
~Memaksa untuk ikhlas atau memaksa untuk terbiasa?~
***
Entah sudah berapa kali helaan napas berat terdengar dari laki-laki yang sedang menunduk menatap kedua ujung sepatunya yang penuh abu. Tarikan napas dalam seakan mampu menghilangkan rasa sakit pada lututnya yang entah sudah berjongkok berapa lama di tempat yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Dehaman pria yang sedang mengemudikan mobil membuatnya mendongak. Maniknya melirik pantulan wajah pengemudi melalui kaca spion di bagian depan yang menggantung hingga membuat yang ditatap memalingkan wajahnya. Laki-laki bernama Langit yang sejak tadi menatap kedua ujung sepatunya itu hanya mengangkat sebelah bibirnya. Semuanya seakan menjadi menarik bagi orang lain tapi tidak baginya.
Embusan napas lelah kembali terdengar hingga Langit sendiri khawatir pada sopir yang sedang membawanya pulang jengah dengan suara menyebalkan itu. Manik cokelat mengilapnya beralih menatap jalan yang ia lalui melalui kaca di sampingnya. Penuh akan kisah yang sebenarnya ia tak pernah tahu apa yang benar-benar terjadi pada setiap meter ruas jalan yang ia lalui, sama seperti orang lain yang juga tak akan pernah tahu mengenai kisahnya. Kisah yang semesta rangkai untuk seseorang bernama Langit. Langit memejam sejenak diikuti kepalanya yang ia sandarkan. Masih terasa sakit tapi beratnya mulai berkurang, walau tidak pada bebannya.
"Turun di depan aja, Pak!" pinta Langit dengan suaranya yang entah sejak kapan berubah menjadi serak.
"Baik."
Mobil hitam itu menepi tak jauh dari sebuah rumah megah yang terlihat sepi. Langit kembali memejamkan matanya sebelum turun dari taksi yang ia pesan secara online itu. Entah mengapa kakinya terasa bergetar bersamaan dengan sol sepatunya yang beradu dengan kerasnya aspal. Namun, bukan Langit namanya jika tidak meneruskan langkah gagahnya menuju sebuah rumah megah yang tak jauh dari tempatnya turun. Napasnya kian berat ketika ingatan tak menyenangkan itu tiba-tiba memenuhi benaknya. Rasanya sesak, sayangnya ia tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa mengalah dan mencoba berdamai dengan keadaan yang mungkin selalu enggan berdamai dengannya. Keadaan yang masih saja suka mengobrak-abrik hidupnya yang sudah kacau.
Laki-laki dengan manik mata yang sangat indah itu mencoba mendorong pintu yang sekarang terasa sangat berat. Ia menelan salivanya susah saat netranya menatap ruangan yang tersuguhkan di hadapannya, saat aroma yang sangat ia kenal menguar dan menusuk indra penciumannya. Embusan napas berat kembali mengiringi langkahnya menuju sebuah sofa besar di tengah ruangan. Ia menjatuhkan diri sambil memejamkan matanya. Semakin terasa berat dan menyesakkan.
"Gak ada alesan lagi gue di sini," gumamnya seraya membuka matanya dan menatap pigura besar yang berada tepat di hadapannya. Ya, tidak ada siapa-siapa lagi. Tidak ada yang perlu dijaga lagi di sini. Tidak ada yang perlu dibimbangkan lagi setelah ini, semua menjadi jelas.
"Sekarang waktunya!"
***
Mengenai serpih tawa yang ternyata sudah disapu angin entah sejak kapan. Mengenai luka yang bahkan sudah tak terasa lagi sakitnya. Bukan, lukanya masih menganga dan entah kapan akan sembuh. Embusan napas lelah terdengar dari gadis yang baru saja menutup sebuah koper biru dan segera memindahkannya ke pojok kamar. Maniknya tiba-tiba beralih menatap langit melalui pintu balkon yang tak tertutup. Sebelah sudut bibirnya terangkat diiringi langkah kedua kakinya menuju balkon. Semilir angin menyapu kedua pipinya dengan lembut, maniknya memejam, merasakan tenangnya malam yang sudah larut, hanya tersisa dirinya, langit, dan serangga yang menemani malamnya.
Gadis dengan manik cokelat itu membuka kedua kelopak matanya pelan, ia kembali tersenyum menatap Bulan yang bersinar. Ia berpaling sejenak, menatap deretan rumah yang berada di samping balkonnya. Ia menelan salivanya susah mengingat apa yang sudah teruntai di sini, cukup menarik, dan cukup menyesakkan. Semesta terlalu indah dan terlalu sempurna menciptakan jalan cerita hidupnya sampai detik ini. Bahkan, ia sendiri tidak sanggup untuk berterima kasih karenanya. Ya, semesta sangat baik padanya hingga rela membuatnya untuk belajar bersabar dan entah sampai kapan. Pemilik manik cokelat itu kembali menatap langit dengan kedua telapaknya menggenggam pagar balkon yang terasa cukup dingin.
Masih tenggelam bersama sinar rembulan dan tangan yang seakan masih kebal dengan dinginnya logam, sebuah motor berhenti di jalan yang berada di bawah balkonnya. Sebelah sudut bibirnya terangkat, ada rasa sesak dan senang sekaligus di dalam hatinya. Suara dering ponsel membuatnya segera berlari dan meraih ponsel di nakas lalu kembali ke balkon.
"Mau jalan?" tanya seseorang di seberang sana.
"Udah malem. Gila aja jalan jam 11. Apa kata tetangga?"
"Kan gue tetangga lu. Gimana si? Daripada besok, belum juga jalan lu udah cus duluan."
"Sampe jam berapa?"
"Terserah Tuan Putri. Lima menit aja gue udah seneng, kok. Buruan. Gue tunggu!" Gadis dengan netra cokelat itu tak bisa menahan senyumnya yang tiba-tiba saja terbit. Kakinya dengan sigap melangkah mendekati lemari dan mengambil sebuah hoodie, mengenakannya dengan cepat dan beralih ke rak sepatu. Entahlah, ia sangat bersemangat kali ini.
"Helm lu mana?" tanya cowok yang masih menggunakan helm fullface-nya itu.
"Yah, lu gak bawain? Udah gue packing, Gunung. Ish," decaknya.
Gadis manis dengan rambut kucir kuda itu kembali menikmati udara malam yang menyapu wajahnya sejak motor melaju. Ia tersenyum menatap pantulan cowok yang sedang memboncenginya melalui spion motor. Sedang yang ditatap masih saja fokus dengan jalan di depannya hingga cowok yang tadi sempat dipanggil Gunung itu menghentikan motornya di sebuah minimarket. Gadis itu turun dan hanya menatap cowok yang punggungnya semakin menjauh. Ia melangkahan kakinya mendekati sebuah kursi yang berada tak jauh dari motor merah yang tadi ia tumpangi.
"Nih." Sebuah es krim disodorkan di depan wajahnya. Gadis itu meraihnya tanpa ekspresi.
"Bulan," panggil cowok bernama Gunung itu.
"Ya?"
"Sebelumnya gue minta maaf. Gue nggak tahu prosesi perpisahan sebuah pasangan gimana."
"Ini bukan perpisahan, Gunung!" ketus Bulan.
"Nggak ada yang bisa menjamin, Bulan. Siapa tahu lu nanti bakal nemu orang ba–"
"Nggak!" potong gadis yang seakan enggan menikmati es krim di tangannya.
"Dengerin gue sebentar. Nggak akan lama. Tatap gue, Bulan!" pinta cowok yang duduk di sebelah gadis yang sedikit takut untuk menatap wajah kekasihnya itu.
"Gue nggak bakal ninggalin lu demi orang lain tapi gue nggak bisa janji untuk selain itu. Gue percaya sama lu, gue juga masih bakal ada buat lu. Bandung nggak jauh, kok. Gue masih bisa ke sana."
"Gunung."
"Shht. Gue belum kelar. Gue cuman minta lu dengerin gue sebentar aja. Setelah ini lu boleh mau apain gue, gue terima. Yang perlu lu inget, gue bakal ada buat lu, gue nggak bakal ninggalin lu. Kalo lu pengen gue ke sana, tinggal bilang dan gue bakal ke sana. Kalo lu kangen Mama dan Papa gue, lu bilang aja. Kami sayang sama lu, gue sayang sama lu, Mama sayang sama lu, Papa sayang sama lu. Lu jangan pernah mikir kalo di dunia ini nggak ada yang sayang sama lu. Gue bakal selalu dukung apa yang lu lakuin selama itu baik. Terakhir, kalo lu nemu seseorang yang seiman di sana, lu boleh tinggalin gue."
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita