Dear Chelsea

Dear Chelsea
37. Mewakili perasaan



Leo dan Chelsea sudah tiba di restoran cepat saji. mereka pun langsung memesan makanan yang ingin di pesan, setelah itu Leo mengajak Chelsea berbincang-bincang.


"chels, gimana lu udah daftar lomba?". tanya Leo


"tinggal ngasih formulir nya". jawab Chelsea


"btw gua juga ikut lomba loh". ucap Leo


"really? lomba apa kak?". tanya Chelsea


"lomba dapetin hati lu, hahaha". Leo tertawa


"dih apaansih, gaje banget". tertawa kecil Chelsea


Chelsea tersenyum setelah melihat Leo yang tertawa. sementara itu Leo merasa sepertinya ini waktu yang tepat untuk menanyakan soal hubungan Chelsea dengan Kevin.


"oh iya, lu sama Kevin gimana?". tanya Leo


"eum...yaa gak gimana-gimana sih, yang pasti dia gak bakal balik lagi, dan gua juga udah lama berhenti berharap sama dia". jelas Chelsea


"lu serius gak apa-apa?". tanya leo


"ya gak apa-apa lah kak ley, buat apa juga berharap sedangkan it's impossible. jadi lebih baik di lupain, ya gak?". senyum Chelsea


"yaa...itu sih hak lu, gua sih yang penting lu have fun". senyum Leo


"thanks for all your time for me". ucap Chelsea


"santai aja". senyum Leo


Leo merasa Chelsea seperti tak berkata jujur, ia juga menjadi tak berani mengungkapkan perasaannya kepada Chelsea. kebetulan Leo tak sengaja melihat band yang sedang bernyanyi.


"gua kesana yaa, mau nyumbang lagu". senyum Leo


"eum...oke, jangan malu-malu in gua ya". tertawa Chelsea


"tenang aja, lu pasti gak malu kok". tertawa kecil Leo


Leo pun menghampiri band tersebut. kemudian ia berbincang-bincang sebentar, setelah itu Leo pun memegang gitar dan bernyanyi sebuah lagu.


tuliskan semua kesedihan.... semua tak bisa kau ungkapkan.


dan kita kan bicara...dengan hati ku....


buang semua puisi antara kita berdua... kau bunuh dia....


sesuatu yang ku sebut itu cinta...


Chelsea berfikir sejenak sambil mendengarkan Leo bernyanyi, apa mungkin Leo bernyanyi sesuai dengan isi hatinya.


"gua berharap ini cuma lagi". ucap Chelsea dalam hati


yakin kan aku.... Tuhan dia bukan milik ku.....


biarkan waktu... waktu hapus aku...


sadarkan aku... Tuhan dia bukan milik ku...


biarkan waktu... waktu hapus aku...


leo bernyanyi dengan bagus dan mendalami. Chelsea semakin merasa lagu ini mewakili perasaan Leo kepadanya.


"tapi...gak nyambung sih, gua kan bilang udah ngelupain kak Kevin". gumam Chelsea


tuliskan kesedihan... semua tak bisa kau hentikan...


dan kita... kan bicara... dengar jiwa ku...


buang semua puisi... antara kita berdua... kau bunuh dia...


sesuatu yang ku sebut itu cinta...


yakin kan aku... Tuhan dia bukan milikku...


biarkan waktu.... waktu hapus aku....


sadarkan aku... Tuhan dia bukan milikku...


biarkan waktu... waktu hapus aku....


Leo sudah selesai bernyanyi. kemudian ia kembali ke tempat duduknya, Chelsea menatap Leo dengan senyuman tak enak hati.


"lagu nya bagus kak, enak di denger nya". senyum Chelsea


"iyaa... mewakili perasaan banget yaa". senyum Leo


"itu tadi mewakili perasaan lu kak?". tanya Chelsea ragu


"enggak sih, cuma lagu aja, menurut gua itu lagu malah cocok sama lu". ucap Leo


"gua sih udah sadar yaa, dan gua juga udah gak berharap". jawab Chelsea


"eum... berarti cuma lagu, ya kan?". senyum Leo


"iyaa sih, emang lagu hehe". senyum terpaksa Chelsea


makanan yang mereka pesan pun sudah datang. Leo dan Chelsea pun langsung memakan makanan yang ada di meja makan tersebut.


di hati Chelsea masih bertanya-tanya, karena lagu itu seperti dinyanyikan dari hati yang paling dalam. sedangkan Leo asik makan dan tak peduli dengan lagu yang dinyanyikannya.


beberapa jam kemudian mereka sudah selesai makan, dan berbincang-bincang, mereka pun memutuskan untuk pulang, karena hari juga sudah malam.


"gua anter yaa". ucap Leo


"naik bus way?". tanya Chelsea sambil tersenyum


"yaa terserah sih mau naik apa". senyum Leo


"gua naik taksi aja lah, kasian nanti kalo lu harus nganter gua dulu". ucap Chelsea


"gak apa-apa kok, kan biar lu selamat sampai tujuan". jawab Leo


"selamat sampai tujuan kok, gua naik taksi aja". ucap Chelsea


"eum...yaudah lah, makasih yaa udah mau makan bareng gua". senyum Leo


"gua kali ya bilang makasih". senyum Chelsea


disaat mereka sedang berbicara, taksi yang di pesan Chelsea pun sudah datang, Chelsea langsung berpamitan dan masuk ke dalam taksi.


"bye...". ucap Leo


Chelsea sudah pergi. sekarang Leo hanya berdiri sendiri sambil menunggu bus way datang sesuai jadwal.


"hm... sebenarnya lagu tadi tuh emang mewakili perasaan gua, yaa gua tau Chelsea sama Kevin udah gak ada hubungan apa-apa, tapi entah kenapa gua ngerasa Chelsea masih mikirin Kevin. jadi lagu tadi emang sesuai banget sama gua,". ucap Leo dalam hati


"gua harus sadar, Chelsea bukan milik gua, dan emang gak bakal jadi milik gua deh kayaknya". gumam Leo


Leo tersenyum miris. beberapa menit kemudian bus way datang, dengan segera Leo menaiki bus tersebut. ia duduk dan memasang earphone di telinga nya.


di sisi lain Laura dan Maya akhirnya sudah selesai dengan obrolan mereka yang sangat panjang, sampai-sampai Rey dan Terry yang ada disitu menjadi ngantuk dan bosan.


"jeng Maya saya pulang duluan yaa, Chelsea pasti udah pulang, nanti dia sendiri lagi di rumah". ucap Laura


"owh... silahkan jeng, kapan-kapan kita bisa ketemu lagi ya kan". senyum Maya


Laura dan Maya saling berpamitan, Rey juga ikut berpamitan kepada Maya.


"Rey... kapan-kapan main ke rumah yaa, Terry pasti seneng". ucap Maya


Terry langsung menunjukkan raut wajah julid nya, sedangkan Rey hanya bisa pura-pura tersenyum, padahal ia sangat malas melihat Terry yang selalu membuat nya jengkel.


"hehe iya Tante, kapan-kapan saya main". senyum terpaksa Rey


(kapan-kapan gak tau kapan, kayaknya gak bakal). ucap Rey dalam hati


"yaudah kita duluan yaa jeng". ucap Laura


"hati-hati jeng, Rey jagain mamah kamu yaa". ucap Maya


"iya Tante pasti". senyum Rey


(emak sama anak gak ada bedanya, udah gitu Tante maya kayak demen banget gitu sama gua). ucap Rey dalam hati.


Rey dan Laura pun berjalan keluar restoran tersebut. di luar Laura langsung membicarakan tentang Terry kepada Rey.


"Terry tuh cantik ya Rey, anak nya kalem". puji Laura


"segitu mah biasa aja mah, kalem kata mamah, gak tau aja kalo di sekolah gimana". ketus rey


"daripada mantan-mantan kamu, gak ada yang jelas". sinis Laura


(mamah gak tau aja Terry itu mantan gua, kalo tau gimana yaa reaksi nya'-'). ucap Rey dalam hati


Rey dan Laura masuk kedalam mobil. Rey bergegas melajukan mobilnya dan fokus mengendarai. mereka dalam perjalanan menuju rumah mereka.


...****************...