
~Jeda, waktu berhenti sebentar. Sayangnya semesta tidak pernah memberi jeda dalam sebuah kisah, termasuk kekacauan yang terjadi~
***
Gamma mengembuskan napas panjang sebelum memasang senyum terbaiknya kali ini. Pemilik manik cokelat itu segera menghampiri gadis yang baru saja keluar dari kelasnya. Gadis itu balik tersenyum menatap Gamma yang terlihat lucu ketika berlari kecil. Gamma menarik ikat rambut Bulan hingga membuat rambutnya tergerai lalu mengacak-acak puncak kepala gadis itu, membuat Bulan berdecak sebal.
"Gamma jadi berantakan!" protes Bulan dengan nada yang cukup tinggi. Gamma hanya tertawa seraya berlari menghindari gadis yang terlihat kesal itu.
"Iya udah–udah," pinta Gamma yang memilih menyerah karena Bulan menhujaninya dengan cubitan kecil yang entah mengapa terasa sakit di tubuhnya.
"Kembaliin!" paksa Bulan seraya berusaha mengambil ikat rambutnya yang masih dipegang Gamma.
"Mau gue simpen. Lagian lu lebih cantik nggak diiket," celetuk Gamma dan langsung memasukkan ikat rambut berwarna hitam itu ke sakunya membuat Bulan mencebikkan bibirnya kesal.
"Udah nggak usah marah. Nanti cantiknya ilang," bujuk Gamma seraya merapikan rambut Bulan yang mulai acak-acakan karena ulahnya itu.
"Gue bisa sendiri!" bentak Bulan sembari menghempas tangan Gamma yang berada di rambutnya, membuat Gamma malah tertawa gemas.
"Galak bener," gerutu pemilik manik hitam itu.
"Apa lu bilang?" sergah Bulan menatap tajam Gamma yang langsung menyeringai nakal.
"Nggak apa-apa. Udah ah ayok Tuan Putri," ujar Gamma dan menggandeng tangan Bulan. Bulan berdecak dan berusaha melepaskan gandengan itu tapi tampaknya usahanya kurang dan memilih pasrah.
Gamma baru melepaskan gandengan tangannya ketika sampai di tempat parkir dan menyuruh Bulan untuk masuk ke mobil. Gamma melirik gadis itu sekilas ketika sudah duduk di kursi kemudi tapi Bulan malah mendelik padanya yang membuat Gamma memilih untuk melajukan mobil meninggalkan area kampus. Bulan membuka sedikit jendela di sampingnya membuat Gamma menoleh sekilas. Gadis itu tersenyum ketika angin sore kota Bandung menyapanya seakan sedang mengalirkan ketenangan padanya. Pemilik manik cokelat itu memejamkan matanya sejenak tapi langsung menatap bingung sekelilingnya saat menyadari ia berada di mana sekarang.
"Tempat ini lagi?" tanya Bulan sesaat mobil itu berhenti.
"Lagi?" tanya Gamma menatap Bulan bingung.
"Iya, kemarin Langit ajak gue ke sini. Dia bilang sih kalo ini tempat favorit lu," jelasnya. Laki-laki di sampingnya itu langsung membuka seatbelt kasar.
"Lu mau ke mana?"
"Masuk. Lu kalo mau di sini juga nggak masalah," ketus Gamma yang langsung turun dan melangkah cepat meninggalkan Bulan lalu hilang tertelan bangunan yang sudah tidak ditempati lagi itu.
Bulan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa ada kalimatnya yang salah hingga membuat pemilik manik hitam itu tiba-tiba ketus padanya? Bulan berdecak dan langsung turun dari mobil lalu mengikuti Gamma yang tampaknya sudah jauh. Napas Bulan menderu saat sampai rooftop gedung itu. Ia melangkah mendekati Gamma yang sedang bersandar di salah satu sisi pembatas.
"Lu kenapa?" tanya Bulan pelan.
"Gue nggak suka tempat gue dijarah," lirih Gamma.
"Tapi ini tempat umum, Gam."
"Ini gedung punya Mama gue, Bulan!" bentak Gamma membuat Bulan diam seketika.
"Sorry," desis Gamma lalu menghela napas panjang.
"Lu lihat seberapa baiknya keadaan gedung yang udah nggak dipake ini? Masih terurus, Mama seakan lebih peduli sama gedung ini daripada anaknya sendiri," ujar Gamma pelan.
"Tempat ini yang gue pake buat nyatain perasaan gue ke Gemi, tempat ini yang sering gue pake ketika gue nggak ngerti sama diri gue sendiri, dan tempat ini juga yang gue pake ketika gue udah kangen sama Mama tapi nggak berani buat nemuin dia. Gue nggak suka tempat yang berharga bagi gue dijarah sama orang yang tiba-tiba masuk ke hidup gue sambil ngebuka luka baru."
"Gam," panggil Bulan pelan.
"Udah lupain. Lu udah lihat keindahan yang disuguhkan semesta dari tempat ini kemarin, kan? Jadi yaudah mending kita pulang," ucap Gamma dan memilih berbalik tapi sebuah tangan berhasil menghentikan langkahnya.
"Gue masih mau lihat ini sama lu," bisik Bulan.
"Sama aja Bulan kayak kemarin. Mending kita pulang," tolak Gamma.
"Beda, Gam."
"Apanya yang beda? Harinya? Jamnya? Atau apanya?"
"Seseorang yang nemenin."
***
Gamma masih fokus menatap ruas jalan di hadapannya, begitu juga dengan Bulan yang juga sibuk dengan ponselnya. Hari ini Gamma belajar bahwa yang pertama bukan selalu menjadi yang paling berkesan tapi yang paling berkesan adalah mereka yang benar-benar bisa menceritakan dan menanamkan nilai pada setiap orang yang mengerti. Kamu juga tidak perlu menjadi berkesan bagi semua orang karena hanya yang mengerti kamu yang akan menjadikanmu orang paling berkesan di hidup mereka. Bulan yang tadinya sibuk dengan ponsel kini celingak-celinguk ketika sadar mobil yang dikendarai Gamma tidak seharusnya melalui jalan itu.
"Udah diem aja. Gue nggak bakal ngapa-ngapain lu," jawab Gamma santai.
"Ya tapi kan gue tanya mau ke mana? Lagian apa susahnya sih jawab doang?" gerutu Bulan sambil mencebikkan bibirnya.
"Ke rumah gue."
"Ha? Ngapain?" pekik Bulan yang langsung memiringkan tubuhnya untuk mendesak Gamma agar segera menjawab pertanyaannya itu.
"Bawel," sindir pemilik manik hitam itu. Bulan berdecak sebal sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Makan malem di rumah," celetuk Gamma yang langsung membuat Bulan membelalakkan matanya.
"Dih, kenapa nggak bilang dari kemarin atau tadi pagi?" protes Bulan.
"Ya gue juga baru kepikiran tadi. Lagian kenapa mendadak rempong si? Perasaan tadi adem ayem," komentar Gamma membuat Bulan hanya dapat mendesah pasrah.
Gamma tersenyum tipis dan kembali fokus menatap ruas jalan di hadapannya. Mobil hitamnya ia belokkan memasuki pelataran rumah dengan cat abu-abu itu. Bulan mengembuskan napas panjang berharap ia akan baik-baik saja. Pasalnya, ia masih cukup canggung dengan pria bernama Dandi walau sebenarnya ia juga merindukan Vani, sosok Ibu yang sangat hangat termasuk pada Bulan yang belum lama mengenal wanita itu. Gamma turun dari mobilnya dan segera membukakan pintu untuk Bulan.
"Tumben?" tanya Bulan berusaha membiasakan dirinya agar tidak terlalu kaku ketika bertemu dengan keluarga Gamma yang super dadakan ini. Gamma hanya menggedikkan bahunya menanggapi pertanyaan Bulan tadi.
Gamma merapikan rambut Bulan sebelum mengajaknya masuk. Bulan hanya mengangguk karena masih sibuk mengatur dirinya yang kurang siap atas kejadian yang tiba-tiba ini. Namun baru saja pintu putih itu dibuka, mereka langsung disuguhkan dengan keributan yang ada di hadapan keduanya. Gamma segera menghampiri pria yang masih sibuk menelepon sambil menunggu sesuatu. Sedangkan Vani sibuk menyiapkan beberapa barang yang entah akan digunakan untuk apa.
"Ada apa, Ma?" tanya Gamma yang tidak mendapat jawaban. Gamma yang semakin bingung kini mengikuti arah pergerakan Gemi yang baru saja turun membawakan sebuah tas yang langsung diambil alih oleh Vani. Wanita itu langsung memasukkan beberapa barang yang sudah ia siapkan tadi ke dalam tas dengan cepat.
"Ini kenapa, Pa?" tanya Gamma pada pria yang baru saja menjauhkan ponsel dari telinganya. Namun, tetap saja tidak ada jawaban membuat Gamma semakin geram. Sedangkan Bulan yang sedari tadi tidak tahu harus berbuat apa hanya diam berdiri sambil mengamati apa yang terjadi di sana.
Vani memberikan sebuah tas yang tadi ia isi dengan beberapa barang itu kepada Dandi dan langsung disambar. Dengan terburu-buru, Dandi meninggalkan ruangan itu yang didahului oleh Bang Mamang untuk membukakan pagar. Vani dan Gemi menghela napas panjang ketika Dandi sudah hilang di balik pintu utama rumah itu.
"Kenapa sih nggak ada yang jawab Gamma?!" bentak Gamma membuat Vani langsung melangkah mendekati laki-laki yang terlihat kesal itu.
"Kamu cek berita ini aja," ucap Vani sambil mengubah saluran televisi.
Bulan melangkah mendekati Gamma, mencoba mencari tahu apa yang sedang ditampilkan di televisi. Sebuah berita pesawat International Air rute Jakarta-Singapore ditemukan jatuh di Selat Sunda setelah dilaporkan hilang kontak. Diduga pesawat itu hilang kendali hingga keluar jalur dan terjatuh. Gamma dan Bulan masih tidak paham hubungan antara berita itu dan Dandi yang terburu-buru hingga mengabaikannya.
"Emang kenapa, Ma?" desak Gamma yang tidak sabaran.
"Kak Langit ada di pesawat itu," sahut Gemi.
***
Langit yang mulai gelap menemani keheningan antara Bulan dan Gamma. Gamma yang berusaha fokus menyetir walau pikirannya mulai melayang entah ke mana dan Bulan yang juga sudah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Padahal, baru kemarin sore Bulan bertemu dengan Langit dan itu di tempat yang baru saja ia kunjungi dengan Gamma. Apa itu yang dimaksud Langit dengan terbang tak terbatas dan melampauinya? Ah, kenapa Bulan menyadarinya sekarang. Setelah semuanya terjadi, setelah Langit pergi bahkan tanpa pamit atau sebenarnya ia pamit hanya saja Bulan yang tidak sadar. Bulan membasahi bibirnya yang kering ketika mobil Gamma berhenti.
"Dengerin gue, kita sama-sama berharap Langit nggak apa-apa. Masih belum ada kabar tentang dia dan kita masih boleh berharap dia selamat," pesan Gamma dengan nada yang bergetar. Sebenarnya laki-laki itu juga ragu atas apa yang baru saja ia ucapkan tapi berusaha untuk membuat Bulan tenang. Gadis itu memaksakan senyumnya sambil mengangguk pelan.
"Gue duluan. Makasih," lirihnya dan segera turun. Gamma memerhatikan langkah Bulan yang seakan tidak ada gairah. Gamma paham ini terlalu tiba-tiba dan itu juga berlaku untuknya. Pemilik manik hitam itu memejamkan matanya sejenak sebelum memilih meninggalkan tempat itu.
Bulan segera berhambur mendekati nakas setelah berhasil memasuki kamarnya. Ia merogoh tasnya dengan kasar dan langsung mencolokkan sebuah kabel ke ponselnya. Bulan tidak sabar menunggu ponselnya menyala. Gadis itu menggingit bibir bawahnya dengan kencang hingga terlihat memerah menunggu loading ponselnya yang terasa sangat lama. Tangannya bergetar ketika menggerakkan jarinya di atas layar ponsel miliknya itu. Dengan degup jantung yang semakin memburu, gadis itu menghubungi nomor Langit. Sayangnya sambungan itu terputus dan hanya berakhir pada suara operator. Tentu saja bukan Bulan namanya jika tidak mau mencoba lagi hingga ia bosan. Namun seberapa banyak pun Bulan mencoba, sambungan telepon itu tidak pernah tersambung dengan pemilik nomor.
Pemilik manik cokelat yang sudah lelah mendengar suara operator itu meletakkan ponselnya dan memilih berbaring sambil merentangkan tangannya. Maniknya menatap langit-langit kamarnya yang sangat sepi, seperti hatinya. Namun berbeda dengan pikirannya yang masih terus melayang-layang tak tentu. Ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan secara pasti. Sekarang, otaknya hanya memutar kenangannya dengan Langit secara acak seakan kaset rusak. Gadis itu mengerang berusaha menghilangkan bayangan Langit yang seakan berseliweran di kepalanya. Bulan menutup wajahnya dengan bantal hingga suara jendela yang terbuka ditiup angin membuatnya berdecak sebelum memilih bangkit dan mendekati jendela itu. Gerakan tangannya berhenti ketika hendak menutup jendela. Ia hanya menahan agar daun jendela tadi tidak menabrak bingkainya. Bulan menatap langit malam dengan tatapan sendu. Nyatanya terlalu sulit untuk tidak memikirkan Langit, ia berbaring saja sudah melihat langit-langit kamar yang tentu saja mengingatkannya pada seorang laki-laki yang kerap bertanya pertanyaan receh itu.
Jendela yang tadinya ditahan oleh Bulan itu sudah tertutup sempurna karena ulah dari gadis yang sekarang malah berjalan mendekati balkon. Masih dengan tangan bergetar, gadis itu mendorong pintu balkon dan langsung disapa oleh angin malam kota Bandung. Ia berpegangan pada pagar balkon yang dingin. Maniknya menatap langit malam yang terlihat lebih luas dari sana. Sayangnya langit malam ini mendung, Bulan dan bintang seakan sedang bersembunyi di balik awan dan kabut seakan semesta hanya ingin menunjukkan keindahan langit saja untuk malam ini.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita