Eclipse

Eclipse
Eclipse 24



~Kata maaf memang tidak pernah mampu mengembalikan sesuatu menjadi utuh lagi tapi mungkin mampu untuk mengobati luka yang tercipta~


***


Masih dengan baju kantornya yang sekarang terlihat kusut, Dandi berlari mendekati putrinya yang berada di depan kamar rawat Gamma. Ia langsung memeluk putrinya itu sambil bertanya keadaan Gamma terkini dan Gemi hanya menjawab dengan kedikan bahu. Dandi menepuk pundak putrinya itu sambil menyuruhnya untuk makan malam. Pria itu mengembuskan napas pelan seraya membuka pintu putih di hadapannya selepas Gemi pergi. Ia menelan salivanya susah saat menatap Gamma yang masih terbaring lemah itu. Dandi melangkah cepat dan langsung memeluk tubuh Gamma. Ia mencium pipi putranya dengan air mata yang sudah mengantre di pelupuk.


"Kamu kenapa, Sayang?" gumam Dandi di dekat telinga Gamma.


Dandi mengelus rambut Gamma dengan lembut, hatinya terenyuh melihat luka-luka yang berada di tubuh putranya itu. Putra dari selingkuhan mantan istrinya lebih tepatnya. Namun, Dandi sangat menyanginya. Masih jelas diingatannya ketika Gamma kecil merengek dan tak ingin ditinggal olehnya. Masih segar juga ingatannya ketika Gamma berjuang untuk mencarinya selama sepuluh tahun dan berusaha untuk tinggal bersamanya lagi hingga mengorbankan hati, perasaan, dan kesehatan. Namun mengingat apa yang sudah ia lakukan, pantaskah ia diperjuangkan seperti itu? Ia tidak tahu apa yang akan ia terima ketika putranya itu tahu akan semua hal yang pernah ia lakukan. Dandi tidak yakin Gamma masih akan menerimanya. Ia sadar bahwa ia terlalu pengecut melakukan semua itu di masa lampau. Dandi mengembuskan napas pelan seraya menarik sebuah kursi untuk duduk di samping Gamma.


"Sayang, Papa udah pulang. Papa pulang buat kamu," lirih Dandi menatap wajah putranya yang terlihat pucat itu.


"Kamu nggak mau bangun dan meluk Papa? Gamma nggak kangen sama Papa?" lanjutnya seakan benar-benar sedang berbicara dua arah dengan pemilik manik hitam yang masih memejamkan matanya itu.


"Cepetan bangun ya, Sayang. Papa janji setelah kamu bangun Papa akan ceritakan alasan sudah minta kamu buat jagain Bulan," bisik Dandi dengan tatapan sayu. Ia menarik napasnya dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Itu kan yang pengen kamu denger? Atau kamu mau Papa ceritain tentang apa lagi? Apa yang pengen Gamma tahu?" tanyanya pelan sambil mengusap rambut Gamma.


"Tapi Papa pengen setelah kamu denger semuanya, kamu tetep panggil Papa dengan sebutan Papa, ya?" ucap Dandi diakhiri dengan senyum tipis yang terulas sebelum akhirnya membenamkan wajahnya di sebelah tangan Gamma yang tak bergerak sedikit pun.


Ruangan yang serba putih itu mendadak sunyi dan hanya terdengar beberapa suara alat yang memang sengaja dinyalakan. Dandi menelan salivanya seraya memegang tangan Gamma walau masih menenggelamkan wajahnya. Pikirannya tiba-tiba melayang pada masa ketika ia meninggalkan putranya itu selama sepuluh tahun. Apa selama sepuluh tahun itu Gamma selalu terbaring lemah seperti ini saat berusaha menemuinya karena kerap kali mendapat penganiayaan dari Tomi? Apa ia sejahat itu membiarkan Gamma yang tidak tahu apa-apa menanggung semua yang sudah ia lakukan? Menanggung kebodohan yang telah ia perbuat? Seharusnya dari dulu ia sadar jika sebuah pasangan diawali karena perselingkuhan, akan berakhir dengan perselingkuhan pula, mungkin.


Dandi masih merutuki dirinya hingga suara derit pintu dibuka membuatnya mendongak. Ia menoleh ke arah pintu yang sudah berdiri seorang gadis. Dandi terperenjat menyadari siapa gadis itu. Sedangkan gadis itu hanya diam menatap Dandi dengan pandangan yang tak dapat diartikan.


***


Dandi menyeruput kopi hitamnya. Sedangkan gadis dengan manik cokelat itu masih menunduk sambil mengeratkan jaket yang ia kenakan karena udara malam kota Bandung sudah semakin menusuk kulitnya. Keduanya sudah duduk di sebuah tempat makan dekat rumah sakit itu sejak sepuluh menit yang lalu. Namun, tidak ada sepatah kata pun yang muncul dari mulut keduanya. Bahkan Bulan masih tidak berani menatap pria dihadapannya yang mengaku sebagai Dandi itu. Jujur saja, Bulan tidak punya petunjuk apa pun mengenai apa yang harus ia lakukan atau setidaknya ia katakan. Sebuah dehaman pelan dari pria tadi membuat Bulan menelan salivanya seraya memejamkan matanya sejenak.


"Kenal baik sama Gamma?" tanya Dandi akhirnya membuka suara.


"Sama seseorang yang Om suruh untuk jagain saya maksudnya?" sindir Bulan.


"Oh rupanya anak saya cerita, ya?" tanya Dandi mencoba memastikan seraya berusaha menutupi keterkejutannya.


"Anak Om? Siapa? Gamma? Atau anak dari selingkuhan Om dan selingkuhannya juga?" Kali ini Dandi tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Maniknya membulat membuat Bulan tersenyum kecut menatap pria di hadapannya itu. Bulan meraih secangkir matcha dan menyeruputnya pelan.


"Ka–kamu, apalagi yang kamu tahu?" selidik Dandi yang mulai merasakan dingin di sekujur tubuhnya.


"Menurut Om, apa yang perlu dilakukan seseorang pada seorang anak yang kedua orang tuanya dibunuh dengan kejinya setelah berhasil memisahkan mereka?" Suara Bulan terdengar sangat mengiris telinga Dandi, ia bahkan tidak berani menatap gadis yang sekarang mungkin sudah ingin menghabisinya.


"Maaf. Kamu benar, saya harus menyerahkan diri saya ke polisi," sesal Dandi dan memilih bangkit.


"Tunggu," tahan Bulan. Gadis itu meminta Dandi untuk kembali duduk. Awalnya Dandi menolak hingga gadis itu berhasil meyakinkannya. Dandi duduk dengan keadaan lesu. Ia tampak sangat memalukan malam ini. Bahkan, untuk menjawab kalimat gadis di depannya itu ia rasa ia terlalu hina.


"Saya tidak meminta Om untuk menyerahkan diri. Saya hanya meminta Om untuk mendengarkan saya kali ini," ujar Bulan sangat pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Dandi. Bulan menarik napasnya panjang berharap ia bisa mengucapkannya dengan baik.


"Om tahu kenapa Gamma bisa kecelakaan seperti itu?" tanya Bulan yang hanya mendapat gelengan pelan.


"Om tahu Papa angkat saya meninggal?" tanyanya lagi tapi kali ini Dandi mengangguk.


"Sebelum malam itu Gamma bilang kalo dia disuruh Papanya untuk menjaga saya dan ia langsung menerimanya dengan alasan tidak mau kehilangan Papanya lagi," Bulan berhenti sejenak untuk mengambil napas dalam.


"Mungkin Om tahu apa yang terjadi antara kami setelah saya tahu akan hal itu. Lalu ketika saya mendapat kabar Papa meninggal, Gamma yang bawa saya ke sana dan malam itu pula saya yang meminta Gamma untuk besoknya mengunjungi rumah kedua orang tua kandung saya," lanjut Bulan. Dandi menatap nanar gadis di hadapannya itu. Guratan luka terlihat jelas di maniknya tapi Bulan masih berusaha melanjutkan kisahnya.


"Menjelang malam kami ke sana bersama beberapa teman yang lain, termasuk Langit hingga–" Bulan menghentikan kalimatnya dan menelan salivanya. Ia menghirup napas panjang sambil memejamkan matanya sejenak dan meyakinkan dirinya untuk melanjutkan kalimat yang harus ia lanjutkan.


"Hingga kekasih saya kerasukan arwah yang katanya Papa kandung saya. Melalui tubuh kekasih saya ia bercerita mengenai semua, semua, semua yang dilakukan orang bernama Dandi kepadanya, mengenai Gamma yang merupakan anak haram, dan mengenai Langit juga." Bulan mengulum bibirnya, deru napasnya memburu berusaha menahan isakan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa? Om kaget? Tapi sayangnya kisah saya belum berhenti, malam itu jiwa yang mengendalikan kekasih saya menyakiti tubuhnya sendiri hingga membuatnya meninggal ketika dilarikan ke rumah sakit. Lalu dengan bodohnya saya menyalahkan Gamma atas semua itu dan membuat Gamma memilih untuk pegi lalu Om tahu apa yang terjadi selanjutnya," tutur Bulan, setetes air mata ternyata lolos dari pelupuknya. Gadis itu menghapusnya kasar. Sedangkan Dandi yang masih duduk di depannya itu mendadak pucat pasi, pandangannya tak tentu, deru napasnya juga tidak teratur.


"Sa–saya, saya minta maaf atas apa yang su–" Air mata Dandi turun sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Dadanya sakit menyadari tindakannya dulu membuat semua hal malah semakin runyam.


"Tidak. Semua sudah terjadi," potong Bulan.


"Saya mengerti Om sudah merasa sangat bersalah. Saya harap Om menyadari apa yang sudah dilakukan dan menyesal akan semua itu. Saya tidak akan meminta Om untuk menyerahkan diri dan saya juga tidak akan membunuh Om tapi bukan berarti Om merasa bebas," ucap Bulan yang langsung mendapat anggukan cepat.


"Setiap kesalahan yang sudah diperbuat saya yakin pasti akan mendapat balasannya. Lagi pula polisi sudah menutup kasus itu dan saya juga enggan membuka lagi."


"Saya minta maaf, Bulan. Sekali lagi saya minta maaf. Saya menyesal atas seluruh perbuatan saya," ujar Dandi penuh sesal.


"Mungkin yang perlu dimintai maaf bukan hanya saya," pungkas Bulan dan memilih bangkit sebelum meninggalkan tempat itu.


***


Langit mengejar Bulan yang sedang melangkah menuju gedung yang bernama oktagon di kampusnya itu. Ia mencoba memanggil gadis itu tapi suaranya teredam akibat banyaknya mahasiswa tingkat satu yang sedang belajar di teras gedung itu. Langit mencoba mempercepat langkahnya dan segera menarik tangan gadis tadi saat sudah benar-benar dekat. Gadis bernama Bulan itu langsung berbalik dan menatap Langit yang sedang mengatur napasnya yang tidak teratur.


"Kenapa?" tanya Bulan sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Jangan ngomong di sini," ujar Langit lalu menarik tangan gadis itu untuk meninggalkan oktagon. Namun, Bulan menghempaskan tangan Langit dan membuat Langit berbalik kebingungan.


"Ke mana? Gue tarlagi kelas," ujar Bulan.


"Sebentar doang, gue janji. Di sini rame," sahut Langit dan kembali menarik tangan gadis itu. Langit membawanya ke DPR yang memang berada tidak jauh dari oktagon dan duduk di salah satu bangku yang memang cukup jauh dari bangku yang berisi mahasiswa lainnya.


"Jadi?" tanya Bulan tak sabaran.


"Gue ke sini mau minta maaf," aku Langit.


"Buat?" Bulan kembali bertanya sambil mengernyitkan dahinya.


"Kesalahan bokap gue," lirihnya. Bulan tersenyum kecut.


"Kenapa jadi lu yang minta maaf, Lang?" tanya Bulan diakhiri dengan tawa renyah yang masih terdengar aneh bagi Langit.


"Di mana letak keanehannya?" tanya Langit bingung.


"Ya lu buat apa minta maaf buat seseorang di saat lu juga dijadiin korban?" Langit diam mendengar kalimat itu. Tidak, bukan karena ia baru menyadarinya tapi karena ia tahu bahwa mungkin saja ini adalah kesalahannya juga.


"Nggak, Lang. Lu nggak salah, apa yang terjadi di antara orang tua kita itu bukan karena lu. Jadi nggak perlu salahin diri lu apalagi minta maaf buat dia," ujar Bulan seakan mengerti apa yang dipikirkan cowok yang duduk di sebelahnya itu.


"Tapi,"


"Shuut, bokap lu orang baik, kok. Lagian dia udah minta maaf sama gue. Duluan ya," pungkas Bulan dan segera bangkit meninggalkan Langit yang masih diam menatap punggung Bulan yang menjauhinya.


Langit masih terenyuh dengan kalimat-kalimat yang meluncur dengan mudahnya dari bibir Bulan. Ia bahkan masih tidak habis pikir bagaimana gadis itu bisa memaafkan pria yang jelas-jelas membuat hidup gadis itu hancur. Sedangkan ia seakan buta dengan kata maaf itu. Hatinya terlalu rapuh untuk bisa memaafkan seseorang yang datang, menerbangkan hati itu, lalu menjatuhkannya dengan tidak manusiawi atau sebenarnya ia hanya egois? Egois? Bukankah orang-orang juga egois terhadap dirinya hingga mengambil apa yang ia miliki begitu saja. Bahkan, sebelum ia mencicip rasanya dimiliki? Langit mengusap wajahnya kasar.


Bulan yang baru saja meninggalkan Langit itu tidak benar-benar memasuki kelasnya. Ia masih menatap cowok yang masih diam di kursi tadi dari gedung oktagon. Gadis itu mengembuskan napas pelan, ia tidak tahu mengapa Langit sebegitu melapangkan dadanya untuk menyatakan maaf atas pria yang merupakan papanya itu. Padahal, Bulan tahu ia juga merupakan korban atas seluruh hal yang juga baru ia ketahui. Gadis itu berdecak ketika melihat Langit mengusap wajahnya kasar. Bulan tidak ingin berspekulasi atas pikiran Langit kali ini tapi ia harap apa yang ia katakan tadi adalah hal yang benar. Pemilik manik cokelat itu membenarkan jaketnya sebelum melepaskan pandangan dari cowok yang sekarang sudah bangkit dan meninggalkan tempat mereka berbicara tadi.


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita