DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
21. Pertengkaran



"Aku mendengar percakapan mu dengan Haruto."


Elena menoleh. Mereka bertatapan lama sekali.


"Apakah terjadi sesuatu dengan tanganmu sehingga kau mengganti seragam?"


Elena semakin terpojok. "Sunghoon..." Kerongkongan Elena rasanya tersumbat. Dia tidak bisa mengatakan apapun.


Perlahan Sunghoon tersenyum kecil, ia tahu bahwa Elena sudah membohonginya. Tanpa aba-aba tangan gadis itu ditarik dan kain yang menutupi lengannya ditarik hingga robek. Elena kaget luar biasa.


Keningnya mengernyit. Sunghoon memperhatikan bekas gigitan yang ada ditangan Elena. Lalu sorot matanya yang tajam mengintimidasi Elena. Ada sarat amarah dalam tatapannya, Sunghoon mengatupkan giginya sampai gertakannya terdengar ke kuping Elena.


Dan dengan secepat angin entah secepat kedipan mata Sunghoon sudah menghilang meninggalkan Elena sendirian. Gadis itu tahu siapa yang Sunghoon cari, dia pasti akan memarahi Jay atau jika tidak lebih buruk mungkin mereka bisa bertengkar.


Elena berlari meninggalkan asrama yang masih terbuka, ia berusaha mencari para vampir tapi sialnya tidak bisa menemukan siapapun. Kakinya berlari menyebrang ke arah asrama tempat Jake tinggal. Elena menggedor pintu tersebut sampai siswa lain kebingungan. "Oh ayolah~" Gerutunya gelisah.


Elena masih berusaha memanggil Jake untuk meminta bantuan dan pada akhirnya pintu tersebut terbuka menampakkan Jake dengan keadaan telanjang dada. Ia terkejut tapi tidak peduli.


Jake mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa kemari?" Tanyanya mengacak-acak rambut yang basah.


"Sunghoon baru saja melihat luka di tanganku lalu ia menghilang dengan keadaan marah. Ku pikir Jay dalam bahaya." Gadis itu masih panik.


"Bagaimana bisa dia tahu kalau ada luka di tanganmu?"


"Aku tidak tahu Jake! Kumohon bawa aku ber teleportasi ketempat Jay berada."


"Masalahnya aku tidak tahu Jay ada dimana." Jake menarik tangan Elena sampai masuk ke dalam asrama.


Elena frustasi, ia takut kalau Sunghoon sedang memukuli Jay saat ini karena Jay tidak berhasil menjaga Elena. Gadis itu menyingkirkan rambutnya yang menghalau pandangan dengan kasar. "Bagaimana jika Sunghoon membunuh Jay?" Gumamnya menangkup wajah.


"Itu tidak mungkin terjadi El." Jawab Jake santai.


Keadaan hening untuk beberapa saat sebelum akhirnya suara pintu tertutup terdengar sangat kencang seperti petir. Elena langsung menganga sekaligus terkejut saat melihat Sunghoon sudah mencengkram leher Jake sampai kakinya melayang.


Mata Sunghoon hitam seperti gelapnya malam tanpa penerangan. "Aku sudah memperingatkan dirimu untuk tidak pernah menyentuh Elena!." Tekan Sunghoon.


Jake tersenyum tidak merasa kesakitan, "mau bertaruh denganku?" pertanyaan Jake membuat Sunghoon semakin marah.


Elena menyentuh tangan Sunghoon dan meminta lelaki itu untuk melepas cekikan nya. Tapi saat ini Sunghoon sedang dirasuki kemarahan, ia tidak peduli dengan ucapan Elena. Disingkirkan nya tubuh gadis itu sampai membentur meja belajar.


Jay muncul dan membantu Elena untuk berdiri.


"Sunghoon, semuanya kecelakaan. Jake hanya mencoba untuk menyelamatkan Elena." Jelas Jay melerai tapi tidak ada hasilnya.


"Kau pikir aku akan percaya? Dia selalu menginginkan apa yang aku miliki. Kau pikir aku akan percaya begitu saja kalau vampir sialan ini hanya mencoba untuk menyelamatkan Elena? Pasti ada sesuatu yang dia inginkan dari Elena." Sunghoon kembali mendongak menatap Jake.


"Apa yang kau inginkan darinya?" Tanya Sunghoon, Jake menoleh melihat Elena membuat gadis itu semakin kebingungan.


"Kau tahu betul apa yang ku inginkan darinya....."


Suara kehancuran kaca sangat nyaring, Elena menyentuh kepalanya ketakutan.


Tubuh Jake sudah tersungkur bersama dengan serpihan kaca yang menyedihkan. Amarah Sunghoon terus dipancing oleh Jake, ia memukul Jake dengan sembarang beda yang ada di ruangan ini. Sihirnya digunakan untuk berkelahi sekarang ini. Bibirnya ter katup rapat, jiwanya dibakar api amarah dan tangannya tidak berhenti membanting tubuh Jake ke segala arah.


"KUMOHON HENTIKAN! HENTIKAN SUNGHOON!" Elena berteriak, ia tidak tega melihat lelaki yang sudah menyelamatkan nya disiksa oleh lelaki yang disukai dirinya.


Elena menangis tapi itu semua tidak meredakan amarah Sunghoon. Mau tidak mau Jay yang harus menghentikan, ia menggerakkan telunjuknya membuat tubuh Jake melayang. Sunghoon langsung menoleh pada Jay.


"Kau bisa memancing kemarahan ayahnya Jake." Ujar Jay menyadarkan Sunghoon bahwa menyentuh Jake adalah sebuah kesalahan.


Sunghoon melangkah mendekati Jay sampai wajah keduanya hanya berjarak beberapa sentimeter. "Aku tidak akan pernah marah kalau dia tidak menyentuh 'milikku'."


"Aku paham tapi kau perlu mengontrol emosimu sebelum bertindak seperti ini. Kau bisa membuat Jake mati. Dan apa yang kau rencanakan selama ratusan tahun ini akan hancur dalam sekejap hanya karena seorang gadis manusia." Jay membuat Sunghoon terdiam.


Tangannya masih mengepal belum puas melayangkan sihir ke tubuh Jake tapi ucapan Jay perlu Sunghoon dengar. Semuanya bisa hancur jika ia terlalu marah.


Dan pemicu kemarahannya adalah Jake bertindak sangat jauh. Kenapa dia harus menyelamatkan Elena sementara sedari awal ia tidak tertarik pada gadis itu. Jake selalu penasaran dan iri dengan apa yang dimiliki Sunghoon. Itu semua karena Jake tidak sesempurna Sunghoon.


Jake dilahirkan sebagai penerus Raja vampir di tanah El'meara. Ia adalah asli keturunan vampir tanpa percampuran darah seperti Sunghoon namun Jake tidak bisa menguasai semua sihir selayaknya anggota Cranium yang lain. Ia bahkan tidak termasuk dari bagian Prajurit Mata. Jake adalah vampir terlemah diantara keenam teman-temannya. Dia disegani karena anak dari raja vampir saat ini. Dia seorang bangsawan namun terlalu lemah. Itu sebabnya Jake iri pada Sunghoon. Selain iri dia juga tahu bahwa ada yang janggal dari Sunghoon.


Tanpa sepatah kata lelaki jangkung itu keluar dari ruangan asrama.


Elena sesegukan melihat kepergian Sunghoon. Ia juga tidak tega melihat Jake terkulai lemas di atas ranjang. Gadis itu merasa bersalah karena pemicu pertengkaran berawal dari dirinya.


"Aku benar-benar tidak bisa mengimbangi kekuatan Sunghoon." Gumam Jake menyentuh perutnya.


Jake sempat terlempar kesana-kemari tapi ajaibnya handuk yang menempel di pinggangnya tidak lepas. Itu suatu keberuntungan juga karena kalau lepas maka genrenya akan berubah.


"Kau tidak harus mengimbangi kekuatannya, Jake. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi." Seru Jay melempar pakaian dalam dan celana pada Jake.


Elena melihat underwear tosca milik Jake, dan secepat mungkin ia mengalihkan pandangannya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Elena tidak enak.


"Aku akan lebih baik-baik saja jika setelah ini kau tidak mengejar Sunghoon." Ujar Jake membuat Elena mengernyitkan keningnya.


"Jake." Jay menegur.


"Ya~ aku baik-baik saja walaupun tulang rusukku patah." Jake menjawab dengan betul.


"Maafkan aku, karena aku tulang rusukmu patah." Elena menggigit bibir.


"Kau tidak perlu merasa bersalah, El." Jake menyentuh tangan Elena lalu mengusapnya pelan. Ia juga melihat luka bekas gigitan ditangannya Elena.


Gadis itu tersenyum merasa sedikit lebih baik begitupun dengan Jake.


"Kau sebaiknya kembali ke asrama, sebentar lagi absen akan dimulai." Kata Jay mengusir secara halus.


Tidak baik kalau Jake semakin jatuh hati pada Elena.


Gadis itu berpamitan lalu pergi keluar dari gedung asrama II menuju asrama III.


Sekarang ia gelisah dengan Sunghoon. Bingung harus bagaimana menghadapi remaja vampir tersebut. Elena tidak tahu bahwa Jake menaruh hati pada dirinya maka dari itu ia ingin tahu kenapa Sunghoon sangat marah saat tahu bahwa Jake menyelamatkan nyawa Elena.


Setelah selesai absen Elena mengendap-endap pergi ke kamar 13 . Sudah beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak ada sinyal dari Sunghoon. Mungkinkah lelaki itu tidak ada didalam?.


Keesokkannya, Jake dan Sunghoon tidak masuk kelas.


"Kalian duluan saja, aku mau bertemu dengan seseorang terlebih dahulu." Kata Elena langsung berlari meninggalkan Haruto.


"Apakah aku harus membiarkannya berkeliaran sendirian?" Gumam Haruto.


"Paling juga dia mau bertemu dengan salah satu vampir." Sahut Nicholas masih memperhatikan layar ponsel.


"Kau tidak khawatir karena Elena menempel dengan para iblis itu?"


"Itu kan pilihan Elena, yang penting aku sudah memperingati nya. Aku tidak perlu khawatir lagi kalau sesuatu terjadinya padanya karena memilih untuk berteman dengan vampir adalah keinginan Elena sendiri." Jelas Nicholas melanjutkan langkah kakinya menuju kelas selanjutnya.


to be continued....



(Sumber Picture : Pinterest.)