Eclipse

Eclipse
Eclipse 27



~Berniat kembali untuk membenahi tapi nyatanya hancur, tak ada yang dapat dibenahi~


***


Bulan masih terus menanyakan setiap orang yang ia temui di rumah sakit sambil menunjukkan foto Gamma melalui ponselnya. Sesekali ia menempelkan ponselnya sambil terus menyusuri koridor berharap menemukan laki-laki itu. Ia berdecak saat panggilannya kembali berakhir dengan suara operator yang entah mengapa kali ini terdengar sangat menyebalkan itu. Bulan juga sempat bertanya pada satpam yang sedang menjaga rumah sakit tapi jawaban yang ia dapat tidak cukup membuatnya puas. Gadis itu menggerutu atas satpam yang lalai dan malah meninggalkan posnya saat jam kerja. Bulan berlari kembali ke kamar Gamma dan menghampiri wanita yang ternyata juga sudah kembali.


"Gimana?" tanya wanita itu dengan wajah khawatir. Namun, Bulan menggeleng membuat Vani mengembuskan napas pelan.


"Tante tunggu di sini, ya. Bulan mau coba cari di luar rumah sakit," ujar Bulan.


"Boleh. Tante mau selesaikan administrasi dulu. Nanti kalo ketemu Gamma langsung hubungi Tante, ya. Oke?" pesan Vani sebelum Bulan kembali berlari menjauhinya.


Dengan napas yang masih menderu karena usai berlari, Bulan melambaikan tangan pada sebuah taksi yang hendak lewat di depan area rumah sakit. Gadis itu langsung masuk bahkan sebelum mobil itu berhenti sempurna hingga membuatnya mendapat teguran dari sopir yang mengendarai mobil tersebut.


"Pelan-pelan ya, Pak. Saya lagi cari seseorang," pesan Bulan dan mulai memasang mata elangnya.


Manik cokelat Bulan memicing berusaha menyusuri setiap sudut jalan yang ia lewati berharap tidak ada yang terlewati sedikit pun. Ia tidak tahu sudah berapa menit laki-laki itu meninggalkan rumah sakit dan ia juga tidak tahu berapa kecepatan yang bisa laki-laki itu capai mengingat ia baru sadar pagi tadi. Bahkan mungkin tidak lebih dari dua jam yang lalu. Bulan mengedipkan matanya yang sudah mulai lelah menyusuri jalanan itu. Ia mengembuskan napas lelah hingga mendapat tawaran dari bapak sopir untuk menepi sejenak karena gadis itu terlihat sangat lelah. Namun, tentu saja Bulan menolaknya mentah-mentah. Bagaimana bisa ia istirahat ketika ia tidak menemukan laki-laki yang ia sendiri tidak tahu keadaannya sekarang seperti apa. Pasalnya, Gamma belum sepenuhnya pulih. Bagaimana jika ternyata dia pingsan di tengah jalan atau mendapat tindak kejahatan? Bulan segera mengenyahkan pikiran bodohnya itu. Tentu saja ia berharap semua hal buruk tidak akan pernah terjadi pada Gamma.


"Pak Pak Pak berhenti!" seru Bulan dan langsung turun ketika mobil yang ia tumpangi itu menepi.


Bulan segera menyeberangi jalan dan menarik tangan Gamma yang sedang berdiri menatap sungai di bawah jembatan itu. Gamma menatap Bulan bingung setengah terkejut. Ia menyesal masih berpikir panjang dan tidak langsung melompat saja hingga membuatnya sekarang bertemu gadis yang seharusnya tidak ia temui itu.


"Gam, lu ngapain?" tanya Bulan heran dan masih menggenggam tangan Gamma. Namun, Gamma menghempaskannya kencang hingga membuat tangan Bulan lepas. Gadis itu dengan cepat langsung meraih tangan laki-laki itu lagi yang sekarang kembali menatap air yang cukup jernih di bawah jembatan yang mereka pijaki itu.


"Kenapa pergi?" tanya Bulan menatap manik hitam Gamma yang sendu. Gamma mengalihkan pandangannya tidak berniat menjawab pertanyaan Bulan.


Tangan gadis dengan netra cokelat itu beralih memegang wajah Gamma yang enggan menatapnya itu. Ia menggerakkan wajah Gamma agar mau menatapnya dan menahannya dengan posisi itu. Bulan menatap manik Gamma yang terlihat rapuh, ia tahu Gamma tidak akan membuka mulutnya jika didesak. Akhirnya gadis itu memilih untuk menatap dalam manik milik Gamma berharap laki-laki itu luluh. Namun, Gamma memegang tangan Bulan dan melepaskannya dari kedua pipinya.


"Lu ngapain ke sini?" tanya Gamma dengan suara seraknya. Bulan memejam sejenak sedikit bersyukur karena laki-laki itu mau membuka mulutnya.


"Lu yang ngapain ke sini?" tanya Bulan balik membuat Gamma mendengkus.


"Lu nggak lihat tadi? Lu pikir gue mau main terjun payung di sini?"


"Gam, gue nggak lagi bercanda!" seru Bulan.


"Gue juga nggak lagi ngajak lu bercanda." Gadis berambut cokelat itu mengembuskan napasnya pelan berharap masih bisa diberikan kesabaran lebih menghadapi laki-laki di hadapannya itu.


"Jangan bilang lu mau loncat! Lu ngapain, sih?"


"Kenapa kalo gue loncat? Emang masih ada yang butuh sama gue?"


"Gue! Gue butuh lu!" potong Bulan.


"Lu? Butuh gue buat apa? Jangan, Bulan. Nanti lu kena imbas karena gue. Gue anak haram, gue nggak berhak buat dibutuhin sama anak sebaik lu," lirih Gamma.


"Shuutt." Jari telunjuk Bulan menutup bibir Gamma agar ia berhenti melanjutkan ucapannya. Namun, Gamma menarik tangan Bulan agar ia bisa melanjutkan kalimatnya.


"Mungkin ini alasan semesta hukum gue selama ini. Mungkin ini alasan semesta nggak pernah ngizinin gue bahagia, yaitu karena gue anak haram!"


"Nggak Gamma!" potong Bulan.


"Lu tahu? Selama sepuluh tahun gue cari pria yang katanya papa gue sampe gue rela ngelakuin apa aja agar dia kembali, sampe gue main api dan gue sendiri yang kebakar. Gue bahkan dengan begonya pura-pura mencintai orang yang menurut gue udah ngerebut papa gue dan tambah bego lagi, gue malah cinta sama orang itu dan gue nggak akan pernah bisa milikin dia," lirih Gamma yang masih terdengar jelas di telinga Bulan. Bulan masih diam menatap manik hitam Gamma yang masih enggan menatapnya.


"Lalu sekarang lu yang hadir di hidup gue karena gue yang saking nggak mau ditinggalin sama orang yang ternyata bukan papa kandung gue. Jadi selama sepuluh tahun ini apa yang gue cari, Lan? Apa? Tahu-tahu orang yang gue anggep bejat, orang yang gue anggep kriminal ternyata papa kandung gue sendiri. Sama ya kayak anaknya? Kriminal juga," desis Gamma yang sekarang menatap manik cokelat Bulan. Bulan merasakan luka yang amat dalam melalui tatapan Gamma.


"Gam, udah."


"Apanya yang udah? Lu sebaiknya pulang, lu nggak pantes ada di sini, ngomong sama anak haram hasil perselingkuhan. Ngomong sama anak haram dari pria kriminal, ngomong sama anak haram yang lahir atas dasar pembunuhan. Lu nggak pantes, Bulan! Nggak pantes ngomong sama gue yang terlalu hina. Apa yang lu cari di sini? Apa yang lu butuhin dari seseorang yang hina? Apa?!" bentak Gamma membuat air mata tiba-tiba menetes dari pelupuk mata Bulan.


"Ini buktinya, gue cuman bisa bikin orang lain sakit! Kenapa sekarang gue seolah-olah jadi perebut? Gue rebut Dandi dari Langit, gue rebut kebahagian lu karena Dandi yang pengen hidup sama mama gue yang sekarang bahkan udah nggak peduli gue ada di mana. Gue udah jeblosin papa kandung gue sendiri ke penjara! Aarggghhh," teriak Gamma mengacak-acak rambutnya. Ia sudah tidak peduli dengan dirinya yang terlihat kacau. Laki-laki itu luruh dan bersandar pada pembatas jembatan.


"Gam, semua ini bukan salah lu. Gue udah ikhlas sama semuanya. Gue udah nerima jalan gue. Lu juga harus terima jalan lu. Rezeki, jodoh, dan kematian itu udah ada yang ngatur. Jadi itu bukan salah lu dan inget, semua bayi yang dilahirkan di dunia ini dalam keadaan suci, Gam." Bulan menatap wajah Gamma yang membalas tatapannya itu.


"Maksud lu gue berhak buat dimaafkan?" tanya Gamma pelan.


"Iya walau sebenernya lu nggak salah," ucap Bulan yang langsung mendapat pelukan erat dari Gamma.


"Nggak," lirih Gamma sangat pelan.


***


Langit melirik jam dinding yang tergantung di kamarnya. Ia berdecak saat menyadari kelasnya sudah mau dimulai sekitar lima belas menit lagi. Ia segera merapikan wajah dan rambutnya sebelum menyambar ransel dan jaket lalu segera menuruni tangga. Laki-laki itu langsung menyambar motornya. Langit memecah suasana pagi kota Bandung dengan deru motornya yang cukup kencang. Ia melanjukannya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia masih berusaha fokus ke jalanan agar masih bisa sampai di kelas tepat waktu, mengingat dosennya pagi ini tidak pernah memberikan keringanan untuk mahasiswa yang telat. Namun, maniknya tiba-tiba teralihkan ketika motornya sudah berada di sekitar jembatan. Ia memperlambat laju motornya hingga membuanya berhenti.


Manik cokelat milik Langit menatap dua insan yang sedang berdiri di salah satu sisi jembatan itu. Ia memicingkan matanya berusaha memastikan apa yang ia lihat adalah mereka yang Langit kenal. Ia memejamkan matanya sejenak saat sadar gadis yang sedang memegang wajah laki-laki yang masih mengenakan pakaian rumah sakit di hadapan gadis tersebut adalah Bulan. Sesuatu di dalam sana rasanya memanas melihat kedua insan itu saling bertatap. Rasanya Langit ingin meninggalkan tempat ini segera tapi sesuatu yang lain di tubuh Langit seakan enggan untuk mengikuti nalar Langit. Ia memukul setang motornya kasar saat laki-laki yang ia kenal dengan nama Gamma itu luruh dan kini Bulan ikut berjongkok agar tetap sejajar dengan laki-laki yang sedang berbicara dengan gadis itu.


Sebuah pelukan membuat Langit berdecak keras dan langsung menyalakan motornya dan meninggalkan tempat itu. Tidak, Langit tidak melanjutkan perjalanannya menuju kampus melainkan kembali ke rumahnya yang sepi. Ia mengendarai motornya jauh lebih cepat daripada tadi. Deru napasnya mulai tidak teratur. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya sekesal ini hanya karena melihat Bulan dan Gamma begitu dekat. Bahkan, gadis itu memeluk Gamma dengan erat seakan tak ingin melepaskan laki-laki itu.


Langit memarkirkan motornya asal dan langsung melempar helm fullface-nya sembarang. Ia mendorong pintu rumahnya dan langsung menutupnya dengan kasar hingga terdengar suara yang cukup memekakkan telinga. Kakinya menapaki anak tangga dengan sangat cepat. Laki-laki itu langsung melempar tasnya, membuka jaketnya dengan kasar dan langsung memukul samsak yang ada di kamarnya tanpa pengaman tangan.


"Aaargggh!!"


"Brengsek!" umpat Langit,


Laki-laki bernama Langit itu masih terus memukuli samsak merahnya dengan kencang. Ia sendiri tidak tahu mengapa bisa semarah ini hanya karena menyaksikan kejadian di jembatan tadi. Memang siapa mereka yang bisa-bisanya membuat Langit menjadi sekacau ini. Apa Langit mencintai gadis itu? Maksudnya adalah benar-benar mencintainya. Mungkin bagi sebagian orang Langit terlihat berlebihan tapi apa mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan cinta? Bagaimana rasanya tumbuh dengan rasa cinta yang kurang? Bukan, bukan ia tidak bersyukur atas kehadiran sosok ibu yang selalu ada untuknya hanya saja ia tidak pernah merasakan kesempurnaan cinta. Terlebih sekarang hanya tersisa dirinya sendiri. Lantas, salahkah ia jika ingin menemukan cinta yang bisa menyempurnakan kebahagiaannya? Salahkah ia memperjuangkan cinta yang ia anggap pantas untuk ia perjuangkan? Atau sebenarnya hanya semesta saja yang tak pernah mendukungnya?


"Arrrgghh," erang Langit dan sekarang beralih ke arah jendela. Ia menatap langit terang yang seakan sedang memakinya dan membuatnya semakin terpojok oleh semesta. Laki-laki itu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Tak diduga, ia menjatuhkan kepalan itu pada kaca jendela yang ada di depannya hingga membuat kaca itu pecah dan melukai tangannya. Darah menetes di antara pecahan kaca di sekitar kaki Langit.


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita