Eclipse

Eclipse
Eclipse 34



~Hatimu butuh untuk bernapas, biarkan saja~


***


Suara lenguhan membuat Vani langsung berpaling dari layar laptopnya dan menatap sumber suara. Tangannya meletakkan laptop yang tadi ada di pangkuannya dan segera bangkit untuk mendekati seseorang yang mulai membuka mata. Senyum tipis terbit begitu saja dari bibirnya. Tangannya mengusap lembut rambut gadis yang sekarang masih mengerjapkan matanya itu. Gadis yang sekarang sudah membuka matanya dengan sempurna itu membalas senyum tipis Vani.


"Syukurlah kamu sudah sadar," ucap Vani sambil menarik sebuah kursi untuk duduk di samping gadis itu. Gadis bernama Bulan itu menggerakkan tubuhnya berusaha untuk nyaman.


"Kenapa? Ada yang sakit? Mau ubah posisi?" tanya Vani sigap. Bulan hanya menggeleng pelan karena sudah menemukan posisi nyamannya.


"Kalo ada yang sakit atau apa bilang ya. Jangan sungkan," pesan Vani.


"Iya Tante. Makasih," ucap Bulan pelan.


"Nggak perlu bilang makasih, malah seharusnya Tante yang minta maaf karena yang bikin kamu kayak gini itu Gamma," balas Vani.


"Nggak apa-apa Tante, lagian Gamma juga pasti nggak sengaja, kok." Vani tersenyum tipis mendengar kalimat Bulan hingga suara pintu dibuka membuat keduanya menoleh.


"Wah, sudah sadar? Syukurlah kalau begitu. Saya bantu cek dulu, ya." Seorang dokter masuk diikuti suster yang tersenyum pada keduanya.


"Silakan, Dok." Vani bangkit dari kursinya dan sedikit menjauh untuk memberikan ruang. Vani mengamati tiap gerakan yang dilakukan dokter itu pada Bulan seakan Bulan adalah benda rapuh yang akan pecah jika mendapat perlakukan yang sedikit kasar.


"Oke keadaan Bulan sudah cukup baik tapi belum boleh pulang dulu, ya. Menunggu pulih dulu," ujar dokter yang menangani Bulan itu.


"Baik. Terima kasih, dok."


"Ya. Kami permisi dulu," pamit dokter itu yang kemudian hilang di balik pintu diikuti suster yang tadi membantunya. Vani kembali menarik kursi yang tadi sempat didudukinya.


"Kamu mau sesuatu?" tawar Vani.


"Nggak Tante. Makasih," sahut gadis dengan manik cokelat itu.


"Duh, kamu jadi nggak bisa kuliah ya karena Gamma," sesal Vani karena kecerobohan putranya itu. Bulan tertawa renyah mendengar kalimat wanita di sampingnya itu.


"Nggak apa-apa Tante. Nggak usah dipikirin," sahut Bulan.


"Emang dia tuh anaknya rada ceroboh gitu. Kalo kamu mau tahu ya, dulu sempet adiknya dia sendiri, si Alula hampir jatuh dari pangkuannya karena sibuk main ponsel. Katanya lupa kalo lagi mangku Alula," cerita Vani membuat Bulan tertawa pelan.


"Dia itu juga, udah gede masih suka permen karet. Seharusnya kamu tahu juga, sih. Emang Tante baru tinggal sama dia beberapa tahun lalu dan Tante kira kamu juga tahu alasannya, Tante kaget aja gitu belanja bulanan tiba-tiba ada permen karet tiga kardus. Eh pas ditanya itu Gamma yang minta. Haduh," decak Vani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pantesan rahang Gamma kayak kokoh gitu, ya. Ternyata rahasianya makan permen karet tiga dus," ujar Bulan yang disambut tawa renyah oleh Vani.


"Kamu tahu gitu, ya. Merhatiin Gamma, ya? Hayo ngaku," goda Vani.


"Ih Tante apaan, sih." Bulan tersipu.


"Udah kuliah kok masih malu-malu aja," sindir Vani seraya menahan senyumnya.


"Jadi udah berapa bulan sama Gamma?" tanya Vani dengan seringai nakalnya.


"Tante... belum juga," sahut Bulan dengan semburat merah di pipinya.


"Oh belum. Bisa lah ya sebentar lagi."


"Tante dari tadi bercanda terus. Emang Gamma ke mana?" tanya Bulan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Nah itu, dia kemarin titip kamu ke Tante. Katanya masih ada urusan, ditelfon nggak bisa, kalo kata Gemi mungkin lagi ke Jakarta ngabarin keluarga kamu," jelas Vani.


"Keluarga Bulan? Maksudnya keluarga Gunung, ya?" tanya Bulan memastikan.


"Mungkin."


***


Gamma menatap kedua tangannya yang sedang ia tautkan. Rasa dingin ruangan ini masih sama saat ia pertama kali mengunjunginya. Aroma yang ia hirup pun tidak jauh berbeda, yang membedakan hanya kali ini ia datang dengan beberapa luka yang masih terbuka. Bahkan, masih ada sedikit darah kering yang terlewat ketika ia membersihkannya. Seseorang dengan baju tahanan masuk diantar oleh petugas. Gamma langsung bangkit dan memeluk pria itu. Pria bernama Tomi itu membalas pelukan Gamma tak kalah eratnya. Setetes air mata lolos dari pelupuk Gamma yang membuatnya menghapus bulir itu dengan kasar.


"Gamma kenapa?" tanya Tomi lembut membuat Gamma mengurai pelukannya. Tomi yang melihat Gamma tidak baik-baik saja itu membawanya kembali duduk. Pria itu menatap Gamma yang masih menunduk seakan meja kayu yang memisahkan keduanya lebih menarik untuk dipandangi.


"It's okay not to be fine," celetuk Tomi membuat Gamma mendongak dan menatap dalam manik milik Tomi.


"Papa lebih baik dari Gamma," lirih Gamma.


"Nggak pantes seorang narapidana dikatakan lebih baik dari cowok baik kayak kamu," elak Tomi.


"Gitu ya, Pa? Apa seorang anak yang lahir lalu menjadi alasan seseorang melakukan pembunuhan, anak itu lebih baik dari seorang narapidana? Apa seseorang yang menjadi alasan orang lain meregang nyawa itu lebih baik dari seorang narapidana? Apa seseorang yang menjadi alasan orang lain kecelekaan pesawat hingga meninggal itu lebih baik dari narapidana yang hanya menganiaya orang lain dan tidak pernah membuat orang lain kehilangan nyawanya?" desis Gamma dengan gurat luka yang memenuhi manik hitamnya. Deru napasnya semakin cepat ketika sebuah tangan menggenggam tangannya yang berada di atas meja.


"Apa seseorang itu berniat untuk melakukan itu?" tanya Tomi pelan. Gamma hanya menjawab dengan gelengan singkat.


"Apa seseorang itu ingin hal itu terjadi?" Gamma kembali menggeleng pelan.


"Apa seseorang itu merencanakan semua hal yang kamu katakan tadi?"


"Papa rasa kamu tahu jawabannya."


"Tapi, Pa. Semua ini terjadi karena Gamma," lirih pemilik manik hitam itu.


"Papa selama ini hidup dengan narapidana yang lain dan beberapa dari mereka bilang kalo mereka itu bukan ingin mati tapi ingin untuk tidak pernah dilahirkan." Gamma diam mencoba mencerna kalimat Tomi yang baru saja memenuhi indra pendengarannya.


"Tapi apa kamu tahu, setiap orang yang menyesal karena pernah dilahirkan itu adalah seseorang yang pengecut. Dia tidak bersyukur atas hidup yang sudah Tuhan berikan. Dia lupa kalo sebelum dia lahir sebenarnya dia sudah berjuang di dalam perut ibunya. Dia lupa bahwa banyak orang yang sebenarnya ingin ada di posisi dia," tutur Tomi yang entah mengapa bagi Gamma itu terdengar sangat berbeda, ditambah ia dulu tidak pernah berbicara sedekat ini dan sedalam ini dengan orang yang ternyata Papa kandungnya sendiri.


"It's okay not to be fine. Hati kamu juga perlu istirahat jadi biarin aja dia istirahat sebentar. Nanti, akan ada masa ketika kamu akan kembali baik-baik saja. Kamu cuma perlu waktu," ucap Tomi.


"Kayak pelangi yang perlu nunggu hujan selesai baru dia akan muncul, kayak gerhana yang perlu nunggu benda langit yang menghalangi cahaya yang lain pindah dulu baru kembali seperti semula. Sama kayak hati, mungkin perlu seseorang dulu atau sebenarnya dirimu sendiri untuk kembali baik-baik saja," lanjut Tomi yang masih menatap putranya sendu. Gamma tercekat, ia menelan salivanya susah, lidahnya seakan kelu kali ini.


"Papa nggak tahu apa yang sudah terjadi sama kamu atau apa yang akan kamu alami ke depannya tapi Papa yakin, you'll be fine." Gamma melirik Tomi sekilas sebelum memejamkan matanya sejenak.


"Obati lukamu dengan baik. Papa balik dulu, waktunya mau habis."


***


Gemi baru saja turun dari mobil milik Fikar sambil menenteng beberapa bungkus makanan hasil masakan Bi Min yang sengaja ia bawa dari rumah. Dengan diiringi Fikar yang berjalan di sampingnya, gadis itu menyusuri lorong rumah sakit. Baru saja gadis pemilik manik abu-abu itu akan membuka pintu ruang rawat Bulan, sebuah tangan menarik pundaknya hingga membuatnya berbalik.


"Kenapa, Ma?" tanya Gemi kaget. Vani memberi isyarat untuk mengecilkan suara kepada Gemi dan Fikar yang sama-sama belum masuk itu.


"Gamma belum juga pulang?" tanya Vani dengan nada pelan. Fikar dan Gemi menggeleng hampir bersamaan.


"Tadi Bulan sudah telepon keluarga yang ada di Jakarta, katanya nggak ada Gamma ke sana. Bahkan, mereka dihubungi aja baru tadi sama Bulan," ujar Vani yang tidak dapat menyembunyikan raut khawatirnya itu.


"Ha? Kok bisa?" tanya Gemi dengan kening mengerut.


"Mama juga nggak tahu. Aduh Gamma, kamu ke mana Sayang?" gumam Vani sambil menggigit kukunya panik.


"Oke Mama tenang dulu ya, coba Gemi telepon Kak Alfa. Tenang," ucap Gemi sambil mengeluarkan ponselnya dari saku dan segera menghubungi sahabat Gamma itu. Namun, gadis itu berdecak karena panggilannya berakhir pada suara operator.


"Coba sekali lagi," saran Fikar sambil mengambil alih bungkusan yang ada di tangan gadisnya itu agar Gemi tidak kesulitan. Sayangnya tetap sama, Alfa tak kunjung mengangkat panggilan dari Gemi.


"Tuh kan nggak diangkat," gerutu Vani.


"Oke Tante tetep tenang, ya. Biar Fikar sama Gemi langsung ke rumah Kak Alfa buat tanya. Semoga ada kabar baik," ucap Fikar yang langsung mendapat persetujuan dari Vani.


"Tapi Mama janji ya, di sini Mama tenang karena Abang pasti baik-baik aja. Oke? Sama ini titipan dari Bi Min. Jangan lupa dimakan," ujar Gemi menyuruh Fikar memberikan bungkusan tadi pada wanita yang mulai berusaha tenang itu.


"Kalian hati-hati," pesan Vani sebelum memilih untuk masuk ke ruang rawat Bulan.


Gemi mengangguk pelan kemudian berbalik begitu juga dengan Fikar yang melangkah di samping gadisnya itu. Gemi mengembuskan napas pelan ketika sudah berhasil menjatuhkan tubuhnya di kursi sebelah kemudi. Fikar mengelus pelan rambut Gemi seakan menenangkan gadis itu sebelum menyalakan mobilnya dan meninggalkan area rumah sakit. Tidak ada pembicaraan di antara kedua insan itu karena Gemi sedang sibuk menghubungi Alfa dan Fikar fokus memerhatikan ruas jalan di depannya. Mobil milik Fikar akhirnya berhenti di depan sebuah rumah megah. Keduanya segera turun dan memasuki pelataran rumah Alfa. Namun, sorot lampu mobil menyinari keduanya yang sedang berdiri tepat di depan pintu rumah Alfa. Manik Gemi menangkap sebuah mobil dengan Alfa di dalamnya memasuki pelataran rumah itu. Gemi segera mendekati laki-laki yang baru saja turun dari mobilnya.


"Kenapa?" tanya Alfa seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Abang ada di mana?" tanya Gemi langsung.


"Ha? Kenapa nanya gue?" Alfa balik bertanya menatap Gemi dan Fikar bergantian untuk meminta penjelasan.


"Kemarin Abang habis nabrak Kak Bulan, terus minta Gemi sama Tante Vani buat ke rumah sakit. Eh pas udah ke sana Abangnya malah pergi, katanya ada urusan tapi sampe sekarang belum balik," jelas Fikar yang membuat Alfa semakin tidak mengerti.


"Kok bisa?"


"Ya mana kami tahu. Lagian lu dari tadi ditelepon bukannya diangkat. Dari mana aja lu?" gerutu Gemi.


"Ya maaf ponsel gue ada di kamar lupa gue bawa."


"Jadi ini Kak Alfa nggak tahu Abang Gamma di mana?" tanya Fikar sekali lagi untuk memastikan.


"Nggak. Dia nabrak Bulan aja gue baru tahu dari kalian. Udah telepon dia?"


"Udah. Cuman nggak diangkat," ucap Gemi yang mulai putus asa.


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita