DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
35. Red House



Elena memperhatikan Julius yang sedang membalut telapak tangannya yang berdarah. "Kau tidak tertarik bau darah milikku?" Tanyanya menggerakkan jari-jari. Julius sudah selesai.


"Aku tidak se-fanatik itu pada darah." Jawabnya membereskan peralatan p3k.


Tiba-tiba saja Jay mengulurkan tangannya. "Berikan kalung mu padaku, aku bisa menyimpannya dengan aman."


Elena menggigit bibirnya sedikit merasa bersalah karena tidak mendengarkan ucapan Jay sebelumnya. "Tidak mau. Aku akan menyimpannya sendiri."


Mau tidak mau Jay hanya mendengus saja.


"Ku rasa werewolf berambut hitam itu sengaja." Kata Julius pada Jay.


"Perawakannya tampak pendiam tapi sebetulnya dia sangat licik." Sahut Jay.


"Bahkan sepertinya dia menggunakan Elena untuk menghentikan Sunghoon."


"Apa? Kenapa kalian menyebut namaku?" Elena langsung bergabung dengan percakapan kedua lelaki itu.


Julius memutar kursinya untuk melihat ke arah Elena. "Sepertinya kau tidak boleh dekat-dekat dengan Sunghoon sampai dia menjadi Raja."


"Kenapa? apa aku akan menyulitkannya? tunggu, tentu aku tidak akan menemuinya lagi. Pertemuan tadi adalah yang terakhir kali."


"Dasar labil." Pekik Jay membuat Elena mendelik.


Gadis itu memperhatikan tangannya yang dililit perban. Di dalam benaknya masih selalu terbayang-bayang Sunghoon. Apalagi barusan baru saja bertemu. Rasanya benar-benar seperti mimpi. Pertemuan yang sangat buruk diawali dengan pertengkaran.


"Apa yang terjadi dengannya? lalu apakah Sunghoon memberi warna pada rambut cokelatnya?"


Jay dan Julius saling melempar pandangan.


"Kami tidak tahu dan tentunya kami juga sama seperti mu baru mengetahui penampilan Sunghoon yang sudah berubah."


"Atau mungkin sebenarnya dia memang bukan Sunghoon?"


Jay berjalan ke dekat jendela, ia memperhatikan setiap pepohonan yang tampak mencurigakan.


"Dia tetap Sunghoon walaupun bukan Sunghoon yang dulu." Jawab Jay setelah mengetahui ada seseorang yang sedang menguping.


"Aku akan keluar sebentar." Ujarnya sudah menghilang dari pandangan Elena.


"Wow." Elena langsung melihat ke arah Julius.


"Aku tidak akan menjelaskan apapun tentang Sunghoon." Katanya tiba-tiba.


Elena hanya memutar bola matanya lalu termenung sebentar.


"Kenapa harus ada kerajaan di antara Vampir dan Serigala. Bukankah justru itu mengacu sebuah peperangan?."


"Peperangan tidak pernah terjadi diantara kami. Hanya perseteruan kecil saja itu pun masih bisa ditangani. Contohnya cinta segitiga antara dirimu, Sunghoon dan Jake."


Elena mendesah. "Tidak ada cinta segitiga diantara kami." Sangkalnya.


"Tapi mengapa ada banyak sekali kerajaan di vampir? Sunghoon bahkan pernah menjadi Raja vampir dan Jake akan di nobatkan juga."


Julius menutup jendela. "Dalam kehidupan vampir ada banyak sekali ras. Sehingga mereka yang kuat dan mampu menjadi pemimpin bisa membuat kerajaannya sendiri. Tetapi dalam kehidupan manusia itu hanya kelompok biasa karena pada dasarnya kami hanya memiliki pemimpin untuk mengatur tidak memiliki pemerintahan seperti yang ada pada manusia."


Lelaki itu menyalakan api untuk menghidupkan lilin yang mati.


Elena penasaran. "Castle kehidupan dan kematian?"


Julius kembali menjelaskan "Tempat tersebut dipakai sebagai sarana manusia yang menjadi vampir dan para manusia yang berhubungan dengan vampir. Mereka harus membuat sumpah seumur hidup. Lalu sebuah kematian atau hukuman yang berkaitan dengan vampir dan manusia dilaksanakan ditempat tersebut."


ooOoo


Jauh dari keramaian manusia sebuah Kastil tua berdiri dengan kokoh. Warnanya memudar bahkan cat yang terdapat disetiap tembok sudah mengelupas membuat Kastil tersebut dipandang menyeramkan. Konon katanya sebuah cerita rakyat menyebar, di Kastil tua tersebut dihuni oleh iblis penghisap darah. Mereka yang sempat masuk ke dalam Kastil tidak pernah keluar lagi. Setiap malam ada banyak sekali kelelawar yang keluar dari setiap celah, lalu sebelum fajar kawanan kelelawar itu berbondong-bondong masuk kembali ke dalam Kastil seolah takut terbakar matahari.


Sebuah jeritan terdengar di telinga Heeseung. Perlahan ia mencoba untuk mengintip dari celah tirai kayu. Seorang vampir baru saja terbakar api matahari, sepertinya ia tidak sempat ke tempat teduh.


"Setiap hari selalu ada vampir yang menjadi abu, mereka semua hampir para vampir baru seperti dirimu. Kau harus lebih berhati-hati saat berkunjung kemari karena Kastil ini berada diatas puncak tebing dan tersorot matahari. Maka dari itu mereka yang berkunjung akan memesan kamar untuk beristirahat sebentar dan kembali ke kota saat matahari terbenam."


Heeseung mengangguk sembari tersenyum kecil. Ia sedikit ketakutan.


"Pengajuanmu ditolak." Ujar EN sebutan untuk para panitia di Red House.


"Apa ada yang salah dengan pangajuanku?"


"Kau seorang vampir baru, tentunya pengajuan untuk mengubah kekasihmu menjadi vampir ditolak. Kau perlu mengontrol dahagamu untuk mengajak seorang manusia menjadi vampir dengan begitu kau bisa membantu kekasihmu nanti."


Mau tidak mau Heeseung menerima keputusan Red House. Semuanya adalah yang terbaik, dia akan menunggu 1 tahun lagi untuk mengubah Gisel menjadi vampir seperti dirinya.


Dilorong menuju ruangannya ia bertemu dengan Sunoo dan seorang perempuan cantik berlipstik merah.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sunoo langsung.


"Mengurus beberapa hal, kau sendiri?"


Sunoo melirik adiknya sejenak. "Aku kemari untuk melihat daftar vampir bangsawan yang menghilang dan juga.... daftar kematian."


"Apa sesuatu terjadi dengan keluargamu?"


"Kenapa kau ingin tahu urusan kami?" Ujar Mirae dingin.


Heeseung agak terkejut, ia tersenyum dan meminta maaf.


"Aku tidak punya waktu untuk mengobrol dengan vampir rendahan." Tambahnya melenggang pergi meninggalkan Sunoo dan Heeseung.


"Dia memang pemarah. Aku pergi dulu." Sunoo menepuk pundak Heeseung lalu menyusul Mirae.


Ketika dirinya masuk ke dalam ruangan daftar kematian, Mirae tengah duduk dengan wajah yang sangat menyeramkan. Sepertinya dia bisa membuat porak poranda Castle ini dengan kemarahannya.


"Keluarga Sim sudah melaporkan kehilangan anaknya namun kami tidak bisa membantu karena beliau terlibat perkelahian dengan vampir lain. Bukan karena sandera atau di bunuh oleh manusia." Jelas panitia membuat Mirae semakin murka namun Sunoo mencoba untuk mencegah adiknya agar tidak meledak.


Sunoo tersenyum kecil pada panitia. "Kalian boleh menyalahkan Jake karena sudah melanggar peraturan dengan alasan 'Percobaan mengambil alih sebuah sihir'. Keluarganya adalah vampir yang taat peraturan, sudah dipastikan mereka akan setuju jika kalian mengadili Jake. Tapi, yang dilawan Jake bukanlah seorang vampir biasa.... melainkan seorang MiX." Senyumnya semakin merekah.


Sunoo berjalan ke dekat meja panjang yang diisi sekitar 8 vampir. Ia meletakkan kedua tangannya diatas meja.


"Vampir setengah Serigala." Imbuhnya membuat para vampir dihadapannya terkejut.


"Kau tidak boleh asal bicara. Vampir setengah Serigala itu hanya pernah ada ratusan tahun yang lalu dan tidak ada lagi yang pernah melanggar pernikahan terkutuk itu." Ujar ketua panitia.


"Kau bisa mengeceknya sendiri, dia anak dari Raja werewolf ditanah Luga Ru. Seorang putra mahkota yang akan naik takhta." Mirae buka suara, ia tidak akan pernah berpihak lagi pada Sunghoon. Setelah Sunoo memberitahu Mirae mengenai siapa Sunghoon sebenarnya. Ia merasa dibodohi karena hampir menikah dengan seorang MiX. Dan kebenciannya bertambah setelah Sunghoon mengingkari janji-janjinya pada Mirae.


to be continued...