
~Katanya belajar dari pengalaman tapi nyatanya masih suka melakukan hal yang sama~
***
Gamma baru saja menyelesaikan catatannya setelah dosen mata kuliah terakhir hari ini keluar dari ruang kelas itu. Dengan sigap, pemilik manik hitam itu memasukkan bukunya dan bergegas menuju tempat parkir. Tak perlu waktu lama karena jarak kelasnya kali ini dengan tempat parkir cukup dekat. Ia segera mendudukkan dirinya di kursi kemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan kampus. Gamma menatap ruas jalan di depannya dengan tenang, ia juga melajukan mobilnya dengan kecepatan yang normal. Ia ingin menikmati suasana kota Bandung di sore ini, berharap juga mendapat ketenangan. Mobil yang ia kendarai itu akhirnya berhenti di area gedung yang memang selalu ia kunjungi.
Pemilik manik hitam yang menghela napas panjang sebelum keluar dari mobil itu menatap sekeliling. Kali ini ia yakin pasti tidak ada orang yang ternyata dengan sengaja mengikutinya untuk tahu apa yang sedang ia lakukan. Ya, karena orang itu sudah benar-benar meninggalkan dunia ini. Gamma menelan salivanya dan melangkah memasuki gedung. Suara decit sepatunya memenuhi indra pendengaran laki-laki yang sedang menapaki anak tangga satu persatu itu. Ia menatap satu persatu ruangan yang sebenarnya tidak pernah diselesaikan pengerjaannya itu. Ia tidak tahu pasti alasan Novi menghentikan pengerjaan gedung ini, yang ia tahu hanya karena letak gedung ini dan Novi yang ternyata lebih memerhatikan gedung kosong ini daripada dirinya sendiri. Lucu? Tentu saja tapi Gamma ingin sekali untuk tidak lagi peduli mengenai hal itu yang penting ia masih bisa ke tempat ini.
Sinar senja langsung menerpa wajah Gamma yang baru saja menapakkan kakinya di rooftop gedung itu. Ia menghirup udara di sana dengan dalam. Kali ini waktunya ia bercerita dengan semesta walau tanpa suara. Ia ingin tahu apakah semua ini ulah semesta. Ulah semesta yang menjadikannya seakan-akan pelaku pada setiap kisah yang sedang ia alami. Apakah ia adalah alasan kedua orang tua Bulan dibunuh? Apakah dia juga alasan Gunung meninggal? Lalu sekarang apakah dia juga alasan Langit memilih untuk meninggalkan tempat ini hingga berakhir untuk meninggalkan dunia ini? Lalu siapa yang menjadi alasan Gamma hadir di dunia ini? Seharusnya laki-laki itu tidak pernah menanyakan pertanyaan yang tak akan pernah ia temukan jawabannya sekarang. Sebagian pertanyaan hanya akan terjawab ketika sudah bertemu dengan pemilik semesta. Mungkin. Semua yang terjadi dalam hidup setiap insan memang selalu misterius dengan caranya sendiri tapi mungkin itu cara semesta untuk membuat setiap insannya mengambil nilai pada setiap kisah, bukan malah mempertanyakan alasan setiap kisah terjadi.
Gamma menghela napas panjang. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum memilih untuk berbalik dan meninggalkan tempat itu. Laki-laki itu sebenarnya tidak pernah tahu alasan pasti mengapa ia suka mengunjungi tempat ini. Selama ini ia hanya menduga, menduga karena tempat ini adalah tempatnya menyatakan rasa pada Gemi, tempatnya yang membuatnya merasa diperhatikan oleh Novi, dan tempatnya yang seakan didengar oleh semesta tanpa harus mengatakannya. Ia menatap gedung itu sejenak sebelum melajukan mobilnya karena hari yang sudah semakin gelap.
Pemilik manik hitam itu tersenyum tipis, sekelebat bayangan Bulan tiba-tiba saja muncul di benaknya. Ia segera menggeleng menyadari suatu hal, pantaskah dia? Apakah pantas ia memikirkan gadis yang baru ditinggalkan seseorang yang mungkin gadis itu sayangi dua hari yang lalu? Gamma mengembuskan napasnya dan memilih menatap kursi yang berada di samping kursi tempatnya mengemudikan mobil. Rasanya baru kemarin ia memaksa gadis itu untuk duduk di sana dan mengantarkan serta menjemputnya sebelum motornya datang. Apa mungkin Gamma memang mencintai gadis itu? Apa mungkin Bulan bisa sepenuhnya menghapuskan rasa yang ia miliki kepada Gemi? Namun, lamunan Gamma buyar karena suatu hal tiba-tiba terjadi.
Ciiiittt
Braaak
***
Gamma mengusap kasar wajahnya sesaat tubuh yang baru saja ia gendong itu dibawa masuk ke ruang gawat darurat. Pemilik manik hitam itu luruh di depan ruangan yang sekarang sudah ditutup rapat itu. Napasnya menderu, maniknya menatap hoodie-nya yang terkena darah dari seseorang yang baru saja ia tabrak. Gamma bangkit dan berusaha mengintip apa yang sedang dilakukan tenaga medis di dalam ruangan itu tapi sayangnya pintu ruangan itu buram. Laki-laki itu mondar-mandir mencoba untuk menenangkan dirinya hingga ia memilih untuk menghubungi seseorang. Namun, ia berdecak ketika sambungan telepon berakhir pada suara operator yang terdengar sangat menyebalkan dalam keadaan seperti ini.
"Halo," panggil Gamma setelah sambungan kali ini terhubung.
"Kenapa, Bang?" tanya gadis di seberang sana.
"Gue baru nabrak Bulan. Lu ke sini cepetan. Ajak Mama, dari tadi gue telponin Mama nomornya nggak aktif."
"Lah kok bisa, Bang? Keadaannya gimana?" tanya Gemi yang mulai panik.
"Jangan tanya sekarang. Lagi ditanganin dokter, gue nggak tahu apa-apa. Lu buruan ke sini sama Mama!" seru Gamma.
Sambungan telepon terputus ketika Gemi sudah bilang dia akan segera berangkat. Gamma masih tidak bisa diam, ia menggigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan kepanikannya tapi tak kunjung mereda. Gamma yang tadi mondar-mandir berusaha untuk duduk di sebuah kursi di samping ruangan gawat darurat itu sambil berharap Gemi dan Vani segera datang.
Gamma kembali menghela napas sambil menggosok-gosokkan tangannya karena suasana malam kota Bandung yang entah mengapa terasa semakin dingin. Ia kembali berdiri sambil mengecek ke ujung koridor berharap Vani dan Gemi yang sedang ia tunggu segera datang. Betul saja, semesta seakan mendukungnya malam ini dan tanpa pikir panjang Gamma langsung berlari ke arah keduanya.
"Gimana?" tanya Vani langsung.
"Gamma masih nggak tahu, Ma."
"Kejadiannya gimana?"
"Gamma nggak tahu, Gamma lagi nggak fokus waktu itu dan nggak lihat ada orang yang lagi nyebrang dan yah Mama tahu kelanjutannya," tutur pemilik manik hitam itu bergetar.
"Oh yaudah kita tunggu aja," ucap Vani mencoba menenangkan Gamma yang terlihat tidak tenang itu. Namun, pemilik manik hitam itu malah berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu sebelum Vani menahan tangannya.
"Mau ke mana?" tanya Vani lembut.
"Masih ada urusan. Gamma titip Bulan, ya?" pinta Gamma.
"Kamu yakin harus berangkat sekarang?" tanya Vani sekali lagi untuk memastikan. Gamma mengangguk pelan hingga tangan Vani lepas dari lengannya.
Vani hanya menatap punggung Gamma yang semakin menjauh itu. Gemi yang tadi datang bersamanya menepuk pelan pundak Vani dan membawanya duduk. Vani tersenyum ketir menatap gadisnya itu berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang ia rasakan. Suara pintu dibuka membuat Vani dan Gemi langsung berdiri dan menatap dokter yang baru saja keluar.
"Keluarga pasien bernama Bulan?" tanya dokter itu.
"Iya saya," jawab Vani.
"Titip Bulan dulu ya," bisik Vani sambil menepuk pundak Gemi. Gadis itu mengangguk pelan.
Tak perlu menunggu lama, pintu ruangan gawat darurat itu kembali terbuka dan terlihat beberapa suster yang mendorong brankar dengan Bulan yang terbaring lemah di atasnya. Gemi segera mengikuti suster yang membawa seseorang yang ia kenal sedang dekat dengan Gamma itu.
***
Vani merapikan selimut Bulan kemudian mengelus lembut kepala gadis yang baru ia kenal saat Gamma masuk rumah sakit yang sama. Entah kebetulan atau tidak, seakan keduanya selalu dipertemukan di rumah sakit yang seharusnya tidak ideal sebagai tempat yang identik dengan perjumpaan. Vani yang sudah memastikan Bulan nyaman itu sekarang berbalik dan mendekati sebuah sofa dengan Gemi yang sedang berkutat dengan laptopnya. Gadis itu sempat pulang sebentar untuk mengambil beberapa barang dan kembali lagi tentu saja untuk menemani wanita yang sekarang menjatuhkan tubuhnya di samping Gemi.
"Lagi sibuk nugas, ya?" tanya Vani basa-basi.
"Haha biasa, Ma. Kampusnya Abang mah kalo ngasi tugas suka nggak ngotak, mana susah, banyak. Haha," curhat Gemi diakhiri tawa yang terdengar dipaksakan karena sudah lelah itu. Vani hanya menepuk-nepuk pelan pundak Gemi seakan menyalurkan semangat.
"Oh iya, ini udah hampir tengah malem Gamma belum balik ke sini lagi. Tadi Bi Min sama Bang Mamang nggak lihat Gamma balik?" tanya Vani yang mulai khawatir. Tangannya bergerak mengambil ponselnya yang sedari tadi ada di meja.
"Nggak katanya," jawab Gemi masih sibuk dengan laptopnya. Vani menghela napas seraya menempelkan ponsel ke telinga kirinya. Wanita itu berdecak tak lama kemudian karena panggilannya tidak dapat tersambung. Gemi yang tadi masih fokus pada layar di depannya langsung menoleh pada Vani.
"Paling daya baterainya habis," ujar Gemi mencoba menenangkan.
"Coba tolong kamu telfon temennya, deh. Itu si Alfa," pinta Vani yang membuat Gemi menutup laptopnya, meletakkannya ke meja, dan membalikkan tubuhnya agar menghadap Vani sepenuhnya.
"Ma, Abang itu udah gede. Mama nggak perlu khawatir berlebihan, mungkin Abang lagi ke Jakarta buat ngabarin keluarga Kak Bulan ke sana karena nggak punya kontaknya. Ya, kan?" kata Gemi diakhiri senyum tipis sambil mengusap pelan pundak Vani.
"Sekarang mending Mama istirahat dulu. Kayaknya Mama capek jadinya suka khawatir gini. Ya?" pinta Gemi seraya membereskan sofa yang tadi sempat ia duduki agar dapat digunakan Vani untuk beristirahat.
"Mama tidur aja duluan, Gemi masih mau cari kopi bentar buat lanjut nugas. Tenang aja Kak Bulan pasti aman, kok. Oke?" pamit Gemi seraya mengantongi ponselnya itu. Vani akhirnya mengalah dan memilih untuk membaringkan tubuhnya yang memang sudah terasa sangat lelah. Dengan sigap, Gemi langsung menyelimuti Vani dengan selimut yang ia ambil dari rumah.
Gemi baru saja menutup pintu putih di belakangnya sambil mengangkat ponselnya hingga suara langkah kaki dari ujung lorong membuatnya menoleh cepat. Degup jantungnya mendadak berpacu begitu cepat, ia menelan salivanya susah, dan kakinya seakan kaku untuk digerakkan. Namun, tak perlu menunggu lama ia langsung bernapas lega menyadari siapa yang sedang berjalan ke arahnya itu. Gemi langsung menghampiri laki-laki yang sudah ia tunggu sejak tadi itu.
"Gue kira lu siapa. Mana udah tengah malem, kenapa baru sampe?" tanya gadis itu cepat. Sedangkan yang ditanya hanya menyeringai dengan raut tak bersalah.
"Gimana keadaannya?" tanya laki-laki tadi.
"Belum sadar, sih. Dokter minta kita sabar aja," jawab Gemi seadanya.
"Lu kenapa?" tanya Fikar yang menyadari ada yang aneh dari gadisnya itu. Gemi hanya menggeleng pelan sebelum sebuah cubitan di hidungnya membuatnya meringis.
"Lu pikir lu baru aja bohongin orang yang baru kenal lu dua hari lalu?" sindir Fikar.
"Abang belum balik," cicitnya.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita