
~Jika sudah berurusan dengan hati, logika pun bisa saja salah~
***
Dengan wajah berbinar, pemilik manik hitam yang baru saja membuka helmnya itu membuka sebungkus permen karet yang ia ambil dari sakunya. Tawa seorang gadis yang menyelusup dan memenuhi indra pendengarannya membuatnya menoleh ke arah bangku taman di halaman rumahnya. Maniknya menyipit saat menemukan dua insan yang sedang tertawa. Kedua bola matanya ia putar malas tapi langkah kakinya malah mendekati keduanya.
"Abang dari mana kok pulang malem?" Gadis yang duduk bersebelahan dengan seorang cowok itu mencoba bertanya ramah.
"Kepo aja lu! Sekarang ketawa, kemaren mewek. Dih, ini juga. Sana geser-geser," perintah Gamma masih sambil mengunyah permen karetnya dan berhasil membuat cowok di samping gadis dengan netra abu-abu itu menggeser tubuhnya beberapa senti.
"Lu apain adek gue, ha? Hampir gue tonjok lu kemaren," kesal Gamma seraya pura-pura ingin memukul cowok yang sekarang malah memamerkan sederet gigi putih rapinya.
"Abang udah makan? Udah sana makan, ganggu orang aja."
"Dasar adek durhaka. Dosa tau berdua terus, malem lagi nih. Awas aja kalian ya," tukas pemilik manik hitam itu sebelum memilih bangkit dan meninggalkan keduanya. Kini, langkah kakinya bergerak menuju pintu utama.
"Baru pulang, Sayang? Mau makan?" tanya seorang wanita yang cowok itu kenal sebagai ibu dari adiknya itu.
"Nggak, Mah. Tadi Gamma sudah makan sama temen. Mama mau ke mana? Mau Gamma anter, nggak?" Pemilik manik hitam itu balik bertanya saat menyadari wanita yang sekarang ia panggil dengan sebutan Mama itu sudah rapi dengan sebuah tas yang menggantung di lengan kirinya.
"Boleh deh, kalau Gamma nggak capek lagian Papa belum pulang."
"Nggak, Ma. Gamma nggak capek. Alula di mana? Emang nggak dibawa?" tanya Gamma lagi.
"Tidur. Mama titip Bi Min sebentar," balas Vani dengan suara yang dikecilkan.
"Gamma ambil kunci mobil dulu ya? Mama tunggu depan aja," ucap Gamma dan segera berlari menuju kamarnya.
"Mau ke mana, Ma?" tanya Gamma sesaat mendudukkan dirinya di kursi kemudi mobil.
"Ke rumah temen Mama. Jalan Tubagus Ismail Raya pas banget sebelum tikungan ke Tubagus Ismail VI. Mama cuma mau ambil barang doang, kok. Gak lama." Gamma hanya mengangguk dan segera melajukan mobilnya menjauhi rumah dengan cat abu-abu cerah itu.
"Kuliahnya gimana, Sayang?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul setelah agak lama hening.
"Hm tugasnya lumayan, Ma. Haha tapi tenang aja Gamma kan pinter," ucap Gamma membanggakan dirinya sendiri. Vani hanya tersenyum menatap putranya. Bukan, bukan putra kandungnya, melainkan putra dari suaminya saat ini.
"Masih suka makan permen karet ya Mama lihat-lihat," ledek Vani melihat Gamma yang menyetir sambil sibuk mengunyah permen karet. Pemilik manik hitam itu tertawa mendengar pernyataan Vani.
"Gamma tunggu di mobil aja ya, Ma?" Vani hanya mengangguk dan segera meninggalkan mobil.
Gamma memejamkan matanya, pikirannya kembali berkelana ketika ia tak mengenal wanita yang baru saja keluar dari mobil yang ia kendarai. Bukan, bukan tidak mengenal tapi tidak pernah menduga bahwa wanita itu adalah Ibu dari gadis yang sempat ia cintai atau mungkin masih. Lalu sekarang? Ia bahkan berbagi ibu bersama gadis yang ia cintai itu. Tak perlu ditanya, rasanya sesak. Seakan ribuan jarum menghujam hatinya hingga kini ia bahkan sempat berpikir bahwa hatinya sudah lama melebur dan hilang.
Embusan napas terdengar dari Gamma yang masih mengunyah permen karetnya. Maniknya beralih menatap pria yang tampaknya sedang berbicara dengan seseorang di halaman minimarket. Manik hitamnya menyipit, ia mengenal pria itu. Dandi, Papanya. Ia tatap lekat pria yang sedang berdiri di depan minimarket. Sempat terlihat jelas gurat kekesalan di wajah pria itu, membuat Gamma mengerutkan keningnya. Namun beberapa saat kemudian, Dandi segera masuk ke mobil dan meninggalkan parkiran minimarket. Ia mencoba mencari tahu siapa yang baru saja berbicara dengan papanya itu. Seorang laki-laki, tapi Gamma tak bisa melihat wajahnya karena sekarang laki-laki itu sudah mengenakan helm fullface.
"Ayok." Panggilan itu membuat Gamma melepas tatapannya walau belum sempat mengingat jelas perawakan laki-laki tadi.
"Kenapa, Sayang?" tanya Vani saat Gamma tak kunjung melajukan mobilnya.
"Tadi liat Papa ngomong sama orang," sahut Gamma.
"Oalah, paling sama kliennya. Kamu lihat di minimarket seberang ini? Tadi bilang mau beli camilan sih, baru aja. Paling ketemu," Gamma hanya mengangguk dan segera melajukan mobilnya.
***
Langit masih sibuk memilih minuman di sebuah lemari pendingin di salah satu minimarket. Akhirnya ia membawa sebotol minuman yogurt pilihannya dan berjalan mendekati meja kasir. Maniknya menatap ponselnya yang baru saja ada pesan masuk dari teman basketnya saat tangannya sudah berhasil meletakkan botol minuman di meja kasir. Laki-laki itu berdecak membaca pesan yang baru ia buka.
"Delapan ribu, Mas." Suara itu membuat Langit segera menyimpan kembali ponselnya lalu merogoh saku.
"Makasih," ucapnya saat mengambil alih minuman itu. Langit beralih menatap pintu keluar hingga maniknya menemukan seorang pria yang sedang memasukkan barang belanjaan ke jok belakang penumpang. Otak Langit begitu cepat merespons. Kakinya ia langkahkan dengan cepat mendekati pria itu. Pria dengan jas hitamnya itu masih sibuk dengan barang belanjaan. Bahkan, tidak menyadari keberadaan Langit yang berdiri di belakangnya sambil menenggak minuman yang baru dibeli.
"Ekhem," Langit berdeham cukup keras, membuat pria itu terperenjat sesaat menyadari keberadaan Langit.
"Apa? Anda kaget?" tanya Langit dengan nada meremehkan.
"Kamu kok di sini?" tanya pria itu dengan pandangan tidak suka.
"Maksud Anda, kenapa saya ada di minimarket yang notabene tempat umum, begitu?" tanya Langit dengan nada yang terdengar cukup mengiris telinga pria di hadapannya itu.
"Rupanya kamu tambah bodoh ya?" ledek pria tadi membuat Langit tersenyum kecut dan memalingkan wajahnya.
"Oh begitu rupanya? Menarik, ya?" ujar Langit basa-basi.
"Ah, aku tidak ada waktu berbicara denganmu."
"Ini kota lahir saya kenapa Anda bertanya seperti itu? Saya berhak tinggal di mana pun," potong Langit membuat pria tadi mengurungkan niatnya untuk segera meninggalkan parkiran minimarket. Tatapan Langit begitu tajam menusuk manik pria yang sekarang menatapnya.
"Aku tanya untuk apa kamu di sini?" Suara pria tadi naik satu oktaf, membuat Langit tertawa seakan lupa ia sedang berada di tempat umum.
"Saya mencari keadilan," sahutnya. Pria yang sekarang mengalihkan pandangannya itu berdecak mendengar kalimat omong kosong Langit.
"Keadilan apa lagi yang kamu cari? Semua sudah usai, Langit. Kalian sudah menyerah!" Pria tadi geram akan keberadaan Langit.
Langit melangkah dan menghapus jarak antar keduanya. "Bukan kami tapi Anda yang menyerah!" Suara Langit rendah tapi sukses membuat bulu kuduk pria di hadapannya berdiri.
"Ah, sudahlah!" tukas pria itu dan segera masuk ke mobilnya. Sebelah sudut bibir Langit terangkat, sesuatu di dalam sana rasanya sudah terbakar. Tangannya melemparkan botol minum ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari tempatnya bediri. Maniknya menatap mobil yang sekarang menjauh dan meninggalkannya yang masih berdiri di tempat sebelum memilih mengenakan helmnya dan turut meninggalkan tempat itu.
Rahang Langit mengeras di balik helm fullface miliknya. Deru napasnya memburu seakan tak ingin kalah dengan kecepatan motornya yang di atas rata-rata. Laki-laki itu seakan sudah muak dengan drama yang diciptakan semesta untuknya. Ia sudah lelah selama ini bertahan dengan rasa mengalah lalu sekarang, ketika ia ingin bangkit dan berjuang untuk tidak lagi kalah semesta memberi jalannya yang penuh batu. Sekejam itu kah semesta? Atau semesta memang tidak akan pernah berpihak padanya? Lamunannya buyar ketika hampir saja menabrak seseorang yang sedang menyeberang. Ia menarik napas dalam dan kembali melajukan motornya lebih pelan dari sebelumnya walau tetap saja bagi orang lain itu tidak normal.
***
Suara denting bel yang berbunyi ketika pintu dibuka membuat beberapa orang dalam ruangan itu menoleh. Sedangkan seseorang yang baru saja masuk tidak peduli dengan tatapan itu dan memilih untuk melangkah cepat hingga langkahnya berhenti sebelum benar-benar membuka pintu di hadapannya. Ia berbalik dan mendekati seorang kasir yang baru saja mengucapkan terima kasih pada pembeli. Langit menatap gadis itu dengan senyum tipis yang terulas di bibirnya. Bulan yang merasa ditatap menoleh dan menaikkan sebelah alisnya.
"Sasa, tolong jaga kasir sebentar. Gue masih ada urusan sama dia," panggil Langit pada seseorang yang sedang merapikan pakaian di salah satu lemari itu.
"Oke, Lang." Langit yang mendengar jawaban itu segera menarik lengan Bulan dan membawanya ke taman kecil yang berada di halaman depan butik. Langit duduk di kursi besi dengan cat putih itu dan diikuti Bulan. Bulan yang sedari tadi bingung akan perlakuan Langit memilih untuk diam.
"Menurut lu dunia ini adil buat lu, nggak?" tanya Langit tanpa menatap lawan bicaranya. Bulan menoleh pada yang memberikan pertanyaan sebelum mengalihkan pandangannya ke depan.
"Ya mungkin lu lebih ngerti. Maksud gue, ketika ada temen lu yang tinggal kuliah tanpa harus kerja sedangkan lu perlu kerja, kan? Ya walaupun gue nggak tahu alasan lu kerja itu sebenernya apa," lanjut Langit saat tak kunjung mendapat jawaban.
"Lu nggak akan nemu kalo lu cari keadilan di dunia, Lang. Lu bakal temuin itu nanti di akhirat. Lu bakal diadili seadil-adilnya. Yang ada lu bakal capek kalo lu cari keadilan di dunia ini," ujar Bulan dengan tatapan menerawang.
"Lu pernah nggak si benci atas ketidak adilan semesta?"
"Gue juga manusia yang berhak capek, kan? Ya, gue pernah benci atas semesta yang bikin gue terpisah sama kedua orang tua gue. Gue nggak tahu mereka di mana sekarang, apa mereka masih hidup atau mereka udah pergi ninggalin gue selamanya. Kalo lu tanya pernah nggak gue ketemu langsung sama mereka? Jawabannya adalah nggak. Mereka cuman ninggalin sebuah jaket hijau waktu mereka ninggalin gue. Sampe pada akhirnya tiap jaket bagi gue punya kisahnya," tutur Bulan. Ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya begitu lancar menceritakan hal yang selama ini enggan untuk ia ceritakan ke orang yang baru ia kenal.
Langit bangkit dan kembali menarik tangan Bulan. Masih dengan respons yang sama, Bulan hanya menatap lengannya yang ditarik Langit dan mengikuti langkah cowok di depannya itu. Langit berhenti di depan sebuah pintu dan membukanya perlahan. Aroma khas menguar dan memenuhi indra penciuman keduanya. Manik cokelat Bulan menjelajah ruangan yang penuh dengan jaket itu. Sebelah sudut bibirnya terangkat. Dengan pergelangan tangan yang masih berada di genggaman Langit, gadis itu menyusuri ruangan dengan manik yang berbinar.
"Bagus, Lang."
"Ini koleksi Mama gue. Almarhum," lirihnya.
"Sorry, Lang. Gue–"
"Nggak masalah, kan gue yang ngajak lu ke sini. Sebenernya Mama nggak terlalu suka dan nggak terlalu ngerti sama jaket cuman gue nggak tahu kenapa Mama suka ngoleksi jaket," ungkap Langit.
"Karena terkadang kita emang nggak perlu tahu alasan seseorang melakukan sesuatu," ucap Bulan membuat Langit menatapnya dalam.
"Kenapa?" tanya Bulan yang sadar dirinya ditatap Langit. Langit hanya menggeleng kecil.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita
~Jika sudah berurusan dengan hati, logika pun bisa saja salah~
***
Dengan wajah berbinar, pemilik manik hitam yang baru saja membuka helmnya itu membuka sebungkus permen karet yang ia ambil dari sakunya. Tawa seorang gadis yang menyelusup dan memenuhi indra pendengarannya membuatnya menoleh ke arah bangku taman di halaman rumahnya. Maniknya menyipit saat menemukan dua insan yang sedang tertawa. Kedua bola matanya ia putar malas tapi langkah kakinya malah mendekati keduanya.
"Abang dari mana kok pulang malem?" Gadis yang duduk bersebelahan dengan seorang cowok itu mencoba bertanya ramah.
"Kepo aja lu! Sekarang ketawa, kemaren mewek. Dih, ini juga. Sana geser-geser," perintah Gamma masih sambil mengunyah permen karetnya dan berhasil membuat cowok di samping gadis dengan netra abu-abu itu menggeser tubuhnya beberapa senti.
"Lu apain adek gue, ha? Hampir gue tonjok lu kemaren," kesal Gamma seraya pura-pura ingin memukul cowok yang sekarang malah memamerkan sederet gigi putih rapinya.
"Abang udah makan? Udah sana makan, ganggu orang aja."
"Dasar adek durhaka. Dosa tau berdua terus, malem lagi nih. Awas aja kalian ya," tukas pemilik manik hitam itu sebelum memilih bangkit dan meninggalkan keduanya. Kini, langkah kakinya bergerak menuju pintu utama.
"Baru pulang, Sayang? Mau makan?" tanya seorang wanita yang cowok itu kenal sebagai ibu dari adiknya itu.
"Nggak, Mah. Tadi Gamma sudah makan sama temen. Mama mau ke mana? Mau Gamma anter, nggak?" Pemilik manik hitam itu balik bertanya saat menyadari wanita yang sekarang ia panggil dengan sebutan Mama itu sudah rapi dengan sebuah tas yang menggantung di lengan kirinya.
"Boleh deh, kalau Gamma nggak capek lagian Papa belum pulang."
"Nggak, Ma. Gamma nggak capek. Alula di mana? Emang nggak dibawa?" tanya Gamma lagi.
"Tidur. Mama titip Bi Min sebentar," balas Vani dengan suara yang dikecilkan.
"Gamma ambil kunci mobil dulu ya? Mama tunggu depan aja," ucap Gamma dan segera berlari menuju kamarnya.
"Mau ke mana, Ma?" tanya Gamma sesaat mendudukkan dirinya di kursi kemudi mobil.
"Ke rumah temen Mama. Jalan Tubagus Ismail Raya pas banget sebelum tikungan ke Tubagus Ismail VI. Mama cuma mau ambil barang doang, kok. Gak lama." Gamma hanya mengangguk dan segera melajukan mobilnya menjauhi rumah dengan cat abu-abu cerah itu.
"Kuliahnya gimana, Sayang?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul setelah agak lama hening.
"Hm tugasnya lumayan, Ma. Haha tapi tenang aja Gamma kan pinter," ucap Gamma membanggakan dirinya sendiri. Vani hanya tersenyum menatap putranya. Bukan, bukan putra kandungnya, melainkan putra dari suaminya saat ini.
"Masih suka makan permen karet ya Mama lihat-lihat," ledek Vani melihat Gamma yang menyetir sambil sibuk mengunyah permen karet. Pemilik manik hitam itu tertawa mendengar pernyataan Vani.
"Gamma tunggu di mobil aja ya, Ma?" Vani hanya mengangguk dan segera meninggalkan mobil.
Gamma memejamkan matanya, pikirannya kembali berkelana ketika ia tak mengenal wanita yang baru saja keluar dari mobil yang ia kendarai. Bukan, bukan tidak mengenal tapi tidak pernah menduga bahwa wanita itu adalah Ibu dari gadis yang sempat ia cintai atau mungkin masih. Lalu sekarang? Ia bahkan berbagi ibu bersama gadis yang ia cintai itu. Tak perlu ditanya, rasanya sesak. Seakan ribuan jarum menghujam hatinya hingga kini ia bahkan sempat berpikir bahwa hatinya sudah lama melebur dan hilang.
Embusan napas terdengar dari Gamma yang masih mengunyah permen karetnya. Maniknya beralih menatap pria yang tampaknya sedang berbicara dengan seseorang di halaman minimarket. Manik hitamnya menyipit, ia mengenal pria itu. Dandi, Papanya. Ia tatap lekat pria yang sedang berdiri di depan minimarket. Sempat terlihat jelas gurat kekesalan di wajah pria itu, membuat Gamma mengerutkan keningnya. Namun beberapa saat kemudian, Dandi segera masuk ke mobil dan meninggalkan parkiran minimarket. Ia mencoba mencari tahu siapa yang baru saja berbicara dengan papanya itu. Seorang laki-laki, tapi Gamma tak bisa melihat wajahnya karena sekarang laki-laki itu sudah mengenakan helm fullface.
"Ayok." Panggilan itu membuat Gamma melepas tatapannya walau belum sempat mengingat jelas perawakan laki-laki tadi.
"Kenapa, Sayang?" tanya Vani saat Gamma tak kunjung melajukan mobilnya.
"Tadi liat Papa ngomong sama orang," sahut Gamma.
"Oalah, paling sama kliennya. Kamu lihat di minimarket seberang ini? Tadi bilang mau beli camilan sih, baru aja. Paling ketemu," Gamma hanya mengangguk dan segera melajukan mobilnya.
***
Langit masih sibuk memilih minuman di sebuah lemari pendingin di salah satu minimarket. Akhirnya ia membawa sebotol minuman yogurt pilihannya dan berjalan mendekati meja kasir. Maniknya menatap ponselnya yang baru saja ada pesan masuk dari teman basketnya saat tangannya sudah berhasil meletakkan botol minuman di meja kasir. Laki-laki itu berdecak membaca pesan yang baru ia buka.
"Delapan ribu, Mas." Suara itu membuat Langit segera menyimpan kembali ponselnya lalu merogoh saku.
"Makasih," ucapnya saat mengambil alih minuman itu. Langit beralih menatap pintu keluar hingga maniknya menemukan seorang pria yang sedang memasukkan barang belanjaan ke jok belakang penumpang. Otak Langit begitu cepat merespons. Kakinya ia langkahkan dengan cepat mendekati pria itu. Pria dengan jas hitamnya itu masih sibuk dengan barang belanjaan. Bahkan, tidak menyadari keberadaan Langit yang berdiri di belakangnya sambil menenggak minuman yang baru dibeli.
"Ekhem," Langit berdeham cukup keras, membuat pria itu terperenjat sesaat menyadari keberadaan Langit.
"Apa? Anda kaget?" tanya Langit dengan nada meremehkan.
"Kamu kok di sini?" tanya pria itu dengan pandangan tidak suka.
"Maksud Anda, kenapa saya ada di minimarket yang notabene tempat umum, begitu?" tanya Langit dengan nada yang terdengar cukup mengiris telinga pria di hadapannya itu.
"Rupanya kamu tambah bodoh ya?" ledek pria tadi membuat Langit tersenyum kecut dan memalingkan wajahnya.
"Oh begitu rupanya? Menarik, ya?" ujar Langit basa-basi.
"Ah, aku tidak ada waktu berbicara denganmu."
"Ini kota lahir saya kenapa Anda bertanya seperti itu? Saya berhak tinggal di mana pun," potong Langit membuat pria tadi mengurungkan niatnya untuk segera meninggalkan parkiran minimarket. Tatapan Langit begitu tajam menusuk manik pria yang sekarang menatapnya.
"Aku tanya untuk apa kamu di sini?" Suara pria tadi naik satu oktaf, membuat Langit tertawa seakan lupa ia sedang berada di tempat umum.
"Saya mencari keadilan," sahutnya. Pria yang sekarang mengalihkan pandangannya itu berdecak mendengar kalimat omong kosong Langit.
"Keadilan apa lagi yang kamu cari? Semua sudah usai, Langit. Kalian sudah menyerah!" Pria tadi geram akan keberadaan Langit.
Langit melangkah dan menghapus jarak antar keduanya. "Bukan kami tapi Anda yang menyerah!" Suara Langit rendah tapi sukses membuat bulu kuduk pria di hadapannya berdiri.
"Ah, sudahlah!" tukas pria itu dan segera masuk ke mobilnya. Sebelah sudut bibir Langit terangkat, sesuatu di dalam sana rasanya sudah terbakar. Tangannya melemparkan botol minum ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari tempatnya bediri. Maniknya menatap mobil yang sekarang menjauh dan meninggalkannya yang masih berdiri di tempat sebelum memilih mengenakan helmnya dan turut meninggalkan tempat itu.
Rahang Langit mengeras di balik helm fullface miliknya. Deru napasnya memburu seakan tak ingin kalah dengan kecepatan motornya yang di atas rata-rata. Laki-laki itu seakan sudah muak dengan drama yang diciptakan semesta untuknya. Ia sudah lelah selama ini bertahan dengan rasa mengalah lalu sekarang, ketika ia ingin bangkit dan berjuang untuk tidak lagi kalah semesta memberi jalannya yang penuh batu. Sekejam itu kah semesta? Atau semesta memang tidak akan pernah berpihak padanya? Lamunannya buyar ketika hampir saja menabrak seseorang yang sedang menyeberang. Ia menarik napas dalam dan kembali melajukan motornya lebih pelan dari sebelumnya walau tetap saja bagi orang lain itu tidak normal.
***
Suara denting bel yang berbunyi ketika pintu dibuka membuat beberapa orang dalam ruangan itu menoleh. Sedangkan seseorang yang baru saja masuk tidak peduli dengan tatapan itu dan memilih untuk melangkah cepat hingga langkahnya berhenti sebelum benar-benar membuka pintu di hadapannya. Ia berbalik dan mendekati seorang kasir yang baru saja mengucapkan terima kasih pada pembeli. Langit menatap gadis itu dengan senyum tipis yang terulas di bibirnya. Bulan yang merasa ditatap menoleh dan menaikkan sebelah alisnya.
"Sasa, tolong jaga kasir sebentar. Gue masih ada urusan sama dia," panggil Langit pada seseorang yang sedang merapikan pakaian di salah satu lemari itu.
"Oke, Lang." Langit yang mendengar jawaban itu segera menarik lengan Bulan dan membawanya ke taman kecil yang berada di halaman depan butik. Langit duduk di kursi besi dengan cat putih itu dan diikuti Bulan. Bulan yang sedari tadi bingung akan perlakuan Langit memilih untuk diam.
"Menurut lu dunia ini adil buat lu, nggak?" tanya Langit tanpa menatap lawan bicaranya. Bulan menoleh pada yang memberikan pertanyaan sebelum mengalihkan pandangannya ke depan.
"Ya mungkin lu lebih ngerti. Maksud gue, ketika ada temen lu yang tinggal kuliah tanpa harus kerja sedangkan lu perlu kerja, kan? Ya walaupun gue nggak tahu alasan lu kerja itu sebenernya apa," lanjut Langit saat tak kunjung mendapat jawaban.
"Lu nggak akan nemu kalo lu cari keadilan di dunia, Lang. Lu bakal temuin itu nanti di akhirat. Lu bakal diadili seadil-adilnya. Yang ada lu bakal capek kalo lu cari keadilan di dunia ini," ujar Bulan dengan tatapan menerawang.
"Lu pernah nggak si benci atas ketidak adilan semesta?"
"Gue juga manusia yang berhak capek, kan? Ya, gue pernah benci atas semesta yang bikin gue terpisah sama kedua orang tua gue. Gue nggak tahu mereka di mana sekarang, apa mereka masih hidup atau mereka udah pergi ninggalin gue selamanya. Kalo lu tanya pernah nggak gue ketemu langsung sama mereka? Jawabannya adalah nggak. Mereka cuman ninggalin sebuah jaket hijau waktu mereka ninggalin gue. Sampe pada akhirnya tiap jaket bagi gue punya kisahnya," tutur Bulan. Ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya begitu lancar menceritakan hal yang selama ini enggan untuk ia ceritakan ke orang yang baru ia kenal.
Langit bangkit dan kembali menarik tangan Bulan. Masih dengan respons yang sama, Bulan hanya menatap lengannya yang ditarik Langit dan mengikuti langkah cowok di depannya itu. Langit berhenti di depan sebuah pintu dan membukanya perlahan. Aroma khas menguar dan memenuhi indra penciuman keduanya. Manik cokelat Bulan menjelajah ruangan yang penuh dengan jaket itu. Sebelah sudut bibirnya terangkat. Dengan pergelangan tangan yang masih berada di genggaman Langit, gadis itu menyusuri ruangan dengan manik yang berbinar.
"Bagus, Lang."
"Ini koleksi Mama gue. Almarhum," lirihnya.
"Sorry, Lang. Gue–"
"Nggak masalah, kan gue yang ngajak lu ke sini. Sebenernya Mama nggak terlalu suka dan nggak terlalu ngerti sama jaket cuman gue nggak tahu kenapa Mama suka ngoleksi jaket," ungkap Langit.
"Karena terkadang kita emang nggak perlu tahu alasan seseorang melakukan sesuatu," ucap Bulan membuat Langit menatapnya dalam.
"Kenapa?" tanya Bulan yang sadar dirinya ditatap Langit. Langit hanya menggeleng kecil.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita