Eclipse

Eclipse
Eclipse 30



~Bukan hanya mencintai yang bisa tanpa alasan, mengalah pun bisa tanpa alasan~


***


Gamma baru saja keluar dari sebuah kelas di gedung Labtek V dan segera berlari menuju sebuah gedung yang berada lebih ke belakang. Ia setengah bersyukur karena gedung itu masih penuh dengan kerumunan mahasiswa tingkat satu yang baru saja menyelesaikan kelas mereka. Gamma menyisir mereka dengan pandangannya berharap segera menemukan seseorang yang ia cari. Pemilik manik hitam itu bernapas lega saat seorang gadis berambut cokelat dengan jaket hijaunya baru saja keluar dari gedung. Tanpa pikir panjang, Gamma langsung bergegas mendekati gadis itu. Bulan yang menyadari Gamma berjalan mendekatinya memilih untuk menghentikan langkahnya sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa?" tanya Bulan sesaat Gamma berhenti tepat di depannya.


"Pulang naik apa?" tanya Gamma balik.


"Kayaknya ojek online tadi pagi buru-buru soalnya," sahut Bulan sambil membenarkan posisi tasnya.


"Mau pulang sama gue, nggak?" tawar Gamma sambil menaik turunkan alisnya membuat Bulan tersenyum tipis.


"Kenapa gue harus pulang sama lu?" goda Bulan yang mulai melangkah menjauhi gedung yang tadi sempat ia gunakan untuk mendapat kelas terakhir di hari itu. Gamma ikut melangkah sambil menyejajarkan langkahnya dengan Bulan.


"Karena tugas gue masih sama. Jagain lu," jawab Gamma dengan senyum tipisnya.


"Dih," sergah Bulan seraya memukul pelan lengan Gamma.


"Gimana? Mau, nggak?" tanya Gamma sekali lagi.


"Iya Tuan Pemaksa yang suka makan permen karet," jawab Bulan gemas membuat Gamma tertawa. Keduanya melangkah menuju tempat Gamma memarkirkan mobilnya hingga sebuah panggilan untuk Bulan menghentikan keduanya.


"Hai," sapa Langit pada keduanya.


"Hai juga," balas Bulan, berbeda dengan Gamma yang hanya membalasnya senyum tipis yang sangat singkat.


"Bulan, gue tadi pagi liat lu ke kampus naik ojek, lu pulangnya mau nggak sama gue?" tanya Langit langsung.


"Tapi gu–"


"Boleh," jawab Gamma memotong kalimat Bulan. Bulan menatap pemilik manik hitam itu bingung.


"Gamma kan kita..."


"Lu sama Langit aja hari ini. Have fun ya kalian," pesan Gamma dengan senyumnya.


"Gam, lu beneran nggak apa-apa?" tanya Bulan memastikan. Gamma hanya membalasnya dengan anggukan ringan.


"Thank you, Bro." Langit menepuk pundak Gamma pelan.


"Hati-hati," pesan Gamma.


"Siap. Kami duluan," pamit Langit dan mulai melangkah bersama Bulan, meninggalkan Gamma yang masih di tempatnya. Gadis yang melangkah bersama Langit sempat menoleh kepadanya.


"Lain kali, ya?" ucapnya tanpa suara, Gamma membaca gerak bibir gadis itu lalu mengangguk pelan masih dengan senyum tipisnya.


Gamma mengembuskan napas kesal. Ia memilih menendang kerikil yang berada di dekat kakinya lalu meninggalkan tempat itu. Pemilik manik hitam itu mengeraskan rahangnya dan memegang tali ranselnya dengan keras. Kadang kita tidak perlu punya alasan untuk mengalah, itu yang ada di pikiran Gamma saat ini. Seharusnya ia merasa baik-baik saja mengingat dirinya sendiri yang memperbolehkan gadis itu untuk pulang bersama Langit. Gamma merutuki dirinya sendiri sepanjang perjalanan menuju tempat parkir.


Pemilik manik hitam yang baru memasuki mobil hitamnya itu memukul keras setir sambil berteriak tertahan. Ia mengusap wajahnya kasar sebelum memasang seatbelt. Gamma tambah menyesal ketika menyadari mobil Langit ternyata berada tidak jauh dari tempatnya memarkirkan mobil. Gamma memutar bola matanya melihat tawa kedua insan yang terlihat jelas dari dalam mobilnya. Ia harap keduanya tidak melihat ia ketika memasuki area parkiran dengan raut wajah yang ia sendiri tidak yakin wajahnya terlihat baik-baik saja. Kedua insan tadi baru saja memasuki mobil milik Langit membuat Gamma langsung menyalakan mobil dan meninggalkan area kampus terlebih dahulu.


***


Alfa berdecak sesaat membaca pesan dari sahabatnya itu. Dengan malas ia menuruni tangga dan membuka pintu utama dengan wajah datar. Gamma yang berada di balik pintu ikut menatapnya datar dan memilih untuk menggeser tubuh Alfa lalu masuk dengan santainya ke rumah itu. Alfa yang sudah biasa dengan kelakuan pemilik manik hitam itu hanya memutar bola matanya dan langsung menyusul Gamma yang telah memasuki kamarnya. Seperti yang sudah Alfa duga, pemilik manik hitam itu pasti menyambar joystick di kamarnya. Ia mendengkus dan duduk di samping Gamma sambil menyaksikan permainan Gamma.


"Ke sini cuman mau main? Perasaan di rumah lu juga ada," sindir Alfa.


"Berisik!" ketus Gamma membuat Alfa mencebikkan bibirnya. Alfa bangkit untuk mengambil ponselnya sebentar dan langsung kembali duduk di samping Gamma.


"Bucin teruss!!" ejek Gamma tanpa mengalihkan pandangan dari layar di hadapannya.


"Sirik aja lu! Makanya cari cewek," sahut Alfa.


"Heh, dulu lu yang nyuruh gue tobat. Kenapa sekarang malah nyuruh gue jadi brengsek lagi, sih?" tanya Gamma bingung.


"Maksud gue buka begitu, Rohmaniah!" kesal Alfa.


"Rohmaniah siapa juga dah," gerutu Gamma yang langsung mendapat toyoran dari Alfa.


"Jangan sok bego ya Gamma Akhtar yang paling pinter sejagat raya!"


"Tumben lu ke sini? Belakangan ini jarang banget ke sini. Giliran ke sini lebih tertarik sama game," gerutu Alfa sambil mencebikkan bibirnya itu. Gamma menurunkan joystick nya sejenak dan menatap sahabatnya itu.


"Lu mau dapet perhatian gue?" tanya Gamma dengan tatapan genit.


"Gam sadar, Gam! Masih banyak cewek di luar sana, Gam! Sadar!" seru Alfa sambil memundurkan tubuhnya itu hingga terantuk ujung sofa.


"Elah, Fa. Lu pikir gue belok? Ya kali!" ujar Gamma kembali fokus pada game nya. Alfa bernapas lega lalu kembali fokus ke ponselnya sebelum helaan napas Gamma membuatnya kembali menatap sahabatnya itu.


"Lu kenapa, sih?"


"Lu lagi kenapa juga, kepo banget deh hari ini perasaan," gerutu Gamma yang kembali mendapat toyoran itu.


Alfa memilih untuk mengambil stoples keripik kentang di meja yang berada tepat di depannya itu. Sambil memainkan ponselnya, ia menikmati camilannya, membuat Gamma meliriknya sinis.


"Sekarang gue dikacangin," keluh Gamma. Alfa langsung terkesiap dan meletakkan stoples yang baru ia ambil.


"Ya ampun, lu lagi PMS ya? Gila lebih labil dari cewe PMS aja. Heran gue!" kesal Alfa yang seakan selalu salah di hadapan Gamma kali ini.


"Lagian lu bukannya harus nganterin Bulan, ya? Lu tadi pagi bilang gitu sama gue," tanya Alfa.


"Kalau galau mah tinggal cerita aja, Bos! Sibuk bener sok nggak mau ngomong," sindir Alfa dengan tawa yang masih tersisa.


"Gue capek, bukan gabut. Makanya gue ke sini," elak Gamma.


"Dih dih dih, sejak kapan kosa kata gabut berubah jadi capek?" tanya Alfa yang langsung merampas joystick di tangan Gamma.


"Alfa ya ampun!" pekik Gamma berusaha merebut kembali benda yang baru saja diambil pemiliknya itu. Namun, Alfa dengan tangkasnya langsung mematikan apa yang sedari tadi menarik perhatian Gamma itu.


"Jadi kenapa kok bisa diculik sama Langit?" tanya Alfa penasaran.


"Tau ah males," balas Gamma dan memilih bangkit lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk milik Alfa.


"Dih, uring-uringan si Bapak Gamma karena dambaan hatinya dibawa orang lain," ledek Alfa yang langsung mendapat bantal terbang dari Gamma.


***


Bulan masih asyik menatap jalanan melalui jendela mobil yang ada di sampingnya. Ia sebenarnya tidak tahu mengapa Langit cukup terlihat berbeda dengan kejadian saat di parkiran kala itu. Namun, Bulan memilih untuk tidak memikirkannya tertalu jauh hingga mobil yang ia tumpangi berbelok ke sebuah gedung. Ia mengedarkan pandangannya setelah menapakkan kakinya di sebuah tempat yang pertama kali ia kunjungi sejak berada di Bandung. Langit yang baru saja turun dari mobilnya itu menghampiri Bulan dan mengajaknya untuk masuk.


"Tenang aja gue nggak bakal ngapa-ngapain lu," ungkap Langit melihat raut wajah Bulan yang sempat ragu ketika Langit mengajaknya masuk itu. Akhirnya gadis itu menurut. Kali ini ia tidak banyak bertanya karena berharap pemilik manik cokelat yang sedang berjalan di depannya itu akan segera memberi tahunya.


"Capek? Sabar, ya. Sebentar lagi sampe," ujar Langit sambil menoleh ke belakang untuk memastikan gadis berambut cokelat yang tadi bersamanya masih mengikuti jalannya.


"Nggak capek," tampik Bulan sambil mempercepat langkahnya menaiki tangga hingga berada di anak tangga yang sama dengan Langit, membuat Langit tertawa kecil melihat kelakuan Bulan.


Langit berhenti di tengah rooftop gedung itu sambil menatap Bulan yang juga baru sampai. Gadis itu melongo menatap pemandangan yang ia dapat dari atas sana. Langit menyelipkan anak rambut Bulan ke belakang telinga gadis itu karena angin membuat rambut Bulan sedikit berantakan. Sinar senja yang menerpa wajah Bulan seakan menambah kecantikan gadis itu hingga membuat Langit harus mengulum bibirnya untuk menahan senyum.


"Lu belum pernah diajak Gamma ke sini?" celetuk Langit tiba-tiba membuat Bulan meliriknya cepat.


"Hah? Gamma? Nggak," jawabnya bingung.


"Jadi gue yang ngajak lu pertama ke sini?" tanya Langit lagi, berusaha memastikan dan langsung mendapat anggukan cepat dari Bulan yang kembali menatap pemandangan yang indah dari atas gedung itu.


"Padahal ini tempat favorit Gamma," tutur Langit yang kembali mendapat tatapan bingung dari gadis dengan netra cokelat itu.


"Kok lu tahu?"


"Emm, karena gue sering lihat Gamma ke sini."


"Lu?" tanya Bulan dengan nada menggantung.


"Ah udah lupain. Nggak jadi," lanjut Bulan yang sadar bahwa tidak seharusnya ia menanyakan mengenai Langit yang mengaku sering melihat Gamma ke tempat ini.


"Oh, oke."


"Lu suka di sini?" tanya Langit sambil menatap Bulan yang masih menikmati pemandangan yang semesta suguhkan.


"Untuk sekarang iya," sahut Bulan. Langit mengangguk kecil sambil mengembuskan napas pelan dan masih menatap Bulan.


"Kenapa?" tanya Bulan yang mulai aneh karena Langit sedari tadi menatapnya.


"Nggak apa-apa lu cantik. Semesta adil ya, sekarang kita dikasi Mentari sama senjanya yang indah. Tarlagi kalo Mataharinya terbenam langit masih bakal terlihat sangat indah karena ada Bulan. Apalagi Bulan yang lagi berdiri sama gue," tutur Langit dengan senyum seringainya.


"Nggak lucu, Lang."


"Gue juga nggak lagi ngelucu," protes Langit.


"Tapi lu beneran cantik, Bulan. Gue akuin gue bener-bener suka sama lu. Gue cinta sama lu, gue sayang sama lu tapi gue juga tahu lu cintanya sama Gamma, kan?" lontar Langit yang langsung mendapat tatapan dari gadis dengan rambut cokelat itu.


"Gue nggak suka sama Gamma," elaknya.


"Gue nggak butuh jawaban itu. Gue tahu lu pasti denial."


"Gue serius, Lang." Bulan masih mempertahankan jawabannya. Langit hanya mendengkus mendengar jawaban itu. Hening cukup lama setelah pembahasan itu hingga Langit menarik napasnya dalam.


"Sorry yah, gue nggak tahu kalo ternyata gue yang ngajak lu pertama kali ke sini."


"Kok jadi minta maaf?"


"Ya mungkin seharusnya Gamma yang pertama kali. Lagi pula habis ini gue nggak akan ke sini lagi, kok. Ini tempat punya Gamma," lirih Langit.


"Emang kenapa kalo ke sini lagi? Atau lu mau pergi?" tanya Bulan penasaran. Langit masih diam seakan enggan untuk menjawab.


"Ke mana?"


"Terbang tak terbatas dan melampauinya."


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita