
Satu hari sebelum piknik sekolah.
"Kau sudah menghapal semua mantranya?" Tanya Jake mengelus-elus gelas cembung berisi darah.
"Sudahku baca sebagian dan ada yang ingin ku sampaikan, aku tidak ingin kalian menyentuh Elena."
"Kenapa? apakah sentuhannya akan membuat jatuh cinta?"
"Ku peringati saja untuk tidak menyentuhnya."
"Okey, okey. Lalu, bagaimana dengan darah suci yang terpencar di setiap para makhluk bumi? sudah kau dapatkan salah satunya?" Sunoo menunjukkan ekspresi gelisah.
"Aku sudah mengerahkan beberapa pasukan untuk mencari liontin dibeberapa penjuru seperti pantai dan pegunungan. Liontin hatinya sudah ku temukan, liontin itu berada di...
"Elena, gadis itu menyimpan liontin hati yang paling berharga." Potong Jake membuat Sunghoon bergeming.
Dikerajaannya sendiri, Sunghoon tidak seperti seorang raja dimata Jake dan Sunoo. Mereka tidak melihat Sunghoon sebagai pemimpin Rodus tetapi sebagai vampir rendahan yang berasal dari dunia perhutanan.
Lelaki itu menahan amarahnya karena ucapannya di potong begitu saja.
"Kau harus berjalan lebih cepat sebelum keduluan oleh para vampir Mix, sepertinya Elena berteman dengan banyak makhluk lain. Terakhir ku perhatikan gadis itu bergaul dengan seorang serigala." Perintah Jake.
"Lebih cepat lebih baik, kita tidak seharusnya berurusan dengan para manusia lemah."
Mendengar ucapan Sunoo membuat Sunghoon membuka mulut. "Jika bukan karena manusia lemah, para vampir tidak akan hidup sampai sekarang ini." Serunya turun dari kursi paling mewah dan disegani oleh rakyat vampir Rodus.
Sunoo tertawa hambar. "Ucapanmu itu seolah tidak mencerminkan dirimu vampir, kenapa repot-repot menggunakan kata 'para vampir' kalau kau sendiri adalah bagian didalamnya."
Seolah tahu siapa Sunghoon sebenarnya, Sunoo terus memancing amarah si raja. Mata keduanya saling bertemu, mereka menyimpan kekesalannya masing-masing.
"Well~ sepertinya aku harus memisahkan kalian berdua. Terimakasih jamuan makan malamnya dan... sesekali pergilah temui Mirae, dia tunanganmu. Jangan abaikan wanita mengerikan itu." Seru Jake tersenyum kecil lalu melenggang pergi bersama dengan Sunoo.
Sunghoon mengecek jam tangannya yang sudah menunjukkan jam satu malam. Ia pergi masuk kedalam sebuah ruangan yang dipenuhi oleh berbagai jenis buku. Lilin yang tadinya padam kini menyala saat lelaki tampan itu melewatinya. Semerbak aroma mawar masuk kedalam hidungnya.
Tujuannya bukan untuk membaca buku tetapi untuk bertemu dengan seseorang yang berada didalam sebuah pigura raksasa. "Aku merindukanmu." Gumamnya sembari menciptakan kunang-kunang untuk menyinari foto seorang perempuan berparas cantik. Sinar rembulan yang masuk lewat kaca jendela membuat wajah Sunghoon bersinar, lelaki itu memang sudah ditakdirkan menjadi seorang raja. Namun, tidak dipastikan menjadi raja dari kaum siapa.
"Bersabarlah sayang, aku pasti akan membangkitkanmu."
...****...
"Kau harus membuka pakaianmu dan pergi berselancar dengan yang lain." Haruto membuka kaos hitamnya dan pada saat membuka celana dengan cepat Elena memalingkan wajah.
"Dasar tidak tahu malu." Dengusnya kesal.
"Aw!." Elena menyentuh kepalanya yang kesakitan karena disentil oleh sepupunya. Remaja itu berlari ke dekat pantai bergabung dengan teman-temannya dan meninggalkan Elena dengan setumpuk baju para siswa.
Elena mendongak melihat langit yang gelap, sepertinya akan turun hujan.
Gadis itu pindahkan semua pakaian ke dalam bus mobil, Elena terkejut saat melihat Jake dan Jay tengah duduk di kursi belakang. Padahal ini bukan bus kelas mereka.
"Hei~." Sapa Jay dengan senyuman yang manis. Elena membalas senyumannya.
Jake memperhatikan kalung yang digunakan oleh Elena, kalung itu bersinar terang. Namun Elena tidak bisa melihatnya karena hanya vampir bangsawan saja yang bisa melihat itu.
"Kau punya leher yang indah." Kata Jake membuat Elena langsung panik.
"Tidak juga, hanya saja saat ini aku sedang sedikit haus dan kau hadir dengan aroma tubuh yang nikmat." Jake memiringkan wajahnya sembari memperhatikan Elena yang ketakutan.
"Kau takut tapi kau berusaha menyembunyikannya."
Elena menelan ludahnya dengan susah payah. "Sunghoon memberitahuku kalau vampir sangat suka dengan rasa ketakutan manusia, maka dari itu aku mencoba untuk tidak menonjolkan rasa takutku." Jelasnya meletakkan semua baju di kursi.
"Aku permisi." Saat gadis itu berbalik tubuhnya nyaris bertabrakan dengan tubuh Jake. Elena langsung mengecek ke kursi belakang dan disana hanya ada Jay dengan senyumannya yang khas.
Elena mendongak menatap Jake, tiba-tiba saja tangannya menyentuh pipi Elena. Dia tersentak sedikit kaget saat hawa dingin terasa di pipinya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyanya ketakutan.
Detak jantung Elena langsung berdetak kencang, dia menarik napasnya untuk menenangkan diri. Jemari Jake turun menyentuh liontin milik Elena. Namun, "Sudahku katakan untuk tidak menyentuhnya." Sunghoon muncul tepat disebelah keduanya, dia menepis tangan Jake yang menyentuh liontin Elena.
"Pergilah keluar."
Elena mengangguk lalu pergi keluar dari bus.
"Apa yang baru saja kau lakukan? bukankah aku sudah memperingatimu untuk tidak menyentuh Elena?" Sarat amarah muncul dari dalam diri Sunghoon.
Jake tersenyum jenaka, "Woah~ gadis itu benar-benar fantastis. Dia, dia sangat indah." Pada saat itu juga Sunghoon mencengkeram kerah jaket Jake. "Kau sudah melewati batas, ku peringati sekali lagi jangan pernah menyentuhnya!. Kalau sampai kau menyentuhnya seujung rambut saja, ku pastikan kau akan menderita." Gertakan gigi Sunghoon tidaklah membuat Jake takut, lelaki itu justru menanggapinya dengan santai.
Ia lepaskan cengkeramannya dengan sedikit mendorong tubuh Jake, setelah itu pergi keluar dari bus untuk menyusul Elena.
"Kenapa Sunghoon sangat marah?" Jay bertanya.
Lagi-lagi Jake tersenyum sebelum menjawab pertanyaan kakaknya itu. "Sepertinya ini akan sangat menyenangkan." Gumamnya membuat Jay semakin kebingungan.
Di atas pasir sembari memperhatikan teman-temannya bermain air. Sunghoon menghampiri Elena lalu meminta gadis itu untuk ikut dengannya.
"Ada apa?" Tanya Elena, langkah kakinya mulai melambat dan pada akhirnya berhenti.
"Mulai saat ini jangan dekat-dekat dengan Jake." Katanya tiba-tiba menuntut.
"Aku memang akan melakukannya." Gumam Elena tidak bergairah. Dia masih syok dengan sikap Jake yang membuatnya takut barusan.
"Dan satu hal lagi, jangan bicarakan soal kitab yang hilang. Aku tidak mau kau dalam masalah."
"Kalau begitu mulai sekarang jangan libatkan aku lagi, aku tidak mau berurusan dengan vampir ataupun serigala. Aku ingin hidupku kembali normal. Carilah hamba yang lain, jangan diriku. Hidupku jadi aneh setelah kau menempel padaku." Elena menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Aku tidak bisa menghadapi orang-orang aneh seperti kalian." Tambahnya membuat Sunghoon justru tidak setuju. Lelaki itu tidak mau kalau Elena menjauhinya sebab itu bukanlah pilihan yang baik.
Tangannya yang panjang dan berotot meraih tangan Elena. "Maafkan aku sudah merepotkanmu." Gumamnya sembari mengelus-elus punggung tangan si gadis.
"Aku mohon tetaplah disisiku, aku membutuhkanmu dan hanya kau yang bisa membantuku." Mata cokelat Sunghoon menatap Elena lekat-lekat, membuatnya seolah terhipnotis. Pada akhirnya ia menyerah. "Okay, aku akan tetap membantumu." Ujarnya membuat bibir Sunghoon mengembang lebar.
"Tapi hanya sampai kitabnya ketemu karena itu adalah tanggung jawabku sudah menghilangkannya."
Senyum Sunghoon sedikit redup tapi pada akhirnya dia setuju dengan keinginan Elena. Toh nanti juga gadis itu akan lupa.
to be continued...