DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
8. Pengakuan



Setelah matanya terbuka Elena mendapati Nicholas berada tepat di sisi ranjang. Lelaki itu tertidur dengan keadaan duduk. Elena menyadari kalau ruangan ini bukan asramanya.


Ia beringsut sembari menyentuh kepalanya yang berdenyut, mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. "Serigala." Bisiknya tidak percaya.


"Kau bangun?" Suara Nicholas sedikit mengagetkan Elena.


"Kenapa kita di UKS?"


"Kepalamu berdarah makanya aku membawamu kemari."


Elena meraba keningnya dan merasakan ada plester kasar disisi jidatnya. Gadis itu masih tertegun memikirkan serigala yang dilihat olehnya di belakang sekolah, dia ingin menganggap semuanya adalah mimpi dan tidak nyata tapi mengingat Sunghoon, Jake, Jay dan teman-temannya seorang vampir kemungkinan besar serigala yang dilihatnya bukanlah mimpi atau hanya halusinasi. Bisa saja makhluk yang ditemuinya itu memang werewolf.


"Aku berharap kalau aku ini sedang mengkonsumsi narkoba." Gumamnnya lemas.


"Serigala yang kau lihat itu adalah aku, Elena."


Gadis itu menoleh dengan bola mata yang siap keluar. "Bagaimana bisa kau tahu kalau aku melihat serigala?"


"Karena akulah serigalanya, maka dari itu aku tahu."


Elena tertawa hambar. "Jangan mengada-ada, aku tahu kalau aku ini hanya sedang berhalusinasi.".


"Di dunia ini tidak ada yang namanya vampir, tidak ada juga manusia serigala. Mereka hanyalah fiksi, tidak nyata sama sekali. Jadi Nicholas, jangan mengatakan lagi kalau kau adalah seorang werewolf." Tekannya, turun dari ranjang lalu pergi keluar ruangan.


Nicholas berlari mengejar Elena lalu menarik tangan gadis itu. "Werewolf nyata adanya Elena, kau hanya tidak peka saja dengan makhluk disekitarmu. Bukan hanya aku saja tetapi EJ dan kakak K juga seorang werewolf."


Seperti tersambar petir, Elena terkejut saat tahu kalau EJ dan K ternyata juga seekor serigala. Padahal baru kemarin dirinya bertemu dengan EJ dan Elena tidak merasa kalau EJ adalah serigala.


"Aku tidak mau mempercayai itu semua. Kau manusia Nicholas, EJ dan kakak K juga manusia. Kalian bukan serigala, kalian temanku, teman manusia!." Elena bersikeras menyangkal semuanya.


"Kau lebih percaya dengan adanya vampir dibandingkan werewolf?" Pertanyaan Nicholas membuat Elena mengernyitkan dahinya. "Aku tidak percaya dengan keduanya. Kalian hanya sedang bercanda denganku kan? ini semua hanya gurauan, iyakan Nicholas?".


Remaja itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sedang bercanda, makhluk seperti kami memang sudah ada sejak zaman dahulu dan kami harus menyembunyikan identitas werewolf, itu sebabnya aku dan yang lain tidak pernah memberitahumu mengenai kami seekor serigala."


"Kenapa? karena kau tidak percaya padaku? kau berpikir bahwa aku akan membuat kalian celaka begitu?".


"Tidak Elena, bukan hanya padamu tapi keluargaku yang lain pun tidak tahu bahwa aku, ayah berserta ibuku adalah werewolf."


Rasanya tubuh Elena mengejang, sebenarnya siapa saja yang bukan manusia disekitar dirinya. Dia merasa dibodohi oleh para serigala yang menyamar menjadi manusia itu.


"Sepertinya aku adalah manusia tertolol didunia ini." Ujar Elena menghempaskan genggaman Nicholas.


"Jangan temui aku untuk beberapa saat." Elena pergi meninggalkan Nicholas. Gadis itu marah karena ternyata lelaki yang disukai olehnya selama ini sudah berbohong, padahal Elena tidak pernah menyembunyikan apapun padanya.


Ia terisak diatas ranjang, mendadak ada rasa gelisah didalam dirinya. Ia marah, kecewa dan kesal, Elena menangis dibalik kegelapan berusaha tidak berisik karena takut membangunkan Chika. Dia tidak percaya kalau teman-temannya ternyata sudah berbohong. "Mereka kejam sekali." Gumamnya mengusap air mata.


Tiba-tiba saja ucapan Sunghoon terbesit dikepalanya.


'Apa kau mencium bau anjing, El?' ,


'Itu artinya dia mirip dengan seekor anjing karena mereka tidak makan sayuran sepertimu'.


"Mungkinkah Sunghoon sudah tahu kalau Nicholas itu serigala?." Gumamnya membuka selimut, kini ia bisa menghirup banyak udara. "Ternyata benar, aku tidak peka dengan keadaan sekitarku." Imbuhnya menelan ludah.


"Kau harus lebih sadar lagi Elena, agar kelak kau tidak syok seperti tadi. Mungkin bisa saja kalau di dunia ini masih banyak makhluk-makhluk lainnya." Ia berbicara sendiri, mencoba mulai menerima kenyataan.


...****...


Para siswa masih beramai-ramai membahas kematian Lucy, sepertinya kasus yang satu ini menjadi perbincangan utama untuk beberapa minggu ke depan.


Elena masih belum berbicara dengan Nicholas dan hari ini dirinya juga tidak melihat Sunghoon, si lelaki menyebalkan yang seperti perangko itu.


"Kau akan ikut ke acara liburan sekolah?"


"Aku belum memikirkannya karena kemungkinan aku akan kembali ke kota." Elena memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


"Kau tidak perlu iri padaku, toh aku pun belum tentu diizinkan oleh Puma untuk pergi piknik." Elena perlu izin dari Puma untuk berpergian jauh.


Mereka keluar dari kelas lalu berjalan menyusuri koridor. "Aku akan mencuci pakaian hari ini, kau mau menitip lagi?"


"Aku akan melakukannya sendiri." Elena menolak.


Dia memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam mesin cuci tapi sepertinya ada beberapa pakaian yang menghilang. "Mungkinkah jatuh?" Gumamnya mengecek kembali. "Sepertinya tertinggal diasrama." Serunya menutup pintu mesin lalu menekan tombol untuk menggiling selama tiga puluh menit tapi tiba-tiba saja mesin itu terhenti dan mengharuskan Elena mengeceknya sekali lagi ternyata ada sebuah gelang kecil. Gelang itu adalah gelang yang Elena pungut di lantai saat pertama kali bertemu dengan Sunghoon. Ia mengambil gelangnya lalu mulai mencuci.


Elena terpaksa mencuci di malam hari karena tadi ia harus menyelesaikan essay. Tiba-tiba saja kehadiran Sunghoon dengan hembusan angin yang dingin membuat tubuhnya sedikit melompat karena kaget.


"Tidak bisakah tiba dengan lebih mulus?" Gerutunya turun dari atas mesin cuci.


"Aku sengaja agar kau kaget sebab perasaan manusia saat terkejut dan ketakutan sangatlah menggoda." Pandangan Sunghoon jatuh pada gelang yang sedang digenggam oleh Elena.


"Ini milikku, kau menemukannya dimana?"


"Aku lupa memberikannya padamu, gelang ini ku temukan didepan pintu asrama saat pertama kali kita bertemu." Jelas Elena.


"Ku pikir gelangnya sudah menghilang."


"Apakah gelang ini sangat berarti?" Elena bertanya demikian karena ekspresi Sunghoon saat melihat gelang itu sangatlah senang.


"Ya~ gelang ini milik kekasihku."


Jantungnya terasa mencelos saat mendengar ucapan Sunghoon. Elena terkejut, saat tahu kalau ternyata lelaki yang suka menciumnya itu memiliki seorang kekasih.


"Syukurlah gelangnya ketemu." Ujar Elena dengan nada malas.


Sunghoon menyadari perasaan cemburu Elena, lelaki itu tersenyum lalu memasukkan gelangnya kedalam saku jaket.


"Dia sudah meninggal, Elena. Kau tidak perlu kesal seperti itu." Sunghoon mulai menggoda.


Elena terkejut dengan ucapan Sunghoon kalau ternyata kekasihnya itu sudah meninggal. "Aku tidak kesal sama sekali." Gumamnya menghembuskan napas perlahan.


"Maaf sudah mengungkit masalalumu." Sesalnya menundukkan kepala.


"Its okay, aku tidak merasa sedih sama sekali karena ada kau sebagai penggantinya."


"Apa maksudmu?"


Sunghoon tersenyum, ia menarik pinggang Elena agar jarak antara keduanya lebih dekat. Perlahan Elena mendongak untuk menatap Sunghoon.


Suara mesin sangat nyaring terdengar ditempat sunyi ini.


"Kau cukup mirip dengan Viola hanya saja kau seorang manusia. Kalian mirip dari segi wajah dan postur tubuh tapi tidak dengan otak dan tingkah laku." Sunghoon mengangkat tangan kanannya lalu mulai menyentuh wajah Elena dengan ujung jarinya.


"Viola memiliki tingkah laku yang sopan dan juga cerdas sementara kau tidak."


"Maksudmu aku adalah kebalikan dari semua sifat kekasihmu, begitu?." Emosinya mulai terpancing.


Sunghoon terkekeh melihat Elena yang mudah sekali kesal. "Aku suka dengan semua sifatmu yang menyebalkan, kau juga menghiburku dan terkadang membuatku ingin mencicipi darahmu."


Elena mendecak. "Benar kata Jay, aku harus berhati-hati padamu."


"Kau sangat cantik, Elena." Pujian Sunghoon membuat Elena tersipu malu, untung saja keadaan lumayan gelap sehingga lelaki itu tidak bisa melihat merah merona dipipi Elena.


"Kau baru sadar bahwa aku ini cantik?" Dia mulai percaya diri.


Sunghoon yang tidak bisa menahan dirinya langsung mencium Elena. Ia mencoba masuk lebih dalam untuk mendapatkan Elena sepenuhnya sebab semakin hari perasaannya terhadap Elena terus tumbuh. Sunghoon tahu kalau Elena terlahir untuknya dan Sunghoon juga tahu setelah ini banyak yang mengincar Elena.


Sementara Elena, gadis itu mencoba untuk menghindari Sunghoon. Seterbawa apapun perasaannya, Elena tetap lebih menyukai Nicholas, Sunghoon tidak ada apa-apanya bagi Elena. Apalagi kepribadian dan latar belakang Sunghoon yang sangat misterius.


to be continued....