
Dua hari kemudian.
Seperti biasa Elena menjalani kehidupannya disekolah namun kali ini ia merasa kehilangan sesuatu. Ia turun dari tangga lalu keluar dari kelas dan mendapati Jay yang sedang menunggunya.
"Disekolah pun kau harus menjaga ku?" Tanyanya berjalan di koridor.
"Tentu, Sunghoon akan mengamuk kalau aku tidak menjagamu walaupun hanya semenit."
"Astaga menyeramkan sekali." Ringis Elena dan tiba-tiba saja dia ingin menanyakan sesuatu. "Apakah wujud Sunghoon lebih menyeramkan dari kak Hee?" Tanyanya membuat Jay mengkedutkan alisnya.
"Bisa dibilang dia yang terburuk tapi ada yang lebih menyeramkan dari Sunghoon." Ujar Jay tersenyum pada setiap siswi yang meliriknya.
Elena tahu kalau wujud Sunghoon pasti akan lebih parah dari kak Hee sampai-sampai Elena tidak bisa membayangkannya.
"Hey~" Sapa Chika tiba-tiba. Dia tersenyum pada Jay lalu kembali ke Elena. "Kau mau ikut tidak ke Karnaval yang di adakan desa sebelah, Haruto dan Nicholas juga ikut." Kata Chika bersemangat.
Elena melirik Jay terlebih dahulu. "Nicholas ikut?" Tanyanya memastikan dan Chika mengangguk.
"Kalau begitu aku juga akan pergi." Serunya membuat Chika tambah bersemangat. Setelah menyampaikan itu Chika langsung pergi ke asrama meninggalkan Elena dan Jay.
"Aku juga akan ikut ke acara tersebut bersama teman-temanku." Ujar Jay.
Elena mengangguk. "Maaf merepotkan mu."
"Tidak apa-apa, perintah Sunghoon memang harus ku turuti."
"Kenapa?"
Jay terdiam sebentar lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.
"Kau tahu kan kalau Sunghoon itu adalah seorang Raja di kerajaan kecil vampir. Walaupun kerajaannya kecil dan terbilang tidak diakui, sihir yang dimiliki Sunghoon adalah sihir terkuat. Dia bahkan seharusnya bisa menjadi pemimpin di tanah Luga Ru. Dan penyebab aku perlu mengikuti perintah nya karena warna mata kami yang sama. Black Eyes, dan Sunghoon adalah pemimpin dari prajurit mata." Jelas Jay.
"Apakah itu artinya Sunghoon yang terkuat dari semua vampir?" Elena bertanya lagi.
"Sejauh ini Sunghoon dan Sunoo adalah yang terkuat, kalau Sunghoon berhasil memulihkan kekuatannya maka kemungkinan besar dia akan menjadi yang terkuat bukan hanya dari kaum vampir tapi seluruh makhluk hidup didunia ini." Jay menatap mata Elena lalu pandangannya turun ke liontin yang dipakai oleh gadis tersebut.
"Dan kau yang akan membuat Sunghoon menjadi vampir terkuat, Elena." Imbuh Jay membuat Elena terkejut sekaligus kebingungan. Namun dia diam saja tidak mau bertanya apa alasannya.
Keduanya mengakhiri percakapan, Jay mengantar Elena sampai lobi asrama lalu melesat berlari ke asramanya sendiri.
Malam pun tiba dan Elena sudah siap untuk pergi ke karnaval, mereka keluar dari asrama lalu berjalan bersama-sama menuju gerbang. Sudah ada satu mobil yang menunggunya disana, dan mobil itu adalah milik Haruto.
Elena terdiam disepanjang perjalanan sementara yang lain bernyanyi-nyanyi, padahal ada Nicholas disini tapi Elena tidak bersemangat. Ia beberapa kali menghembuskan napas membuat Chika kebingungan.
"Tumben tidak bersemangat." Kata Chika membuat yang lain menoleh melihat Elena.
"Putus ya dengan lelaki pucat itu." Haruto bersuara.
"Putus apanya, kami bahkan belum memulai hubungan."
"Belum artinya akan ya.."
Elena terdiam lagi saat ini yang ada dipikirannya adalah. 'Apakah Sunghoon baik-baik saja?' , 'Apakah ia akan kembali?' , 'Apakah ia berhasil menemukan kitab sialan itu?' .
Mobilnya terparkir agak jauh dari kerumunan karnaval, rupanya ada banyak orang luar yang menghadiri acara tersebut itu karena ada banyak sekali mobil yang terparkir.
Sementara disisi lain.
"Tumben sekali kau ingin pergi ke karnaval." Singgung Jake memasukan tangannya ke dalam saku jaket.
Tidak hanya Jake, Sunoo juga ikut kebingungan pasalnya Jay tidak suka kerumunan yang berdesakan.
Mereka berjalan memasuki area karnaval yang dipenuhi oleh manusia dan werewolf, ada juga sebagian vampir mix salah satunya Chika.
Chika dan Nicholas yang bisa mencium keberadaan vampir bangsawan langsung menoleh melihat kawanannya Jake.
Jake tersenyum saat melihat Nicholas dan senyumannya semakin mengembang saat melihat Elena tanpa pendamping.
Jay dan Sunoo bisa melihat benang merah ditubuh Jake. Keduanya saling berpandangan memahami sesuatu.
"Em, hai~." Elena membalas sapaan itu dengan kikuk.
Haruto yang tidak mau berlama-lama langsung mengajak teman-temannya untuk berkeliling, sebelum melangkah mengikuti Haruto, Nicholas memperingati para vampir. "Jangan membuat kekacauan maka kepalamu akan aman." Ujarnya melenggang pergi.
Tentu para vampir akan menghiraukan ucapan Nicholas, toh mereka tidak akan berbuat apa-apa.
Elena dan Chika mencoba beberapa makanan yang smooth, kedua perempuan itu menikmatinya.
Mereka bertepuk tangan setiap penampilan parade terlebih Elena menjadi lupa dengan Sunghoon, ia keasikan. Chika dan Haruto saling berebut permen yang dilempar oleh cosplayer. Sementara Nicholas hanya tertawa, dia selalu menjadi yang paling santai.
Jay memperhatikan Elena dari kejauhan lalu ia menoleh pada Jake. Rupanya Jake juga sedang memperhatikan Elena. "Kau suka pada Elena?" Tanya Jay pada Jake tapi yang terkejut adalah Sunoo.
"Tidak juga." Jawab Jake santai.
"Kau punya benang merah saat berhadapan dengan Elena sama seperti Sunghoon." Jelas Jay.
"Ah ngomong-ngomong soal Sunghoon, kemana dia? kenapa tidak menempel lagi pada Elena?" Jake memutar pembicaraan.
"Tidak tahu." Seru Jay malas.
"Dia tidak sedang pergi ke tanah Luga Ru kan?" Sunoo bertanya dengan menyebalkan. Jay tahu bahwa Sunoo juga mengetahui tentang Sunghoon namun dia selalu berpura-pura agar bisa memancing keributan.
"Apa maksudmu dia pergi ke tanah Luga Ru? Bukankah itu tanah para serigala?." Jake bertanya dengan sewot.
Sunoo mengangkat bahu "Tidak tahu, aku kan bertanya." Katanya menahan tawa.
Jay tidak mau menjawab pertanyaan Jake ia kembali memperhatikan Elena namun dia sudah tidak ada disana sementara Nicholas dan Haruto masih diam ditempat.
"Mati aku." Gumam Jay langsung pergi meninggalkan teman-temannya.
Sebelum menghilang.
Elena berdiri terlalu depan bahkan jaraknya dengan kereta parade sangat dekat. Karena semakin berdesakan Elena terdorong sampai tangannya terkena ujung besi yang ada di kereta menyebabkan darah keluar dari tangannya.
Seketika itu juga ia meringis. "Kau baik-baik saja?" Tanya Chika menarik Elena kebelakang. Nicholas dan Haruto terkejut.
"Kau harus membersihkannya terlebih dahulu, ayo kita pergi ke toilet." Ujar Chika memboyong Elena.
Darahnya mengucur sangat banyak dan lukanya berdenyut. Mereka berjalan keluar dari kerumunan yang banyak.
Sementara itu Jay menghampiri Nicholas dan Haruto.
"Dimana Elena?" Tanyanya khawatir.
"Dia terluka dan sedang membersihkan darahnya ke toilet." Seru Haruto.
"Toilet katamu? astaga, kau pikir ada toilet di hamparan lapang seperti ini?" Jay sedikit membentak. "Apakah dia pergi dengan Chika?" Tanyanya lagi.
Haruto mengangguk.
"Sial. Cari Elena dia dalam bahaya."
to be continued...
Extra :
Jay keluar dari ruangan rapat meninggalkan Julius yang masih dibawah tanah. Ia berjalan mendahului Sunghoon namun tiba-tiba saja lelaki itu memanggil dirinya.
"Ada yang perlu diperhatikan, kau harus menjaga Elena dari Chika. Gadis itu berbahaya, dia juga mengincar liontin."