
~Ingin tetap dengan luka lama atau melangkah untuk menyembuhkan dan menemukan luka baru itu hanya sebuah pilihan~
***
Langit menghentikan motornya di parkiran sebuah kafe. Bulan turun dengan pandangan yang masih kosong seakan jiwanya tidak sedang bersamanya. Langit menatap gadis itu seraya membuka helmnya. Tangannya bergerak membenahi rambut Bulan yang terlihat acak-acakan. Bulan mendongak menatap manik cokelat milik Langit. Senyum tipis terulas di wajah Langit dan tangannya kini beralih menghapus air mata yang tadi sempat turun di pipi Bulan.
"Gue bingung," celetuk Langit menatap lembut Bulan.
"Bingung kenapa?" tanya Bulan dengan suara serak dan berusaha membalas tatapan Langit.
"Kalo transformer sakit dia pake asuransi kesehatan atau asuransi kendaraan ya?" Bulan tertawa ringan seraya memukul lengan kiri Langit.
"Nah, gitu dong. Senyum, ketawa. Setahu gue sih Bulan tuh selalu bersinar," tutur Langit seraya menyelipkan anak rambut milik Bulan ke belakang telinga gadis itu.
"Sok tahu!"
"Ya udah ayok masuk," ajak Langit.
Bulan menatap jendela di sampingnya saat Langit pergi memesan sesuatu untuk keduanya. Sebuah tanaman yang berada di dekat jendela itu menarik perhatiannya. Secercah ingatan tiba-tiba membawanya ketika ia dan Langit pertama kali ke tempat ini dan tertawa karena lelucon receh cowok itu. Seulas senyum tipis terbit di wajahnya. Gadis itu mengalihkan pandangan ke arah kasir dan melihat Langit sudah berjalan ke arahnya.
"Nungguin?" tanya Langit penuh percaya diri. Bulan berdecih lalu menatap turun ke kedua tangannya yang ia mainkan.
"Bulan, lihat gue deh!" pinta Langit. Bulan memejamkan matanya sejenak sebelum mendongak dan menatap Langit.
"Gue harap ketika lu udah di sini sama gue, lu lupa sama kejadian tadi. Anggep aja gue di sini emang ada buat ngehibur lu," ujar Langit yang disambut dengan anggukan kecil dari Bulan.
"Nah, kan kalo begitu cantik. Jadi gimana tadi? Asuransi kesehatan atau asuransi kendaraan?"
"Ya ampun ada-ada aja ya."
"Menurut lu gimana?"
"Hmm, bergantung dia sakitnya waktu jadi apa. Ya nggak, sih?" tanya Bulan dengan raut wajah yang masih sibuk berpikir itu. Langit tersenyum menatap wajah gadis di hadapannya itu.
"Hmm, bener juga. Kalo kita kehilangan akta kelahiran, itu artinya kita perlu dilahirin lagi, dong?" tanya Langit hingga membuat pelayan yang baru saja mengantarkan pesanan keduanya ikut mengulum bibir agar tidak tertawa.
"Aduh, Mbak. Maafin temen saya ya, dia emang rada gesrek. Ehehe," ujar Bulan sambil mendelik ke arah Langit. Langit hanya tertawa jahil membalas tatapan menyeramkan dari Bulan itu.
"Ya kan gue nanya. Jadi itu tuh perlu masuk perut ibu lagi, gitu? Atau gimana?" Bulan akui, Langit memang paling bisa membuatnya seakan melupakan apa yang sedang terjadi padanya hanya dengan pertanyaan konyol yang belum pernah Bulan bayangkan sebelumnya.
"Terus maksud lu kalo kehilangan akta kematian, berarti orang itu hidup lagi? Gitu?" tanya Bulan dengan manik yang sudah lebih bersinar daripada sebelumnya. Langit tertawa hingga matanya kian menyipit. Jujur saja, ia senang bisa membuat gadis itu kembali tertawa. Seakan-akan Langit baru saja memenangkan sebuah perlombaan dan membanggakan kampungnya.
"Lu lucu. Lihat, dia sampe ketawa," tunjuk Langit pada sebuah tanaman yang berada di dekat jendela.
"Mana ada," sanggah Bulan.
"Dih, lu nggak percaya? Bunga itu namanya krisan," ujar Langit membuat Bulan ikut menatap bunga yang sama dengan yang Langit tatap.
"Krisan itu punya makna kejujuran. Dia jujur kalo lu lucu, makanya ikut ketawa." Pandangan Langit beralih menatap Bulan yang masih menatap bunga tadi.
"Kalo yang ini, baby breath." Pandangan Langit beralih lagi pada bunga yang berada di mejanya dan Bulan.
"Maknanya apa, tuh?" tanya Bulan penasaran.
"Maknanya, ketulusan dan cinta yang abadi." Langit menatap lekat Bulan yang juga balas menatapnya.
"Bulan," panggil Langit. Bulan hanya menaikkan sebelah alisnya masih tetap membalas tatapan Langit yang membuat jantungnya berdegup kencang.
"Gue suka sama lu, lu mau nggak jadi bunga baby breath gue?" tanya Langit dengan tatapan yang sangat dalam. Sedangkan Bulan melepaskan tatapannya.
"Sorry, Lang. Gue udah punya tambatan gue sendiri," aku Bulan.
"Siapa? Gamma?" Bulan menggeleng pelan.
"Bukan. Cinta gue nggak ada di sini, dia di Jakarta. Tapi sayang, kami beda agama." Langit terdiam seketika. Hatinya mencelus. Sebenarnya malam ini adalah malam yang belum pernah ia rencanakan sebelumnya. Namun, ia pikir Tuhan memang memberinya jalan untuk menyatakan perasaannya pada Bulan tapi sayangnya semua itu tidak seperti yang ia bayangnya. Bahkan, apa yang selama ini ada di pikirannya ternyata salah.
"Tapi yang beda agama itu sulit, Lan." Bulan diam, tak ada jawaban.
"Cahaya dia yang dia kasi ke lu itu kayak gerhana, kehalang benda langit lain."
"Tapi gue masih mau bertahan." Hening cukup lama setelah kalimat itu meluncur dari bibir Bulan.
"Gue kira lu sama Gamma karena lu de–"
"Berhenti sebut nama itu atau gue pergi!" potong Bulan.
***
"Bulan," panggil Gamma tapi gadis itu tidak merespons sedikit pun, seakan tidak menyadari keberadaan Gamma.
"Bulan berhenti dulu," panggil Gamma sekali lagi seraya menarik pergelangan tangan gadis itu agar berhenti. Gadis yang dipanggil Bulan itu berdecak dan berbalik menatap Gamma.
"Lepas!" Bulan berusaha menghempas tangan Gamma tapi sayang kekuatannya tidak cukup untuk membuat cekalan itu lepas.
"Dengerin gue dulu," pinta Gamma tanpa melepas cekalan tangannya.
"Gue minta maaf," lanjut Gamma berusaha menatap manik cokelat milik Bulan. Sedangkan Bulan berusaha untuk tidak balas menatap lawan bicaranya itu.
"Emang apa yang perlu dimaafin?" tanya Bulan masih berusaha untuk tidak menatap lawan bicaranya itu.
"Nggak tahu, kan? Lu ngapain minta maaf kalo lu nggak tahu kesalahan lu?" Kini manik cokelat Bulan berani menatap manik hitam di hadapannya itu.
"Karena kata maaf tidak harus didasari alasan, Lan."
"Dan karena itu masih banyak kesalahan yang akan terulang dan terus terulang setelah kata maaf." Cekalan tangan Gamma mulai mengendor, Bulan menatap lengan kirinya dan segera melepaskannya dari cekalan itu dengan mudah kali ini.
"Kalo nggak ada yang mau lu sampein lagi, gue mau pergi."
"Gue minta maaf udah lancang ngejagain lu," ujar Gamma tiba-tiba.
"Baru kali ini gue denger orang yang ngejagain orang lain malah minta maaf," decih Bulan mengalihkan pandangannya.
"Tanyain bokap lu, apa yang dia butuhin dari gue!" pungkas Bulan dan berbalik meninggalkan Gamma.
Gamma menatap nanar motor yang baru saja melaju meninggalkannya itu. Ia mengusap wajahnya kasar. Kakinya ia tendang-tendangkan hingga abu beterbangan. Ia mengacak-acak rambutnya frustrasi.
"Aaarggh!" teriaknya seraya memukul sebuah tiang yang berada di dekatnya hingga buku-buku jarinya memerah.
"Bego! Kenapa giliran beginian gue bego banget si?" umpat Gamma pada dirinya sendiri.
Gamma mendongakkan kepalanya seraya menarik napas dalam dan membiarkan sinar senja menyapa wajahnya. Pemilik manik hitam itu kembali menjatuhkan pukulan pada tiang yang sama hingga kali ini berhasil membuat buku-buku jarinya berdarah. Ia berbalik dan segera menghampiri motornya. Deru motornya mulai memenuhi indra pendengarannya. Ia melajukan motornya meninggalkan parkiran kampus gajah itu dengan kecepatan di atas rata-rata.
Seorang cowok yang bersandar di salah satu tiang di pojok parkiran menatap motor hitam yang baru sama dikendari Gamma meninggalkan area kampus. Ia menyaksikan apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Bahkan, ia juga mendengar seluruh percakapan itu. Sebelah sudut bibirnya terangkat ketika memori beberapa menit lalu kembali terputar di otaknya. Cowok itu berdeham sebelum akhirnya melangkah mendekati motor yang terparkir di samping motor gadis tadi. Cowok itu ikut meninggalkan area kampus dengan senyum tipis yang masih terulas di wajahnya.
***
Baskara sudah semakin turun, menyisakan senja yang juga sebentar lagi akan pergi. Sedangkan seseorang yang sedang menatap suguhan langit sore ini enggan untuk beranjak pergi dari tempat yang seakan sudah menjadi tempat ternyaman baginya. Cowok itu mengeraskan rahangnya mengingat kejadian sebelum ia memutuskan untuk ke tempat ini. Tangannya mengepal, ia merasa gagal. Dandi memintanya untuk menjaga gadis itu tapi sekarang yang ia lakukan adalah menyakitinya. Gamma sendiri tidak pernah mengerti kenapa ia tidak pernah berhasil dalam menjaga seseorang yang seharusnya ia jaga.
Pikiran Gamma melayang, mencoba memikirkan jawaban atas pertanyaan Bulan. Namun, ia belum juga menemukan alasan mengenai Dandi memintanya untuk menjaga gadis itu. Sebenarnya siapa Bulan? Apa yang papanya itu butuhkan dari gadis itu? Ia merutuki dirinya yang terlalu takut kehilangan Dandi untuk kesekian kalinya hingga dengan bodohnya langsung menerima permintaan papanya itu. Gamma baru sadar bahwa ketakutan bisa membuatnya sebingung ini, apa yang harus ia lakukan. Apa semua ini ada hubungannya dengan Dandi yang sering memintanya untuk menjaga diri? Tapi mengapa? Bukankah Dandi juga yang meminta dirinya untuk menjaga orang lain, Bulan? Apa ini juga penyebab Dandi minum pada malam itu? Gamma mengacak-acak rambutnya kasar, mengapa seakan semesta sedang bermain teka-teki dengannya. Jika boleh jujur, Gamma sudah lelah atas kejadian kemarin yang ia anggap sudah cukup menyiksanya dengan membuatnya mencintai adiknya sendiri atas kebodohan yang ia putuskan. Boleh kah ia menyerah? Tolong katakan di mana mereka meletakkan kameranya? Gamma sudah cukup muak dengan semua puzzle yang seakan tak pernah absen untuk bermain bersama hidupnya.
Gamma duduk sambil memeluk lututnya, rasanya ia ingin kembali menjadi anak-anak. Tentu saja masa ketika papanya belum meninggalkannya dan menyebabkan ia sempat berada di saat-saat kelam dalam hidupnya. Saat kelam ketika ia masih suka bermain dengan api dan malah terjatuh ke dalamnya. Saat ia masih bertarung dengan mereka yang tak pernah mendengarkan apa yang ia inginkan. Lalu sekarang apa? Apalagi yang akan menghampirinya? Seseorang bahkan masuk ke dalam hidupnya dan membuatnya bertanya-tanya tentang siapa dan mengapa orang itu menghampiri kisahnya. Apa ia hendak memberikan warna yang indah atau sama saja seperti warna-warna sebelumnya? Tolong siapa pun, bangunkan Gamma jika ia sedang bermimpi.
"Apa?" tanya seseorang di seberang sana dengan nada yang merasa terganggu karena telepon dari Gamma.
"Lagi sibuk?" tanya Gamma basa-basi.
"Tumben lu nanyain gue sibuk. Kenapa?"
"Gue kenapa sih, Fa?" tanyanya lirih.
"Gam, lu lagi di mana?" tanya Alfa seakan tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Kayaknya lu bener tentang gue yang sudah dapet rumah baru," ujar Gamma tanpa menghiraukan pertanyaan sahabatnya itu.
"Gam lu ngomong apa, sih? Rumah apaan? Bilang lu di mana sekarang?" desak Alfa.
"Tapi gue nggak yakin. Emang dia siapa, sih? Tiba-tiba masuk ke hidup gue tanpa permisi lalu sok-sokan bawa gue pergi dari rumah lama lalu bawa ke rumah dia dan sekarang dia tinggalin gue sendirian." Gamma masih sibuk bercerita.
"Rumah siapa? Ini ngomongin apa, Gam? Serius lu kalo lagi kacau suka nggak jelas. Cepet kasi tahu lu di mana?!" desak Alfa sekali lagi. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Alfa, Gamma memilih bangkit dan berjalan ke tepi rooftop.
"Gue cinta sama dia? Atau nggak, sih?" pungkas Gamma sebelum menutup panggilannya secara sepihak. Maniknya menatap ke arah bawah gedung, ia baru menyadari gedung ini cukup tinggi. Gedung milik mamanya yang bahkan sekarang tampaknya sudah tidak peduli lagi dengannya tapi ternyata masih peduli dengan gedung ini. Menarik, bukan? Bahkan di mata wanita yang melahirkannya, gedung ini lebih berharga daripada kabar anaknya sendiri. Manik hitamnya kembali menatap ke arah bawah gedung dan tanpa sengaja maniknya menangkap Langit yang sedang mengendarai motor meninggalkan area gedung itu.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita