
Kilatan-kilatan guntur menyatu dengan gemuruh hujan bersama teriakan seorang wanita yang baru saja melahirkan sepasang bayi kembar.
Keringat membanjiri wajah si ibu, senyuman kebahagiaan tercipta saat kedua bayi itu mengeluarkan suara tangis yang nyaring.
Bayi-bayi mungil itu dibawa ke ruangan intensif untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
Tangan Irina menggenggam tangan sang suami. "Apakah bayinya akan baik-baik saja?" Tanyanya khawatir.
Arne tersenyum lembut, "tenanglah sayang, anak-anak kita pasti baik-baik saja." Ujarnya menenangkan sang istri.
Namun, Irina tidak mendapatkan perasaan yang baik.
Hujan diluar sana tidak berhenti, gemuruhnya masih terdengar jelas.
Manik mata berwarna merah itu beberapa kali berkedip dan mengubah warna matanya. Lilin-lilin terus menyala sekalipun tertiup oleh angin. Bersamaan dengan matanya yang mengkilap seorang perempuan cantik muncul dari balik pintu batu.
Gadis itu memeluk sebuah buku cokelat yang sudah usang. Rambutnya yang panjang dan wajahnya yang tergurat dengan sempurna memberikan kesan bahwa dia adalah wanita yang sangat cantik.
Ia berjalan ke dekat seseorang yang menggunakan jubah cokelat dengan penutup wajah, dia adalah seorang hamba. Buku itu diserahkan dan lelaki berjubah itu menerimanya.
"Ini sudah saatnya." Gumam Viola pada sang tunangan yang sedang berdiri dihadapan cawan kristal raksasa.
Liam menoleh pada Viola. "Aku percaya padamu." Imbuh Viola membuat Liam percaya diri.
Setelah memberi aba-aba pada hambanya. Liam mengikuti semua ucapan mantra yang diberikan sang hamba.
Liam mengeluarkan sebuah pisau logam kecil lalu menyayat tangannya. Tapi...
Ritualnya hancur, ia ketahuan oleh sang raja beserta pengikutnya. Darah dari tangan Liam belum menetas membuat mantra itu berbalik padanya. Dia tersambar petir yang entah bagaimana bisa masuk kedalam ruangan bawah tanah.
Raja terkejut melihat anaknya meraung karena terbakar api merah. Begitupun dengan Viola dan seorang hamba, dia terkejut melihat tuannya mendapatkan hukuman.
Tubuhnya terus terbakar, api itu bukanlah sekedar api biasa. Liam memejamkan matanya sembari terus merangkak kedekat cawan raksasa, ia memaksakan dirinya untuk meneteskan darah.
Namun, perjuangannya gagal saat sang adik mengeluarkan gumpalan air yang membuat tubuh Liam terhempas membentur tembok batu hingga hancur.
"Bawa mereka." Perintahnya.
Viola berteriak memanggil nama Liam saat dirinya diseret keluar untuk mendapatkan hukuman karena sudah menjalankan ritual terlarang.
Liam tak sadarkan diri membuat sang ayah khawatir tapi karena ia seorang pemimpin yang adil. Raja memerintah prajuritnya untuk membawa tubuh Liam dan memasukkannya kedalam ruangan penubusan dosa.
Disisi lain, seseorang tengah tertawa terbahak-bahak setelah menyaksikan kekacauan yang terjadi dikerajaan musuhnya. Dia sangat senang melihat Liam tidak berdaya.
"Tuan, kirimannya sudah tiba." Seru seseorang membuatnya langsung mengatupkan bibir lalu turun dari atas pohon.
"Aku akan membunuhmu jika yang tiba adalah bayi perempuan."
......KEGELAPAN - PROLOG......