
~Kehilangan dan kekecewaan tidak akan pernah gagal membuat seseorang menikmati gelapnya~
***
Sebuah motor merah berhenti tepat di depan gerbang masuk sebuah gedung yang sudah cukup sepi itu. Bahkan, satpam yang biasanya menawarinya untuk menunggu di dalam itu sudah tidak tampak atau mungkin sedang ke toilet, Langit tidak tahu dan tidak peduli lebih tepatnya. Ia memejamkan matanya sambil mengembuskan napas pelan di balik helm fullface-nya. Laki-laki pemilik manik cokelat itu mendongak dan menatap langit yang dipenuhi akan bintang. Tidak terlalu banyak tapi ia tahu bahwa bintang yang ada di sana jauh lebih banyak daripada yang dapat ia lihat. Ia sadar bahwa hanya bintang-bintang itulah yang membuat langit menjadi lebih indah. Siapa orang yang menyukai langit gelap tanpa bintang selain dirinya? Tampaknya memang tidak ada karena sejatinya langit itu akan sangat menawan ketika ditemani oleh benda langit, seperti halnya Mentari di pagi, siang, dan sore hari, awan yang juga ikut menemani langit, dan tentunya bintang serta Bulan yang menemani langit malam.
Langit melepaskan pandangan dari langit gelap di atasnya dan beralih menatap tangki motornya yang sekarang terlihat ikut mencundanginya. Ia tertawa miris menyadari seluruh benda sekarang sedang tidak berpihak padanya. Seburuk itu kah Langit? Maksudnya, apakah mengalah sekarang merupakan hal yang hina? Walau sebenarnya Langit sendiri tidak tahu apakah dia kalah atau sedang mengalah. Rasanya sudah lelah memperjuangkan sesuatu yang tak ingin untuk diperjuangkan. Ya, dia di sini tidak ingin merebut orang itu, ah kata Gamma bukan merebut. Ya, apa pun itu Langit tidak peduli. Ia ke sini hanya untuk melihat gedung ini, menatapnya seakan bisa berkomunikasi dengan orang yang telah meninggalkannya sendiri, benar-benar sendiri. Tidak, Langit tidak berharap bertemu pria itu. Namun sayangnya, sebuah tepukan di pundak Langit langsung membuatnya menyesal sudah berani-beraninya datang ke tempat ini. Pemilik netra cokelat itu berdecak dan langsung menyalakan motornya sebelum sebuah tangan menahan pergerakannya.
"Nggak mau ketemu Papa?" tanya pria itu lembut membuat pertahanan Langit seketika runtuh. Laki-laki itu langsung mematikan motornya, melepas helm, dan turun untuk memeluk Dandi. Begitu juga dengan Dandi yang membalas pelukan itu dengan sangat erat.
Suara deru motor yang sudah semakin jarang karena malam sudah cukup larut seakan mendukung suasana ini. Langit masih diam seakan tidak ingin melepaskan pelukan itu. Hatinya seakan sudah lumer sejak pria tadi menyebut kata Papa. Langit menahan air matanya untuk tidak turun. Begini kah rasanya dipeluk erat oleh sesosok ayah hingga Langit tidak ingin melepaskan pelukan itu. Bukan karena serakah tapi ia ingin pelukan ini menggantikan pelukan yang seharusnya laki-laki itu dapat sejak lahir. Langit mengembuskan napas pelan seraya mengurai pelukannya.
Air wajah Langit yang tadinya terlihat lesu kini berubah drastis. Ia menatap lekat manik milik pria di hadapannya itu, begitu juga dengan Dandi yang seakan sedang menyalurkan ketenangan bagi Langit hingga berhasil merubah hati putranya yang tadi gelisah menjadi lebih baik. Jauh di dalam sana Langit berharap hatinya akan selalu seperti ini tapi apa itu mungkin? Langit mengembuskan napas pelan seraya memejamkan matanya sejenak. Ia sadar, itu tidak mungkin walau sebenarnya ia masih berharap itu menjadi mungkin.
"Langit harus pergi," kata Langit yang hendak berbalik sebelum sebuah tangan kembali meraih lengannya.
"Papa mau ngomong."
***
Sebuah kedai kopi yang buka hingga larut malam menjadi pilihan Dandi dan Langit. Namun, hingga pesanan kopi mereka datang masih belum ada yang membuka suara. Seakan dingin malam kota Bandung menusuk otot-otot yang berada di rahang mereka hingga menahan keduanya untuk mengeluarkan suara sedikit pun. Langit menyeruput kopinya yang masih panas itu hingga meninggalkan rasa kebas di bibirnya.
"Masih panas," basa-basi Dandi. Langit tersenyum tipis dan mengembalikan cangkir kopi tadi ke cawan agar didinginkan oleh angin malam kota Bandung.
"Papa mau minta maaf sama kamu," lontar Dandi. Langit masih enggan mengalihkan pandangannya yang jatuh pada cangkir kopi yang tadi ia letakkan.
"Semua yang terjadi hingga saat ini, itu salah Papa," lanjut Dandi.
"Papa terlalu serakah dulu. Terlalu serakah atas cinta dan tidak pernah merasa cukup atas apa yang sudah diberikan orang lain," lirih Dandi tapi masih terdengar jelas oleh pemilik manik cokelat yang masih diam dengan posisinya itu.
"Kamu jangan kayak Papa ya. Satu cinta yang tulus sudah cukup untuk dihabiskan berdua," pesan Dandi.
"Cinta tulus itu kayak apa, Pa? Kayak Mama ke Langit? Langit udah lupa rasanya," sindir laki-laki yang sekarang menatap manik Dandi. Sekarang Dandi yang memilih bungkam dan hanya menatap Langit dalam.
"Giliran Langit berniat mencari cinta yang tulus, Langit selalu gagal. Seakan semesta nggak pernah ngizinin Langit," lanjutnya.
"Lang, Papa minta maaf."
"Bukan cuman Papa kok yang salah. Langit juga salah," sela Langit.
"Nggak, Langit nggak salah," kilah Dandi yang membuat Langit berdecih.
"Papa yakin? Seandainya Langit nggak tiba-tiba dateng ke kehidupan Papa saat ini, mungkin semua ini nggak akan terjadi. Gamma nggak akan tahu mengenai pria yang sekarang duduk di depan Langit itu bukan Papa kandungnya, mengenai orang tua Bulan yang ternyata dibunuh oleh pria yang sama. Karena Langit, kan?" tanya Langit meminta pembenaran. Dandi menggeleng pelan.
Suasana kembali hening, kedua pelanggan terakhir di kedai kopi itu kembali diam. Pikiran keduanya melayang entah ke mana. Like father like son, keduanya sama-sama menyalahkan diri sendiri. Mereka lupa bahwa semesta juga ikut andil dalam hal ini. Mereka lupa bahwa di dunia ini tidak hanya mereka yang berperan. Mereka juga lupa bahwa menyalahkan diri sendiri itu tidak akan merubah apa pun. Lalu yang terakhir, mereka lupa bahwa apa yang terjadi selanjutnya tidak akan pernah ada yang tahu selain Tuhan.
"Langit minta maaf sama Papa," ujar Langit memecah keheningan.
"Nggak. Papa yang minta maaf sama Langit," tolak Dandi masih bersikekeh dengan argumennya.
"Udah lah, Pa. Kita udah kayak anak kecil aja. Nggak akan selesai kalo kita cuman nganggep diri kita doang yang salah. Langit minta maaf sama Papa dan makasih udah hadir di kisah Langit," tutup Langit dan segera bangkit meninggalkan Dandi yang sekarang mengamati punggung Langit yang semakin menjauh.
Suara motor Langit yang semakin samar membuat Dandi berdecak. Ia tersenyum kecut melihat Langit yang memiliki sifat yang sangat mirip dengannya walau ia tidak pernah ikut campur dalam mengurus putranya itu. Dandi mengembuskan napas panjang menyadari putranya kini sudah besar. Bahkan sudah bisa membuatnya babak belur beberapa hari lalu. Berbeda ketika terakhir kali Dandi benar-benar menemui Langit secara langsung, masih kecil dan tidak tahu apa-apa.
***
Gamma mengalihkan pandangannya menatap sekeliling kamarnya. Tidak banyak pigura di kamar itu, hanya ada dua di nakasnya. Foto berisi dirinya dan Gemi lalu satu lagi foto keluarga mereka setelah kehadiran Alula. Gamma meraih foto kedua dan menatapnya dalam. Pikirannya kembali melayang, di foto ini hanya dia yang tidak terikat ikatan darah. Gamma mendengkus dan mengembalikan pigura itu. Ia menyandarkan tubuhnya seraya menatap kalimat-kalimat motivasi yang ia tempel di depan meja belajarnya untuk membantu dirinya mengembalikan semangat. Tidak jarang tulisan itu bertambah setiap minggunya hingga terlihat sangat berantakan tapi masih dapat ia baca. Gamma memutar bola matanya dan bangkit. Tangannya dengan kasar mencabuti kalimat motivasi itu satu persatu. Baginya, kalimat itu seakan menjadi omong kosong sekarang. Mungkin bagi sebagian orang sebuah kalimat bisa mengubah hidup mereka tapi bagi sebagian yang lain mungkin tidak dapat berpengaruh apa-apa.
Kertas-kertas berisi motivasi yang baru saja Gamma cabuti itu ia lempar ke meja belajarnya. Pemilik manik hitam itu menarik napas panjang seraya melangkahkan kaki ke arah jendela. Tangannya menyibak gorden yang sudah ia tutup beberapa jam yang lalu. Maniknya menatap rumah-rumah sekitar yang lampunya sudah rata-rata padam. Apakah rumah lain mengalami hal seperti rumahnya? Apakah rumah lain lebih bahagia dari rumahnya atau justru lebih sengsara dari rumahnya saat ini? Gamma seakan buta mengenai arti rumah itu sendiri. Apakah rumah orang lain juga menampung seseorang yang mereka anggap keluarga tapi tidak memiliki hubungan darah? Masih banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran Gamma hingga suara derit pintu dibuka membuatnya menoleh.
Seorang gadis baru saja memasuki kamar Gamma. Maniknya menatap dinding meja belajar Gamma yang awalnya penuh tempelan kata motivasi kini kertas-kertas berisi kata motivasi itu sudah mendarat tidak karuan di meja belajarnya. Gadis itu menatap Gamma bingung, sedangkan Gamma hanya membalas dengan sebelah alis yang ia naikkan.
"Itu kenapa?" tanya Gemi seraya berjalan ke arah meja belajar kakaknya itu dan duduk di kursi belajar milik Gamma yang terasa nyaman.
"Udah nggak kepake," jawab Gamma santai. Gemi mengerutkan keningnya karena setahunya, Gamma paling tidak suka mencabuti kata-kata motivasi itu.
"Liat apa, sih?" tanya Gemi penasaran.
"Liat rumah orang," sahut Gamma tanpa mengalihkan pandangannya.
"Dih, ngapain?"
"Kepo, di rumah mereka ada juga nggak ya anak yang tinggal tapi nggak ada hubungan darah."
"Bang," panggil Gemi yang mulai memohon agar Gamma berhenti membicarakan itu.
"Kenapa? Gue kepo doang," balas Gamma santai.
"Kepo lu aneh! Udah nggak usah mikir yang nggak-nggak. Emang apa urusannya, sih?" tanya Gemi yang mulai jengkel. Gamma hanya tersenyum kecut.
"Daripada lu overthinking nggak jelas, mending lu tidur. Gimana? Atau mau gue temenin?" goda Gemi yang langsung mendapat delikan dari Gamma.
"Bercanda juga. Yaudah gue balik," pamit Gemi.
"Eh tadi emang mau ngapain ke sini?" tanya Gamma sebelum gadis itu benar-benar meninggalkan kamarnya.
"Nggak tahu udah lupa. Lu, sih!"
"Kebiasaan," gerutu Gamma dan kembali menatap sesuatu di balik jendela setelah pintu kamar sudah kembali ditutup oleh Gemi. Gamma tersenyum ketir ketika melihat sebuah mobil baru memasuki pelataran rumahnya hampir tengah malam.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita