Eclipse

Eclipse
Eclipse 9



~Kamu tidak akan tahu seberapa dalam lembah yang Tuhan ciptakan untukmu~


***


Masih dengan baju tidurnya, Gamma menuruni tangga dan melangkah mendekati meja makan. Maniknya menatap Bi Min yang langsung sigap memberikannya piring bersih, Gamma tersenyum sebagai balasan. Suara langkah kaki membuatnya menoleh dan mendapati Dandi yang sedang merapikan dasinya. Pria itu duduk di samping Gamma yang sedang menyendokkan nasi ke mulutnya. Gamma menyodorkan piring bersih yang berada di dekatnya kepada pria itu.


"Kamu nggak ada kelas?" tanya Dandi sambil mengambil sedikit nasi.


"Ada tapi nanti cuma satu matkul," jawab Gamma.


"Oh iya, Gemi udah berangkat ya, Bi? Soalnya dia nggak bangunin saya tadi pagi," tanya Gamma pada wanita paruh baya yang menuangkan susu pada gelas Dandi.


"Iya, A' tadi Neng Gemi sama Aa' Fikar berangkatnya." Gamma mengangguk mendengar jawaban itu dan melanjutkan makannya. Hening setelahnya, hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu.


"Gimana kuliahnya?" Dandi kembali bertanya setelah berhasil menghabiskan sarapannya.


"Normal. Kenapa, Pa?" Gamma balik bertanya tapi pria yang mengenakan jas hitam itu hanya tersenyum lalu menegak segelas susu yang sudah disediakan untuknya.


"Nggak apa-apa. Bagus kalo gitu. Oh iya, kamu tahu urutan melindungi, kan?" Pertanyaan Dandi sukses membuat Gamma berhenti menyuapkan nasi ke mulutnya. Ia menoleh dan menatap manik Dandi yang sedang menatapnya sendu. Pemilik manik hitam itu mengangkat sebelah alisnya.


"Kenapa natap Papa begitu? Kamu belum jawab pertanyaan Papa," ujar Dandi mengingatkan. Gamma masih diam, ia bingung apa yang harus ia jawab.


"Kalo kamu bingung, Papa bantu. Hal pertama yang harus kamu lakukan untuk melindungi seseorang adalah lindungi dirimu dulu. Kamu harus bisa memastikan bahwa kamu aman karena kalo nggak, gimana orang lain akan merasa aman ketika kamu sendiri merasa nggak aman dan nggak bisa melindungi diri sendiri. Paham?" tanya Dandi berusaha memastikan. Gamma mengangguk pelan tapi masih menatap wajah Dandi yang juga menatapnya tajam itu.


"Kenapa ngeliatin Papa kayak gitu?"


"Nggak, Gamma ngerasa aneh aja kenapa Papa tiba-tiba tanya hal itu. Buat Gamma itu aneh," aku Gamma.


"Nggak ada yang aneh, Nak. Di keluarga ini, kamu adalah orang kedua setelah Papa yang akan melindungi keluarga ini. Mungkin juga nanti melindungi orang lain, kan? Papa yakin kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Kamu laki-laki yang kuat dan tangguh. Anak Papa yang hebat. Udah, dilanjut makannya. Papa mau berangkat," pungkas pria yang sekarang bangkit dan meninggalkan Gamma sendirian di meja makan itu.


Gamma kembali menatap nasi yang masih tersisa seperempat di piringnya itu. Pertanyaan Dandi tadi sedikit mengganggu baginya, seakan ada yang aneh tapi ia sendiri tidak tahu itu apa. Ia rasa tidak ada yang berbeda di keluarganya, semua masih sama dan aman saja. Ia mulai mengingat kejadian beberapa hari, minggu, hingga bulan ke belakang, mencari hal-hal yang menurutnya aneh dalam hidupnya tapi nihil. Cowok dengan manik hitam itu masih tidak menemukan titik hitam yang membuat Dandi membahas tentang lindung-melindungi.


"Ah, Papa kan emang suka begitu. Suka bahas sesuatu tiba-tiba dan kadang nggak jelas," gumamnya seraya kembali menyendokkan makanan ke mulutnya.


"A' nanti Bibi mau ke supermarket, A' Gamma mau nitip apa? Permen karet kayak biasanya?" tanya wanita paruh baya yang sedang membereskan meja makan itu.


"Oh iya, Bi. Nanti belinya agak banyakan, ya. Gamma akhir-akhir ini boros banget," pesan Gamma.


"Siap."


***


Gamma yang biasanya meninggalkan kelas paling akhir kini menjadi yang paling awal. Bahkan, selisih beberapa detik dengan dosen yang baru meninggalkan kelas yang sama. Dengan setengah berlari, pemilik manik hitam itu bergegas menuju parkiran seraya berharap ia tidak terlewat karena beberapa menit yang lalu Gemi mengabarinya kalau ia sudah pulang dan dijemput Fikar. Sekali lagi, Gamma adalah seseorang yang penurut walaupun ia keras kepala. Apalagi yang memintanya adalah seseorang yang sangat ia jaga agar tidak pernah pergi lagi dari hidupnya, tentu saja Gamma enggan untuk menolak.


Buugh


Sebuah pukulan mendarat mulus di pipi kanan Gamma hingga membuatnya tersungkur karena tidak siap. Ia bangkit dengan sigap dan balas memukul wajah seseorang yang baru saja menyalakan api dengannya.


Buugh


Buugh


Seakan tidak cukup memukuli Gamma sekali saja, cowok tadi kembali menghujami pemilik manik hitam itu dengan dua pukulan sekaligus.


"Lu siapa, sih? Brengsek!" pekik Gamma seraya membalas pukulan tadi.


"Lu yang brengsek!" balas cowok tadi diikuti pukulan di wajah Gamma.


"Kalian kaliaaan. Berhenti!" pekik seorang gadis yang berlari ke arah keduanya.


"Yang lain tolong pisahin mereka!" pekiknya lagi tapi tidak ada yang berani bergerak satu senti pun. Galuh, cowok yang cukup beringas dan jarang ada orang yang berani berurusan dengannya. Bahkan, sekadar memisahkan perseteruan yang terjadi antara Gamma dan Galuh tidak ada yang berani melakukannya karena tidak ada satu pun yang ingin mendapat getahnya.


"Lu kurang puas nyakitin dia?" teriak cowok bernama Galuh itu dan untuk kesekian kalinya menjatuhkan pukulan keras pada lawannya. Elara terus memekik dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Banyak bacot, lu!" desis Gamma dan balas menghujami Galuh dengan pukulan tanpa henti. Galuh tidak sadar bahwa ia baru saja membangunkan macan tidur.


"Gamma udah Gamma udah!" mohon Elara seraya berusaha menarik tangan Gamma yang masih kalap memukuli Galuh. Gamma berhenti sejenak dan beralih menatap gadis yang tadi memohon di sampingnya itu.


"Ini balesan lu ke gue? Oke, kita impas."


Buugh


Sebuah tonjokan kembali menyentuh pipi kiri Gamma. Ia tersenyum kecut dan memilih menatap cowok yang baru saja memukulnya untuk kesekian kali walau dengan napas tersengal itu. Keduanya saling menatap manik satu sama lain dengan tajam.


"Lu suka sama dia?" tanya Gamma santai. Cowok di hadapannya itu tak menjawab dan memilih menghapus darah yang menetes dari hidungnya. Gadis bernama Elara yang masih ada di sana berusaha membuat Galuh melepaskan tatapannya dengan Gamma melalui tarikan tangannya.


"Cara lu tolol!" sembur Gamma membuat Galuh kembali menjatuhkan tinjunya hingga membuat Gamma tersungkur.


"Lu ambil dia! Sekalian sama ini!"


Buugh


Gamma membalas pukulan tadi hingga membuat cowok bernama Galuh itu terduduk.


"Gam udah, please. Ya?" rengek gadis berambut hitam yang juga terduduk memegangi teman satu jurusannya itu.


"Lu yakin tanya gue? Yang mulai siapa? Tapi kayaknya dia udah nggak mampu," balas Gamma dan memilih meninggalkan tempat itu. Galuh masih berusaha bangkit untuk membalas kalimat Gamma tadi tapi ditahan oleh Elara.


Gamma yang mengingat akan suatu hal melirik jam tangannya sebentar dan langsung berlari. Dengan napas yang sedikit tersengal karena energinya sudah terserap banyak akan kejadian yang tiba-tiba tadi, ia masih berusaha untuk menambah kecepatannya agar tidak melewatkan apa yang harusnya ia lakukan.


***


"Itu dia! Lama sumpah, kayak siput. Mana gue laper." Cowok itu kembali mengeluh lalu menghampiri gadis dengan wajah tidak bersalah itu.


"Ih, kebiasaan. Lepas!" teriak gadis itu saat Gamma menariknya menuju mobil. Gamma tak menjawab, tenanganya sudah hampir habis hanya untuk sekadar membalas ocehan gadis yang sedang ia tarik-tarik bak anak kecil tak mau pulang dari tempat bermain.


"Masuk!" perintah Gamma saat gadis tadi sudah ia bawa ke depan pintu mobil hitam miliknya. Bulan berdecih seraya memutar bola matanya malas dan memilih membuka pintu mobil dengan kasar.


Gamma duduk di kursi kemudi tapi tak kunjung menghidupkan mesin mobilnya hingga membuat gadis di sampingnya memandang ke arahnya.


"Apa?" ketus Bulan.


"Jalan! Tadi narik-narik gue."


"Gue bukan sopir lu yang bisa lu suruh-suruh!" tegas Gamma. Gadis itu tersenyum kecut.


"Bukan sopir, tapi anter jemput. Cowok aneh, pemaksa," batin Bulan.


"Sini hp lu!" desak Gamma dengan tangan kiri yang menengadah di samping gadis tadi.


"Hah?" Pemilik manik cokelat itu memandang tangan Gamma yang menengadah.


"Sini!" paksa Gamma.


"Buat apa?"


"Udah sini," paksa Gamma sekali lagi.


"Dasar pemaksa!" umpat gadis berambut cokelat itu seraya memberikan sebuah benda pipih berwarna merah. Gamma meraihnya, mengutak-atiknya sebentar. Tak lama, ponsel Gamma berdering. Namun, dering itu tidak berlangsung lama dan Gamma segera mengembalikan benda pipih berwarna matcha milik gadis bernama Bulan itu.


Bulan melirik ponselnya. "Cowok cakep?" bacanya. Ia segera memiringkan tubuhnya, menatap cowok yang sekarang sedang memandang ponselnya.


"Apa?" Gamma menaikkan sebelah alisnya saat menyadari gadis di sampingnya sedang menatapnya.


"Siapa cowok cakep? Ha?" tanya gadis itu lantang.


"Telfon aja, nanti lu tahu." Gadis itu berdecak, sebenarnya ia tahu bahwa kontak dengan nama 'Cowok Cakep' itu milik Gamma. Namun, entahlah ia hanya ingin saja mencoba.


Dering ponsel terdengar. Gamma menunjukkan ponselnya.


"Kenapa lu kasi nama 'Cewek Aneh'?" kesal Bulan.


"Udah diem jangan banyak cincong lu. Gue pegel nungguin lu. Ya kali terus-terusan gue nungguin lu nggak jelas kayak gini, gak bisa nanyain ada di mana. Kan jadi kebuang waktu berhaga gue."


"Gak usah sok memelas." Gamma tak menjawab, ia memilih menyalakan mobilnya dan melajukannya menjauhi area kampus.


"Kita makan dulu, gue laper."


Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan. Gamma fokus pada jalan yang ada di depannya seraya berusaha melupakan kejadian yang menyebalkan tadi walau sebenarnya ia masih bisa bersyukur karena Bulan masih belum pulang dan ia bisa memenuhi janjinya untuk mengantarkan gadis itu pulang walau selalu disertai pemaksaan yang tak kunjung usai. Sedangkan Bulan masih sibuk dengan ponselnya dan enggan menoleh sedikit pun pada cowok yang sedang mengemudikan mobil itu. Keduanya hanyut dengan dunianya masing-masing hingga mobil berhenti di sebuah warung kaki lima yang ternyata tidak jauh dari kampus.


Gamma memesan dua porsi mi ayam dan duduk di salah satu meja kecil yang disediakan.


"Bibir lu kenapa?" tanya Bulan yang menyadari bibir Gamma tampak berdarah dan ada sedikit lebam di daerah lainnya.


"Peduli apa lu sama gue?" Gamma balik bertanya dengan senyum kecutnya membuat Bulan merasa menyesal melontarkan pertanyaan barusan. Keduanya diam hingga dua mangkuk mi ayam mendarat di meja. Gamma melahap makanan yang ada di hadapannya. Sedangkan Bulan hanya melihat cowok itu makan tanpa menyentuh makanannya sendiri.


"Lu kelaperan banget ya?"


"Diem! Di depan lu tuh ada buat di makan, bukan dianggurin." Gadis itu mengambil garpu dan mulai menggulung mi miliknya.


"Lu nggak alergi, kan?" tanya Gamma setelah menelan makanan yang ada di mulutnya.


"Ha?"


"Maksud gue, lu nggak alergi makan di warung kaki lima, kan?" Gadis tadi merespons dengan anggukan dan mulut yang berbentuk huruf o.


"Nggak. Emang kenapa? Di sini bersih, kok. Enak juga, sih." Gamma tersenyum tipis memandang gadis yang sekarang kembali memasukkan gulungan mi ke mulutnya.


"Ternyata lu nggak seaneh itu ya."


"Makanya! Sok nilai gue lu. Paling juga lu yang aneh." Baru beberapa detik yang lalu Gamma memuji gadis tadi, lalu sekarang gadis itu malah memakinya.


"Nyesel gue ngomong! Nyesel!" umpat Gamma seraya memasukan mi ayam ke dalam mulutnya dengan kasar.


"Gue liat-liat lu sering banget pake jaket. Kenapa?" tanya Gamma setelah hening beberapa saat. Gadis tadi hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu.


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita