakan." Gadis itu tersenyum tipis di akhir kalimatnya.


"Iya aku belum selesai beres-beres tapi tenang saja sebentar lagi aku akan lanjutkan." Bulan melepaskan pandangannya dari benda langit yang sedari tadi ia tatap. Bibirnya tersenyum tipis menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Konyol memang berbicara dengan benda yang bahkan tidak akan pernah menjawab pertanyaan kita tapi setidaknya ia tidak akan pernah bertanya dan berpura-pura peduli. Benar, kan?


***


Gamma meregangkan tubuhnya setelah puas membaca textbook tebal untuk persiapan kelas besok. Ia memang tidak pernah membawa buku itu ke kampus tapi ia selalu saja tahu apa yang sedang dibahas dosen di kelas mengenai buku itu. Oh bukan, lebih tepatnya ia tahu apa yang sedang dibahas tiap dosen di kelasnya mengenai tiap buku referensi yang mereka berikan. Lupakan tentang buku penuh teori itu, kini pemilik manik hitam itu memilih untuk berkutat dengan laptopnya. Berbeda dengan sebelumnya, raut wajahnya tidak lagi serius tapi berubah sendu, lelah, senang, seperti tercampur begitu saja. Ia tenggelam dalam dunianya yang lain sebelum suara langkah kaki tiba-tiba terdengar mendekatinya setelah suara derit pintu kamar tertutup. Cowok itu memejamkan matanya seraya mengembuskan napas pelan.


"Ngapain lu ke sini?" Seakan tahu siapa yang datang, Gamma bertanya tanpa menoleh sedikit pun.


"Kak Elara ngechat gue nih," adu gadis berambut cokelat yang sekarang duduk di salah satu sisi ranjang milik Kakaknya itu.


"Abang kenapa lagi sama Kak Elara?" Gadis itu mendekati cowok yang masih memainkan jarinya di atas keyboard laptop.


"Ngapain sih? Serius amat." Gadis yang rambutnya dicepol itu mengintip layar laptop Gamma ketika tiba-tiba saja sudah berada di samping cowok tadi. Gamma segera mendorong gadis itu dengan sebelah tangannya.


"Ah lu, udah sana di kasur aja."


Gadis itu tersenyum dan memilih menurut. "Emang lagi nulis apaan, Bang?"


"Tugas."


"Lah, tugas masa rata tengah, sih? Tugas kuliah macam apa itu?" ledek gadis pemilik manik abu-abu itu.


"Lu aja yang nggak tahu," ketus Gamma dan segera membereskan laptopnya sebelum adiknya itu kembali mengintip apa yang sedang ia lakukan.


"Bang, besok gue ada kelas. Nebeng, ya?" Gamma hanya berdeham dan memilih melangkahkan kakinya mendekati pintu balkon, meninggalkan adiknya sendiri yang sedang berguling-gulingan di kasur empuk milik cowok itu sambil memainkan ponsel yang sedari tadi ia bawa.


"Bang," panggil gadis tadi. Namun, Gamma tak merespons. Ia lebih memilih mendekati pagar balkon dan bersandar di sana seraya menatap langit yang cukup cerah malam ini. Rupanya Sang Bulan sedang menyinari langit, membuatnya seakan lebih bercahaya di atas sana. Cowok itu menghirup napas dalam dan mengembuskannya perlahan untuk kesekian kalinya. Maniknya kembali memandang langit. Ia tahu, menatap langit, bintang, dan Bulan itu sama saja dengan menatap masa lalu. Karena saat kau menatap bintang yang sedang kau anggap indah karena berkerlip itu, mungkin saja sekarang mereka sudah meledak lalu menjadi debu yang nantinya membentuk bintang baru atau mati menjadi katai putih. Namun entahlah, Gamma hanya menyukai menatap benda yang mengingatkannya pada masa lalu, masa di mana semua sakit itu muncul dan menyeruap, membuatnya malah menjadi cowok seperti sekarang ini. Sebelah sudut bibirnya terangkat sebelum pandangannya beralih menatap cahaya lampu yang menerangi jalan.


"Bang... Kak Elara nelfon gue!" Suara gadis itu semakin keras saat ia mendekati Gamma dan sekarang sudah berdiri di samping cowok itu seraya menjulurkan ponsel miliknya. Gamma hanya meliriknya sekilas sebelum kembali menatap lampu jalanan.


"Abang ih, nelfonin mulu nih. Angkat napa, sih?" gerutu Gemi yang sudah mulai jengah dihubungi gadis yang ia tahu sebagai pacar kakaknya itu.


"Lu aja yang angkat, ngomong sama dia."


"Dih, nggak ah. Sana angkat!" perintah gadis itu yang sudah terlanjur jengkel dengan panggilan yang sama dan sudah berkali-kali itu.


"Lu tengkar lagi sama tuh cewek?" tanya Gemi beberapa saat setelah panggilan tadi berakhir begitu saja.


"Gue putus," jawab Gamma seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya.


"Halo, Yaya."


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita