
~Ketika bintangnya menghilang, akankah semesta membiarkan Bulan hanya akan bersama langitnya?~
***
Udara dingin yang mulai menyelusup pada tiap celah tubuh Sang Coklat yang tak tertutup kain membuat cowok itu meraih jaket hitam miliknya yang ada di jok motor. Ia mengembuskan napas perlahan saat jaketnya sudah terpakai sempurna dan bokongnya sudah mendarat rapi pada motor merah yang terparkir di sebuah parkiran perusahaan yang sekarang sedang ia tatap. Maniknya memejam sejenak sebelum memilih untuk menatap langit hitam yang penuh titik-titik indah yang bagi sebagian orang itu terlampau memukau tapi tidak untuk cowok yang sekarang mendengkus seraya memalingkan wajahnya dari hitam pekat yang kali ini semesta suguhkan untuknya.
"Langit hari ini sedih tapi gue harap bukan langit gue," gumamnya seraya kembali mengecek layar ponselnya yang baru saja ia sentuh.
09.56 PM
Entahlah, Langit sendiri tak yakin sejak kapan ia duduk di sana, menunggu sesuatu yang mungkin tak ingin ditunggu oleh cowok naif yang akhirnya memutuskan untuk mengambil apa yang menjadi miliknya. Ia sudah tidak peduli lagi akan apa yang ia alami atas keputusannya. Cowok itu sudah kehilangan banyak hal di dunianya dan jangan salahkan ia jika ia memilih untuk merampas apa yang sempat dirampas darinya, termasuk kebahagian.
Langit menegak, napasnya tercekat seakan ada ribuan jarum yang memenuhi tenggorokannya. Ia segera berbalik memunggungi beberapa pria yang sedang bersalaman di depan pintu masuk. Deru napas Langit sudah mulai memburu. Maniknya ia pejamkan sejenak sebelum memilih untuk berbalik setelah beberapa mobil melewati motornya. Tatapannya jatuh pada pria yang sedang menenteng tas ke arahnya. Oh bukan, lebih tepatnya ke arah mobil yang terparkir tepat di samping motor Langit. Pemilik manik cokelat itu berdeham membuat pria tadi menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara.
"Anda cari saya?" Suara milik Langit menjadi pembuka pembicaraan yang amat mencekam kali ini. Pria itu tersentak saat sadar seorang cowok yang berdiri di hadapannya adalah Langit, Annular Langit.
"Kenapa? Anda kaget?" ucapnya diakhiri tawa renyah yang malah membuat lawan bicaranya bergidik ngeri.
"Untuk apa kamu menemuiku lagi?" Akhirnya pria yang sekarang menatap Langit dari bawah hingga atas itu membuka suaranya. Langit mendengkus mendengar pertanyaan itu. Maniknya ia putar malas.
"Kapan hak saya bisa Anda penuhi?" ujar Langit tanpa basa-basi lagi diikuti dengan langkah yang mendekati pria di hadapannya itu hingga membuatnya mundur perlahan.
"Hak apa lagi Langit?"
"Jangan naif, Dandi. Anda pikir saya jauh-jauh ke sini untuk apa? Anda pikir saya mati-matian belajar beberapa tahun lalu agar bisa kuliah di ITB dan mendapat izin tinggal di sini untuk apa? Ha? Bermain-main dengan semua kehidupan yang ada di sini tanpa mengambil apa yang seharusnya saya miliki? Ya?" Dandi hanya diam, berusaha agar tak menatap manik mata Langit yang begitu berkilau tapi menyesakkan.
"Atau mungkin saya perlu menganggu mereka? Ya? Itu yang Anda mau?"
"Tutup mulutmu! Bisa-bisanya ya kamu datang tanpa ada yang berharap lalu mengancam mereka? Mereka siapa yang kamu maksud? Apa sih maumu? Apa belum cukup selama ini?"
Langit kembali mendengkus untuk kesekian kalinya. "Jangan pura-pura tidak tahu siapa yang saya maksud. Lalu, apa selama ini? Memang Anda yakin?" bisiknya di sebelah telinga Dandi membuat pria itu bergidik ngeri. Sedangkan Langit, memilih untuk meninggalkan pria yang masih terpaku di tempatnya. Pemilik manik cokelat itu melajukan motornya memecah keramaian kota Bandung dengan kecepatan di atas rata-rata.
***
Bulan baru saja menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Gadis itu melajukan motornya dengan kecepatan yang sedikit di atas normal karena sudah tidak sabar untuk beristirahat. Ia sebenarnya juga sudah dari beberapa jam yang lalu membayangkan dirinya sedang tidur nyenyak di kasur empuk miliknya. Namun, entah pikiran dari mana gadis itu tiba-tiba saja berhenti di sebuah taman. Maniknya menatap kursi putih di tengah taman yang menarik perhatiannya dan melupakan rasa lelah yang sedang menggerogoti tubuhnya. Bulan memilih turun dari motornya dan berjalan ke arah kursi putih itu. Ingatannya tiba-tiba melayang dan membawanya pada sebuah peristiwa ketika ia masih polos, tak mengerti akan kerasnya dunia, dan ketika tawanya masih sangat tulus. Gadis itu mendudukkan dirinya di kursi putih yang terasa dingin karena malam sudah cukup larut. Ia mengembuskan napasnya pelan berusaha menikmati suasana malam yang cukup menusuk tulang. Tiba-tiba suara Gunung terlintas di pikirannya saat memintanya untuk mau menemui papanya di Jakarta. Bulan berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
Tangan mungil milik Bulan merogoh ranselnya dan mengambil ponsel yang belum ia periksa sejak pulang dari kampus. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum menyusuri notifikasi yang ternyata sudah banyak masuk. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya saat menyadari sebuah email masuk dengan subjek yang berhasil membuat tangannya bergetar tiba-tiba. Mata gadis itu membelalak, ia menelan salivanya susah. Ia membaca ulang apa yang baru saja ia terima seraya berharap apa yang ia baca tadi itu salah. Dengan deru napas yang mulai memburu gadis itu menggeleng cepat. Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri. Lidahnya masih kelu dan otaknya seakan berhenti bekerja. Ia enggan untuk menerima kenyataan melalui apa yang baru saja ia baca.
"Nggak mungkin," gumamnya lirih hingga hampir tak terdengar. Gadis itu kembali membaca email yang masuk dengan lebih saksama dan mencerna setiap katanya.
"Bagaimana bisa kasus ini ditutup hanya karena terlalu lama tidak dapat diungkap. Apa mereka segampang itu menyerah?" ujarnya frustrasi.
"Bahkan dengan bodohnya mereka mengabari hanya melalui email?! Orang tua gue dinyatakan meninggal dan mereka, mereka–" ucap Bulan terputus karena tidak kuat melanjutkan kalimatnya.
Sebelah sudut bibir Bulan terangkat, sebuah senyuman kecut yang diikuti dengan kepalanya yang mendongak untuk menatap langit malam ini. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja menyeruap dalam tiap celah yang ada di dalam sana. Maniknya masih menatap lekat suguhan semesta malam ini walau seluruh rasa yang ada di dalam sana terasa tercabik-cabik. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Rasanya ia sudah menyerah berharap pada polisi yang ia pikir bisa membantunya mempertemukan dengan orang tua kandungnya. Lantas sekarang, mereka hanya memberikan kabar yang bahkan tidak pernah ia harapkan sebelumnya, ditambah lagi kisah itu seperti menggantung dan mereka tidak berniat untuk menulisnya hingga akhir. Gadis itu memukul-mukul dadanya yang terasa semakin sesak, air matanya tiba-tiba kering hingga tak ada satu pun yang ingin keluar. Ia menatap datar kedua ujung sepatunya dengan tangan yang masih meremas dadanya yang terasa sakit.
Suara teriakan dari belakang membuat Bulan menyudahi lamunannya. Maniknya beralih pada seorang cowok yang duduk di bangku taman seberang seraya mengacak-acak rambutnya. Cowok itu terlihat sangat kacau. Sekali lagi terdengar teriakan, diikuti tangan cowok itu yang memukul batang pohon yang ada di sampingnya. Bulan meringis menyadari tangan cowok itu pasti sakit. Taman ini sudah sepi, malam sudah larut, membuat gadis pemilik manik cokelat ini setengah takut untuk mendekati cowok di seberang sana. Sebuah teriakan kembali lolos dari mulut cowok yang wajahnya setengah terlihat oleh Bulan. Bulan memicingkan matanya. Ia mengenali cowok itu.
"Langit?"
***
Suara decit sepatunya membuat Gamma berdecak. Beberapa lampu di rumah itu sudah dalam keadaan mati karena saking larutnya. Pemilik manik hitam itu mendorong pintu utama dengan pelan dan langsung melangkahkan kakinya mendekati tangga. Namun baru saja kakinya akan menapak di anak tangga paling bawah, netranya menangkap Dandi yang sedang duduk dengan segelas wine di tangannya. Gamma yang tadinya sudah ingin istirahat, kantuknya menguap tiba-tiba. Ia melangkah cepat menghampiri Dandi.
"Pa, ngapain?" sergah Gamma yang langsung mengambil alih segelas wine yang sudah Dandi dekatkan ke mulutnya itu.
Gamma semakin menjauhkan gelas yang tadi digunakan Dandi untuk minum itu. Ia membuang isi gelas tadi ke wastafel begitu juga dengan sebotol wine yang sudah tersisa separuh. Maniknya menatap Dandi tak percaya. Ia menyodorkan segelas air putih pada Papanya itu. Dandi meminumnya dengan wajah meringis.
"Papa kenapa sampe minum? Papa ada masalah apa? Papa cerita sama Gamma," ujar Gamma dengan nada penuh kekhawatiran.
"Kamu kok baru pulang?" Alih-alih menjawab pertanyaan Gamma, Dandi malah bertanya hal lain.
"Bukannya Gamma udah biasa, ya? Yang nggak biasa itu Papa. Kenapa Papa minum?"
"Gimana kuliahnya? Masih lancar?"
Gamma mengusap wajahnya kasar. Jujur saja ia tidak mengerti apa yang membuat Dandi seperti ini. Apa masalah kantor akhir-akhir ini sangat berat hingga membuat pria di hadapannya itu harus menyentuh minuman memabukkan itu. Gamma menatap Dandi yang sama-sama menatap dirinya. Pandangan Dandi kosong dengan segaris senyum yang terlihat berbeda di mata Gamma. Ia mengembuskan napas panjang seraya memijat kepalanya yang terasa sedikit pusing.
"Gamma," panggil Dandi dengan tatapan yang tak lagi kosong tapi menatap putranya itu. Gamma membalas tatapan itu.
"Dunia ini kejam," lanjutnya. Gamma masih diam mendengarkan pria itu.
"Apa yang kamu usahakan belum tentu kamu dapatkan dan apa yang kamu sembunyikan belum tentu akan menghilang," ujar Dandi menatap dalam manik hitam milik Gamma. Gamma menelan salivanya susah, ia membenarkan kalimat Dandi kali ini karena ia juga sudah membuktikan keduanya.
"Tapi manusianya juga pantas mendapatkan itu, mereka terlalu egois."
"Apa kamu pernah mendengar petuah, apa yang kita tuai adalah yang kita tanam?" tanya Dandi masih dengan tatapan dalamnya. Gamma mengangguk pelan.
"Kamu percaya?" Gamma sekali lagi mengangguk untuk menjawab pertanyaan papanya itu.
"Kalau begitu, apa itu berarti ketika kita merasakan diri kita tersakiti, kita pernah menyakiti orang lain?" Gamma diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jujur saja, ia tidak punya petunjuk apa pun untuk menjawab pertanyaan Dandi kali ini. Dandi tersenyum tipis menatap Gamma. Ia bangkit dan berjalan ke arah Gamma.
"Papa nggak apa-apa, cuman pengen minum aja malam ini. Ada sedikit masalah di kantor," ujar Dandi sambil menepuk pundak putranya itu. Gamma mendongak dan menatap manik milik Dandi.
"Kalo Papa butuh temen cerita, bilang aja ke Gamma. Kali aja Gamma bisa bantu," pesan Gamma. Dandi mengangguk pelan masih dengan senyum tipis yang terulas di bibirnya.
"Gamma jangan lupa istirahat. Papa naik dulu," pamit Dandi sambil berjalan mendekati tangga. Gamma tak menjawab.
"Oh iya," ucap Dandi tiba-tiba sambil memutar tubuhnya, kembali menatap Gamma.
"Gamma jangan lupa jaga diri. Jangan lupa juga Mama, Gemi, Alula. Inget," pungkas Dandi dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Gamma nggak akan lupa, Pa."
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita