
Elena terdiam diatas kursi sembari menunggu remaja wanita itu siuman. Ia memandangi leher gadis itu dengan ngilu.
Apakah di hisap oleh vampir itu menyakitkan? Lantas kenapa wanita itu diam saja bahkan tidak berteriak saat Heeseung menghisap darahnya.
"Rupanya karena cinta ya, makanya dia diam saja saat Heeseung meminum darahnya." Elena menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan kebodohan si gadis ber name tag Gisel.
Tiba-tiba saja hembusan angin menerpa punggung Elena sampai-sampai ia merasa kedinginan. Elena sudah terbiasa dengan itu, kalau ada hembusan angin sekencang ini artinya Sunghoon datang. Namun saat ia membalikkan badan, justru El melihat Jake dan Heeseung. Rupanya dugaan Elena salah.
"Terimakasih sudah menunggu Gisel, kau pulang saja ke asrama biar aku yang menemaninya." Ujar Heeseung dengan keadaan yang masih lemas.
"Apakah kau sudah cukup kuat untuk menemani Gisel?" Elena bertanya.
"Tidak perlu khawatir, aku tidak akan menghisap darahnya lagi kok." Heeseung tersenyum pada Elena.
Elena mengangguk lalu keluar dari UKS bersama dengan Jake.
Jake membuntuti Elena dari belakang.
"Kau tidak akan mengatakan apapun pada semua orang mengenai kejadian hari ini kan?" Tanya Jake pelan.
Elena menghentikan langkahnya. "Tidak, lagi pula tidak ada untungnya bagiku. Kau tidak perlu takut, akan ku anggap bahwa kejadian hari ini tidak pernah ada." Seru Elena serius, dia sudah lelah dengan para vampir.
"Syukurlah kalau begitu~." Jake menanggapi dengan santai.
"Jangan sampai kau jatuh cinta pada Sunghoon, karena kau tahu apa akibatnya, bukan?"
Elena menatap Jake sejenak, dia sedang berpikir mengenai ucapan lelaki pucat itu.
"Apakah vampir atau serigala tidak boleh jatuh cinta pada manusia?" Tanyanya ingin tahu.
"Manusia dan serigala boleh bersama tapi tidak dengan manusia dan vampir atau serigala dan vampir. Kedua pasangan terakhir yang ku sebutkan dilarang untuk menjalin cinta." Jelas Jake membuat Elena tenang karena dia punya harapan pada Nicholas.
"Kalau vampir dan manusia tidak diperbolehkan bersama lalu kenapa kak Heeseung berhubungan dengan Gisel?."
Jake mendaratkan bokongnya dikursi. "Di dunia ini semua makhluk hidup selalu melanggar peraturan, tidak ada yang benar-benar patuh. Kak Hee jatuh cinta pada Gisel sewaktu perempuan itu membantunya saat terluka parah akibat perang kecil dengan vampir jelata. Heeseung memberitahu identitas nya dan Gisel tidak peduli akan itu. Sampai detik ini Gisel menerima kakak Hee bahkan senantiasa memberi darahnya." Jake menoleh pada Elena.
"Kau tahu apa kelemahan manusia?" tiba-tiba saja Jake bertanya demikian dan Elena menggelengkan kepala tidak tahu. Lebih tepatnya malas berpikir.
"Cinta. Jika manusia sudah jatuh cinta, mereka akan berubah menjadi bodoh. Rela memberikan apapun untuk kekasihnya sekalipun itu adalah harta terakhir yang dimiliki dan juga manusia itu mudah terbuai akan tawaran yang fantastis. Itu sebabnya para iblis suka sekali berhubungan dengan manusia, makhluk seperti aku pun suka memanfaatkan kebodohan manusia."
"Ku pikir aku tidak sebodoh itu." Elena membela.
"Yang terpenting manusia dan serigala boleh menjalin hubungan untuk sisanya aku tidak peduli. Aku harus pergi ke asrama. Dah~ terimakasih sudah bicara panjang lebar." Lanjutnya melangkah pergi menjauh dari Jake.
Jake memperhatikan kepergian Elena, perlahan remaja itu tersenyum lalu menundukkan kepalanya. "Astaga, apa yang kau pikirkan Jake." Gumamnya menyentuh kepala.
"Sialan, kenapa aroma wanita itu manis sekali." Ujarnya kembali memperhatikan Elena dari belakang.
...***...
Sunghoon keluar dari asramanya dan samar-samar ia bisa melihat Elena sedang berjalan. Lelaki itu menghirup udara mencium aroma Jake.
"Kau sudah bertemu dengan Jake?" Tanya Sunghoon muncul tepat didepan pintu asrama Elena. Wanita itu terkejut namun untungnya tidak berteriak.
"Kau menguntit ya?" Elena memicingkan matanya namun Sunghoon tidak mendebat gadis itu hingga akhirnya Elena menyerah untuk bersikap menyebalkan.
"Ya aku habis bertemu dengan Jake itu karena ada insiden diperpustakaan. Astaga jika mengingat ulang kejadian itu seluruh tubuhku langsung merinding."
"Apakah sesuatu yang buruk sudah terjadi?"
Elena memperhatikan sekitar setelah dirasa aman dia berbisik pada Sunghoon. "Aku melihat kakak Hee sedang menghisap Gisel, wanita itu hampir mati jika seandainya aku tidak memergoki." bisik Elena serius.
"Apakah kak Heeseung baik-baik saja?"
Elena terkejut dengan pertanyaan Sunghoon. "Kau tidak mengkhawatirkan gadis manusia itu?" tanya Elena kesal.
"Tentu tidak, kenapa aku harus peduli? Aku lebih mengkhawatirkan saudaraku." ujar Sunghoon membuat Elena mendecak kesal.
"Dasar tak punya hati, awas aku mau masuk kedalam. Aku ingin istirahat." Elena mendorong tubuh Sunghoon tapi lelaki itu menarik tangannya lalu mendekap tubuh Elena.
Tentu Elena terkejut, dia hendak menjauhkan diri namun tidak jadi.
"Kau pasti ketakutan melihat wujud vampir yang sebenarnya." gumam Sunghoon meletakkan dagunya dikepala Elena.
Gadis itu terdiam tidak menjawab ucapan Sunghoon. Yang dikatakan Sunghoon benar Elena memang sangat ketakutan tapi dia mencoba untuk terbiasa karena seiring berjalannya waktu ia akan sering melihat wujud vampir dan serigala.
"Kau ingin melupakan kejadian hari ini? aku bisa melakukannya untukmu."
Elena menggeleng. "Aku tidak apa-apa Sunghoon, sungguh." ia melepas pelukannya.
"Pergilah jenguk saudaramu, aku mau istirahat." Elena membuka kunci pintu lalu masuk ke dalam asrama tanpa mengatakan apapun lagi.
Sunghoon menyandarkan punggungnya ke tembok. Dia baru saja melihat sesuatu saat menyentuh Elena. "Kenapa ada Julius di dalam masa kecil Elena?" Katanya kebingungan.
Untuk beberapa saat Sunghoon terdiam, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Yang pasti saat waktu menunjukkan tepat jam 10 malam, lelaki itu berubah menjadi puluhan kelelawar dan menghilang.
Esoknya saat sedang menyapu halaman sekolah bersama siswa yang lain, Elena melihat Gisel. Ada perban yang menutupi lehernya, dia berjalan bersama dengan kepala sekolah.
Elena berjalan menghampiri Gisel sembari menyapa kepala sekolah.
"Kau sudah baikan?" Tanyanya ikut berjalan beriringan.
Kepala sekolah memperhatikan Elena dengan seksama. "Dia teman dekatmu?" Tanyanya pada Gisel.
Gisel mengangguk lalu pada saat itu juga kepala sekolah menitipkan Gisel pada Elena. Beliau meminta Elena untuk mengantar Gisel ke kelas.
"Terimakasih sudah membantu Heeseung." Ujarnya datar.
Elena sedikit terkejut dengan cara bicaranya Gisel. "Santai saja lagi pula itu kebetulan kok." Jawabnya tersenyum kecil.
"Kau pasti tahu identitas Jake dan teman-temannya."
"Em~ ya sama sepertimu, aku tahu siapa mereka."
"Apakah hidupmu baik-baik saja setelah mengetahui mereka adalah vampir?"
Elena langsung menggeleng. "Rasanya hidupku berubah 90% ada banyak hal gila yang aku alami setelah mengetahui mereka adalah vampir. Terlebih Sunghoon, astaga lelaki itu adalah yang paling membuat diriku sakit kepala diantara yang lainnya." Elena menjelaskannya dengan kekesalan yang membuncah.
Gisel terkekeh mendengar ocehan Elena.
"Tapi sepertinya kau menyukai Sunghoon."
Elena melotot. "Apa katamu? tentu saja tidak. BIG NO!." katanya merinding, Elena langsung menoleh kebelakang lalu berteriak kaget karena melihat Sunghoon ada dibelakangnya.
"Yak! Jangan meniup leherku!." Teriaknya kesal.
"Aku tak meniup lehermu, tanyakan saja pada Jay. Dia saksinya." Ujar Sunghoon memasukkan tangannya ke saku celana.
Jay mengangguk saja. "Kau sudah membaik?" tiba-tiba saja Jay bertanya pada Gisel.
"Ya aku sedikit membaik, untungnya kepala sekolah dan Hanabi membantuku."
Elena terdiam mencerna pembicaraan mereka.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Sunghoon menyentuh kepala Elena.
"Apakah kepala sekolah juga berkaitan dengan kalian?" Tanyanya pada Sunghoon.
Sunghoon tersenyum. "Sejak kapan kau menjadi peka?".
"Sejak tahu makhluk aneh sepertimu." Kata Elena kesal.
"Kepala sekolah kami adalah ibunya NiKi. Kau mengingatnya? kau pernah bertemu dengannya diparty dulu."
Elena menggeleng.
"Dasar pelupa." Ledek Sunghoon membuat Elena mendecak sebal.
Setelah mengantar Gisel, Elena dan Sunghoon beserta Jay menuju asrama. Namun ditengah perjalanan Jay izin ke toilet sehingga kini menyisakan Sunghoon dan Elena.
"Kau senggang hari ini?"
"Kenapa?" Elena memandangi ponselnya.
"Kita harus mencari kitab."
"Memangnya kau sudah tahu kita harus mencari kemana?" Tanya Elena masih memandangi ponsel.
"Aku yakin seorang Mix sudah mencurinya."
Elena terdiam tidak menanggapi Sunghoon.
"Aku akan menjemputmu nanti, kau ganti pakaian saja terlebih dahulu. Aku ada urusan dengan Jake." Katanya meninggalkan Elena di lorong sendirian.
Gadis itu terdiam untuk beberapa saat, mendadak Elena mengingat sesuatu. Ia tidak melanjutkan langkahnya menuju asrama melainkan pergi ke perpustakaan baru. Elena perlu mengecek sesuatu disana.
Sesampainya di perpustakaan baru, Elena langsung menuju rak buku novel. Seingatnya ia pernah melihat buku yang mirip dengan 'Catatan Penghisap Darah' namun dengan berbeda cover dan warna. Bukunya jauh lebih lusuh dari buku yang hilang. Gadis itu mencari keseluruh rak bagian Novel, namun tidak ketemu.
Elena memperhatikan buku-buku yang terdapat dimeja dan akhirnya ia menemukan buku yang sedang dicari olehnya. Elena langsung meraih buku tersebut.
..."Sejarah Penghisap Darah."...
to be continued...
Sumber pic : Pinterest.