Eclipse

Eclipse
Eclipse 11



~Apa benar Bulan akan menerangi bintangnya atau malah akan sebaliknya?~


***


Tawa di meja makan tidak mengurangi kegelisahan cowok yang sedang mengaduk-ngaduk sarapan di depannya tanpa berniat memakannya. Ia kembali mengambil segelas air dan menegaknya hingga tandas berusaha mengurangi kegelisahan tapi nihil. Cowok itu menatap kedua orang tuanya yang masih sibuk membahas sesuatu yang ia tidak mengerti karena sedari awal tidak mendengarkan dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Maniknya beralih kembali pada makanan yang baru ia suapkan beberapa sendok ke mulutnya.


"Gunung, kenapa?" tanya Mawar yang menyadari bahwa putra tunggalnya itu terlihat berbeda. Namun, cowok itu hanya menjawab dengan gelengan.


"Ada masalah dengan kuliah?" tanya Danang, Papa Gunung.


"Nggak, Pa. Gunung nggak apa-apa," balasnya mencoba memberikan seulas senyum. Mawar dan Danang masih menatap putranya itu penuh selidik.


"Masih kepikiran yang tadi malem?" Mawar memang tidak pernah meleset dalam hal memahami putranya itu. Gunung mengembuskan napas pelan dan kembali menegak air putih yang sudah kembali diisi oleh asisten rumah tangganya.


"Gunung udah dapet berita terbaru mengenai itu," ujarnya ragu. Kedua orang tuanya berhenti menyendokkan makanan mereka dan menatap anaknya berusaha meyakinkan bahwa mereka akan mendengarkan dengan sepenuh hati.


"Keduanya meninggal." Mawar yang langsung mengerti arah pembicaraan putranya itu tercekat dan masih tak percaya akan apa yang ia dengar.


"Siapa, Nak?" tanya Danang yang masih tidak mengerti akan apa yang dibahas.


"Orang tua Bulan, Pa." Gunung menatap Danang sendu seakan menyalurkan rasa sedih yang sudah ia tanggung sejak tadi pagi sehabis membaca sebuah pesan dari temannya di Bandung.


"Temen Gunung yang Gunung suruh buat cari tahu tentang hal itu tadi pagi ngabarin Gunung dan bilang kalo kedua orang tua Bulan sudah nggak ada tapi dia nggak tahu apa alasannya," jelas Gunung dengan nada yang masih sarat akan ketidakpercayaan.


Meja makan yang tadi dipenuhi tawa oleh kedua orang tuanya kini berubah seratus delapan puluh derajat karena pengakuan Gunung. Sejujurnya ia sedikit merasa bersalah yang mungkin sudah menghabisi nafsu makan kedua orang tuanya tapi Gunung tidak bisa menyembunyikan hal itu. Ia tidak ingin orang lain merasa terbebani atas apa yang ia ketahui tapi ia juga tidak bisa menyimpan semua itu sendiri.


"Sekarang Gunung bingung," ucap Gunung.


"Mau gimana cara buat ngasih tahu Bulan," sambungnya dengan kedua manik yang menatap orang tuanya sendu. Manik itu sarat akan kebimbangan yang sedang ia rasakan.


"Kamu yakin bakal ngasih tahu Bulan?" tanya Danang. Gunung menggeleng pelan. Ia sekarang seakan sedang berada dalam hutan dan tidak punya petunjuk apa-apa untuk melangkah. Ia serba ketakutan dalam memilih jalan. Selama ini mungkin Gunung selalu bisa memutuskan pilihan dalam hidupnya tapi berbeda dengan ini. Hal ini bukan hanya tentang dirinya tapi tentang Bulan dan keluarganya juga mungkin. Padahal ia mencari tahu akan keberadaan orang tua Bulan semata-mata ingin membantu gadis itu tapi kenapa sekarang semuanya berubah serumit ini.


"Kamu harus kabarin Bulan," saran Mawar seraya memegang tangan Gunung yang berada di atas meja makan.


"Tapi Gunung nggak tahu kapan dan gimana caranya," keluhnya menatap manik Mawar yang sedikit memberikan ketenangan.


"Papa yakin kamu bisa. Terserah Gunung mau ngasih kabarnya gimana, kapan, di mana, setidaknya kamu kabarin dia," ujar Danang. Gunung mengangguk pelan. Ia mengembuskan napas berat dan kembali menegak segelas air.


"Jangan dipikirin terus. Mama yakin, kamu pasti nemu jalannya. Lagian kalo dipikirin terus bukannya nemu cara, malah berat di kamu."


***


Bangku merah dengan pohon rindang di dekatnya menjadi pilihan Gamma untuk bersantai seraya menunggu seseorang menghubunginya. Pemilik manik hitam itu meraih teh yang baru ia pesan sebelum ke sini dan menyeruputnya. Maniknya masih sibuk menatap layar laptop di hadapannya. Ia menelan salivanya bersamaan dengan lihai tangannya yang bergerak di atas keyboard mengetikkan sesuatu. Semesta seakan sedang mendukungnya, suasana kampus yang sangat bersahabat kali ini hingga membuatnya menulis tanpa jeda.


"Bintang yang banyak pun tak pernah bisa menandingi langit untuk Bulannya." Suara itu membuat Gamma segera berbalik.


"Lu ngapain di sini?" tanyanya saat menyadari seseorang berdiri di belakangnya.


"Bagus." Alih-alih menjawab pertanyaan Gamma, Bulan malah mengomentari sesuatu yang tadi sempat Gamma ketik.


"Tugas. Lu kalo dateng bisa nggak sih pake suara dikit? Kayak hantu aja lu." Gamma masih saja menggerutu.


"Anak teknik ada ya tugas beginian?" Gamma berdeham mencoba menetralkan gemuruh di dadanya. Sudah cukup, ia harap hanya Gemi yang mengetahui isi tulisan ini.


"Gue suruh lu hubungin gue kalo udah selesai, kenapa malah nyamperin gue ke sini?" kesal Gamma.


"Bintang yang banyak tak akan pernah bisa menandingi langit untuk Bulannya," ulang gadis dengan netra cokelat itu yang sekarang memilih duduk di hadapan Gamma.


"Ekhem, lu mau dianter ke mana?" Gamma mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Lu pikir Bulan itu milik langit?" tanya Bulan. Gamma menatap gadis yang ada di hadapannya itu.


"Lu tau, nggak? Kata orang yang sekarang gue benci, bintang itu punya Bulan dan sebaliknya. Mereka saling memiliki. Bulan yang dimaksud adalah Bulannya Bumi, ya." Manik gadis itu menerawang. Gamma memilih bungkam.


"Lu percaya kalo Bulan itu ada untuk menyinari bintang? Bintang-bintang lebih tepatnya," tanya Bulan. Gamma menggeleng.


"Secara logika, Bulan bersinar karena bintang, kan? Matahari," ujar Bulan tapi Gamma masih tak bergeming. Ia menatap lekat gadis di hadapannya.


"Tapi gue percaya kalo Bulan emang menyinari bintangnya. Sayangnya, gue benci kenapa gue percaya ucapan dari orang yang gue benci." Senyum kecut menjadi akhir dari kalimat gadis itu.


"Entahlah. Seandainya pun gue jadi Bulan, bintang yang banyak di langit itu nggak bisa gantiin bintang gue yang udah mati," celetuk Gamma. Pandangan Gamma beralih ke layar laptopnya, maniknya menerawang, seakan ada film yang terputar dalam benaknya.


"Bintang yang mati bisa hidup lagi jadi bintang baru." Gamma tersenyum kecut mendengar kalimat itu.


"Tapi nggak akan sama."


"Emang nggak akan sama. Lu tau, nggak? Lu cuman butuh satu orang biar bisa bikin lu tetep melangkah. Masalahnya adalah, lu harus dapet orang yang tepat. Bintang yang tepat." Gadis itu tersenyum menatap Gamma. Gamma mengembuskan napas panjang seraya menutup laptopnya dan memasukkan ke dalan ransel miliknya.


"Mau gue anter ke mana?" tanya Gamma seraya membuka sebungkus permen karet dan memakannya.


***


Seorang cowok membiarkan manik hitamnya menatap layar yang ada di hadapannya dengan serius. Sedetik kemudian, ia melemparkan joystick yang ada di tangannya dan beralih pada ponsel yang ia ambil dari meja. Cowok yang duduk di sampingnya menoleh cepat.


"Apaan sih lu, Gam?" Yang ditanya hanya menggeleng.


"Gemi lagi?" Alfa masih bersikukuh mengajak cowok yang sedang memainkan ponselnya itu untuk bicara. Namun, yang diajak bicara hanya berdeham. Alfa menepuk bahu temannya itu. Sebelah tangannya mengambil ponsel yang sedari tadi menjadi fokus utama pemilik manik hitam itu.


"Apaan sih lu! Siniin!" perintah Gamma. Namun, Alfa semakin menjauhkan benda pipih itu.


"Mau sampe kapan? Ha?" Gamma masih enggan menatap temannya itu.


"Gue mau balik, tugas belum kelar!" tegas Gamma, Alfa tetap berusaha membuat Gamma duduk.


"Nggak ada ceritanya Gamma Akhtar belum ngerjain tugas dan malah main di rumah temennya. Alibi lu terlalu keren buat gue! Lu pikir kita baru temen kemarin lusa?" sindir Alfa masih menahan ponsel milik Gamma.


"Gue mau pulang, Fa! Siniin hp gue!" Alfa yang sudah jengah memilih bangkit, menyejajarkan dirinya dengan Gamma yang sedang berdiri.


"Nggak seharusnya lu tetep pada posisi lu padahal dia udah jauh ngelupain perasaan itu ke lu! Buka mata lu, Bro! Banyak yang suka sama lu. Bukan perkara mereka yang nggak bisa bawa lu tapi lu yang emang nggak mau buka hati buat mereka. Gimana caranya seseorang bakal masuk ke rumah baru kalo dia masih enggan buat keluar dari rumah lama?"


Gamma berdecih, "Udah gue coba berapa kali? Hah? Masih gak percaya lu? Gue sampe capek, Fa! Lu pikir gue gak bosen hidup gini terus?"


"Lu nggak coba sepenuh hati, Gam."


"Seberapa tahu lu tentang gue? Lu bukan temen kemarin lusa, kan?" Alfa diam, maniknya menatap manik hitam milik Gamma dengan tajam. Manik itu mengikuti gerak-gerik Gamma yang mengambil ponselnya di tangan Alfa dengan paksa dan memilih meninggalkan sahabatnya itu seraya mengenakan jaketnya dengan cepat.


***


Gamma melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, membuat beberapa pengendara meneriakinya. Namun, Gamma tak peduli. Memang ada yang peduli dengannya? Ada yang peduli atas perjuangannya yang bahkan tidak dianggap sedikit pun? Ia rasa tidak ada atau sebenarnya ada tapi mereka pura-pura lupa entah untuk apa. Lucu memang dunia, serba akan pura-pura. Gamma terus saja menatap tajam ke arah ruas jalan di hadapannya hingga maniknya menangkap seorang gadis yang sedang menyeberang.


Ciiiiittt


Gamma berdecak saat motornya tepat berhenti di depan gadis yang sekarang sedang mengelus dadanya. Gadis itu maju mendekati pemilik manik hitam itu dengan tatapan marah. Gamma hanya menggumam tak jelas di balik helm fullface-nya.


"Mas, kalo naik motor tuh hati-hati! Bener ini daerah sepi tapi nggak usah kebut-kebutan kayak tadi napa? Emang Mas lagi balapan? Ha?" ceramah gadis pemilik manik cokelat itu. Gamma mendesah kesal.


"Naik!"


"Enak aja main nyuruh saya naik! Emang saya apaan? Ha? Saya bisa pulang sendiri! Heran deh orang Bandung banyak bener yang habis hampir nabrak nyuruh korbannya naik." Gadis itu hendak meninggalkan Gamma. Namun, sebuah tangan menahan pergelangan tangannya, membuat gadis tadi kembali menatap pengendara yang hampir saja menabraknya itu. Gamma memutar kedua bola matanya malas dan memilih melepas helmnya.


"Gue Gamma! Ribet amat sih lu! Udah naik! Lu mau pulang, kan?" Gadis tadi melongo menatap cowok di hadapannya.


"Cepetan! Sebelum jalan ini rame," desak Gamma. Bulan menangguk cepat dan memilih naik ke jok belakang. Gamma segera memakai helmnya kembali dan melajukan motornya, kali ini dengan kecepatan normal.


Gadis yang ada di boncengan Gamma tersenyum merasakan semilir angin menyapu wajahnya yang cantik. Katakanlah, ia sudah sangat rindu menunggangi motornya yang sekarang entah di mana. Gamma menatap gadis itu melalui kaca spion motornya.


"Kayak seneng banget lu naik motor?" Gadis itu tak menjawab. Ia hanya melirik Gamma sekilas dan kembali tersenyum seraya memejamkan matanya.


"Lah lah, kok berhenti di sini?" Gadis itu protes saat motor Gamma berhenti di sebuah tempat makan.


"Makan, gue laper." Gadis yang tadi ada di boncengan Gamma itu turun dan menatap Gamma dengan tatapan bingung.


"Apa? Iya, gue traktir. Kalo lu mau sih, nggak mau juga gue bodo amat," ujarnya lalu melangkahkan kaki meninggalkan gadis manis di belakang sana, membuatnya mendapat teriakan gemas. Gadis itu mengekor di belakang Gamma. Membuat Gamma sontak berbalik dan hampir membuat wajah keduanya bertabrakan.


Gamma membasahi bibirnya. "Lu tuh bukan babu gue, jalannya di samping gue aja!" desis Gamma, yang diajak bicara hanya berdeham dan mengangguk tanda mengerti.


"Duh, cakep banget. Namanya siapa, Mas?" tanya seorang gadis yang duduk di sebelah meja Gamma yang baru saja cowok itu duduki bersama seorang gadis yang sedang bersamanya.


"Sorry, dia pacar gue. Gak usah nanya-nanya!" balas gadis yang duduk di samping Gamma dengan tatapan jalang ke arah gadis centil yang baru saja berusaha menggoda Gamma.


"Dih, sok kecantikan lu!" balas gadis yang tadi menggoda pemilik manik hitam itu.


"Lu apaan sih? Ngaku-ngaku pacar gue!" protes Gamma dengan suara rendah.


"Lu nggak liat dia cewek centil kayak gitu? Lu mau digodain terus?"


"Ya nggak usah ngaku-ngaku pacar gue juga kali, Bulan!" Gamma masih mencoba protes.


"Udah diem! Kalo gak digituin mereka nyosor lu terus. Lagian gue juga ogah sama lu. Ih, udah untung dibantuin. Oh iya satu lagi, kalo nanti motor gue udah dateng, lu nggak perlu anter jemput gue atau semacamnya. Oke?" ujar Bulan.


"Motor lu? Lu bisa naik motor? Matic, ya?"


"Motor kayak punya lu, Bambang. Elah," sungut Bulan. Gamma hanya tertawa sejenak karena pelayan tiba-tiba datang dan menanyakan pesanan keduanya.


"Ya udah tarlagi lu yang nyetir pas ke apart lu, ya?" tawar Gamma. Gadis di sampingnya itu hanya mengangguk.


"Oh pantes lu suka pake jaket. Kemarin ditanya gitu doang malah senyum-senyum nggak jelas," ujar Gamma masih ingat saat ia menanyakan tentang hal sama beberapa hari yang lalu.


"Ya alasannya bukan cuman itu. Gue punya kisah sama jaket-jaket gue. Bagi gue setiap jaket itu punya kisahnya masing-masing dan nggak ada yang nggak berarti. Ada satu jaket yang paling mendalam kisahnya. Jaket itu salah satu alesan gue akhirnya mati-matian belajar dan rela buat gapyear biar bisa sekolah di kampus ini," kisah Bulan. Gamma memandangnya dalam.


"Eh sorry ya. Haha. Aneh ya gue kalo lagi cerita kok lu sampe gitu banget?"


"Oh nggak, kok." Gamma terkesiap.


"Lu bilang kalo lu punya motor. Siapa Namanya?" tanya Gamma lagi berusaha mencairkan suasana kembali.


"Nama? Buat motor? Buat apa?" Bulan balik bertanya. Baru saja Gamma hendak menjawab tapi terpotong karena pesanan keduanya sampai.


"Ada orang yang bilang ke gue, kalo lu sayang sama sesuatu misal motor, nama akan menjadi penting. Gue punya nama buat motor gue, namanya eagle. Sebenernya terinspirasi dari orang yang tadi ngasi tau gue, sih. Gitu," jelas Gamma dengan pandangan menerawang.


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita