
Gadis itu kembali dengan segelas air putih namun baru teringat kalau Sunghoon tidak bisa meminum minuman manusia tapi Elena terkejut saat melihat Sunghoon berhasil meneguk air putih itu.
"Bagaimana bisa?" Bisiknya tidak percaya.
"Nanti ku jelaskan."
Elena langsung tersenyum kaku pada EJ saat menyadari kalau teman lelakinya itu memperhatikan.
"Liontinmu bagus, Elena." Puji EJ.
"Tentu, ini pemberian ayahku. Beliau bilang, liontin ini memiliki manfaat yang banyak." Elena menyentuh liontin berbentuk hati itu.
"Semoga kau tidak kehilangan benda itu." Seru EJ lalu berpamitan untuk pergi.
Sunghoon mengajak Elena untuk bergabung dengan teman-temannya. Sebuah grup perkumpulan vampir bangsawan dan terkuat yang ditakuti oleh para vampir dan makhluk lainnya. Cranium adalah vampir pemburu manusia, targetnya adalah seorang wanita pilihan. Mereka akan beraksi setiap satu bulan sekali untuk mengajak korbannya bermain game disebuah hutan pegunungan dekat asrama. Dan pastinya Elena tidak mengetahui tentang itu.
Mereka akan menghabisi wanita itu bersama-sama, alasannya hanya satu. Untuk bersenang-senang bukan untuk berburu darah.
"Kenapa kau mau berkenalan dengan Sunghoon?" Tanya lelaki bernama Sunoo. Dia adalah lelaki yang tersenyum pada Elena saat gadis itu baru saja masuk kedalam rumah.
"Aku tak berniat untuk berkenalan dengannya, semuanya terjadi begitu saja."
"Ey~ kau terlalu jujur. Seharusnya kau menjawab karena aku tampan makanya kau mau berkenalan denganku." Seru Sunghoon merentangkan tangannya kesofa.
"Ya kau memang tampan hanya saja terlalu mesum."
Sontak kelima remaja lelaki itu tertawa merasa terhibur dengan ucapan Elena. Gadis itu tersenyum malu-malu sembari melirik Sunghoon yang kesal.
"Kau harus berhati-hati mulai sekarang, Sunghoon bisa saja menerkammu saat kau lengah." Kata Jay mulai mengeluarkan candaannya.
Selagi semuanya bersenda gurau, tiba-tiba saja salah satu remaja lelaki bersikap aneh. Lelaki itu memandang ke arah pintu berwarna merah yang tertutup rapat. Jake yang menyadari ada sesuatu langsung menegur temannya itu.
"Kau merasakan sesuatu, NiKi?" Tanya Jake menghentikan gelak tawa teman-temannya.
Semua lelaki itu langsung mengeluarkan mimik wajah yang serius, Elena yang tidak mengerti hanya memperhatikan dengan cengo.
"Julius, dia sudah tiba." Jelasnya membuat Sunghoon dengan refleks melihat ke arah Elena.
"Kalau begitu ayo kita temui dia." Jake dan yang lain langsung bangkit dari tempat duduknya tapi tidak dengan Sunghoon. Lelaki itu masih diam ditempat. "Aku harus mengantar Elena terlebih dahulu."
"Dia bisa pulang sendiri, iya kan Elena?"
Elena sedikit terkejut saat Jake mengatakan itu pasalnya ini sudah larut malam dan Elena mengharapkan Sunghoon untuk mengantarnya tapi mendengar pernyataan Jake yang tidak mengizinkan Sunghoon untuk mengantarnya membuat Elena mau tidak mau mengangguk. "Jake benar, aku bisa pulang sendiri dengan sepedaku. Kau tidak perlu khawatir." Elena hendak melepas jaket milik Sunghoon namun dicegah.
"Akan ku suruh EJ untuk mengantarmu." Tegas Sunghoon sembari memakaikan kupluk jaket pada Elena.
Elena menarik napasnya kuat-kuat merasa kalau Jake begitu tidak suka padanya. Padahal saat awal bertemu, Jake begitu hangat tapi berubah setelah Elena mengetahui identitasnya.
...***...
Esoknya keadaan sekolah sedikit ramai. Munculnya selembaran dari berita sekolah membuat para siswa ketakutan.
...TELAH DITEMUKAN JASAD SISWA PEREMPUAN TANPA KAKI DIHUTAN HUYL...
Tubuhnya langsung bergetar hebat saat membaca berita mengenai kakak kelasnya yang beberapa hari lalu dibicarakan olehnya dengan Sunghoon.
"Apakah para manusia gunung masih sekejam ini?" Gumam Elena.
"Itu bisa saja terjadi mengingat gunung Huyl adalah pegunungan yang masih kental dengan tradisi." Nicholas menanggapinya dengan hati-hati.
"Kasihan sekali kak Lucy." Serunya iba, Elena membayangkan bagaimana jika itu menimpa padanya. Satu detik kemudian ia menyadarkan diri. Tentu saja kejadian buruk itu tidak boleh terjadi padanya. Beruntung Elena tidak menjadi si korban.
Elena mencoba untuk menelan ludahnya namun sulit. "Kenapa fotonya tidak disensor." Gerutunya mual.
"Mungkin agar para korban tidak lari makanya mereka memotong kaki."
Elena setuju dengan teori Nicholas.
"Jika aku menjadi pembunuhnya, aku pasti akan mengambil kepalanya." Canda Haruto membuat Elena langsung memukulnya.
"Lalu apa yang membuat mereka mati? ku pikir manusia masih bisa hidup walaupun kakinya terpotong, ya.....walaupun dalam keadaan sekarat." Elena bertanya.
"Entahlah~ aku tidak tahu." Kali ini Nicholas menjawab agak malas.
"Kenapa tidak kau coba saja pergi ke gunung Huyl untuk memastikan seperti apa para perempuan itu mati." Perkataan dan kehadiran Sunghoon membuat Elena langsung jengkel.
"Kau menyuruhku mati?"
Sunghoon menggeleng, "aku hanya memberi jawaban untuk rasa penasaranmu."
"Itu tidak membantu!." Seru Elena menggeser duduknya, dia tidak mau dekat-dekat dengan Sunghoon.
Sementara Haruto memperhatikan Nick dan Sunghoon yang sedang saling menatap.
Kehadiran Sunghoon mengganggu Nicholas, dia sangat tidak suka ketika Sunghoon berada didekatnya seolah ada sesuatu yang aneh. Aura Sunghoon terlalu gelap untuk Nicholas sehingga terkadang ia takut saat bertatapan dengan Sunghoon.
"Kau pulang dengan selamat kemarin?"
"Em~ seharusnya kau tidak perlu menyuruh EJ untuk mengantarku. Aku bisa pulang sendiri." Elena memasukkan sayuran kedalam mulutnya.
"Kau bertemu dengan EJ, dimana?" Tanya Haruto.
Perlahan Nicholas memberikan mangkuk sayur pada Elena. Lelaki itu tidak suka dengan sayuran.
"Aku bertemu dengannya di party teman Sunghoon." Jawab Elena menuangkan sayuran ke nasinya.
"Kenapa kau tidak makan sayuran, bukankah itu bagus untuk kesehatan?" Sunghoon mulai usil menggoda Nicholas.
"Sedari kecil Nick tidak suka dengan sayuran. Dia akan sakit kalau makan sayur, aneh bukan?"
"Itu artinya dia mirip dengan seekor anjing karena mereka tidak makan sayuran sepertimu." Sunghoon tersenyum nakal dan ucapannya itu membuat Elena dan Chika melongo. Candaan Sunghoon sangatlah keterlaluan bagi Elena.
Nicholas yang sudah tidak tahan langsung memukul wajah Sunghoon. Sontak semua orang tertuju pada perkelahian keduanya, Elena panik karena takut Nicholas terluka sebab memukul wajah es Sunghoon. Tapi gadis itu terkejut saat melihat ada darah keluar dari sudut mulut lelaki tersebut. Bagaimana bisa itu terjadi?.
Tiba-tiba saja Nicholas berhenti memukul saat tahu kalau tubuhnya akan berubah. "Sepertinya kau akan berubah." Gumam Sunghoon masih dengan senyuman yang menyebalkan.
Sesegara mungkin Nicholas berlari keluar dari gedung kantin, ia berlari keluar kawasan sekolah. Elena yang notabene nya suka pada Nicholas langsung mengejarnya, ia mengikuti langkah kaki lelaki itu. Tapi sepertinya Elena tidak bisa menyusul karena keberadaan Nicholas tidak terlihat, Elena terus melangkah ke kawasan hutan belakang sekolah. Dia harus menemukan teman kecilnya itu. Elena tahu kalau Nicholas marah ia pasti akan berlari meninggalkan keramaian.
"Nick! kau tidak menangis kan?" Elena berteriak sembari celingukan.
Gadis itu langsung menoleh saat mendengar suara ranting diinjak, dia menduga kalau itu adalah Nicholas. Elena mendekati sumber suara dan terkejut saat melihat seekor hewan buas dengan bulu yang lebat dan mata berwarna hijau. Hewan itu lumayan tinggi dan besar. Mulutnya menganga, nafasnya sejenak berhenti, Elena tidak percaya kalau ia melihat seekor serigala.
Hewan yang selama ini hanya bisa ia bayangkan kini berada dihadapannya. Kaki Elena perlahan mulai bergerak melangkah mundur, seberusaha mungkin ia tidak melihat mata hewan buas tersebut. Jantungnya berdetak sangat kencang, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Mengejar Nicholas untuk kali ini menjadi salah satu pilihan buruk baginya. Hewan itu memperhatikan Elena sembari sesekali mengendusi rambutnya.
Kakinya melemas saat menyadari bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa menit lagi. Tanpa ia sadari, Elena tersungkur ke tanah tak sadarkan diri.
Pada saat itu juga Nicholas bisa mengontrol tubuhnya, ia kembali ke wujud manusia dengan keadaan telanjang. Seragamnya yang entah keberapa kini sudah robek lagi, dia harus membeli seragam baru besok. Ia bukan manusia serigala yang ceroboh, Nicholas sudah menyiapkan beberapa celana di tempatnya bersembunyi kala siap berubah menjadi serigala. Sehingga ia tidak akan dalam keadaan telanjang saat kembali ke asrama.
"Kau seharusnya tidak mengikutiku." Gumam Nicholas membelai wajah Elena.
to be continued.....