Eclipse

Eclipse
Eclipse 15



~Tidak ada yang perlu dipertanyakan, memang semesta semisterius itu~


***


Angin yang masuk melalui jendela kamar yang lupa Gamma tutup dengan rapat membuatnya mendesah kecil dan segera melangkahkan kakinya untuk menutup jendela itu. Ia meringis kecil saat angin malam kota Bandung yang cukup dingin karena sekarang sudah larut itu berembus dan menerpa kulitnya. Gamma segera kembali ke meja belajarnya untuk tenggelam lagi bersama textbook tebal dan buku catatannya. Orang yang tak mengenal Gamma mungkin hanya akan mengira ia adalah playboy berbagai jurusan, buruk dalam hal pelajaran, dan malas membaca buku tebal yang digunakan dosen sebagai referensi. Namun, Gamma tidak pernah peduli akan hal itu, cukup baginya diberikan ruang untuk tenang tanpa usikan yang mengganggu hidupnya. Gamma mengembuskan napas saat kantuk tiba-tiba menyelimuti, ia menggeleng dan segera membuka sebungkus permen karet yang ia letakkan di meja belajarnya.


Suara ketukan dari luar membuat Gamma mengernyitkan dahinya. Ia menoleh ke arah pintu hingga suara derit pintu dibuka memenuhi seisi ruangan yang tadinya hanya terdengar suara kertas dibolak-balik. Pria yang masih mengenakan jas kerjanya itu memasuki kamar Gamma dan kembali menutup pintu kamar putranya itu. Gamma masih menatap pria itu bingung. Pasalnya, sekarang sudah hampir tengah malam dan cukup terbilang jarang Dandi menghampirinya di jam-jam itu. Pria itu duduk di salah satu sisi ranjang Gamma yang bersebelahan dengan meja belajarnya.


"Gamma belum tidur?" tanya Dandi basa-basi.


"Belum waktunya bagi mahasiswa ITB, Pa." Gamma tertawa renyah di akhir kalimatnya. Begitu pula Dandi.


"Ada apa, Pa? Papa sendiri kok belum tidur?" Gamma balik bertanya pada pria yang sekarang sedang melonggarkan dasinya itu.


"Papa baru dateng, belum mandi. Gerah, tadi mampir pengen lihat kamu dulu. Eh ternyata belum tidur," ujar Dandi diakhiri dengan senyum tipis. Gamma mendengkus kecil dan kembali menatap bukunya.


"Kuliah makin sibuk, ya?" Gamma mengembuskan napas kecil sebelum menganggukkan kepalanya.


"Oh iya, Pa. Gadis itu, Bulan sudah bawa motor sendiri ke kampus," ujar Gamma yang tiba-tiba menoleh ke arah Dandi.


"Lalu?"


"Ya masa Gamma masih harus ngikutin dia? Kan nggak lucu gitu, kayak Gamma penguntit aja, deh. Kalo dia ke tempat macem-macem gimana?" rengek Gamma yang sekarang sudah sepenuhnya berhadapan dengan Papanya itu.


"Ya justru itu kamu harus jagain dia. Jangan sampe dia ke tempat macem-macem dan kamu nggak tahu." Jawaban itu membuat wajah Gamma langsung lesu. Jujur saja dia tidak tahu sepenuhnya kenapa Papanya meminta ia untuk melakukan hal ini.


"Gamma, dengerin Papa." Gamma mendongak dan menatap sendu manik Dandi.


"Ketika kamu diberikan suatu amanah lalu kamu menerima amanah itu, kamu harus selesaikan itu. Kalau nggak, itu namanya kamu pengecut. Lagi pula, ketika kamu mengambil sebuah jalan itu sebenarnya jalan dari Tuhan juga. Tuhan ingin kamu melewati jalan itu dan ingat, Tuhan nggak akan pernah menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Oke?" tutur Dandi yang hanya mendapat anggukan pelan dari putranya itu.


"Oh iya, Papa nggak akan pernah bosen buat ngingetin kamu untuk selalu jagain Mama, Gemi, dan Alula."


"Iya, Pa. Gamma nggak akan pernah lupa," sahut Gamma.


"Tapi sebelumnya, jangan lupa untuk jaga diri kamu karena kalo–"


"Kalo Gamma nggak bisa jaga diri Gamma, gimana mau jagain Mama, Gemi, dan Alula. Iya, kan?" lanjut Gamma membuat Dandi tertawa renyah.


"Pa, mau tanya."


"Kenapa, Sayang?"


"Kenapa Gamma harus jagain Bulan?"


***


Mandi memang adalah pilihan terbaik ketika tubuh dan pikiran sudah mulai butuh pendingin. Termasuk bagi Bulan, apalagi ketika ia memiliki waktu untuk berendam. Sayangnya, sore ini bukanlah waktu yang tepat untuk berendam. Bulan yang merasa dirinya sudah lebih segar kini bersemangat untuk membereskan kamarnya yang entah kenapa akhir-akhir ini menjadi lebih berantakan. Seperti biasa, ia harus membuat secangkir matcha sebelum melakukan aktivitasnya sore ini. Gadis itu sangat menyukai matcha, seperti Gamma yang amat menyukai permen karetnya.


Bulan menyeruput cairan di cangkir putihnya dengan hati-hati sebelum meletakkannya di meja belajar. Ia berbalik dan mengembuskan napasnya pelan dengan kedua tangan yang berada di pinggang. Gadis itu sudah mulai bersemangat hingga dering ponselnya membuatnya menghentikan gerakan tangannya sejenak. Langkahnya berhenti di samping nakas tempatnya meletakkan ponsel terakhir kali. Dengan senyum bahagianya, Bulan segera mengangkat telepon dari kekasihnya itu.


"Halo, Gunung. Kenapa?" tanyanya dengan nada riang.


"Lu lagi di mana?" tanya Gunung dengan nada khawatir yang tidak dapat disembunyikan.


"Di apart. Kenapa? Lu juga kenapa aneh gitu, sih?" tanya Bulan yang mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari kekasihnya itu.


"Halo, Gunung? Lu masih di sama, kan? Kenapa nelfon?" tanya Bulan lagi saat tidak mendengar jawaban dari lawan bicaranya di seberang sana.


"Iya gue masih di sini."


"Iya, kenapa nelfon? Kangen, ya?" ledek gadis dengan manik cokelat itu berusaha mengusir pikiran buruk karena keanehan Gunung sore ini.


"Papa lu masuk rumah sakit, Bulan." Bulan tercekat mendengar kalimat itu. Maniknya membelalak saat kabar itu memenuhi indra pendengarannya dan diterjemahkan dengan begitu cepat oleh otak.


"Dia kan emang sering masuk rumah sakit. Paling nanti cepet juga baliknya," ujar Bulan masih berusaha untuk tetap tenang.


"Nggak, Bulan. Kali ini beda, Papa lu sebenernya udah dari kemarin di rumah sakit dan sekarang beliau belum sadarkan diri. Sebelumnya maaf kalo gue baru ngabarin sekarang," tutur Gunung dengan nada parau yang penuh sesal. Bulan tak menjawab, ia menelan salivanya susah. Jujur saja, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Otaknya seakan buntu, guyuran air di sore ini ternyata tidak berdampak apa-apa untuknya, itu hanya sementara.


"Lu mau gue jemput atau mau ke sini sendiri?"


Bulan menggeleng pelan. "Nggak, gue nggak akan ke sana dan lu nggak perlu jemput gue."


"Bulan?"


"Gue nggak akan diterima di sana, Gunung. Kalo gue ke sana emang apa yang bakal gue bisa lakuin? Yang ada gue diusir sama istri dia. Gue nggak berguna di mata mereka. Paling-paling juga gue bakal disalahin sama istrinya pas gue ke sana. Jadi, buat apa?" kekeh Bulan.


"Tapi Bulan–" Kalimat Gunung terpotong karena Bulan mematikan panggilan secara sepihak.


Bulan melempar asal ponselnya ke kasur, ia luruh bersama tangisnya yang ikut jatuh. Bulan seakan serba salah atas apa yang ia lakukan. Apa ia sekejam itu karena tak mau mengunjungi papanya? Ah bukan, dia bukan papanya. Tapi seperti yang sudah ia katakan, ia ke sana pun seperti tak dianggap. Ini antara hatinya yang tersakiti karena tidak bisa menemui pria itu yang sekarang sedang terbaring lemah atau hatinya yang tersakiti karena datang menemui pria itu.


***


Alfa bersorak untuk kesekian kalinya atas kemenangannya. Seakan sedang menang lotre, ia bahkan memeluk sahabatnya yang ia kalahkan secara lima kali berturut-turut untuk pertama kalinya. Gamma hanya tersenyum kecut menatap Alfa yang masih menikmati kemenangannya itu. Namun, Alfa bukan teman Gamma kemarin sore dan ia sadar bahwa ada hal aneh yang terjadi pada sahabatnya itu. Alfa merangkul bahu pemilik manik hitam itu dengan erat seakan enggan membiarkan sahabatnya itu bergerak leluasa.


"Lu kenapa?" tanya masih dengan posisi merangkul. Sedangkan yang dirangkul berusaha mengurai lengan Alfa yang berada di bahunya itu.


"Nggak ada apa-apa."


"Lu ngeboongin penipu mah mana bisa, Gam. Haduh," ledek Alfa dan memilih melepaskan rangkulannya. Tangannya beralih pada remote televisi dan menyalakannya.


"Gue lagi bingung sama bokap gue," aku Gamma yang akhirnya mengalah.


"Nah, gitu dong cerita. Gimana-gimana?" tanya Alfa seraya mengecilkan volume televisi yang baru saja ia nyalakan.


"Ya masa bokap gue akhir-akhir ini sering banget ngingetin gue untuk jaga diri, sekalian jagain Mama, Gemi, Alula. Kayak yang udah mau ke mana aja gitu," gerutu pemilik manik hitam yang sekarang merogoh saku dan mengeluarkan sebungkus permen karet lalu memakannya itu.


"Ya bagus dong berarti lu diperhatiin."


"Tapi aneh aja gitu, Fa. Lu bayangin deh yang biasanya nggak gitu tapi tiba-tiba gitu. Aneh nggak, sih?" Gamma masih berusaha meyakinkan sahabatnya akan perasaannya itu.


"Lu yang aneh, Gam. Dulu lu nggak diperhatiin malah nyari perhatian. Sekarang giliran lu diperhatiin malah lu ngerasa aneh. Nih ya, lu inget nggak dulu pas lu nyari perhatian bokap lu, lu sampe ngapain aja? Lu bahkan nekat ngelawan Tomi yang sintingnya minta ampun itu. Lu bahkan berani bolak-balik rumah sakit, Gam. Lupa lu? Amnesia, ha? Mau gue bantu pukul pake remote?" cerocos Alfa yang tampaknya mulai gemas dengan Gamma. Gamma masih diam sambil melirik sahabatnya itu.


"Apa ngelirik gue segala? Nih ya, gue kasi tahu. Kalo anak cowok, biasanya emang suka dapet wejangan yang kayak gitu, Gam. Biar lu sadar, apalagi di umur lu yang sekarang. Yang udah jadi playboy jurusan-jurusan di ITB padahal nggak niat jadi playboy."


"Anjir lu! Baru ngewejangin eh malah ngatain. Gue bukan playboy ya!" tegas Gamma.


"Iya gue tahu. Lu tuh nggak niat awalnya tapi karena lu sok-sok an mau cari cara buat move on eh malah nyakitin banyak cewek. Playboy nggak, tuh?"


"Hey nggak gitu, Bambang Alfanto! Gue nggak nyakitin mereka. Mereka aja yang mau disakitin," protes Gamma.


"Iyain aja deh biar cepet dan sejak kapan nama gue berubah?! Sembarangan emang," timpal Alfa kesal.


"Tapi gue prediksi lu kayaknya bakal nemu rumah baru, deh."


"Rumah baru pala lu? Emang gue diusir dari rumah gue?"


"Bukan rumah itu, Gamma ganteng. Ya Tuhan. Maksud gue, lu gue prediksi bakal tobat, deh."


"Prediksi-prediksi, Emang lu apaan? Syirik gue percaya sama lu. Udah sana lu mandi. Bau lu kecium sampe sini. Lagian, udah bagus-bagus jurusan fisika eh malah kerjaannya ngeprediksi hal nggak jelas," ceramah Gamma membuat Alfa mencebikkan bibirnya merasa menyesal mengatakan kalimat tadi pada sahabatnya itu.


"Tapi lu gimana sih sama Bulan? Perasaan lu gitu pas ketemu dia?" Alfa masih berusaha mengorek.


"Ya ampun masih tanya itu. Cepetan mandi sebelum bau jigong lu menular!"


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita