Eclipse

Eclipse
Eclipse 21



~Semua yang tiba-tiba tidak harus dipahami sekarang~


***


Gamma mengembuskan napas berat sesaat berhasil mematikan mesin mobil yang sudah ia parkirkan rapi di garasi rumahnya. Hari yang cukup panjang dan berat baginya. Semua terjadi begitu saja tanpa memberikan firasat sedikit pun. Bahkan, ia mengetahui kisah mengenai gadis yang tiba-tiba saja masuk ke kehidupannya. Lantas, apa lagi yang akan terjadi selanjutnya? Apakah ini sudah cukup? Atau masih akan ada kejutan lain yang sebenarnya semesta sudah siapkan untuknya? Gamma mengusap wajahnya sebelum mengambil ransel yang ia letakkan di kursi belakang dan segera keluar dari mobil.


Kaki Gamma bahkan terasa cukup berat saat dilangkahkan. Rasanya ada beban berat yang diikatkan pada kedua kakinya. Dengan susah payah, ia berusaha membawa tubuhnya mendekati pintu utama rumah dengan cat abu-abu itu. Gagang pintu yang dingin semakin membuatnya ingin segera masuk dan bergegas ke kamarnya lalu berbaring sepuasnya. Namun, baru saja Gamma menutup kembali pintu utama itu, tubuhnya langsung ditubruk oleh seseorang yang memeluknya erat. Gamma terkesiap tapi membalas pelukan itu. Maniknya yang sebenarnya sudah ingin untuk dipejamkan itu menatap koper yang berada di dekat sofa dan berada tepat di depannya. Gamma mengurai pelukannya dan menatap manik seseorang yang baru saja memeluknya itu. Gamma tidak mengerti arti tatapan itu tapi ia rasa ada yang aneh.


"Papa mau pergi lagi?" tanyanya tak tertahankan.


"Iya, ke luar kota."


"Tunggu, wajah Papa kenapa?" tanya Gamma yang mulai panik melihat beberapa lebam di wajah Dandi. Dandi menjauhkan tangan Gamma yang hendak menyentuh lebam di wajahnya, ia juga memilih untuk memalingkan wajahnya.


"Nggak apa-apa. Tadi sempet ada orang gila yang mukulin Papa. Sudah diobatin sama Gemi dan Mama, kok. Papa baik-baik aja," ujar Dandi berusaha meyakinkan putranya itu. Gamma berusaha menatap manik milik Dandi yang selalu menghindar itu.


"Papa yakin? Kayaknya kalimat itu juga berlaku untuk Papa," cetus Gamma.


"Kalimat apa?" tanya Dandi yang sempat melirik manik Gamma sejenak lalu kembali dialihkan ke arah lain.


"Mengenai urutan melindungi, lindungi diri sendiri dulu baru orang lain." Dandi diam, lidahnya kelu.


"Papa sayang Gamma," ucap Dandi dan kembali memeluk putranya itu, kali ini lebih erat. Namun, Gamma kali ini tidak membalas pelukan itu dan malah mengurainya. Tangannya bergerak menepuk pundak Dandi.


"Papa pasti sudah pamit sama yang lain, kan?" tanya Gamma yang hanya dijawab dengan anggukan kecil.


"Bagus kalo gitu, sekarang Papa bisa langsung pergi. Sudah ketemu Gamma, kan? Takut telat. Gamma mau naik dulu, istirahat. Gamma capek," pungkas pemilik manik hitam itu dan meninggalkan Dandi yang bahkan merasa belum cukup berpamitan pada putranya itu. Namun, ia sangat mengenal Gamma dan lebih memilih untuk mengalah kali ini.


Gamma segera melempar ranselnya ke kasur sesaat memasuki kamarnya. Ia melangkah cepat ke arah jendela dan membuka gordennya sedikit. Maniknya menatap Dandi yang sedang memasukkan koper ke bagasi. Jujur saja, Gamma masih merasa ada yang berbeda dari papanya itu. Ini adalah kali pertamanya ia melihat Dandi datang padanya dengan wajah lebam ditambah lagi pria itu memeluk Gamma sangat erat. Gamma memejamkan matanya sebelum memilih untuk membuka pintu balkon. Maniknya menatap mobil yang ditumpangi Dandi mulai menjauh dari pelataran rumah. Masih banyak pertanyaan yang ada di kepala Gamma tapi ia juga tahu bahwa tidak semua pertanyaan harus ada jawabannya sekarang.


***


Mandi tengah malam tampaknya cukup ampuh untuk mengobati pusing di kepala Gamma. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk sebelum memilih untuk kembali ke meja belajarnya. Bagi Gamma, belajar adalah salah satu hal yang bisa membuatnya melupakan sejenak masalah hidupnya. Namun, hal itu tidak selamanya berlaku padanya karena bagi Gamma akan ada masa saat ia benar-benar tidak bisa mengalihkan pikirannya sedikit pun hingga masalah itu benar-benar selesai atau setidaknya Gamma tahu sedikit jawaban atas masalahnya. Tangannya bergerak membuka sebuah buku yang ia ambil dari rak. Baru selesai membaca kalimat pertama, tangannya kali ini bergerak untuk mengambil sebungkus permen karet lalu memakannya.


Gamma masih berkutat dengan buku dan pulpennya hingga nyala layar ponsel yang berada tidak jauh darinya mengalihkan pandangannya. Ia meraih ponselnya dan langsung menerima panggilan itu saat pertama kali membaca nama kontak yang baru saja memanggilnya.


"Iya kenapa?" tanya Gamma dengan nada setengah khawatir.


"Hmm, belum tidur ya?"


"Perlu dijawab emang?" tanya Gamma balik, hanya terdengar suara tawa kecil di seberang sana.


"Besok libur, begadang buat apa?" tanya gadis yang berada di seberang sana.


"Haha. Lah lu sendiri bukannya tidur juga," balas Gamma yang sudah mengabaikan bukunya dan sekarang sibuk dengan ponselnya.


"Kenapa? Masih sedih? Hmm?" tanya Gamma lagi.


"Perlu ya dijawab?" Gamma tertawa kikuk mendengar kalimat itu dilontarkan oleh Bulan.


"Jadi, kenapa?"


"Hmm. Lu udah tahu tentang orang tua kandung gue?" tanya gadis itu. Gamma hanya berdeham kecil sebagai jawaban. Ia tidak tahu mengapa Bulan tiba-tiba menghubunginya tengah malam dan sekarang malah membicarakan hal ini. Gamma yang sedari tadi duduk nyaman di kursi belajarnya, sekarang beranjak dan memilih untuk duduk di tepi kasurnya.


"Gue dikasih alamat terakhir sama polisi. Gue pengen ke sana besok pagi. Katanya rumahnya sudah kosong sih tapi gue masih pengen ke sana. Kali aja gue dapet sesuatu," ujar Bulan. Gamma mengembuskan napas pelan mendengar rencana gadis bernama Bulan itu. Ia ingin sekali melarang gadis itu untuk pergi karena pada akhirnya Bulan juga tidak akan dapat apa-apa dan mungkin hanya akan membuka luka baru lagi. Namun, Gamma siapa yang berhak melarang gadis itu. Terlebih, Gamma tidak tahu apa yang sudah Bulan lakukan dan korbankan hingga detik ini untuk mencari tahu semua yang didapat gadis itu.


"Gimana? Lu mau nemenin gue? Kalo nggak juga gue bisa berangkat sendiri," tanya gadis itu saat Gamma tak kunjung menjawab.


"Eh, gue mau kok. Siapa bilang nggak mau? Cepet banget dah ambekannya," sindir Gamma.


"Yaudah besok jemput gue ya di apartemen," pesan Bulan.


"Lu yakin mau pagi? Sekarang udah tengah malem loh, sore aja gimana? Biar lu juga ada waktu buat istirahat," saran Gamma.


"Hmm tapi gue pengen cepet-cepet."


"Iya gue ngerti tapi ya gimana. Gue juga capek, butuh istirahat dulu. Gimana?" tawar Gamma berusaha meyakinkan gadis itu. Setelah menunggu cukup lama dengan hati yang cukup gelisah, khawatir gadis bernama Bulan itu marah tapi akhirnya Bulan menyetujuinya.


"Gunung nggak lu ajak?" celetuk Gamma.


"Gue nggak berani. Takut dia ngelarang," aku Bulan.


"Bulan, dia itu pacar lu. Dia berhak tahu itu, iya emang cuma pacar tapi dia bahkan udah janji buat selalu ada pas lagi lu butuhin. Dia sayang banget sama lu, coba lu bayangin misal ada apa-apa sama lu dan dia tahu apa yang lu lakuin dari orang lain. Sakit rasanya, Bulan. Dia orang yang paling sayang sama lu, mungkin. Jadi tolong setidaknya kabarin dia, lebih bagus lagi kalo lu ajak," saran Gamma.


"Iya sama-sama. Cepetan tidur."


***


Bulan baru saja menyampirkan tasnya sebelum meraih ponsel yang berada di nakas. Ia segera mengutak-atik layar ponselnya sebelum menempelkannya ke telinga. Ia masih menunggu panggilan itu tersambung sambil terus melangkah menuju lift untuk turun. Ia mengembuskan napas saat panggilan pertama tak kunjung diterima.


"Halo, Lang!" sergah Bulan sesaat nada sambungan sudah berhenti dan menandakan panggilan sudah terhubung dengan orang di seberang sana.


"Akhirnya. Dari kemarin gue lu cariin," ujar Langit terdengar sangat girang.


"Gue izin ya buat hari ini nggak masuk kerja dulu," ujar Bulan langsung pada intinya dengan langkah yang terus mendekati pintu keluar.


"Kenapa?"


"Ada hal yang harus gue lakuin dulu," jawab Bulan tapi tiba-tiba sambungan telepon terputus tepat ketika Bulan sudah berada di luar apartemen. Ia berdecak dan mencoba menghubungi Langit kembali hingga sebuah panggilan membuat Bulan mengurungkan niatnya. Gadis itu menoleh ke arah asal suara hingga membuatnya terperenjat.


"Lu ngapain di sini?" tanya Bulan yang tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Kenapa lu kaget gitu?" Alih-alih menjawab pertanyaan Bulan, Langit balik bertanya.


"Ya lu ngapain di sini?" Bulan mengulangi pertanyaannya hingga terdengar berputar-putar.


"Lu kemarin ke mana? Nggak ada kabar sama sekali. Sekarang lu izin tiba-tiba," ucap Langit menatap gadis yang ada di hadapannya itu.


"Gue ada perlu. Tolong izinin gue dulu ya," pinta Bulan dengan kepala yang sedikit mendongak agar dapat menatap Langit yang lebih tinggi darinya. Langit memegang dagu gadis di hadapannya itu.


"Lu kasih tahu dulu lu mau ke mana," tegas Langit memberikan syarat. Gadis bernama Bulan itu mengembuskan napas pelan dan mengalihkan pandangannya membuat tangan Langit yang ada di dagunya lepas.


"Gue mau ke rumah orang tua kandung gue." Akhirnya Bulan mengalah dan memilih jujur.


"Maksudnya rumah yang mereka tinggali sebelum mereka meninggal?"


"Kok lu tahu?" tanya Bulan mulai curiga.


"Hm itu nggak penting. Toh jadi lebih baik, kan? Lu nggak perlu jelasin dulu," balas Langit berusaha bersikap setenang mungkin. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia mendengar pembicaraan Bulan dan Gamma di parkiran kala itu. Bulan hanya mengedikkan bahunya tidak ingin memikirkan hal itu terlalu lama.


"Gue ikut, ya."


"Ha? Ngapain? Nggak perlu, gue udah sama Gamma. Maksud gue, lu nggak usah repot-repot karena ini juga sebentar," tolak Bulan masih berusaha memberi alasan yang cukup dapat diterima tapi Langit tetap lah Langit.


"Gue nggak merasa direpotin. Emang nggak boleh ya? Gue cuman ikut doang, kok. Gue anter," bujuk Langit masih berusaha.


"Nggak perlu, gue dijemput Gamma."


"Lu telfon Gamma aja, suruh langsung ke tempat. Lu kasih alamatnya ke dia, biar lu sama gue. Kasian Gamma masih perlu ke sini dulu, kan ada gue. Gimana?" Langit masih terus berusaha membuat Bulan berdecak dan memilih untuk mengalah karena jika tidak, perkara ini akan menjadi lebih lama lagi.


"Halo, Gam. Lu udah berangkat belum?" tanya Bulan setelah panggilannya tersambung dengan pemilik manik hitam itu.


"Lagi di jalan. Baru berangkat, sih. Maaf ya tadi adik gue masih nangis jadi gue tenangin dulu. Gue meluncur sekarang,"


"Eh eh nggak usah. Gue minta tolong aja sama lu, tolong jemput Gunung di pusat kota karena dia nggak tahu arahnya. Boleh ya? Tadi malem kan udah gue share lokasi tujuan kita. Ya?" Bulan memohon.


"Lah, lu gimana?"


"Gampang mah itu. Kita ketemu di sana ya. Makasih, Gamma." Bulan memutuskan sambungan secara sepihak dan memasukkan ponselnya ke tas yang ia sampirkan di bahu kirinya itu.


"Siapa Gunung?"


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita