
~Tuhan selalu punya cara misterius untuk memisahkan mereka yang menolak untuk dipisahkan~
***
Bulan masih menatap foto Gunung yang berada di antara bunga-bunga. Dadanya masih terasa sesak bahkan setelah kepulangannya dari pemakaman Gunung. Setetes bulir bening kembali jatuh dan langsung ia usap dengan kasar. Langit yang berdiri di samping gadis itu juga ikut menatap foto Gunung dengan sendu. Ia tidak menyangka pertemuannya dengan kekasih gadis yang mungkin ia cintai itu sesingkat ini. Langit mengembuskan napas pelan dan menoleh ke arah Bulan yang seakan enggan melepaskan pandangannya dari foto Gunung. Langit tahu seberapa besar usaha gadis itu untuk berusaha bersikap biasa saja setelah kehilangan orang-orang penting di hidupnya. Setahu Langit, baru kemarin lusa gadis itu ditinggal oleh ayah angkatnya dan sekarang oleh kekasih yang sangat gadis itu cintai.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang membuat Langit menoleh pelan, berbeda dengan Bulan yang masih lekat menatap objek yang sama. Sebuah tangan merangkul hangat pundak Bulan yang sekarang mungkin sangat rapuh itu. Tangan yang masih lembut itu mengusap air mata yang kembali turun di pipi lembut Bulan. Gadis dengan netra cokelat itu memejamkan matanya seraya memeluk erat wanita yang seakan ibu keduanya itu. Isakan kecil terdengar dalam pelukan itu ketika Mawar mengusap pelan rambut Bulan. Wanita yang sekarang terlihat sangat tegar walau matanya masih tampak sembab itu mengajak Bulan untuk keluar dari ruangan itu. Begitu pun dengan Langit.
"Ini salah Bulan ya, Tante?" tanya Bulan dengan pandangan kosong sesaat berhasil duduk di sebuah kursi yang dulu sering ia tempati sembari bercanda dengan kekasihnya yang sudah pergi itu.
"Nggak, Sayang. Bukan," balas Mawar mencoba meyakinkan. Sedang Langit hanya diam menatap Bulan yang seakan kehilangan jiwanya itu. Jika boleh jujur, Langit sesak melihat gadis itu dalam keadaan yang seperti ini.
"Iya, Tante. Ini salah Bulan," lirih gadis itu. Mawar mengembuskan napas pelan seraya menggenggam erat tangan Bulan, berusaha menyalurkan rasa hangat.
"Maaf ya, Tante. Tante jadi kehilangan putra Tante satu-satunya." Satu bulir bening kembali jatuh tapi Bulan membiarkannya. Begitu juga dengan Mawar, kali ini ia tidak dapat menahan bulir miliknya untuk tidak jatuh.
"Dari dulu Gunung sudah mau menyerah dengan hubungan ini." Bulan menarik napasnya.
"Dia juga sering minta Bulan buat cari yang baru tapi Bulan selalu nolak," tuturnya sangat pelan dengan pandangan yang menerawang.
"Bulan," bisik Mawar tapi Bulan pura-pura tuli dan terus melanjutkan ceritanya.
"Katanya, dia nggak akan ninggalin Bulan karena cewek lain tapi ternyata dia ninggalin Bulan, Tante, dan Om Danang karena dipanggil Tuhan," ucap Bulan tercekat. Ia kembali terisak mengingat kalimat-kalimat Gunung dulu. Mawar kembali menghapus air matanya yang turun.
"Mungkin Tuhan emang sayang sama Gunung. Tuhan nggak mau lihat Gunung tertekan karena Bulan yang nggak mau pisah sama Gunung karena alasan agama sampe akhirnya Tuhan yang misahin kita secara paksa," lirih Bulan amat pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Mawar. Wanita itu kembali memeluk pacar dari putranya itu, putra satu-satunya yang sekarang memilih pergi untuk selamanya.
"Bulan, tolong berhenti nyalahin diri Bulan sendiri. Kalo Gunung tahu, dia pasti sedih. Inget? Gunung nggak suka lihat Bulan sedih, Gunung nanti ikutan sedih. Kalo Gunung sedih, Tante Mawar juga pasti ikutan sedih. Udah, ya?" ucap Mawar pelan. Gadis dengan manik cokelat itu menoleh menatap manik milik Mawar yang penuh dengan duka yang masih kental.
"Maaf," cicitnya.
***
Gemi baru saja menutup pintu di belakangnya dan memilih untuk duduk di salah satu kursi koridor rumah sakit. Ia mengembuskan napas dalam seraya kembali mengecek layar ponselnya. Fikar yang masih mengenakan seragam sekolahnya tiba-tiba muncul dari ujung koridor dan langsung menghampiri gadis dengan netra abu-abu itu. Ia memilih duduk di samping Gemi.
"Gimana keadaannya?" tanya Fikar.
"Masih belum sadar," jawab Gemi sambil mengedikkan bahu.
"Sudah makan siang?" tanya Fikar lagi.
"Belum. Masih nungguin Bang Alfa katanya mau ke sini," balas Gemi sambil kembali menatap layar ponselnya.
"Tante udah pulang?" Pertanyaan kali ini hanya mendapat anggukan kecil dari Gemi.
Jujur saja, rumah sakit adalah tempat yang penuh akan kisah yang sebenarnya ingin Gemi lupa. Mengenai ia yang dulunya masih mencintai Gamma dan harus merelakannya hanya karena status, mengenai ia yang sempat diculik di rumah sakit yang sama, lalu mengenai ia yang sering mengunjungi Fikar karena perlakuan ayah cowok itu. Aroma rumah sakit seakan membuat ingatan itu kembali segar. Jika boleh memilih, ia tidak akan pernah mengunjungi rumah sakit lagi tapi sayangnya kali ini yang sedang dirawat adalah Gamma, kakaknya sendiri.
"Gimana keadaannya?" tanya Alfa yang sudah tiba di hadapan Gemi dan Fikar itu.
"Masih belum sadar," jawab Fikar.
"Kok bisa sih dia masuk rumah sakit? Kenapa?" Alfa kembali bertanya tanpa berniat duduk atau masuk ke kamar tempat Gamma dirawat.
"Nggak ada yang tahu, Bang. Tahu-tahu keluarga ditelfon katanya Bang Gamma kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit," ujar Gemi membuat Alfa berdecak.
"Kalian udah makan siang? Kalo belum, makan siang aja dulu. Biar Gamma gue yang jagain," tawar Alfa yang langsung disetujui keduanya.
"Oh iya, Tante sama Om gimana?" tanya Alfa sebelum keduanya benar-benar pergi untuk makan siang.
"Hmm Mama tadi nemenin, kok. Cuman sekarang pulang dulu mau jenguk Alula. Kalo Papa lagi di luar kota," sahut Gemi yang hanya mendapat anggukan pelan dari Alfa.
"Lu kenapa lagi sih, Gam? Lu nggak pernah absen ya ke rumah sakit," ujar Alfa sambil menarik sebuah kursi untuk duduk di samping Gamma. Maniknya menatap dahi Gamma yang ditutup kapas. Beberapa lecet di tangannya membuat Alfa mengembuskan napas pelan.
"Gam, jujur ya gue lebih mending liat lu lebam karena ditonjokin daripada nggak sadarkan diri kayak gini."
"Muka lu pucet, Gam. Udah kayak kurang gizi aja lu," lanjut Alfa seakan Gamma akan tertawa atau menoyor kepalanya. Namun, tak ada pergerakan sedikit pun dari Gamma.
Alfa menatap sekeliling ruangan itu. Ia masih ingat betul saat ia dan Gamma dulu masih SMA, rumah sakit seakan rumah Gamma juga. Namun berbeda dengan sekarang karena Gamma masuk rumah sakit akibat kecelakaan lalu lintas, bukan penganiayaan. Manik Alfa beralih pada ponsel yang tadi sempat menarik perhatiannya juga. Tangannya bergerak mengambil benda pipih dengan retak di mana-mana itu. Alfa mengembuskan napas lagi seakan ponsel ini adalah saksi bisu seberapa parah kecelakaan tadi malam. Ia hendak mengembalikan ponsel itu ke nakas hingga layarnya menyala menunjukkan adanya panggilan dari 'Cewek Aneh'.
***
"Kamar nomor 653, Mbak."
"Oke makasih," balas Bulan.
Gadis bernama Bulan itu segera berlari menyusuri koridor rumah sakit. Napasnya ikut menderu bersamaan dengan langkahnya. Ia semakin mempercepat langkahnya saat maniknya menangkap sosok gadis yang pertama kali ia temui di sebuah tempat makan saat gadis itu bersama Gamma dan sempat ia pikir adalah kekasih Gamma. Bulan segera memeluk gadis itu erat.
"Maafin gue," lirih Bulan masih dalam pelukan. Gemi yang tidak mengerti hanya membalas pelukan itu tanpa menjawab apa pun.
"Gimana keadaan Gamma?" tanya Bulan dengan napas yang masih tidak teratur.
"Abang belum sadarkan diri," jawab Gemi dan segera mengajak gadis itu untuk masuk.
Bulan tercekat melihat Gamma yang terbaring lemah, beberapa lecet di tubuhnya, dan kapas yang menempel di dahinya yang luka. Luka akibat kejadian sore itu yang mungkin tambah parah akibat kecelakaan yang ia alami. Bulan menggeleng pelan sambil menutup mulutnya merasa bersalah melihat keadaan Gamma saat ini.
"Gue minta maaf ya," sesal Bulan sambil kembali memeluk Gemi.
"Udah, Kak nggak apa-apa." Gemi mengurai pelukan itu dan mengajak Bulan duduk di sofa ruangan itu.
"Gue yang ngajak Gamma sore itu tapi semua hal aneh tiba-tiba terjadi begitu aja dan dengan bodohnya gue-gue..." ucap Bulan terputus. Gemi mengelus punggung gadis yang sedang duduk di sampingnya itu sambil menatap Gamma.
"Gue dengan bodohnya nyalahin dia atas kematian temen gue. Mungkin lu nggak ngerti dan bertanya-tanya apa yang terjadi tapi itu nggak penting sekarang. Gue minta maaf atas kejadian ini."
"Iya, Kak nggak apa-apa."
"Masalahnya, seandainya gue nggak bentak dia, gue nggak dengan bodohnya nyalahin dia, mungkin Gamma nggak akan pulang saat itu juga dan dia nggak akan ada di sana," ujar Bulan setengah terbata-bata.
"Abang itu kuat, hal kayak gini udah biasa buat dia. Bahkan, dia sering dapet hal yang lebih parah dari ini. Dulu," tutur Gemi yang seakan membuka ingatan lamanya.
"Maksudnya?"
Gemi tersenyum tipis menatap gadis di sampingnya itu. "Biar nanti Abang aja yang cerita sama Kakak. Gemi keluar dulu," pungkas gadis dengan manik abu-abu itu dan bangkit lalu hilang di balik pintu.
Bulan bangkit dan melangkah pelan mendekati Gamma. Maniknya menatap laki-laki yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu. Ia mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping ranjang Gamma. Tangannya bergerak membenarkan posisi selimut yang menutupi setengah badan Gamma lalu mengelus rambut Gamma yang terasa lembut. Ia tersenyum kecut mengingat pertemuannya dengan laki-laki itu. Laki-laki yang memaksanya untuk mau diantar ke apartemen terlepas dari perintah yang sebenarnya laki-laki itu sendiri tidak tahu pasti.
Bulan sadar, tak seharusnya ia menyalahkan Gamma malam itu. Gamma juga seorang korban yang tidak tahu apa-apa. Ia juga tersakiti bahkan hingga saat ini. Seharusnya Bulan juga tidak sebegitu marahnya mengingat ia sendiri tidak tahu apa saja yang sudah Gamma lalui sebelum bertemu dengannya. Ditambah lagi atas apa yang sudah dikatakan Gemi tadi. Jujur saja, kali ini Bulan enggan untuk kehilangan seseorang yang cukup berperan dalam hidupnya. Sudah cukup orang tua kandungnya meninggal bahkan sebelum ia menemuinya. Sudah cukup ayah angkatnya meninggal bahkan sebelum ia memaafkan pria itu hingga benar-benar mengembuskan napas terakhir tanpa ia di sampingnya. Sudah cukup ia kehilangan kekasih yang sangat ia cintai dan tentu saja juga mencintainya itu, yang siap melakukan banyak hal untuknya. Sudah cukup semua itu, ia tidak ingin kehilangan seseorang yang bahkan mau menjaganya tanpa alasan.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita