
Darah, hembusan angin, air, gaun putih, rambut panjang pirang dan taring yang mencuat.
Matanya terbuka didalam ke gelapan, napasnya cukup stabil padahal gadis itu baru saja bermimpi aneh. Elena mengerjap-ngerjapkan matanya melihat sekeliling yang berwarna hitam.
"Dimana ini?" Gumamnya langsung teringat kejadian dibelakang sekolah. Sunghoon, bola api, siswa terbakar dan....... ciuman?.
Elena langsung berteriak saat mengingat itu semua, gadis itu berharap kalau apa yang sudah terjadi hari ini hanyalah mimpi saja.
Tiba-tiba cahaya api keluar dari sudut ruangan. Elena tahu kalau itu adalah Sunghoon. "Kumohon jangan begini." Katanya membuat api kecil itu padam bersamaan dengan nyalanya lampu. Elena terkejut karena Sunghoon berada tepat didepannya. Jarak wajah keduanya hanya 5 cm saja.
Elena masih menahan napas saat bertatapan dengan Sunghoon. Gadis itu akui kalau lelaki dihadapannya sangat-sangat tampan ketika dilihat dari jarak dekat.
"Benarkah dia penyihir? mungkinkah seorang monster? atau aku yang berhalusinasi?."
Banyak pertanyaan di benaknya yang membuat ia sakit kepala.
Sunghoon masih anteung memandangi Elena, pandangannya turun melihat liontin yang digunakan oleh gadis itu. Liontin berbentuk hati berwarna merah tua.
Sunghoon menatap Elena sejenak lalu kembali duduk dengan tegak.
"Beritahu aku makhluk apa kau ini?"
Sunghoon menyipitkan matanya.
"Aku akan merahasiakan tentang sihirmu itu, jadi ayo beritahu aku makhluk apa kau ini?" Elena membujuk.
Sunghoon tersenyum kecil. "Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan manusia?"
Elena merasa terpojok. "Janji." Ujarnya mengacungkan jari kelingking.
Sunghoon melipat kedua tangannya diperut. "Ada yang ingin ku tanyakan juga, sejauh mana kau membaca kitab?."
"Kitab?" Elena tidak tahu apa yang dimaksud Sunghoon.
"Buku Catatan Penghisap Darah."
Elena membelalak baru menyadari kalau di halaman pertama buku itu terdapat tulisan 'Black Eyes.' Jantungnya berdetak kencang memandangi Sunghoon yang sedang mondar-mandir.
"Mungkinkah dia vampir? tapi bukankah itu hanya legenda saja. Vampir itu hanyalah mitos." Elena menyangkal semua teorinya.
"Vampir hanyalah mitos, lalu bagaimana jika kaum vampir juga menyebut manusia hanyalah mitos dan ilusi saja?"
Elena mencerna ucapan Sunghoon. "Ey~ bagaimana bisa begitu. Kalau tidak ada manusia maka vampir tidak akan hidup."
Sunghoon mengangkat sedikit ujung bibirnya "Kau sudah membuka segel kitab itu dan kau harus berhati-hati mulai sekarang."
"Segel? kitab? apa yang kau maksud, aku benar-benar tidak mengerti terlebih lagi jelmaan apa kau ini?!." Elena merasa sangat kesal dengan setiap ucapan remaja lelaki itu.
Sunghoon memandangi Elena dengan datar, dia tahu kalau wanita dihadapannya itu bukanlah tunangannya melainkan hanya kebetulan mirip dan sangat serupa. Tunangannya itu adalah makhluk lain sementara Elena adalah manusia.
"Kau harus percaya bahwa aku ini adalah seorang raja vampir."
Bak lelucon, Elena langsung tertawa saat mendengar ucapan Sunghoon. "Sepertinya kau adalah siswa gila yang tampan." Gumam Elena masih tidak percaya.
Kali ini tatapan Sunghoon lebih tajam dan itu membuat Elena ketakutan. Jika bukan karena kebutuhan, sudah pasti Sunghoon tidak akan pindah asrama hanya untuk membuat Elena menjadi hambanya.
"Kita kembali ke asrama sekarang." Dia keluar terlebih dahulu dari ruangan sementara Elena masih tertegun.
Matanya melirik ke arah bingkai yang cukup besar, Elena mengernyitkan dahinya merasa tidak asing dengan wajah yang terdapat di foto. Saat melihat lebih dekat, matanya melebar karena menyadari kalau wanita yang terdapat di bingkai itu begitu mirip dengan dirinya.
Hanya saja warna rambut, kulit dan matanya berbeda. Gadis itu memegangi buku yang sama dengan buku yang Elena pinjam dari perpustakaan.
"Siapa wanita ini?" Saat menyentuh bingkai tersebut tiba-tiba saja Elena dikagetkan dengan kehadiran burung yang menabrak kaca jendela hingga pecah.
Elena melihat kalau burung itu masih hidup hanya saja sayapnya terluka. Ia keluar dari ruangan dan terkejut dengan interior rumah milik Sunghoon yang begitu mewah. Kakinya menuruni anak tangga yang memutar dibaluti karpet merah bak rumah kerajaan. Elena melihat banyak sekali patung dan lukisan romawi yang menghiasi dinding dan sudut rumah. Dari sini Elena percaya kalau Sunghoon memanglah keturunan bangsawan.
Saat sampai di ujung anak tangga, Elena bertemu dengan seorang perempuan berambut cokelat. Perempuan itu tersenyum lalu pandangannya jatuh pada burung yang dibawa Elena.
"Dia menabrak jendela hingga pecah." Ujar Elena.
"Biar ku tangani." Katanya meraih burung itu.
"Cantik sekali, mungkinkah dia kekasih Sunghoon?"
Pertanyaan Elena langsung terjawab saat Sunghoon keluar dari sebuah ruangan dengan tangan yang membawa kunci mobil. Remaja itu mengecup pipi perempuan itu dengan penuh kasih sayang. "Aku antar gadis ini dulu, setelah itu akan kembali." Katanya melepas pelukan.
Elena yang melihat itu semua merasa tidak nyaman. Mereka tampak sangat mesra dimata Elena.
"Jangan khawatirkan ibu, ibu bisa menjaga diri."
Sontak Elena langsung terkesiap saat tahu kalau perempuan itu adalah ibunya Sunghoon. Perlahan Elena mulai mencerna tentang Sunghoon, jika dia seorang vampir maka kemungkinan besar saat ini usianya tidaklah 18 tahun, bisa saja usianya sudah ratusan tahun.
Tadi saja ibunya Sunghoon terlihat seperti anak remaja.
"Ada yang ingin ku beritahu, aku punya nama dan namaku adalah Elena. Aku tidak suka orang asing menyebutku dengan 'gadis ini', terkesan tidaklah sopan." Protes Elena, namun Sunghoon mengabaikannya, toh tanpa memperkenalkan diri Sunghoon sudah tahu siapa Elena.
...****...
Kupingnya ditutupi oleh earphone yang mengeluarkan musik klasik dengan volume cukup kencang, matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, sesekali mulutnya bergumam kecil.
"Setan penghisap darah, kala itu mereka tidak disebut sebagai vampir. Mereka adalah bagian dari iblis yang suka menggoda manusia. Vampir adalah panggilan dijaman yang lebih modern. Mereka tidak hanya hidup abadi tetapi juga memiliki kekuatan supranatural seperti penyihir. Mereka bisa kembali hidup ketika kepala mereka disatukan."
Elena menghela napasnya dalam-dalam, tangannya membuka halaman berikutnya namun tidak mendapatkan catatan yang menarik. Mengapa Sunghoon menyebut buku ini kitab? bagi Elena buku ini hanyalah informasi biasa tidak ada panduan sama sekali.
Mendadak salah satu kupingnya tidak dapat mendengar musik, ada suara melengking yang menusuk telinganya membuat Elena merasakan sakit. Cepat-cepat ia melepas earphone lalu menutupnya dengan telapak tangan. Sakit sekali, Elena menjerit ketika suara melengking itu semakin menyakitkan didalam pendengarannya. Dia mencoba meraih gagang pintu untuk meminta bantuan, saat ini Elena tidak dapat mendengarkan apapun kecuali suara lengkingan yang entah berasal dari mana.
Tangannya yang sudah dipenuhi oleh darah berhasil menyentuh gagang pintu, saat itu juga dia langsung membukanya. Seorang pria yang sedang melintas dilorong terkejut dengan kondisi Elena yang mengeluarkan darah dari telinga. Cepat-cepat ia membawa wanita itu kerumah sakit terdekat.
"Ku pikir dia tidak seharusnya masuk ke dalam rencana kita." Seru Sunghoon berbicara dengan seseorang dari telpon.
"Setelah ku dapatkan liontin dan kitabnya, aku akan melenyapkannya." Gumam Sunghoon memperhatikan Elena yang terbaring tak sadarkan diri.
Tiba-tiba saja Sunghoon memutar bola matanya dengan malas. "Sudah ku katakan Elena itu bukan tunanganku, dia hanya kebetulan mirip!." Nadanya terdengar sangat kesal.
"Mengenai reinkarnasi atau tidak itu bukan urusanmu, kau cukup mengurus pengikutku agar mereka tetap mengabdi padaku. Aku akan kembali dalam waktu dekat karena kerajaan Rodus akan ku berikan pada seseorang." Jelasnya, kini lelaki itu sedang mendengarkan pelayannya berbicara.
Karena Sunghoon menelpon dengan suara cukup keras pada akhirnya Elena terbangun. Gadis itu memperhatikan punggung Sunghoon sebentar.
"Apa telingaku baik-baik saja?"
Sunghoon membalikkan tubuhnya lalu mematikan panggilan telpon, membuat pelayannya marah karena panggilan ditutup begitu saja.
"Kau terlalu keras mendengarkan musik." Katanya berbohong. Sunghoon tahu kalau sumber suara lengkingan itu berasal dari kitab yang dibaca oleh Elena.
"Benarkan begitu?." Tanya Elena tidak percaya.
Di perjalanan pulang, Elena memperhatikan Sunghoon yang sedang menyetir. "Kenapa kau membunuh siswa itu?" Tanyanya tiba-tiba.
"Dia anak buahku dan memang sudah seharusnya untuk mati." Jelasnya datar.
"Apakah ketiga temanmu juga vampir?"
"Bukan hanya kaum vampir yang ada di sekolah."
Elena mengangkat alisnya sedikit. "Maksudmu disekolah banyak vampir?".
Sunghoon menoleh. "Rupanya kau hanya memiliki wajah yang cantik sementara otakmu seperti udang.".
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Jawab Elena mendelik.
to be continued..