
"Apakah wanita itu benar-benar Viola?"
Sunghoon menghembuskan napasnya perlahan. Kalau memang benar perempuan itu adalah tunangannya, lantas siapa yang membangkitkan nya? sedang Sunghoon sendiri belum mendapatkan darah suci dari liontin milik Elena.
Suara sang ibu angkat terdengar olehnya.
"Mirae, ada di bawah." Gumam beliau sembari mengusap pundak Sunghoon.
Lelaki itu menuruni tangga dengan wajah yang dingin. "Kita bicara di luar." Katanya jalan terlebih dahulu meninggalkan Mirae yang sedang berbicara dengan ayah angkatnya Sunghoon.
Hujan masih turun dengan deras mengguyur mobil kuning bak Bumblebee, mobil itu milik Mirae. Angin berhembus cukup kencang membuat pepohonan bergerak.
"Rupanya kehidupan kota memang menyenangkan." Mirae mengulurkan tangannya membuat air hujan menyentuh kulit pucat dan mulus itu.
"Maaf aku tidak pernah mengunjungi mu."
Mirae tersenyum. "Aku mengerti, kau tidak perlu menyesal. Aku kemari untuk meminta sebuah kepastian, kau akan menikahi ku atau tidak?" Mirae menarik tangannya dari udara, ia menghadap pada Sunghoon.
"Kau tahu betul apa jawabanku." Sunghoon balik menatap. "Aku tidak perlu menikahi mu untuk menjadi kuat. Elena sudah cukup membuatku menjadi makhluk yang tidak ada tandingannya."
"Aku tidak percaya bahwa aku akan kalah dari manusia lemah seperti gadis itu." Mirae kesal tapi dia menerima keputusan Sunghoon.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menikahiku.. kalau kau bisa membantuku." Wanita itu menatap Sunghoon dengan licik.
"Apa yang kau butuhkan?"
Mirae menarik napas lalu memandang lurus. "Dulu, Jake pernah berkata bahwa ia bisa membuatku menjadi seorang Ratu tapi aku menolaknya karena kita sudah berjanji dan ternyata.. kau mengingkarinya." Dia mengatupkan bibirnya sebentar lalu tersenyum.
"Kau tahu betapa inginnya aku menjadi seorang Ratu maka dari itu bantu aku agar Jake menikahiku. Sehingga aku bisa berada di posisi paling tinggi untuk kasta bangsawan Vampir wanita." Mirae berkedip dan Sunghoon tahu bahwa wanita dihadapannya sedang memohon.
Tidak harus berpikir lama Sunghoon setuju untuk membantu Mirae.
Sebelum masuk kedalam mobil, Mirae berkata "aku merindukanmu, baj*ngan.".
Sontak Sunghoon langsung terkekeh.
Pada akhirnya hubungan Mirae dan Sunghoon usai. Dia senang karena betapa mudahnya mengendalikan Mirae yang pemarah dan sekarang yang menjadi pikiran untuknya adalah Jake. Dia menyukai hambanya Sunghoon, sementara Mirae meminta bantuan Sunghoon untuk membuat Jake menikahinya.
Saat ini Sunghoon mencoba untuk mengendalikan perasaannya agar tidak jatuh semakin dalam ke lautan hati milik Elena.
Di lain tempat Sunoo tengah duduk bersama dengan beberapa wanita disisinya. Ia sedang menikmati malam dengan party kecil di rumah temannya. Teman manusia.
"Apakah lain waktu aku boleh main ke rumahmu?" Tanya seorang wanita berambut pirang.
"Aku tidak menerima tamu untuk datang ke rumahku." Sunoo tersenyum.
"Kenapa? takut ya ketahuan main perempuan oleh istrimu?"
Sunoo terkekeh pelan begitupun dengan wanita yang lain. Gadis manja itu meletakkan kepalanya di tangan berotot Sunoo. "Kau tahu, aku selalu ingin terus bersamamu." Bisiknya membuat Sunoo menoleh, jarak wajah keduanya sangat-sangat dekat.
Tangan Sunoo menyentuh pundak lengan wanita tersebut lalu mengusapnya pelan. "Kau akan menyesal kalau masuk kedalam rumahku."
"Apapun yang berkaitan denganmu, aku tidak akan pernah menyesal." Tangan lentik itu mulai bermain diatas kancing kemeja putih Sunoo.
"Kau sungguh-sungguh mengatakan itu?" Sunoo bertanya.
Satu kecupan mendarat dibibirnya, si pirang tersenyum lembut lalu mengangguk.
Sunoo tersenyum jenaka, belum sempat ia membalas kecupan wanitanya seorang pelayan sudah menghampiri. Sunoo perlu menemui temannya terlebih dahulu.
Suara musik terdengar keras hingga keluar rumah, ia memakai kupluk hoodie nya menambah kesan misterius.
"Yang kau ucapkan benar, Elena adalah kembaran dari bayi yang beberapa tahun lalu kita renggut untuk eksperimen." Ujar temannya memberi beberapa foto pada Sunoo.
"Sepertinya ibu Elena menjadi gila karena kehilangan anak lelakinya."
Sunoo melihat-lihat foto yang menampakkan Elena berserta keluarganya.
"Tidak ada informasi lain?" Tanya Sunoo mengembalikan tumpukan foto pada temannya.
"Apakah kau sudah mendengar tentang batalnya pernikahan Sunghoon dan Mirae?"
Sunoo terkejut. "Apa yang kau katakan? jangan asal bicara."
"Beritanya sudah menyebar, keduanya tidak jadi menikah."
Ucapan temannya itu membuat Sunoo terdiam.
Keesokan harinya di depan loker ganti pakaian, Sunoo menghampiri Sunghoon yang sedang membuka celana.
"Kenapa kau membatalkan pernikahanmu dengan Mirae? bukankah hari kenaikan tinggal satu hari lagi. Setelah menerima kekuatan dari ayahmu, kau bisa menjadi yang terkuat dari anggota Cranium yang lain dan bisa bersanding dengan seorang Putri." Sunoo memasukkan pakaiannya kedalam loker sembari menatap Sunghoon.
"Aku tidak tertarik menjadi Raja dengan menikahi seorang putri bangsawan yang tidak ku cintai." Kata Sunghoon membuat Sunoo terkejut.
"Kau pikir menikahi manusia biasa bisa membuatmu menjadi seorang Raja?"
Sunghoon menutup loker. "Aku tidak pernah berkata bahwa aku akan menikahi manusia." Ia melenggang pergi menuju kolam renang.
Tepat di sekat loker Sunghoon melihat Jake. Keduanya saling bertatapan tapi tidak saling menyapa. Jake membuka lokernya dan mulai membuka kancing seragam. Sunoo menatapnya sembari memakai celana renang.
"Apa?" Tanya Jake ketus.
"Bukankah kau menyukai Mirae?" Sunoo bertanya demikian.
"Aku sudah tidak minat padanya." Gumam Jake membuat Sunoo membulatkan matanya.
"Astaga sialan, dia bisa mengamuk jika tidak bisa menjadi seorang Ratu." Sunoo mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa tidak kau saja yang menikahinya."
"Kau mau mati? Bagaimana bisa aku menikahi adikku sendiri."
Jake memberi reaksi kaget. "Memangnya sejak kapan kau menganggap dia sebagai adik?"
Jake meraih kacamata renang lalu melenggang pergi tapi Sunoo membuntuti nya. Mereka berjalan ke dekat guru olahraga, beberapa wanita saling berbisik saat melihat roti sobek ada dimana-mana.
"Astaga, lihat tubuh mereka sangat menggemaskan."
"Aku ingin menyentuhnya."
"Menurutku bentuk tubuh milik Sunghoon dan Nicholas adalah yang terbaik."
Elena diam-diam melihat keduanya, mendadak ia jadi tersipu malu saat Sunghoon memergoki Elena yang sedang memperhatikan tubuhnya.
Tes para siswi sudah selesai sehingga mereka bisa bebas bermain air.
"Sunghoon, Nicholas, Daniel dan Jeno kalian berikutnya." Ujar saem.
Seketika itu juga para wanita memperhatikan tes para siswa mengingat ada Sunghoon dan Nicholas. Mereka jadi terkenal sebagai rival karena pernah bertengkar di kantin. (7 - Berubah).
Elena pun tidak luput menonton tes antara mereka. Siapakah yang akan memimpin? Si Vampir setengah manusia Serigala atau mungkin manusia Serigala tulen yang menang?.
Dari kejauhan Sunghoon dan Nicholas tampak mengobrol, pandangan Elena tidak hanya fokus ke pada dua lelaki itu tetapi Elena juga memperhatikan Daniel yang diam menguping percakapan antara Nicholas dan Sunghoon.
Saat suara peluit terdengar nyaring, para siswa itu langsung bergerak. Seluruh remaja yang ada di tempat ini saling bersorak menyemangati jagoannya. Sudah seperti olimpiade. Elena merasakan ketegangan, ia berpihak pada Sunghoon untuk menang. Gadis itu memperhatikan Sunghoon lalu bersorak kencang karena jagoannya berhasil diurutan pertama.
Siswi yang menyukai Sunghoon itu banyak sehingga saat ia keluar dari kolam renang beberapa gadis menghampirinya sembari membawa minum dan handuk. Elena menundukkan pandangannya tidak mau melihat, ia meraih botol minumnya lalu berjalan menuju pintu keluar.
Tanpa disangka-sangka olehnya bahkan mungkin seluruh orang. Nicholas menghadang langkah Elena lalu meraih botol minum milik gadis tersebut. Mata Elena semakin membulat terkejut ketika Nicholas meminum minumannya hingga habis.
"Terimakasih." Gumamnya mengacak-acak rambut Elena yang basah.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk kaku, tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang. Perasaan yang sebelumnya baru saja terkubur kini mulai kembali bangkit. "Kenapa kau seperti ini padaku?" Pekik Elena dalam hati.
Para siswa merasa geli, gemas dan juga jijik melihat pemandangan yang baru saja terjadi. Sama dengan Sunghoon dan Jake, mereka berdua saling mengepalkan tangan karena kesal gadis yang disukainya baru saja di goda oleh sang musuh.
Setelahnya Elena merenung di dalam kamar mandi, ia melamun dengan guyuran air hangat. Kenapa Nicholas seperti itu tadi pagi? lalu apa yang dibicarakan Sunghoon dan Nicholas didalam kolam renang tadi?.
"Sial, lama-lama aku tidak bisa menanggung ini semua. Aku terbiasa mengobrol dengan Chika. Aku merindukannya." Gumamnya mematikan kran air.
Elena berjalan menuju kelas selanjutnya tapi ditengah perjalanan Elena bertemu dengan guru matematika yang menyuruhnya untuk mengambil beberapa buku diperpustakaan. Mau tidak mau Elena menurut. Gadis itu berjalan dengan santai menyusuri koridor, matanya memicing saat melihat sepatu putih.
"Kau bisa terbakar." Ucap Elena pada Sunghoon yang sedang duduk sembari membaca sebuah buku.
Karena ucapannya tidak di gubris sama sekali, Elena memilih untuk melanjutkan perjalanannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Sunghoon sudah berada didekat Elena.
"Aku disuruh saem untuk mengambil beberapa buku. Kau sendiri, kenapa tidak masuk kelas?"
"Aku bisa sampai dikelas hanya dengan hitungan beberapa detik." Sunghoon kembali membaca buku.
"Apa yang kau baca?" Elena mencoba melihat judul buku yang di pegang Sunghoon.
"Cara memahami seorang perempuan, hey~ dari mana kau mendapatkan buku seperti itu?" Elena bertanya sedikit meledek.
"Aku memungutnya di tong sampah." Jawab Sunghoon masih menatap buku.
"Cih." Elena tidak percaya.
Diluar hujan sehingga hembusan angin kencang masuk kedalam ruangan sekolah.
"Ngomong-ngomong tentang buku, kenapa kau tidak memberikan kitabnya padaku? bukankah kau sudah menemukannya?" Elena mulai menumpuk buku matematika.
"Seharusnya kau inisiatif sendiri dari kemarin untuk mengambilnya dariku." Sunghoon juga menumpuk buku.
"Bagaimana bisa aku menagih kitab itu sementara kau tidak ada di sekolah dan asrama. Aku mencarimu kalau kau ingin tahu."
"Kenapa mencari ku?"
"Tentu saja untuk minta maaf." Ketus Elena mengangkat buku tapi ia kewalahan sehingga menyimpan semua tumpukan bukunya dimeja.
"Kau punya salah padaku?" Sunghoon mengambil beberapa buku dari tumpukan Elena agar gadis itu mengangkatnya dengan ringan.
"Aku tahu kau pura-pura lupa. Kau kan marah karena masalah tanganku yang digigit."
"Ada yang lebih membuatku marah dari itu, bodoh."
Sontak Elena mendelik saat Sunghoon mengatainya bodoh.
"Aku marah karena Jake menyelamatkan dirimu."
"Maksudmu seharusnya aku mati saja? begitu?"
"Aku belum selesai bicara otak udang." Sunghoon mengangkat bukunya dan mulai berjalan begitupun dengan Elena.
"Seharusnya kau dibawa saja ke rumah kepala sekolah agar beliau yang mengurus."
Elena mengernyitkan keningnya. "Memangnya kenapa kalau Jake yang menyelamatkan aku?"
Sunghoon menoleh sebentar. "Jake itu punya hati yang hitam, itu karena ia calon Raja yang tidak menguasai kekuatan melimpah. Dia punya tujuan yang sama denganku, yaitu ingin menjadi seorang Raja hanya saja kami berbeda. Aku terlahir dengan sihir air dan api. Vampir itu sedikit sensitif dengan api sehingga beberapa vampir bangsawan tidak bisa memiliki sihir tersebut. Sementara Jake, dia hanya bisa mengeluarkan sihir biasa dan barrier pelindung tidak lebih dari itu."
"Lalu apa hubungannya denganku?."
Sunghoon tersenyum. "Kau itu seorang hamba yang bisa menuntun makhluk MiX sebagai seorang Raja, seperti aku. Jake memang bukan seorang MiX tapi takdirnya tidak sebagus diriku yang MiX. Karena hatinya yang hitam seperti para MiX lain, dia juga bisa menjadikan dirimu sebagai jalan untuknya naik takhta. Bukan dengan mantra tapi dengan darah yang ada di liontin milikmu. Kalau kau bertanya bagaimana bisa Jake tahu bahwa kau bisa membantunya, itu karena ia bersentuhan denganmu. Dia bisa melihat masa depannya walaupun itu belum pasti dan saat ini yang lebih pasti dari semuanya adalah dia bisa jatuh cinta padamu. Hatinya yang hitam dan mati, bisa hidup kembali karena mu."
to be continued....
(Sumber Picture : Pinterest)
Halo love~ jangan lupa selalu pakai masker, cuci tangan dan jaga kebersihan yang lainnya. Stay safe okayy~ ikuti selalu protokol kesehatan, jangan bandel-bandel yaa🤍.