DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
32. Tamed



Saat terbangun Elena mendapati Julius yang sedang menunggunya. Ia sudah berada diruangan, Elena menyentuh keningnya sembari mendudukkan tubuh di ranjang.


"Kenapa aku ada disini?" Tanyanya memperhatikan sekitar, rupanya tidak hanya Julius tapi ada Jay juga.


"Sepertinya kau ahli membuat orang kerepotan." Ujar Jay meledek.


Tubuhnya langsung merinding ketika mengingat kepala Vampir yang buntung.


"Apakah kalian yang menebas kepala Vampir perempuan itu?"


"Para Vampir itu suruhan Mirae, mereka mencarimu untuk mengetahui keberadaan Sunghoon." Jelas Julius sembari menggulung perban.


"Mirae?" Elena kebingungan. "Apakah dia kekasih Sunghoon yang sudah meninggal?"


"Kekasih Sunghoon yang sudah meninggal itu bernama Viola, wanita yang sangat mirip denganmu sementara Mirae, dia adalah perempuan yang hampir Sunghoon nikahi untuk membantu Mirae menjadi seorang Ratu."


"Tapi akhirnya Sunghoon tidak mau membantu Mirae sehingga mereka membuat perjanjian baru. Mirae meminta Sunghoon untuk membantunya bisa menikah dengan Jake. Mirae sangat ingin menjadi Ratu itu sebabnya ia akan melakukan apapun untuk naik takhta."


"Tapi lagi-lagi rencananya tidak sesuai, Sunghoon tidak menepati janjinya. Jake meninggal saat bertarung dengan Sunghoon, entah benar-benar meninggal atau justru menghilang. Yang pasti saat ini Mirae mencari Sunghoon dengan cara mengincar dirimu. Karena dengan melukai dirimu, Sunghoon kemungkinan besar akan muncul."


Elena bergeming untuk beberapa saat, apakah itu artinya Elena sangat berarti untuk Sunghoon?.


"Kau tidak boleh berpikiran untuk melukai diri sendiri agar Sunghoon muncul di hadapanmu." Julius langsung menegur.


"Aku tidak sebodoh itu." Kata Elena kesal.


"Keadaan kaum Vampir sedang tidak stabil, sistem Kerajaannya di cabut sehingga mereka sedang memberontak, berkeliaran tanpa aturan. Mirae tidak akan pernah menjadi seorang ratu tapi ia bisa menjadi Empusa. Dewi Iblis Penghisap Darah."


"Apakah itu artinya semua vampir setara?" Elena bertanya.


"Sistem Kerajaan terlalu kuno untuk zaman yang semakin modern. Para vampir tidak akan memisahkan diri lagi, kami akan menyatu dengan para manusia. Hidup di kota, bekerja di perusahaan dan mengikuti sistem pemerintahan yang ada pada manusia. Tidak ada lagi Raja dan Ratu Vampir. Lebih tepatnya kami akan setara dengan manusia." Jelas Jay.


"Lalu bagaimana dengan sihir yang kalian miliki?"


"Itu masih menjadi perdebatan. Karena sistem Kerajaan dicabut secara tiba-tiba, beberapa Vampir yang tidak setuju akan terus memberontak. Berdemo dengan membuat angka kematian manusia meningkat. Hingga kemungkinan besar keberadaan Vampir akan mencuat kepermukaan dan menimbulkan masalah baru, yaitu peperangan antara Manusia dan Vampir."


Membayangkan nya saja sudah membuat bulu kuduk Elena merinding. Sesama manusia saja bisa menimbulkan kiamat besar apalagi peperangan antara dua makhluk yang berbeda.


"Dan juga ada berita buruk untukmu." Ucapan Jay membuat tubuh Elena menegang.


"Sepertinya ada Vampir yang menyebarkan berita tentang dirimu yang bisa membaca kitab sihir. Sekarang ini kau tidak aman, kau akan menjadi incaran para Vampir MiX untuk dijadikan hamba bagi mereka yang menginginkan sihir."


Jantungnya langsung bertalu-talu kencang. Jay memperhatikan Elena yang cemas.


"Kau aman selama didekat kami."


"Maksudmu aku harus terus berada didekat kalian selama 24/7?" Tanyanya dengan suara bergaung.


Julius mengangguk dan tiba-tiba saja Elena menghembuskan napas dengan frustasi. Gadis itu tidak tahan hanya untuk memikirkannya.


"Tapi apa alasan kalian mau menjagaku? maksudku, aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan Sunghoon dan bahkan diriku bukanlah manusia yang penting untuk para Vampir. Jadi ku pikir kalian tidak harus repot-repot menjagaku dari para MiX."


Julius dan Jay saling berpandangan untuk beberapa saat, seolah menyembunyikan sesuatu.


"Karena kita sudah saling mengenal, ku pikir kau layak untuk dijaga oleh kami." Julius menjawab dengan asal.


"Itu tidak masuk akal." Elena berkomentar.


"Seharusnya kau berterimakasih." Julius menyinggung.


"Pertama kau harus melepas liontin yang kau pakai. Liontin itu mengandung darah suci yang bisa digunakan untuk membangkitkan seseorang dari kematian."


Elena langsung menyentuh liontinnya. "Benarkah? seajaib itu?" Dia memperhatikan kalung berbentuk hati tersebut. Selama sembilan belas tahun Elena menggunakan liontin pemberian ayahnya, ia baru tahu bahwa warna merah dibagian bentuk hati bukanlah sebuah kristal melainkan cairan darah.


"Kedua, kalau kau ingin berpergian pada malam hari sebaiknya hubungi aku atau Julius. Kami bisa mengantarmu ketempat tujuan. Jangan sampai kejadian kemarin malam terulang lagi, seandainya kami tidak ada. Kau sudah habis menjadi santapan bawahannya Mirae." Jay bersedekap selagi menjelaskan peraturan untuk Elena.


Elena duduk merosot diatas ranjang, ia merasa menjadi seorang princess yang mendapatkan banyak larangan.


"Semuanya demi kelangsungan hidupmu." Ujar Julius pelan.


"Tidak bisakah kalian merubah diriku menjadi Vampir juga? aku sudah lelah menjadi manusia yang terus-menerus diincar oleh para vampir." Tatapannya kosong, putus asa.


"Permintaan macam apa itu. Konyol sekali." Jay terkekeh membuat Elena mengerucutkan bibirnya.


"Kalau begitu bagaimana dengan permintaan ku yang satu ini. Bisakah kalian mempertemukan aku dengan Sunghoo?"


Jay mengangkat alisnya terkejut.


"Tentu saja tidak bisa. Sunghoon sudah kembali ketempat asalnya, dia bahkan tidak akan menemui kami begitu pun dengan kau."


Tiba-tiba saja perutnya terasa seperti dipenuhi pecahan-pecahan es kecil yang tajam.


"Well~ mungkin suatu saat nanti kita bisa bertemu dengannya." Jay membuat Elena merasa lebih baik.


Gadis itu membaringkan tubuhnya sembari memperhatikan Julius yang sibuk membaca buku. Tampaknya Julius adalah Vampir yang kalem dan juga pintar. Versi Nicholas sebagai Vampir. Julius memiliki wajah yang mungil, lesung pipi yang dalam dan caranya memandang agak menyebalkan.


"Apa yang terjadi pada tubuh manusia ketika akan berubah menjadi Vampir?" Tiba-tiba saja Elena membuka percakapan lagi.


Jay hanya melirik Elena tapi tidak menjawab pertanyaan gadis tersebut.


"Tubuhmu akan terasa panas, penglihatan mu rabun dan telingamu akan mendengar suara dengungan yang sangat tajam hingga terasa menusuk." Jawab Julius membuka halaman berikutnya.


"Aku juga merasakan itu ketika Chika menggigit ku." Elena memperhatikan kembali luka gigitan yang ada ditangannya. Jari-jarinya bergerak mengikuti lingkar luka tersebut, mendadak ia teringat dengan Jake.


"Seandainya Jake tidak menyelamatkan aku, mungkinkah aku akan berubah menjadi Vampir?"


"Tergantung keinginan didalam dirimu. Kalau kau lelah menjadi manusia kemungkinan besar kau bisa berubah tapi tidak semua manusia yang sudah digigit akan berubah menjadi Vampir."


"Apakah diantara kalian ada yang terlahir sebagai manusia sebelum akhirnya berubah?"


Sontak Jay langsung menoleh. "Apa yang membuatmu bertanya begitu?"


Elena mengangkat bahu. "Aku hanya ingin tahu." Katanya pelan.


"Heeseung dan diriku terlahir sebagai manusia tapi seseorang mengubah kami menjadi Vampir."


Elena langsung bangun dari tidurnya. Gadis itu tidak percaya bahwa sebelumnya Julius dan Heeseung adalah seorang manusia.


"Wow~ fantastis. Kehidupan mana yang kau sukai? Manusia atau Vampir?" Elena bertanya dengan antusias.


"Kehidupan tergantung yang menjalani. Mau kau manusia atau Vampir, selagi kau tetap bersyukur maka kau akan menyukai kehidupanmu."


to be continued.....