DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
37. Voices



"Kau mau membawaku kemana?"


Nicholas tak menjawab, ia masih menarik Elena untuk tetap mengikuti langkahnya. Langkahnya terburu-buru dan sedikit mengendap-endap.


Mereka menaiki tangga yang sudah dilapisi karpet merah. Benar-benar seperti kerajaan. Elena sesekali terpana dengan pernak-pernik yang tertata di setiap sudut dan tembok. Ia lupa dengan keadaannya yang saat ini sedang genting. Nicholas sedang berusaha mencari cara untuk membuat paman Reo berhenti mencari vampir bualan nya.


Saat berbelok langkah kakinya terhenti, jantungnya terasa mencelos.


Nicholas ketahuan oleh Viola.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau berniat untuk menyembunyikan nya?" Tanya Viola menoleh sebentar lalu kembali menatap lurus.


"Dia temanku. Aku tak mau Elena terlibat masalah dengan kaum serigala."


Viola mengatupkan bibirnya. Ia mencengkram kuat selendang yang menutupi sebagian pundaknya.


"Dia layak dihukum."


"Elena tak melakukan hal yang salah." Pekik Nicholas.


"Wanita itu bisa menghambat penobatan Liam. Aku tak mau Liam sampai goyah."


Nicholas memandangi Viola tak percaya. "Seharusnya Sunghoon lah yang dihukum. Dia sudah melakukan dosa yang sangat besar. Terlahir cacat, menjalankan ritual, dan memaksa manusia untuk menjadi hambanya!. Elena tak bersalah karena ia tak pernah menjalankan ritual itu dengan Sunghoon."


"Yang saat ini kembali adalah Liam. Sunghoon itu sudah mati." Viola menyadarkan Nicholas.


Ia masih berkata dengan santai bahkan intonasi amat datar. "Yang menjadikan gadis itu sebagai hamba adalah Sunghoon. Bahkan Liam tak pernah bertemu dengan Elena."


Nicholas mengepalkan tangannya. Ia tak percaya kalau wanita dihadapannya sangatlah mengerikan.


"Ah~ aku sudah dengar dari paman Reo kalau Elena melihat vampir masuk ke kawasan serigala. Aku tahu gadis itu berbohong, dia pasti berniat menemui Liam." Viola menatap Nicholas sembari sedikit tersenyum.


"Kenapa kau menolongnya? bukankah seharusnya kau membiarkan Elena mengatakan semuanya agar Liam benar-benar turun takhta."


"Aku punya rencana lain tanpa harus melibatkan Elena."


Nicholas tahu kalau Elena bisa merubah segalanya. Ia bisa membuat Sunghoon tidak jadi naik tahta tapi berat bagi Nicholas jika harus membiarkan Elena mati karena bagaimanapun mereka sudah berteman sejak kecil. Sudah banyak yang dilalui oleh Nicholas bersama dengan Elena.


Terlebih Nicholas tahu bahwa Elena pernah mencintainya sebelum akhirnya jatuh cinta pada Sunghoon.


"Aku tak melakukan cara rendahan seperti itu." Jawab Nicholas.


Viola tetap tersenyum dengan segala jawaban Nicholas.


"Kau memanggilku?" Tanya Sunghoon keluar dari bilik pintu.


"Nicholas baru saja membawa gadis perempuan yang akan membuatmu turun takhta."


Sunghoon langsung melirik Nicholas sementara adiknya itu terkejut dengan ucapan Viola.


Wanita dihadapannya benar-benar sangat jahat.


"Aku tak akan bertarung merebut takhta dengan cara melibatkan Elena." Jelas Nicholas.


Sunghoon langsung mengatupkan bibirnya saat mendengar nama Elena.


"Aku tak peduli dengan caramu, lakukan saja. Toh tetap hanya aku yang akan naik takhta." Kata Sunghoon dengan percaya diri.


Diantara Sunghoon dan Nicholas itu ada benteng yang amat besar. Mereka berlomba untuk membuat benteng yang lebih tinggi lagi agar kelak salah satu dari mereka tak bisa menembusnya.


Sementara itu, Julius menyadari kalau sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Elena. Setelah menyalakan semua lilin, ia duduk di kursi kesayangannya. Membuka buku dan mulai membacanya dengan santai.


Suara pintu kayu terdengar di telinganya. Jay baru saja pulang dari kota. Jubahnya basah kuyup, diluar hujan sangat deras bahkan beberapa kali petir bergaung.


"Sesuatu terjadi di kota?" Tanya Julius. Aroma darah amat menyengat, rupanya tak hanya diguyur hujan tapi lumuran darah juga menempel di jubah dan pakaiannya.


"Mendadak harus terjadi pembantaian. Aku tak bisa menemukan Jake. Disana hanya ada puluhan vampir yang tengah kehilangan kendali." Jelas Jay mengacak-acak rambutnya yang basah.


"Ke