
~Terkadang menyembunyikan jarum di tumpukan jerami pun masih terasa sulit~
***
Sebuah motor hitam memasuki pelataran rumah yang memiliki banyak tanaman hias. Sang pengendara turun dan segera mengetuk pintu rumah megah itu. Seorang wanita yang sudah lama ia kenal muncul dari balik pintu dan menyuruhnya untuk langsung naik saja ke lantai dua. Gamma yang sudah hafal dengan ruangan yang ada di rumah ini segera saja menaiki tangga dan membuka sebuah pintu di salah satu sudut koridor lantai dua. Manik hitamnya menangkap seseorang yang sedang sibuk membolak-balikkan halaman buku.
"Nah gitu, dong. Belajar," sindir Gamma ketika berhasil mendaratkan bokongnya di sofa kamar itu.
"Berisik," gerutu cowok yang tidak mengalihkan pandangannya itu.
"Sensi amat, dah. PMS lu?" celetuk Gamma seraya membuka sebungkus permen karet yang ia ambil dari sakunya.
Gamma yang melihat sahabatnya sedang sibuk dengan textbook tebalnya memilih untuk mengambil joystick yang ada di rak dekat sofa milik sahabatnya itu. Tak perlu waktu lama, ia sudah tenggelam bersama joystick dan layar yang ada di hadapannya. Namun, Gamma juga bukan orang yang betah bermain terlalu lama sendirian. Ia memilih untuk menyudahi permainan itu dan bangkit mendekati balkon kamar Alfa. Tangannya bergerak menyibak gorden yang menutupi pintu kaca yang menjadi pemisah balkon dan kamar. Maniknya menatap keadaan di luar dengan tatapan yang cukup dalam.
"Buka aja kalo mau." Kalimat itu membuat Gamma menoleh. Ia hanya tersenyum sebentar dan kembali menatap langit yang terlihat dari pintu kaca itu. Kunyahan permen karet Gamma mulai melambat sebelum ia memilih untuk menutup gorden dan kembali ke sofa.
"Akhirnya kelar juga," pekik Alfa membuat Gamma mengalihkan pandangannya dari ponsel yang sedari tadi ia mainkan. Cowok yang baru saja menutup bukunya itu segera mendekati Gamma dan duduk di sebelahnya, menyalakan televisi lalu mengambil stoples camilan di meja.
"Tumben lu belajar?" ledek Gamma.
"Dih, lu aja yang kalo ke sini gue lagi main. Pas lu nggak liat juga gue sibuk belajar," elak Alfa seraya memasukkan camilan ke mulutnya. Gamma tersenyum kecut mendengar jawaban sahabatnya itu.
"Eh, gue denger-denger lu habis ditonjok anak mesin, ya?"
"Anak manusia, bukan anak mesin. Ada-ada aja lu," koreksi Gamma.
"Iya maksudnya mahasiswa teknik mesin, Gamma. Ih lu mah suka bikin darah tinggi," ujar Alfa yang gemas pada sahabatnya itu.
"Emang kenapa?" tanya Gamma santai. Alfa yang mendengar jawaban dari sahabatnya itu langsung menutup stoples dan meletakkannya kembali di meja lalu memutar tubuhnya menghadap Gamma.
"Kok bisa, sih? Gara-gara Elara, ya?" tanya Alfa tapi Gamma hanya mengedikkan bahunya dengan mulut yang masih sibuk mengunyah permen karet.
"Lu mah apa-apa santai gini. Lu sadar lagi berurusan sama siapa, kan?"
"Apa sih, Fa? Santai aja kali. Mereka sama-sama manusia. Emang kenapa kalo sama anak mesin? Gue bakal digiling sama mesin buatan mereka gitu? Nggak akan juga. Mau berurusan sama anak mesin, anak fisika, anak seni rupa, gak ada bedanya kali. Santai," celetuk Gamma dengan wajah santainya itu.
"Dih bawa-bawa fisika. Awas aja ya kalo lu punya mangsa baru di jurusan gue!" sungut Alfa. Gamma hanya tertawa mendengar kalimat sahabatnya itu.
"Ngomong-ngomong tentang seni rupa, lu habis deketin anak seni rupa ya? Gila lu, Gam. Lu mau cobain semua jurusan di kampus? Berapa si totalnya? Kapan lu mau berhenti? Belum nemu pelabuhan yang cocok? Atau emang sengaja nggak mau cari pelabuhan baru?"
"Gue pikir-pikir lagi, deh."
***
Gemi masih sibuk berkutat dengan rak bukunya, mengacak-acak rak itu yang sebenarnya sudah ia lakukan dua kali. Ia mengembuskan napas pasrah dan memilih berbaring dengan tangan telentang di kasur besar miliknya. Otaknya berpikir keras mencoba untuk mengingat keberadaan buku yang sedang ia cari.
"Oh iya, kan belum dikasi sama Bang Gamma," pekiknya dan langsung bangkit lalu berlari ke kamar Gamma yang juga berada di lantai dua.
Langkah Gemi berhenti tepat di depan pintu kamar Gamma. Tangannya bergerak mengetuk pintu itu seraya memanggil nama Gamma. Namun, tidak ada jawaban dari dalam kamar. Gemi bukan orang yang suka masuk kamar orang lain sembarangan, ia pun memilih untuk turun sebentar mencari kakaknya itu.
"Bi, liat Abang, nggak?" tanya Gemi pada wanita paruh baya yang sedang membereskan meja makan itu.
"Kayaknya Aa' Gamma tadi pergi, Neng."
"Bang, buku kalkulus belum Abang kasih ke Gemi. Abang di mana, sih?" ujar Gemi setelah panggilan berhasil tehubung.
"Oh iya lupa. Ambil aja di kamar. Cari di rak Abang. Kamarnya nggak dikunci, kok."
"Oke," balas Gemi. Ia bergegas ke kamar Gamma setelah mematikan sambungan telepon.
Wangi Gamma langsung menguar ketika pintu dibuka. Gadis berambut cokelat itu menatap sekeliling, memerhatikan keadaan kamar kakaknya. Berbeda dari kamar cowok pada umumnya, kamar ini sangat rapi dan wangi tentu saja. Maniknya beralih pada rak buku yang berada di meja belajar kakaknya itu. Tangannya bergerak menyusuri rak yang penuh dengan buku-buku yang tertata rapi. Gemi mengembuskan napas pelan ketika tidak kunjung menemukan buku yang sedang ia cari hingga gerakan tangannya berhenti saat buku dengan sampul putih yang sedari tadi menjadi tujuannya memasuki kamar ini berhasil ia temukan. Dengan pelan, Gemi menarik buku tebal yang masih terlihat baru itu agar tidak merusak tatanan buku yang lain. Ia memang berhasil mengambil buku itu tanpa merusak tatanan buku yang lain tapi tanpa sadar ia menyenggol sekotak permen karet yang berada di samping rak tadi. Gadis itu mendengkus ketika melihat beberapa bungkus permen karet itu jatuh tepat di atas laptop kakaknya yang masih terbuka. Dengan cepat, Gemi membereskan kekacauan yang ia sebabkan sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi padanya.
"Lah, belum dimatiin ternyata. Tumben," gumam Gemi ketika tidak sengaja menggeser touchpad laptop saat membereskan permen karet yang berserakan tadi. Ia duduk di kursi empuk milik Gamma dan berniat mematikan laptop kakaknya itu.
"Ya ampun aplikasinya nggak ditutup, dong." Tangan Gemi bergerak menggeser-geser touchpad untuk menutup berbagai aplikasi yang dibuka sebelum mematikan benda berwarna abu-abu itu. Namun, maniknya tiba-tiba terpaku, tangannya berhenti bergerak, dan lidahnya kelu ketika sebuah aplikasi terbuka dan maniknya dengan cepat membaca deret aksara yang ada di sana. Ia menelan ludahnya dan mulai menggulirkan kursor untuk memastikan apa yang ada di pikirannya itu salah. Manik abu-abu milik Gemi masih tajam menyusuri tiap deret tulisan rapi yang ia sendiri tidak pernah menyangka cowok seperti Gamma bisa menuliskan hal seperti ini. Tangannya bergetar saat ia benar-benar menyadari apa maksud tiap kata yang dituliskan di sana. Napasnya semakin memburu, otaknya tidak dapat ia jalankan dengan benar. Gemi segera menutup aplikasi itu, mematikan laptop, mengambil buku yang sedari tadi sudah berhasil ia temukan, dan berjalan meninggalkan kamar Gamma dengan kaki bergetar.
***
Seorang cowok yang sedang bersandar di motor merah miliknya itu kembali mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Embusan napas bosan sudah kesekian kalinya terdengar dari mulut cowok itu. Maniknya kembali mengecek pintu utama gedung besar yang berada tidak jauh dari tempatnya memarkirkan motor tapi masih tidak ada tanda-tanda seseorang akan keluar dari sana. Ia mengalihkan pandangan pada kedua ujung sepatunya yang sedikit berdebu. Jujur saja, ia sudah sangat bosan menunggu selama dua jam di tempat ini. Ia pikir orang yang akan ia temui pulang selepas jam kantor usai tapi nyatanya ia masih di sini hingga senja meninggalkan langitnya dan sekarang berganti malam. Cowok dengan manik cokelat itu memejamkan matanya, membiarkan ingatan menyelusup dalam pikirannya. Seakan sedang menikmati suguhan film rusak di kepalanya, cowok yang memiliki bulu mata lentik itu masih diam di posisinya hingga tiba-tiba ia menggeleng. Deru napasnya semakin cepat, ia menelan ludahnya seraya mendongakkan kepala. Manik berkilaunya menatap langit yang cukup indah malam ini tapi tidak bagi dirinya yang tidak menyukai bintang.
Pandangannya beralih ketika mendengar suara yang berasal dari pintu utama gedung. Cowok yang tadinya bersandar di motornya itu terkesiap dan langsung menegakkan tubuhnya. Ia tidak bisa berdusta pada dirinya sendiri, degup jantungnya kini meningkat drastis. Cowok itu mengepalkan tangannya agar tidak semakin bergetar, terlebih ketika seseorang berjalan mendekati posisinya. Sebenarnya ia memang sengaja memarkirkan motornya di dekat sebuah mobil yang hanya ada satu-satunya di parkiran itu. Jangan tanya, ia sudah ditawarkan berkali-kali oleh satpam yang bertugas untuk menunggu di lobi tapi tentu saja cowok itu selalu menolak. Ia tidak ingin keberadaannya dilihat orang lain.
"Ekhem," deham cowok yang sudah mulai bisa mengatur degup jantungnya itu ketika menyadari seseorang yang tadi berjalan ke arahnya akan membuka pintu mobil.
"Ya? Siapa?" tanya pria yang mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil. Ia mengecek sekeliling untuk menemukan seseorang yang tadi berdeham.
"Saya," aku cowok yang sekarang menampakkan wajahnya. Manik cokelatnya menatap tajam ke arah pria yang terkejut bukan main melihat seseorang berdiri beberapa meter darinya itu. Pria tadi menelan ludahnya mencoba untuk mengontrol dirinya yang entah mengapa keringat dingin mulai menuruni keningnya.
"Anda terkejut?" tanya cowok yang sekarang bersedekap itu walau sebenarnya ia tidak kalah terkejut karena pria itu ternyata bisa mengenalinya.
"Kamu?" tanya pria tadi masih tidak percaya dengan penglihatannya.
"Iya, ini saya. Anda tidak salah lihat jika memang penglihatan Anda masih baik. Apa kabar?" tanya cowok itu basa-basi.
"Peduli apa?"
"Sepertinya sehat, hidup bahagia. Bukan, begitu?"
"Katakan, apa maumu?" Pria itu berusaha langsung pada inti tapi lawan bicaranya ternyata masih ingin basa-basi dan tidak suka terburu-buru.
"Pada zaman sekarang ternyata pertanyaan itu masih berlaku, ya? Saya pikir sudah jadi omong kosong," sindir pemilik manik cokelat itu masih menatap tajam lawan bicaranya.
"Saya punya banyak urusan. Tidak punya waktu untuk melayani kamu. Cepat saja katakan apa maumu," desak pria yang sudah tidak sabaran itu. Cowok yang tadi bersedekap itu malah tepuk tangan dan tertawa mendengar kalimat yang baru saja memenuhi indra pendengarannya.
"Ya sudah Anda bisa pulang sekarang," ucapnya santai membuat lawan bicaranya berdecak dan memilih untuk masuk mobil lalu meninggalkan cowok yang masih diam di tempatnya itu. Senyum tipisnya mulai memudar, rahangnya mengeras, ia meraih helmnya dan ikut meninggalkan tempat itu.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita