
~Percayalah, tak akan pernah ada yang benar-benar menghilang di dunia ini. Mungkin hanya berpindah tempat atau menjelma menjadi sesuatu yang lain~
***
Seorang pria baru saja keluar dari sebuah ruangan dan langsung diikuti oleh beberapa mahasiswa yang sudah sedari tadi berebut pintu untuk bebas. Berbeda dengan salah satu cowok yang masih sibuk menyalin tulisan di papan ke binder miliknya hingga getar ponsel di tasnya membuatnya berhenti sejenak. Hanya membaca sekilas notifikasi yang tertampil di layarnya, Gamma kembali melanjutkan aktivitasnya. Helaan napas lega terdengar dari pemilik manik hitam itu dan bergegas mengemasi barangnya untuk segera menemui seseorang yang sedari tadi sudah mengiriminya pesan berkali-kali.
Gamma menyusuri koridor dengan langkah malasnya. Jika saja bukan ia yang mengajak ke sebuah kantin di basement gedung yang biasanya sepi sudah pasti ia akan lebih memilih ke tempat favoritnya. Ia menuruni tangga seraya memasukkan permen karet ke mulutnya. Maniknya menangkap sosok yang sedang melambaikan tangan padanya. Gamma memutar bola matanya malas dan dengan terpaksa melangkahkan kaki menuju sosok tadi. Masih sambil mengunyah permen karetnya, ia duduk dengan malas dan tatapan tajam ke arah gadis yang sedang menyedot jus stroberi.
"Kenapa?" tanya gadis berambut hitam dengan senyum manisnya.
"Gue mau kita putus." Dingin dan menusuk secara bersamaan. Tanpa membiarkan lawan bicaranya menanggapi, Gamma segera bangkit dan menjauhi gadis yang masih terpaku itu.
"Gam, tapi kenapa?!" seru gadis tadi setelah Gamma berada di ujung ruangan dan siap untuk menaiki tangga. Tentu saja, Gamma tidak akan berbalik dan menjawab pertanyaan itu. Kakinya terus melangkah menyusuri jalan yang biasa digunakan mahasiswa kampusnya untuk menuju sebuah lapangan. Terik matahari membuat maniknya kian menyipit karena silau, ditambah kali ini ia sedang mencari seseorang di sekitar lapangan itu. Seseorang dengan kaus biru dan tas besar sedang berdiri di salah satu sudut jalan di dekat salah satu lapangan kampusnya.
"Nggak kelas?" tanya Gamma seraya menepuk pundak temannya itu.
"Udah, jadwal gue cuman tadi pagi." Gamma hanya mengangguk tanda mengerti.
"Ngapain lu ke sini? Mau cari mangsa maba lu?" sindir Alfa membuat Gamma tersenyum tipis seraya mengalihkan pandangannya.
"Terus ngapain? Boong banget deh lu kalo ke sini bukan mau cari mangsa."
"Serah lu dah."
Ctaaar
"Maksud lu apa sih Gam? Masih nggak cukup ya selama ini gue buat lu? Hah?! Gue masih kurang apa sama lu, Gam?" tanya gadis yang baru saja menampar Gamma itu. Gamma hanya diam dengan senyum tipisnya.
"Lu gak bisa ya ngehargain gue dikit aja?" bentak gadis yang sama.
"Siapa suruh lu terima gue dulu?" balas Gamma menatap tajam manik di hadapannya.
"What? Lu ngomong apa, sih?" tanya gadis tadi dengan kening mengerut. Namun, Gamma masih diam dengan pandangan yang ia alihkan.
"Gamma! Jawab, kenapa?" Gadis itu kembali bertanya pada cowok yang sekarang tersenyum kecut masih dengan pandangan yang teralihkan.
"Elara, udah ya tengkarnya nanti aja. Nggak enak diliatin maba," ucap Alfa berusaha melerai.
"Diem lu!" bentak gadis yang dipanggil Elara itu hingga membuat Alfa terkesiap dan enggan untuk ikut campur lagi.
"Gam," rengek Elara.
Manik hitam Gamma beralih menatap gadis di hadapannya. "Gue dulu bilang risiko ditanggung sendiri."
"Maksud lu?" Kening Elara berkerut dengan alis yang hampir tertaut sempurna. Namun, yang ditanya tampaknya enggan untuk menjawab. Ia bahkan memilih berpindah tempat ke daerah yang lebih rindang walau masih tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Ya, tentu saja gadis itu mengikutinya.
"Aargh. Gamma, please. Bisa nggak sih lu gak bikin gue berharap?" Pemilik manik hitam itu hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Gue udah berusaha buat lu, kenapa lu malah gak ngehargain usaha gue? Kita udah jalanin ini lama banget. Masa lu masih nggak nyaman sama gue?" Cowok itu menggeleng sebagai jawaban.
"Sedikit pun?" Cowok itu tetap menggeleng. Gadis bernama Elara itu mendengkus. Air matanya sudah berada di pelupuk mata tapi ia berusaha kuat untuk tetap menahan bulir itu agar tak jatuh.
"Waktu tidak bisa menjadi jaminan perasaan bisa tumbuh seperti yang lu mau." Gamma masih menatap Elara datar. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan cukup keras sambil memejamkan matanya.
"Brengsek lu!" pungkas Elara sebelum meninggalkan Gamma dengan air mata yang sudah tidak dapat ia tahan lagi. Sedangkan Gamma masih dengan wajah datar kembali mengunyah permen karetnya, seakan tidak ada yang terjadi sebelumnya.
"Parah lu. Habis ini mau jurusan apa lagi? Hati-hati, dia anak mesin," pesan Alfa.
***
Jam istirahat makan siang yang pendek memang tidak pernah gagal membuat Bulan melatih kecepatan mengunyahnya. Buktinya, sekarang ia sudah selesai menghabiskan satu kotak nasi dan memilih untuk duduk di bawah pohon rindang seraya menikmati suasana siang ini. Sejujurnya ia malas mengikuti pengenalan kampus yang biasanya dirancang agar setiap mahasiswa baru saling mengenal satu sama lain. Padahal di akhir mereka semua kebanyakan terpisah karena beda fakultas, beda hobi, beda pemikiran, dan perbedaan lain yang mengharuskan mereka untuk berhenti bersama. Namun, gadis itu hanya pasrah dan mengikuti peraturan kampusnya. Lagi pula kampusnya termasuk kampus yang tidak banyak menuntut dalam masalah pengenalan kampus.
Gadis dengan manik cokelat itu mulai merasa bosan menunggu acara selanjutnya kembali dimulai. Tangannya bergerak untuk mengikat rambutnya yang dari tadi pagi tergerai karena cuaca Bandung sudah semakin panas. Maniknya menatap teman-temannya yang sedang menikmati makan siang, ada yang mengobrol, ada yang tiduran, bahkan ada yang pacaran. Sudut bibirnya terangkat melihat semua kegiatan itu. Andai saja Gunung sekarang satu kampus dengannya mungkin ia sekarang mengisi waktu kosongnya dengan pacaran. Lucu memang tapi semua itu hanya bisa ia bayangkan dan tidak akan pernah terjadi. Mungkin hal itu sempat akan terjadi jika tahun lalu ia tidak mengundurkan diri dari kampus yang sama dengan kampus pacarnya itu di Jakarta. Namun, gadis itu juga tidak menyesal akan pilihannya untuk kembali belajar keras agar bisa masuk kampus ini. Mungkin semua orang akan berpikir bahwa ia memilih Institut Teknologi Bandung sebagai kampusnya hingga rela untuk gapyear karena kampus ini adalah salah satu institut terbaik bangsa. Sayangnya hal itu tidak sepenuhnya benar dan tidak perlu juga orang lain tahu alasan lain di balik itu.
Bulan masih saja menikmati pemandangan kali ini hingga sebuah suara tamparan berhasil mengalihkan pandangannya. Di salah satu sudut jalan yang tidak jauh dari tempatnya duduk, ia melihat cowok yang kemarin mengantarkannya ke apartemen ditampar oleh seorang gadis. Bulan tidak berniat untuk menyaksikan hal bodoh itu tapi sayangnya ada hal yang membuatnya tertarik. Cowok dengan manik hitam itu bahkan tidak terlihat bersalah, kesakitan, atau marah akan perlakuan gadis tadi. Dia hanya diam dengan wajah datarnya. Bahkan, cowok yang ia kenal dengan nama Gamma itu tidak peduli terhadap tatapan teman-temannya yang seakan ingin tahu apa yang terjadi antara dua insan yang sepertinya dilanda masalah itu.
"Gila tuh cewek. Cowok cakep dia tampar," ujar seorang gadis yang baru saja duduk di samping Bulan. Bulan melirik teman yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu itu dan tersenyum kecut.
"Mungkin dia cowok brengsek," balasnya tanpa rasa bersalah.
"Lu kenal dia? Jangan asal ngomong, dong. Lu nggak dengerin materi dari kakak mentor tadi? Tidak boleh menyebarkan hoax," ujar temannya itu membuat Bulan tertawa renyah.
"Dih lu malah ketawa. Emang ada yang lucu?" protes gadis yang merupakan teman Bulan itu.
"Lu lucu," balas Bulan dengan tawa yang mulai mereda.
"Dih. Eh, menurut lu kating yang tadi ditampar itu cakep, nggak?"
"Nggak." Gadis yang tadinya duduk di samping Bulan itu mendengkus dan memilih bangkit lalu meninggalkannya kembali sendirian di bawah pohon rindang. Lucu memang, terkadang sebuah pendapat yang tidak sepaham bisa membuat orang lain menjauhi kita tanpa penjelasan yang jelas atau mungkin tanpa penjelasan sedikit pun. Bulan sudah hafal akan siklus meninggalkan tanpa penjelasan atau mungkin ia sudah terlalu fasih mengenai hal itu.
***
Sebuah motor hitam berhasil terparkir rapi di sebuah rumah megah. Pengendaranya turun dan segera melangkahkan kakinya menuju pintu besar rumah itu. Masih di depan pintu, suara tawa bahagia memenuhi indra pendengaran Gamma. Ia mengenal jelas kedua tawa yang saling bersahutan itu. Gamma mengembuskan napas berat sebelum menarik kedua sudut bibirnya untuk menciptakan seulas senyum lalu memasuki rumah dengan cat abu-abu itu. Maniknya menangkap dua insan yang sedang duduk di sofa sambil menonton acara di televisi. Pemilik manik hitam itu menyunggingkan senyum nakalnya dan segera melangkah mendekati kedua insan tadi.
"Gue mau nonton juga kali," sahutnya santai sambil memakan camilan berbentuk bintang yang baru saja ia ambil dari meja.
"Bang Gamma mah gitu, sukanya ngerecokin. Ih," gerutu cowok yang tadi menonton televisi bersama gadis berambut cokelat itu malah ikut menyalahkan Gamma.
"Ape lu ikut-ikut aja! Main ke sini jangan cuman bawain adek gue makanan, Abangnya juga!" balas Gamma seraya mengambil alih secangkir latte yang ada di genggaman adiknya.
"Abang ih, main nyambar aja! Kalo mau nonton tuh nonton aja, banyak cincong!" protes Gemi. Gadis dengan netra abu-abu itu menatap tajam Gamma. Namun, yang ditatap tidak merasa gentar sedikit pun.
"Udah, Gem. Abang lu tuh lagi butuh belaian," goda Fikar dengan nada mencibir. Pemilik manik hitam itu beralih menatap cowok yang berada di sampingnya.
"Apa lu bilang? Butuh belaian? Emang lu? Minta dibelai adek gue terus! Pulang sono! Udah tahu kelas 12 masih aja ngapel," balas Gamma, sarkas. Sedang yang diajak bicara malah tertawa keras membuat Gamma menatapnya tajam.
"Buat apa dia belajar, Bang kalo udah lulusan S-2 University of New South Wales juga. Dia tuh sombong, Bang. Udah gelar master, masih aja sok sekolah SMA." Kini Gemi malah membela Kakaknya.
"Iya nih, mentang-mentang master. Jadi bosnya perusahaan Fabian, seenaknya aja grepe-grepe adek gue!"
Pltuk
"Sembarang! Gue bukan cewek murahan!" Gemi memukul kepala Gamma dengan tutup stoples yang ada di meja. Kemudian, gadis itu memilih bangkit dan melangkahkan kakinya.
"Cielah ngambek, Mbaknya."
"Diem lu, gue mau bikin mi! Daripada gue makan lu ntar lagi." Gadis itu masih saja menjawab ledekan Gamma seraya terus melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Gue buatin juga, Gem!" pinta Fikar setengah berteriak pada kekasihnya itu.
"Eh, emang adek gue pembantu lu apa?"
"Apaan sih Bang, mau gue buatin juga kagak lu?" tanya Gemi yang ikut setengah berteriak dengan nada tinggi agar suaranya terdengar ke ruang keluarga.
"Gak, males. Takut gendut," sahut Gamma dan memilih bangkit untuk menuju ke kamarnya.
"Mau ke mana, Bang?" tanya Fikar.
"Atas," balas Gamma sambil menunjuk kamarnya menggunakan dagu.
"Bang, tuh pipi kenapa merah?" Fikar kembali bertanya saat menyadari pipi kiri kakak dari pacarnya itu terlihat lebih merah daripada bagian yang lain.
"Biasa," jawab Gamma dan memilih melanjutkan langkahnya.
Gamma mendekati sebuah meja cokelat yang di atasnya ada sebuah laptop berwarna abu-abu. Tangannya bergerak menyalakan benda tipis itu. Embusan napasnya kembali terdengar ketika jemarinya mulai bergerak mengetikkan deret aksara. Maniknya memejam untuk beberapa saat, menikmati angan yang kembali membawanya bernostalgia dalam hangatnya aksara yang sedang ia rangkai. Jemarinya lanjut bergerak bersamaan dengan kelopak matanya yang membuka. Sudut bibirnya terangkat ketika kembali memainkan jemarinya, menekan-nekan keyboard pada laptopnya. Entahlah, ia tak tahu semenjak kapan dirinya mulai menuliskan deret aksara yang bisa dibilang penuh sirat ini. Yang ia tahu, kumpulan aksara itu sudah cukup menggerogoti memori laptopnya. Ia terlalu sering menuliskan deret puisi itu. Mungkin saat hatinya melebur, ia memulai semua ini. Hanya saja, semenjak kapan hatinya melebur?
Gamma tersenyum kecut sesaat membaca ulang deret huruf yang ada di layar laptopnya. Kembali ia mengembuskan napas, rasanya sesak sekali. Seakan ada sesuatu yang membuatnya sulit bernapas saat ini. Wajahnya berpaling dan memilih menatap pintu balkon kamarnya, lebih tepatnya menatap sinar matahari yang menyelusup melalui kaca pintu dan gorden yang terpasang di sana. Ia menghirup udara dan menahannya cukup lama lalu kembali beralih pada laptopnya. Kini, ia membuka sebuah folder yang penuh dengan berkas berisi semua deret aksara yang pernah ia tuliskan. Jika saja ia mengikuti lomba puisi, mungkin saja ia memenangkan tiap lombanya. Apalagi deret itu selalu saja bisa mengiris hati setiap pembacanya, membuat pembacanya seakan tak ingin berada di posisi penulis. Cowok itu membasahi bibirnya yang kering, ia kembali membuka file-file lama, saat ia pertama kali menuliskan deret aksara yang tersusun rapi itu.
"Parah nih tulisan," gumamnya dengan senyum kecut di akhir kalimatnya.
"Dah macem Sapardi Djoko gue." Cowok itu kembali memandang layar laptopnya.
"Ah, jangan ah. Tidak untuk dipublikasikan, nanti yang baca pada sakit hati, dong. Rumah sakit bakal penuh, kasian dokter yang urusin kewalahan gara-gara gue. Hahaha," ucapnya seraya menutup beberapa file yang tadi sempat ia buka.
"Untung kaga ada yang tahu. Coba ada, dah suruh ikut lomba puisi nih gue. Bakal terkenal gue, viral sampe ngalahin aktor cakep yang lagi booming. Haha," Gamma tertawa sendiri di kamarnya, seakan ia mengejek dirinya sendiri karena terlalu kalut dalam masalahnya hingga melampiaskan semuanya melalui tulisan. Ia menutup benda pipih berwarna silver itu setelah layarnya gelap. Kini ia melangkah menuju ranjang berukuran besar yang terletak di salah satu sisi kamarnya. Tangannya sempat meraih ponsel yang ada di nakas sebelum tubuhnya ia baringkan di kasur empuk yang dibalut dengan seprai berwarna biru itu. Manik hitam milik cowok itu menangkap beberapa pesan yang ia terima. Gamma membuka pesan dari gadis yang sempat ia temui tadi.
Elara
Gamma
Cowok bajingan lu!
Gak punya perasaan!
Kenapa lu jalanin semua ini kalo lu nggak bisa bertahan?
Bego lu! Cowo lemah!
Gamma tersenyum kecut membaca pesan yang ia terima, ia tak berniat membalasnya. Memang, ia cowok lemah, ia sadar akan hal itu. Lemah, ia tak bisa menyelesaikan pertikaian dalam hatinya sendiri. Tak bisa membuatnya bangkit dalam hal itu. Mungkin Elara bukan lah satu-satunya gadis yang mengatakan bahwa dirinya lemah. Tenang saja, Gamma tak akan menyangkal akan hal itu.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita