
~Hanya ada dua pilihan, semesta memulai semuanya atau semesta mengakhiri semuanya~
***
Bulan menggerutu sepanjang koridor dengan maniknya yang tertuju pada layar ponsel di genggamannya. Langkah gadis itu terhenti sesampainya di gerbang kampus. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu hingga sebuah klakson mobil mengangetkannya. Dengan wajah kesal, gadis itu segera melangkahkan kakinya mendekati mobil tadi. Sebelah tangannya berusaha membuka pintu mobil dan segera masuk.
"Gila, kesel gue. Apa coba? Dosennya lagi pms, ish." Gadis itu menggerundel sesaat bokongnya sudah mendarat rapi di kursi depan untuk penumpang. Cowok yang ada di kursi kemudi mengangangkat sebelah alisnya bingung.
"Kenapa?" tanyanya pada gadis yang sedang memakai seatbelt itu.
"Males sama dosen pms!" tukas Bulan
"Oh, mau gue ajak ke tempat seru, nggak?" tawar Gamma berusaha merubah mood gadis di sampingnya itu.
"Terserah!" Tampaknya Bulan masih kesal. Gamma tersenyum simpul menatap wajah gadis di sampingnya itu yang terlihat lebih lucu saat sedang kesal.
Mobil hitam itu melaju menjauhi area kampus. Pengemudinya melajukannya dengan kecepatan rata-rata. Gadis yang tadi sibuk menggerutu itu kini diam dengan pandangan menatap ke arah luar jendela. Gamma meliriknya sejenak dan kembali tersenyum menyadari Bulan yang sudah mulai tenang.
"Bagus," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari kaca mobil.
"Apanya?" tanya Gamma sambil melirik dan berusaha melihat apa yang Bulan lihat.
"Langit."
"Oh, lu suka langit ya? Atau cuman suka langit waktu siang?"
"Hmm, nggak juga. Ngomong-ngomong kita mau ke mana?" Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah cowok yang menatap ruas jalan di hadapan mereka.
"Timezone," balas Gamma melirik Bulan sekilas.
"Ha? Beneran? Gue suka main di sana!" sahut Bulan kegirangan.
"Lah, beneran suka?" tanya Gamma bingung.
"Iya, suka. Emang kenapa?"
"Gue kira lu kayak cewek lain. Ke mall belanja, ini suka diajak ke timezone. Mirip seseorang lu," ujar Gamma tanpa sadar.
"Ha? Seseorang siapa?"
"Oh, nggak. Padahal gue tadi cuman mau boongan, nih. Kok lu malah suka, sih?" Gamma seakan tak percaya dengan pengakuan Bulan tadi.
"Kok boongan? Jangan lah, main ya?" pinta gadis itu dengan wajah puppy eyes-nya.
"Nggak."
"Gamma ih, main. Lu udah ngajak tadi. Pundung nih, pundung!" rengek gadis itu bak anak kecil, membuat Gamma tertawa kecil dan mengingatkannya pada Gemi.
"Bodo!" Gadis tadi cemberut mendengar jawaban Gamma. Sedangkan Gamma menarik sebelah sudut bibirnya nakal.
Mobil hitam Gamma berhenti di parkiran sebuah mall di salah satu kota besar itu. Gadis yang sedari tadi memainkan ponselnya dengan bibir mengerucut itu mendongak. Seakan sedang kebingungan, ia tak berhenti celingak-celinguk.
"Ke mall? Jadi?" tanyanya kegirangan.
"Iya. Ayo turun," ucap Gamma.
"Yey! Gamma baik," kata gadis itu kegirangan hingga ia memeluk Gamma dari samping yang sedang membuka seatbelt. Gamma tercekat mendapat perlakuan dari gadis bernama Bulan itu.
"Ngapain lu? Lepas!"
Masih dengan wajah girangnya, Bulan turun dari mobil dan segera mengekor Gamma yang sudah berjalan meninggalkan mobilnya. Gadis itu tidak dapat menahan senyumnya, sebuah perbedaan saat ia masuk ke mobil Gamma dengan wajah kesal penuh dengan gerutuan. Maniknya kian menyipit karena tersenyum saat Gamma sedang mengantre untuk membelikan tiket. Bulan segera berhambur ketika Gamma menyerahkan tiket pada gadis itu.
Tawa Bulan semakin kencang ketika sadar dirinya sudah ketiga kalinya memenangkan permainan yang sama.
"Yah, lu mah curang! Gue mana tahu main beginian." Gamma menatap gadis yang masih tertawa itu.
"Lu sih, cupu! Gue itu ratunya timezone. Hahaha," ledek Bulan, membuat pemilik manik hitam itu menatapnya sinis. Namun, yang ditatap memilih memamerkan deretan giginya yang putih.
"Lu belum aja ketemu seseorang yang lebih jago dari lu," sulut Gamma membuat Bulan meliriknya cepat.
"Siapa?"
"Ada."
"Siapa?!" desak Bulan.
"Mau main apa lagi?" Gamma berusaha mengalihkan pembicaraan seraya meraih sebuah bola basket yang ada di salah satu stan permainan dan memilih menembakkannya ke ring yang ada di sana. Entah sudah berapa kali bola yang dilemparnya selalu saja melewati ring dengan mulus. Gamma yang tak kunjung mendengar jawaban gadis yang ada di sampingnya memilih menghentikan gerakan tangannya dan melirik gadis itu dengan sudut matanya.
"Apa?" tanya Gamma saat menemukan Bulan yang tak berkedip menatap dirinya dengan mulut ternganga.
"Lu keren banget?!" Gamma menaikkan sebelah alisnya. Keren? Maksud Bulan yang keren adalah permainan Gamma tadi?
"Lah, iya dong! Baru tau lu?" Keusilan Gamma kambuh, membuat gadis yang baru saja memujinya malah mendengkus dan memalingkan wajahnya.
"Sok lu."
"Lah, kan lu yang muji gue tadi, Mbaknya." Gamma berusaha menyesuaikan langkah kecil gadis di sampingnya. Namun, gadis dengan netra cokelat itu tak menjawab. Lebih tepatnya pikirannya sedang tak ada di sini. Entah sudah berapa lama dan sejak kapan.
"Bulan?" Gamma yang menyadari hal itu memilih menggoyang-goyangkan tangannya di hadapan Bulan membuat Bulan mengerjap beberapa kali dan menoleh menatap manik teduh Gamma.
"Kenapa?" tanya Gamma memastikan.
"Nggak. Eh lu masih mau main, nggak?" Gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan. Gamma menatap wajah gadis itu sejenak.
"Terserah lu aja, deh."
"Kok terserah gue, sih?"
"Karena gue ada di sini buat jagain lu. Buat mastiin lu aman."
Deg.
Katakanlah bahwa Bulan memang benar-benar merasakan degup jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Darahnya berdesir mendengar ucapan Gamma beberapa saat lalu hingga akhirnya ia tersadar saat sebuah tangan menarik lengannya, membuat sesuatu di dalam sana berpacu lebih cepat lagi.
"Lu suka es krim?" Gamma menoleh ke arah gadis yang sekarang berjalan di sampingnya dengan lengan yang masih tergenggam oleh tangannya. Gamma segera melepaskan genggamannya saat tersadar apa yang terjadi.
"Sorry, nggak sengaja."
"Ah? Oh? Iya gue suka es krim. Mau ke sana?" Bulan mencoba menetralisirkan apa yang sedang berpacu cepat di dalam sana. Gamma mengangguk kaku. Entahlah, pemilik manik hitam itu bahkan merasakan degup jantungnya yang juga berpacu cepat. Namun, ia berusaha kuat menyangkal mengenai kegelisahan di dalamnya itu.
"Hm, mau es krim rasa apa?" Gamma berbalik tiba-tiba. Bulan segera mengehentikan langkahnya dan mendongak cepat membuat wajah keduanya cukup dekat.
***
Seseorang dengan jaket putih masih tenggelam bersama kertas cokelat dan pulpennya. Jarinya masih menggores ria pada secarik kertas yang biasa ia gunakan itu. Sesekali sudut bibirnya terangkat atau sekadar maniknya yang memejam sejenak diikuti dengan helaan napas panjang. Gadis itu seakan paham tentang dunianya di sini, paham akan apa yang terjadi padanya. Hanya saja, ia membiarkan semuanya terjadi dulu. Cukup ia nikmati walau baginya rasanya cukup menyesakkan. Menyesakkan hingga jarinya berhenti menggores. Pandangannya ia alihkan ke jendela apartemennya. Maniknya menatap Bulan dan bintang di langit malam. Ia tersenyum kecut melihat bintang dan Bulan yang seakan menertawakan dirinya yang sedang terkungkung bersama sejuta rasa yang membuatnya seakan ingin lenyap dari dunia ini.
"Kalian ngajarin gue buat mengingat masa lalu. Sayangnya masa lalu gue, gue sendiri benci. Sayangnya lagi, gue suka liat kalian." Bulan menertawakan dirinya sendiri yang seakan menyukai sesuatu yang mengingatkannya pada masa kelamnya.
Bulan melipat kertas cokelat yang tadi sempat ia goreskan dengan pulpennya. Ia mengembuskan napasnya seraya memasukkan kertas itu ke laci meja belajarnya. Maniknya beralih menatap secangkir matcha yang berada di mejanya. Bulan meraih cangkir itu dan menyeruput cairan di dalamnya. Ia memejamkan matanya sesaat setelah meletakkan cangkir tadi. Suara dering ponsel memaksanya untuk membuka mata. Gadis itu memutar bola matanya saat membaca nama kontak yang tertera di layar ponselnya.
"Ya?" tanyanya datar sesaat panggilan tersambung.
"Nak," panggil seseorang di seberang sana.
"Apa?"
"Nak, kamu apa kabar?" Nada di seberang sana terdengar parau. Namun, Sang Cokelat hanya memutar bola matanya malas tanpa berniat membuka mulutnya.
"Kamu baik-baik saja kan di sana?" Bulan memejamkan matanya sebelum kembali menghela napas.
"Apa peduli Anda? Yang penting Anda tahu untuk apa saya ke sini! Sudah, saya sibuk!" Bulan segera mematikan panggilan itu secara sepihak dan meletakkan ponselnya asal. Wajahnya ia usap kasar, helaan napas sudah kesekian kalinya gadis itu embuskan. Ia memilih menenggelamkan wajahnya sebelum ponselnya kembali berdering dan membuatnya berdecak kesal sebelum memilih meraih benda pipih yang sedari tadi ada di meja belajarnya. Sebelah alisnya terangkat ketika membaca deret huruf yang tertera di layar tersebut.
"Halo?"
"Lu di mana?" tanya seseorang di seberang sana.
"Di apart. Kenapa? Bukannya hari ini butik libur?" tanya Bulan memastikan.
"Gue di depan apart lu, keluar ya. Kita jalan sekarang."
"Ha?"
"Turun, Mbak. Kuy jalan. Gue nggak menerima penolakan."
Panggilan terputus dan membiarkan kebingungan menyelimuti gadis dengan manik cokelat itu.
"Langit?"
Tanpa pikir panjang, Bulan segera membenahi rambutnya, merapikan jaket yang ia kenakan, meraih tas yang tergantung di dekat lemarinya, dan segera turun sebelum Langit kembali menghubunginya karena menunggu terlalu lama. Gadis itu melangkahkan kaki saat sudah berada di luar gedung. Ia menyipitkan matanya dan menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari Langit. Baru saja gadis itu akan menggerutu karena Langit membohonginya hingga sebuah motor merah tiba-tiba berhenti di depannya.
"Kirain boongan," decak Bulan membuat Langit tertawa kecil. Cowok itu menyodorkan helm berwarna putih pada Bulan.
"Lu pikir gue emas imitasi? Naik!" Bulan ikut tertawa seraya berusaha duduk di jok penumpang.
"Lu cantik. Malem ini tambah cantik," ujar Langit setengah berteriak agar suaranya terdengar oleh Bulan.
"Gue pengen es campur tapi males," celetuk Bulan.
"Kenapa?" tanya cowok yang melirik Bulan dari kaca spionnya itu.
"Takut nggak bisa bedain yang mana yang tulus sama yang nggak."
"Bisa aja lu," balas Langit.
***
"Kok gue kesel ya sama film tadi." Langit memecah keheningan membuat gadis yang sedari tadi memandang sekitarnya itu beralih menatap lawan bicaranya.
"Ha? Kenapa?" tanyanya dengan wajah polos yang malah membuat Langit gemas.
"Ah udah lupain, lu kenapa celingak-celinguk nggak jelas gitu? Nyariin siapa?" tanya Langit membuat Bulan menaikkan sebelah alisnya dan sontak Langit mengulum bibirnya menatap gadis di hadapannya itu.
"Nggak apa-apa. Tempat ini mirip banget sama salah satu tempat yang sering gue kunjungin," aku gadis dengan netra cokelat itu.
"Sendiri?"
"Maksudnya?" tanya Bulan tak mengerti.
"Ke tempat itu sendiri?" jelas Langit.
"Nggak. Biasanya gue sama temen." Langit ber-oh ria mendengar jawaban Bulan lalu membuka menu yang ada di hadapannya, begitu juga Bulan.
"Gue heran kenapa sih nasi itu sering banget disemutin gitu?" tanya Langit sambil membolak-balikkan menu di tangannya.
"Ya karena lu taruh di tempat yang nggak bener," jawab Bulan.
"Gitu ya? Terus gue harus taruh di mana? Padahal nih ya, kalo nasinya selonjoran juga nggak bakal kesemutan," ujar Langit masih dengan wajah tanpa bersalahnya.
"Apa sih nggak jelas banget. Iih," gemas Bulan seraya mencubit lengan Langit hingga membuatnya menjerit.
"Nggak usah teriak-teriak juga kali," delik Bulan pada cowok dengan netra cokelat itu.
"Ya maaf. Kan gue kaget, Mbak." Bulan hanya menanggapinya dengan sudut bibir yang terangkat sejenak. Wajahnya kembali ia tundukkan sebelum suara derit pintu mengalihkan pandangannya. Maniknya menyipit, berusaha melihat dengan jelas dua insan yang baru memasuki ruangan dengan nuansa cokelat ini.
"Bulan? Ngapain lu di sini?" Pertanyaan itu terdengar bersamaan dengan maniknya yang mulai melihat dengan jelas seorang cowok tinggi yang sekarang mendekatinya. Oh bukan, mendekati mejanya dan Langit lebih tepatnya. Namun tunggu, siapa gadis yang ada di belakangnya? Entah mengapa sesuatu di dalam sana milik Bulan terasa dicubiti.
"Oh, lagi jalan sama pacar baru, ya?" Gamma menyimpulkan saat tak kunjung pertanyaannya dijawab oleh gadis dengan netra cokelat yang masih tak bergerak di hadapannya itu.
"Ha? Kenapa? Pacar? Siapa? Dia? Nggak." Bulan gelagapan membuat Gamma menarik salah satu sudut bibirnya.
"Ayok, laper nih!" suara itu membuat ketiga insan yang ada di ruangan itu menoleh ke sumber suara.
"Iya, sayang. Tunggu ih!" balas pemilik manik hitam itu gemas dan sekarang sudah tersenyum ke arah gadis bernetra abu-abu yang malah memanyunkan bibirnya.
"Pacar lu, Gam?" tanya Bulan dengan nada rendah.
"Ha? Kenapa? Udah ya kami duluan," ujar Gamma dan melangkahkan kakinya mendekati kasir untuk memesan makanan seraya menggenggam tangan gadis mungil di sampingnya itu. Langit menatap Bulan yang tiba-tiba saja lebih diam daripada sebelumnya Manik cokelat milik gadis yang pertanyaannya belum sempat dijawab itu menatap punggung Gamma yang mulai menjauh seraya mengembuskan napasnya berat.
Sayang.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita