
Keadaan kantin sangat riuh, tidak hanya suara piring berserta sendok tetapi juga mulut para siswa tidak berhenti berbicara.
Elena meletakkan susunya di atas meja, hari ini pun ia tidak mengambil makan. Nafsu makannya masih belum kembali. Beberapa kali Haruto membujuk Elena untuk makan tetapi gadis itu tetap bersikeras mengosongkan perutnya.
"Kalau begitu mau ku suapi?"
"Jangan membuatku harus menyemburkan susu ini ke wajahmu." Kata Elena galak.
"Astaga~ semakin hari kau semakin terlihat kejam." Haruto mencibir lalu memasukkan makanannya ke mulut.
Semenjak kepergian Sunghoon, Elena menjadi gadis yang dingin. Dia tidak banyak bicara, tatapannya berubah menjadi tatapan tidak peduli.
"Ku pikir Jay tidak akan meneruskan sekolahnya." Ujar Haruto membuat Elena melihat meja diseberang.
"Mungkin tanggung karena sebentar lagi kelulusan." Elena kembali menatap layar ponsel.
"Oh iya, kau mau pulang ke rumahmu? biar ku antar sekalian bertemu dengan ibumu."
"Untuk apa bertemu ibuku? aku bisa pulang sendiri." Tolak Elena.
"Tentu saja untuk menjenguknya, aku ini kan keponakan ibumu."
"Ibuku bahkan tidak ingat punya anak, bagaimana mungkin beliau ingat padamu."
"Dasar anak durhaka." Gumam Haruto membuat Elena menoleh.
Lelaki itu menyunggingkan giginya yang bersih.
Mendadak Elena merasa sedang diperhatikan oleh seseorang, ia melihat ke sekitar kantin tapi semua orang sedang sibuk dengan aktivitas nya masing-masing. Mata Elena juga bertemu dengan mata Jay. Untuk pertama kalinya mereka tampak canggung.
"Ngomong-ngomong kemana Nicholas?" Elena membuka kembali topik pembicaraan.
"Em, dia sedang ada urusan keluarga." Jawab Haruto menyeruput kuah sayur.
Elena membuka susunya tapi tidak ia minum melainkan ia letakkan lagi di meja. Gadis itu sedikit mendekatkan tubuhnya ke tubuh Haruto membuat lelaki tersebut agak kaget. "Apa kau tahu bahwa Nicholas seorang werewolf?" Bisik Elena nyaris membuat Haruto tersedak.
"Tentu saja aku tahu, bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau Nicholas adalah Serigala. Astaga, jauh-jauh dariku, kau membuat tubuhku merinding." Sepupunya itu mendorong tubuh Elena.
"Ish, tubuhmu merinding karena pikiranmu sendiri bodoh."
Haruto terdiam mendengar ucapan Elena. Dia terlihat menyebalkan seperti Sunghoon. Tapi Haruto tidak mau memberitahunya takut kalau Elena teringat lagi dengan si iblis penghisap darah.
Sepulang dari kantin Elena berjalan menuju kelas selanjutnya, di lorong ia melihat ada siswa dan siswi yang sedang sibuk membawa tumpukan buku. Mereka mengingatkan Elena pada Sunghoon. Dulu Elena juga pernah membawa tumpukan buku dari perpustakaan bersama dengan Sunghoon.
"Kau tidak boleh mengingatnya Elena." Gadis itu memukul pelan kepalanya lalu melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
Ruang ujian sangat sepi, hanya suara pena dan jam dinding yang terdengar nyaring. Elena bisa mengerjakan semuanya, walaupun tidak yakin dengan hasilnya. Gadis itu pasrah saja, toh sekolah tidak mungkin tidak akan meluluskan siswanya. Seburuk apapun nilainya pasti akan diluluskan karena kalau tidak reputasi sekolah akan turun.
Sesekali Elena melirik pada Jay, ia tampak baik-baik saja. Apakah Jay tidak merasa kesepian?. Tiba-tiba saja lelaki itu menoleh pada Elena, tahu kalau sedang diperhatikan.
Elena langsung pura-pura membaca soal. Malu sudah kepergok.
...****...
Beratus-ratus tahun rakyat Luga Ru mencari keberadaan sang calon Raja. Mereka cari kesemua pelosok yang ada di dunia ini tapi tidak pernah ada yang berhasil menemukannya dan kini dia kembali ke kerajaannya dengan wujud yang berbeda.
Bukan sambutan hangat yang diterima olehnya ketika bertemu dengan para petinggi Kerajaan. Melainkan sebuah cibiran, kutukan dan juga pengusiran yang diterima olehnya. Dia menahan amarahnya sembari mengepalkan tangan, menunggu diambang pintu agar bisa masuk kedalam ruangan sang Raja.
Tapi, Raja tidak ingin menemuinya. Beliau menitipkan pesan pada pelayannya agar ia kembali ke kamar dan beristirahat terlebih dahulu. Mau tidak mau ia menurut. Ia mengikuti semua perintah ayahnya.
Tirani menemani sang tuan takut kalau lelaki itu tersesat.
"Para pelayan sudah menyiapkan pakaian Kerajaan untuk tuan pakai." Ujarnya tersenyum.
Sayang sekali, lelaki itu tidak membalas senyumannya. Saat ini moodnya sedang sangat buruk. Ditambah lagi kedatangan seseorang yang tiba-tiba saja mencengkram pakaiannya.
"Apa yang kau lakukan disini? berani-beraninya kau menginjakkan kaki di tanah Serigala." Nicholas melotot dengan sarat amarah yang tajam.
Lelaki itu menoleh pada Tirani dan dengan cepat Tirani menjauhkan tubuh Nicholas dari sang Tuan.
"Seperti ini kah caramu menyambut sang kakak? memangnya kenapa kalau aku menginjakkan kaki disini? toh ini adalah tanah kelahiran ku." Jelasnya tersenyum kecil.
Nicholas memandanginya kebingungan. "Apa katamu?".
Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke dekat Nicholas lalu berbisik. "Aku bukanlah Sunghoon dari kaum Vampir melainkan Liam dari para Serigala." Ia menyeringai lebih lebar kali ini.
Senang melihat wajah Nicholas yang terkaget-kaget.
Setelah mengatakan itu Sunghoon pergi meninggalkannya dan melanjutkan perjalanan menuju kediaman yang sudah di siapkan.
Sunghoon mendongak merasakan hawa angin yang menerpa tubuhnya. Rambutnya sedikit terangkat memperlihatkan sebuah luka sayatan. Lelaki itu tersenyum sembari memejamkan matanya.
Tirani membuka beberapa jendela agar ada udara yang masuk kedalam ruangan setelah itu ia berpamitan.
Sunghoon memperhatikan kediamannya yang sudah lama tidak dihuni. Ia bersyukur memiliki pelayan seperti Tirani, lelaki itu mengurus rumahnya dengan baik.
Kakinya melangkah ke dekat pakaian Kerajaan yang sedang tergantung. Sunghoon tidak percaya bahwa ia bisa kembali mengenakan pakaian mewah ini. Ia pergi membersihkan diri lalu mengenakan pakaian tersebut. Sunghoon memandangi anak-anak yang sedang bermain dibawah teriknya sinar matahari. "Kalau aku pergi keluar, maka tubuhku bisa hangus terbakar." Gumamnya memangku dagu.
Mendadak Sunghoon teringat sesuatu tapi dengan cepat ia mengalihkannya dengan aktivitas membaca buku namun pikirannya tidak bisa dikendalikan yang mengakibatkan ia harus keluar dari kamar dan berjalan kaki di lorong.
Beberapa kali Sunghoon berpapasan dengan para pelayan wanita yang kagum dan juga tidak suka padanya. Sunghoon sudah terbiasa diperlakukan tidak baik, sehingga ia biasa saja menanggapinya. Tanpa ia sadari, ia berjalan ke ruangan bawah tanah. Tempat sebuah kejadian ritual sihir pertamanya ketahuan oleh Raja. Tangannya hendak menyentuh pintu tapi seseorang mencegahnya.
Sunghoon menoleh ke sumber suara, mereka saling terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Sebuah lengkungan dibibir tercipta di wajah wanita berambut pirang tersebut. Lalu, tubuhnya menabrak tubuh Sunghoon dengan spontan lelaki itu juga memeluknya.
"Aku merindukanmu." Ujarnya membuat Sunghoon terdiam.
Rupanya wanita ini adalah Viola bukan Elena.
Sunghoon menghembuskan napasnya dengan lega lalu memejamkan mata.
to be continued.....