
Rey sudah rapih. ia terpaksa ikut ke acara teman ibunya, Laura pun turun dari atas dalam keadaan rapih dan siap berangkat.
"kamu nyetir ya rey". ucap Laura
"yes mom". jawab Rey malas
mereka pun langsung bergegas menuju garasi keluarga Permana. setelah itu Rey pun langsung mengendarai mobil ibunya itu. di mobil Laura sedikit memberi tau keadaan disana.
"nanti di sana tuh banyak temen mamah Rey, jadi kamu jangan jutek gini yaa, apalagi kalo ketemu anak nya sahabat mamah. kalo bisa sok asik aja oke". senyum Laura
Rey tetap fokus mengendarai mobil tersebut.
"kamu dengar mamah gak sih Rey?". kesal Laura
"denger mah, Rey kan lagi nyetir jadi gak terlalu serius dengerin mamah". jawab Rey
"awas yaa kalo kamu bikin ulah". ancam Laura
Rey hanya mengangguk-angguk dengan malas. ia sebenarnya tak mau ikut, tapi Laura memaksanya untuk ikut.
di sisi lain Chelsea baru selesai latihan dance, ia sudah berpisah dengan the cute girls dari tadi. sekarang ia sendiri di parkiran sekolah. ia berniat untuk memesan taksi online.
"haduh...udah mau sore lagi". gumam Chelsea
kebetulan Leo juga baru selesai latihan bersama the cool boys. ia sedang berjalan bersama Oza yang baru saja mau pulang. ia melihat Chelsea yang seperti menunggu sesuatu.
"za...gua gak jadi balik sama lu deh". ucap Leo
"terus lu balik pake apaan? lu kan kagak bawa motor". ucap Oza
"gua naik bus way juga bisa kok". senyum Leo
"yaudah lah, gua duluan ya ley". Oza menepuk bahu Leo
setelah Oza pergi dengan mobilnya itu, Leo pun bergegas menghampiri Chelsea yang sedang sendirian itu.
"hai, lu lagi ngapain?". Leo menyapa Chelsea sekaligus bertanya
"eh hai juga, gua lagi nunggu taksi online". jawab Chelsea
"owh...lu mau balik, bareng gua aja". tawar Leo
"tapi gua udah pesan". datar Chelsea
"kan bisa di cancel". senyum Leo
"eum...oke deh". senyum Chelsea
Chelsea pun mengcancel taksi online tersebut. kemudian ia bertanya kepada Leo...
"kita balik pake motor lu kan?". tanya Chelsea
"hehe, kali ini kita naik bus way, gimana?". Leo mengangkat alisnya
"eum... kayaknya asik". senyum Chelsea
"oke, come on". ucap Leo
mereka berjalan menuju halte di dekat smk 127. Chelsea tersenyum melihat Leo yang dari tadi tampak terlihat bahagia dan senang. mereka pun menunggu bus way datang.
"gua seneng deh". ucap Leo yang tersenyum manis kepada Chelsea yang menatapnya.
"seneng kenapa?". tanya Chelsea
"yaa akhir-akhir ini kita Deket aja gitu, kan kita dulu sempat ada problem, jadi gua seneng kita udah gak ada masalah lagi". ucap Leo
"gua juga seneng kok ada kak Leo yang rada-rada". ucap Chelsea tersenyum nakal
"rada-rada apa nih?". Leo menatap mata Chelsea tajam
"rada-rada aneh, hahaha". Chelsea tertawa nakal
"lu kali yang aneh". Leo ikut tertawa
beberapa saat kemudian bus way yang mereka tunggu datang, mereka pun langsung menaiki bus tersebut. Chelsea dan Leo langsung duduk sebelum bus itu berjalan.
ada seorang ibu-ibu hamil yang tidak kebagian tempat duduk. Leo yang melihat itu langsung berdiri dan menawarkan kepada ibu-ibu hamil tersebut. sekarang Leo berdiri dihadapan Chelsea.
"lu gak mau duduk?". ejek Chelsea
"enggak usah, gua kan cowo". senyum Leo
"oke...btw kita mampir dulu yuk kemana gitu". ajak Chelsea
"tumben, ada apa nih". tersenyum meledek Leo
"di rumah gua gak ada orang, kak Rey lagi ikut sama mamah". jelas Chelsea
"oke...kita ke restoran aja gimana, makan". tawar Leo
"boleh tuh, gua udah laper". bisik Chelsea
"hahaha, Chelsea-Chelsea". tertawa kecil Leo
bus tersebut berjalan dengan normal mengantarkan para penumpang menuju tujuan mereka masing-masing, termasuk Chelsea dan Leo yang akan pergi ke restoran terdekat.
di sisi lain Rey dan Laura sudah tiba di sebuah cafe yang sudah di sewa untuk acara tersebut. mereka pun masuk ke dalam, Rey memutarkan matanya dengan malas.
di dalam Laura langsung mengajak Rey ke tempat duduk yang sudah ada sahabat Laura dan anaknya.
"eh jeng Laura". sapa balik Maya
namun Rey terkejut melihat seorang wanita yang ia kenal. itu adalah anak Maya, ternyata anak sahabat nya Laura adalah Terry. mereka berdua saling terkejut bukan main.
"lu??? ngapain di sini?". tanya Rey
"lah lu yang ngapain, gua daritadi udah disini ya". ketus Terry
mereka berdua langsung membuang muka bersamaan
"owh...kalian udah ketemu lagi yaa?". tanya Maya
"sering lah mah, kita kan satu sekolah". jawab malas Terry
"bagus deh kalo gitu, jadi kalian udah dipersatukan lagi". senyum Laura
"iya jeng seneng deh". senyum Maya
Rey dan Terry bingung dengan ucapan Laura, dipersatukan kembali? apa maksud dari Laura.
"mah, kok mamah bilang dipersatukan kembali sih". datar Rey
"emang kalian lupa yaa? dulu kan waktu kalian masih kecil suka maen bareng, waktu jeng Maya belum pindah rumah". jelas Laura
Rey dan Terry malah semakin bingung, sejak kapan mereka waktu kecil sering bermain, bahkan mereka tak ingat kejadian itu.
"iya loh, dulu kan kalian itu Deket banget, sangking deketnya Rey sampe lupa sama Chelsea, kalian dulu itu kayak adek kakak, soalnya Terry itu peduli banget sama Rey, dan Rey selalu menjaga Terry". panjang lebar Maya
"kok aku gak inget ya mah". ucap Terry
"sama saya juga gak inget Tan". ketus Rey
"gimana mau inget, itu kan pas kalian masih umur dua sampe tiga tahunan, ya wajar lah kalo gak inget". senyum Laura
"mereka ini lucu yaa jeng". Maya ikut tersenyum
Rey dan Terry tak percaya dengan apa yang diucapkan ibu mereka masing-masing. Terry menatap Rey dengan jijik begitu pun sebaliknya.
sementara itu Laura dan Maya asik mengobrol tentang masa lalu mereka.
"gak nyangka sih sekarang Rey udah ganteng kayak gini, dulu kan masih imut gitu". ucap Maya
"hehe makasih loh tante". Rey tersenyum kemudian meledek ke arah Terry
"Terry juga cantik, visual nya kuat banget". puji Laura
"Tante bisa aja". Terry meledek balik Rey yang menatap nya tak suka
Laura dan Maya terus saja mengobrol dengan asik, yang tadinya membahas kedua anak mereka, sekarang malah nyambung ke baju-baju dan tas branded.
Rey yang malas mendengar pun pura-pura ingin ke kamar mandi.
"mah, Tante, Rey mau ke toilet dulu ya". senyum terpaksa Rey
"iya silahkan sayang". ucap Maya
Laura mendekat ke telinga Rey dan membisikkan sesuatu.
"kamu jangan aneh-aneh ya, awas aja". bisik Laura
"iya mah". malas Rey
Rey pun pergi meninggalkan Laura, maya dan Terry. Laura dan Maya melanjutkan obrolan mereka dengan asik, sampai-sampai mereka tak sadar Terry yang diam-diam mengikuti Rey.
Rey pergi ke belakang cafe, tepatnya di taman yang ada di belakang cafe tersebut, ia langsung menghirup udara segar yang ada di situ. akan tetapi Terry langsung menghampiri nya.
"ngapain sih lu ngikutin gua". kesal Rey
"sorry yaa, gua gak ngikutin lu, gua males aja denger nyokap gua ngobrol". ucap Terry
mereka diam-diam masih memikirkan tentang apa yang di bicarakan oleh kedua ibu mereka, yaitu masa kecil mereka.
"btw walaupun gua temen lu waktu kecil, inget ya sekarang udah beda". sinis Terry
"lu tenang aja, gua gak percaya kok kalo gua dulu punya temen kayak lu". ketus Rey
"bagus lah kalo gitu, soalnya gua males banget liat muka lu". ucap Terry sambil melihat Rey
"males kok diliat". tertawa sinis Rey
Terry menahan emosinya, sementara itu Rey masih tertawa melihat tingkah Terry yang tak sesuai ucapan.
"kalo waktu kecil kita sahabatan, kenapa gua dulu mau ya jadi pacar lu". ketus Rey
"yang nembak gua siapa ya". sinis Terry
"tapi lu juga mau kan?". sinis Rey
"udah yaa gua males ngobrol sama lu". ketus Terry
Terry berjalan meninggalkan Rey yang masih terdiam di tempat.
"rasa yang salah pasti berakhir salah". gumam Rey
Rey tetap duduk di bangku Taman tersebut. ia menatap ke arah kolam ikan yang dihias dengan indah. di dalam Laura dan Maya semakin menikmati obrolan mereka.
...****************...