Eclipse

Eclipse
Eclipse 17



~Disalahkan memang tidak pernah menyenangkan tapi terkadang menerima adalah pilihan terbaik~


***


Seakan setrika yang sedang digosok, Bulan mondar-mandir sambil melirik layar ponselnya. Ia menimbang, apa ini adalah saat yang tepat untuk ia mengatakannya atau bukan. Embusan napas panjang yang kesekian kembali terdengar dari gadis itu. Bulan meneguk matcha yang baru beberapa menit lalu ia buat, masih berusaha menenangkan dirinya. Namun, tampaknya secangkir matcha kali ini belum mampu menurunkan degup jantungnya. Ia mencoba untuk menikmati angin malam, berharap ketenangan akan kembali ia dapatkan. Bulan membuka pintu balkon dan membiarkan angin malam menyapa wajahnya. Ia menarik napas dalam dan kembali memerhatikan ponsel di tangan kanannya.


"Oke, bisa Bulan!" serunya pada diri sendiri. Dengan tangan yang masih bergetar, gadis itu mengusap layar dan menempelkan ponselnya ke telinga kanan.


"Halo. Kenapa, Sayang?" tanya orang di seberang sana yang membuat degup jantungnya semakin tidak terkendali. Bulan meremas pagar besi yang ada di balkonnya hingga menyalurkan rasa dingin ke tangannya.


"Gue mau ngomong sesuatu tapi sebelumnya gue minta maaf kalo gue baru bisa bilang sekarang," ujar Bulan, pelan.


"Iya nggak apa-apa. Mau ngomong apa?"


"Gue udah tahu kabar kedua orang tua gue," aku Bulan membuat Gunung terperenjat. Ia yang semulanya sedang duduk langsung berdiri dan mendengarkan dengan saksama.


"Mereka sudah nggak ada, Nung. Polisi bahkan nggak mau bantu gue lagi," suara Bulan terdengar serak bagi Gunung. Gunung bingung apa ia harus mengakui bahwa ia sudah mengetahui berita itu atau harus pura-pura baru tahu.


"Bulan," panggil Gunung.


"Gue nggak ngerti kenapa mereka tutup kasus itu. Gue juga nggak ngerti kasus apa yang melibatkan kedua orang tua gue. Gue nggak tahu, Nung. Gue harus apa sekarang? Gue cuman bisa diem bahkan nangis pun gue nggak mampu." Gunung juga tidak tahu apa yang harus ia katakan sekarang. Ingin sekali ia langsung ke Bandung, menghampiri gadisnya itu lalu memeluknya erat. Namun sayang, itu tidak dapat ia lakukan sekarang.


"Tapi lu nggak apa-apa, kan?"


"Nggak apa-apa gimana? Nggak apa-apa atas kabar buruk ini, gitu?" Suara parau Bulan tidak dapat terelakkan.


"Bu–bukan itu maksud gue." Gunung menyesali pertanyaannya.


"Nung, gue bener-bener nggak tahu gue harus apa. Ini ya balasan semesta buat gue? Setelah gue berjuang buat ke sini sampe ninggalin semua hal di sana. Lalu ini yang semesta kasi buat gue? Gue salah apa sih, Nung? Apa gue sedurhaka itu sama bokap angkat gue? Siapa sih yang salah? Gue? Iya?" Bulan kacau, bulir bening mulai menuruni pelupuk matanya. Ia menatap langit yang malam ini seakan ikut menertawakan atas kehancurannya.


"Nggak, Bulan. Lu nggak salah." Gunung berusaha menenangkan gadisnya itu. Namun, tak ada jawaban.


"Dengerin gue, semua yang terjadi sama lu sekarang bukan atas kesalahan yang lu lakuin. Itu emang jalan Tuhan aja."


"Terus gue harus gimana? Polisi cuman kasih gue kabar itu, alamat terakhir orang tua gue. Setelah itu, nggak ada." Bulan mulai luruh, kakinya sudah tidak dapat menahan tubuhnya. Ia terduduk di balkon, merasakan dinginnya lantai balkon yang mengenai kulitnya.


"Oke, sekarang apa yang lu mau? Gue bisa bantu apa?"


"Gue nggak tahu! Gue bahkan nggak ngerti gue harus apa, gue mau apa."


"Lu nggak mau ke tempat peristirahatan terakhir mereka?" tanya Gunung setengah takut.


"Nggak! Gue pikir gue nggak akan kuat. Semua bahkan masih misterius buat gue," ujar Bulan.


"Bulan, gue tahu lu sedih tapi tolong relain mereka. Mereka udah nggak ada. Mereka pasti bahagia kalo lu ke sana."


"Gue nggak mau ke sana ketika gue nggak tahu siapa yang bunuh keduanya! Puas lu? Mereka dibunuh! Gue juga nggak tahu sekeji apa mereka dibunuh. Lu pikir gue masih kuat ke sana setelah tahu kenyataan itu? Iya?" teriak Bulan dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.


***


Gamma yang baru saja memasuki pelataran rumahnya bingung melihat beberapa koper berada di depan rumahnya. Pemilik manik hitam itu segera melepas helmnya. Ia semakin bingung ketika Dandi muncul dari balik pintu utama diikuti Gemi dan Vani yang sedang menggendong Alula. Gamma yang masih bingung berjalan ke arah ketiganya yang masih tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya.


"Ini siapa yang mau pergi?" tanyanya bingung.


"Papa," jawab Dandi dengan senyum ketir yang terlukis di wajahnya. Gamma mengernyitkan dahinya hingga alisnya hampir tertaut.


"Kenapa nggak ada yang hubungin Gamma?" tanya Gamma dengan nada tinggi.


"Papa cuman mau ke luar kota sebentar, Gamma."


"Tapi sesulit itu ya buat ngabarin Gamma? Tumben banget," ketus Gamma.


"Gamma, nggak ada yang perlu dipermasalahkan. Papa cuman sebentar saja, kok. Selama ini juga bukannya kamu sudah terbiasa ketika Papa pergi sebentar tiba-tiba? Hm?" Dandi mencoba menenangkan putranya yang baru saja pulang itu. Gamma memalingkan wajahnya sejenak dan kembali menatap Dandi.


Dandi menepuk pundak Gamma. "Papa pergi dulu ya, jaga Mama, Ge–"


"Gemi, dan Alula. Nggak perlu diingetin, Gamma sudah tahu," sela Gamma. Dandi tersenyum sejenak sebelum memilih memasuki mobil yang sudah siap mengantarnya.


Gamma mengembuskan napas pelan menatap mobil yang mulai menjauhi pelataran rumahnya itu. Ia menatap Vani dan Gemi sebentar sebelum kembali ke motornya yang baru saja ia parkirkan itu.


"Mau ke mana?" tanya Vani.


"Jalan," jawab Gamma singkat dan segera melajukan motornya berlawanan dengan arah mobil tadi meninggalkan rumah dengan cat abu-abu itu.


Gamma memecah keheningan di salah satu sudut kota Bandung dengan deru motornya yang cukup lambat. Gamma sedang ingin menikmati malam di sana seraya berusaha menghilangkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Manik hitamnya tiba-tiba menangkap sesosok gadis yang sedang berjalan seraya memeluk dirinya sendiri. Seakan tidak asing dengan perawakan gadis itu, Gamma memilih mendekatinya.


"Ngapain malem-malem jalan kaki? Bukannya ada motor?" tanyanya saat sudah berada di samping gadis yang ia kenal itu. Sedangkan yang ditanya hanya meliriknya sejenak dan kembali melangkah sambil menatap jalan sepi di hadapan keduanya itu. Gamma turun dari motornya dan ikut melangkah bersama gadis itu.


"Kenapa berhenti?" tanya gadis dengan manik cokelat itu dengan suara seraknya.


"Nemenin lu," balas Gamma. Gadis itu tersenyum kecut dan menghentikan langkahnya.


"Gue boleh ikut duduk?"


"Duduk aja."


"Mungkin lu bingung kenapa mata gue sembab. Kedua orang tua gue meninggal dibunuh," tutur Bulan dan menghapus cepat air mata yang tiba-tiba saja jatuh. Gamma menoleh cepat menatap gadis yang memilih menatap kedua ujung sepatunya itu.


"Maaf."


"Nggak apa-apa, toh gue yang cerita duluan." Senyum tipis yang dipaksakan terulas di wajah Bulan.


"Sebenernya gue nggak nyangka. Padahal Papa nyuruh gue jagain lu karena Papa lu yang suruh," aku Gamma membuat Bulan langsung mengalihkan pandangan pada cowok di sampingnya itu.


"Maksud lu? Papa yang mana?" Bulan menatap Gamma bingung.


"Papa lu yang di Jakarta," jawab Gamma polos.


"Brengsek lu!" Bulan bangkit dari duduknya. Gamma yang semakin tidak mengerti mencoba menahan tangan Bulan yang hendak pergi.


"Yang meninggal Papa kandung gue, Gam! Yang nyuruh lu itu Papa angkat gue tapi nggak lagi sekarang! Dia bukan siapa-siapa lagi! Dia orang yang bilang kalo Bulan yang menyinari bintang. Kenapa lu nurut aja, sih? Gue nggak butuh buat lu jagain!" bentak Bulan.


"Bulan, maaf tapi gue–"


"Tapi apa? Lu dengan bodohnya nurut sama perkataan Papa lu yang mana lu nggak ngerti apa yang lagi lu lakuin. Gue nggak pernah mau lu jagain! Lu udah gede, kenapa dengan mudahnya lu nurut perintah yang nggak jelas, sih?" Bulan murka, ia masih tidak menduga apa yang selama ini terjadi padanya.


"Karena gue nggak mau kehilangan Papa gue lagi!" bentak Gamma.


Plaak


Sebuah tamparan mengenai pipi kiri Gamma. Gadis yang baru saja menamparnya itu berteriak dan menutup telinganya. Tangisnya pecah, ia menyesal mengenal cowok yang baru saja ia tampar.


"Kenapa sih, Gam. Kenapa?" Bulan luruh, ia semakin tidak mengerti apa yang sudah semesta perbuat untuknya. Kehilangan orang tua kandungnya, diawasi oleh orang yang hendak ia hindari. Apa Bulan selemah itu harus dijaga dan tidak pernah diberikan kepercayaan? Gamma berjongkok berusaha menenangkan Bulan yang sudah luruh dan tenggelam dalam tangisnya.


Buugh


"Lu apain dia?" teriak seseorang yang baru saja menjatuhkan pukulannya pada Gamma. Gamma hanya diam dan menatap manik cokelat yang juga menatapnya tajam itu.


"Brengsek lu!" umpat cowok itu sambil menjatuhkan sebuah pukulan lagi hingga membuat Gamma tersungkur. Langit menghampiri Bulan dan membantunya untuk bangkit.


"Bulan," panggil Gamma.


"Diem lu! Lang, bawa gue pergi!" ujar Bulan seraya melangkah mendekati motor Langit yang datang di waktu yang tepat bagi Bulan.


Buugh


Gamma menjatuhkan sebuah pukulan pada Langit tapi Langit dengan mudahnya membalas pukulan itu. Berkali-kali hingga membuat Gamma tersungkur untuk kedua kalinya.


"Lang!" panggil Bulan membuat Langit menghentikan aksinya.


***


Suara deru motor memasuki area gedung kosong yang menjadi tempat favorit dari sang pengendara. Gamma melepas helmnya kasar dan melangkahkan kakinya menuju gedung yang masih cukup terawat itu. Gedung yang memiliki banyak kisah baginya. Termasuk kisah yang sempat berhasil membawanya jatuh dalam kubangan yang ia ciptakan sendiri. Suara sepatunya mendominasi suasana di sana. Gedung itu tidak gelap karena masih mendapat pencahayaan yang cukup. Gamma terus menaiki anak tangga satu persatu hingga langkahnya berhenti di lantai paling atas. Ia menghirup udara malam yang cukup menusuk kulitnya. Namun, kali ini dinginnya malam sepertinya tidak menggangunya.


Gamma menghapus sisa darah yang keluar dari sudut bibirnya. Ia meringis saat terlalu kasar melakukan hal itu. Ingatannya tertuju pada kejadian beberapa menit sebelum ia memutuskan untuk ke gedung ini. Ia menendang kayu-kayu yang berada di rooftop gedung itu. Disalahkan memang tidak pernah menyenangkan dan tidak pernah diharapkan tapi akan ada masa ketika kita harus menerimanya saja. Menyesakkan? Tentu saja, terlebih ketika kita tidak tahu atas alasan apa kita disalahkan. Namun memang seperti itu semesta, ia tidak butuh untuk menjelaskan apa yang sudah ia perbuat pada setiap insan yang ada di dunia karena itu bukan tugasnya. Manusianya yang harus mengerti dan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya semesta rancang untuk setiap insannya.


Manik hitamnya menatap langit dan mengingatkannya pada malam ketika ia mengenal Altair, Vega, dan Deneb. Seseorang mengenalkan ketiganya pada dirinya, menceritakan kisah mengenai ketiganya. Di malam itu pula ia kalah atas dirinya sendiri dan memilih untuk jatuh pada api yang sudah ia nyalakan sebelumnya. Lalu sekarang, setelah sekian lama ia berjuang untuk memadamkan api itu ia hampir selesai. Akan tetapi, tampaknya ia kembali didorong pada api yang lain. Api yang tak pernah ia duga sebelumnya dan tak pernah ia harapkan pula. Api itu tiba-tiba nyata bersamanya, membawanya masuk dan semakin membakarnya. Kini ia tidak tahu bagaimana memadamkan lagi api yang baru.


Gamma mengembuskan napas panjang, seolah ada yang mengganggu pikirannya. Namun, ia juga tidak mengerti apa itu. Ia menelan salivanya, menatap kendaraan di depan gedung yang sedang berlalu-lalang. Beberapa kejadian ke belakang seakan terputar kembali dalam pikirannya, membawa memori itu ke permukaan. Rasanya ada yang salah tapi ia belum menemukan hal itu. Maniknya tiba-tiba beralih pada sebuah kursi yang ternyata masih ada di sana. Gamma mengambilnya dan duduk di bawah langit. Maniknya menatap bintang-bintang yang seakan ingin dia berbicara. Namun, Gamma bukan Gemi yang seakan memahami bahasa mereka.


"Gem, gue pengen ngomong lagi sama lu tapi gue pikir ngomong sama bintang kayaknya sama aja ngomong sama lu. Mereka bakal sampein itu ke lu, kan?" ujar Gamma lirih.


"Mungkin," sambungnya.


Gamma menarik napasnya dalam. Ia menunduk menatap kedua ujung sepatunya. Ia membenci dirinya ketika berada dalam posisi seperti saat ini. Terlalu banyak memikirkan apa yang mungkin seharusnya tidak ia pikirkan. Entah ia harus bersyukur karena menjadi sosok pemikir atau ia harus merutuki dirinya yang terlalu sering membawa dirinya sendiri dalam bayangan yang tidak seharusnya ia buat.


"Gem, gue butuh lu. Gue pengen tanya sama lu tapi gue juga nggak pengen lu mikir aneh-aneh," gumam Gamma pada dirinya sendiri seakan sedang berbicara dengan Gemi, adiknya yang pernah ia cintai itu.


"Papa kenapa? Ada apa antara ia, Langit, dan Bulan?"


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita